
Kami berdua beristirahat di camp Bowongso untuk menyeduh kopi. Bersama pendaki lain yang sama seperti kami. Matahari masih mengintip saat aku dan Aji masih menyeduh secangkir kopi panas. Pendaki lain melakukan re-check perbekalan mereka selama mendaki. Salah seorang dari mereka datang menhampiriku dan berkata “Mas baru pertama kali mendaki?” kata seseorang bertubuh kokoh dengan kulit sawo matang, dan mata yang tajam.
Aku mengangguk “Iya mas, saya baru pertama kali,” jawabku.
“Gini mas, kalau mendaki disini jangan atasan sama bawahannya hitam semua,” katanya sambil melihat pakaian yang aku kenakan.
“Kenapa mas?” tanyaku heran.
“Saya juga kurang tau mas.. Gakpapa mas kalau gak percaya tapi setidaknya karena kita tamu menghormati dan menjaga budayanya aja, mas bawa baju lain?”
Aku teringat apa yang dikatakan Usy kemarin. Memang benar apa yang dia bilang, dan aku jadi merasa bersalah. Aku langsung mengambil pakaian yang ada didalam tas, untungnya aku membawa 1 kaos berwarna merah, kebiasan memang make atas bawah hitam. Aku bergegas ke kamar mandi, sekalian buang hajat takut nantinya ada yang meronta keluar.
Air disini sangat dingin, gilak aja, abis cebok rasanya pantatku beku, mungkin orang disini jarang mencret karena dingin hajatnya jadi beku hehe. Aku sampai mengurungkan niatku karena air yang menurutku terlalu dingin.
“Gila, Ji, disini airnya di-“ seketika semua orang melihatku. Sadar karena aku akan mengucapkan kata dingin. Orang yang sebelumnya menegurku kembali mendatangiku dan berbisik “Dsini gak boleh ngomong kata “dingin” mas.”
“Lah itu mas ngomong,” selaku berusaha membela diri.
“Iya buat memperingatkan jangan diulangi ya mas,” katanya lirih.
Aku mengiyakan apa yang dia minta. Pikirku kenapa ribet sekali harus banyak aturan disini, lagi pula siapa yang gak kedinginan sama airnya. Karena tak ingin merusak pendakian pertamaku yang telah berkali-kali gagal aku mengikutinya. Aku berjalan menuju Aji yang sedang melakukan pengecekan ulang perbekalannya. Kulihat banyak sekali air yang dia bawa. Aku duduk disampingnya dan menceritakan apa yang tadi diperingatkan tentang peraturan yang aku anggap aneh ke Aji. Justru dia juga ikut menegurku dan memintaku untuk mengikuti saja.
“Makanya sebelum mendaki cari info dulu sebelumnya!” timpalnya. Yah, mana aku tau aku kira juga mendaki hanya sekedar berjalan ke puncak gunung.
Setelah selesai bersiap dari camp bowongso kami menuju ke parkiran swadas dimana disanalah kita akan memulai pendakian. Sebelumnya ada 1 hal yang menurutku aneh yaitu membawa kopi dan santan yang harus dibawa saat naik dan harus dibawa sampai turun nanti. Hanya jika terpaksa kami boleh meminumnya. Kami menuju ke Parkiran Swadas dari camp Bowongso menggunakan pick up.
Diperjalanan kami berkenalan dengan pendaki lain. Mas Bara namanya, ternyata orang yang tadi menegurku adalah ketua pendakian rombongan selain kami. Ada 7 orang selain aku dan Aji yang mendaki, mereka berasal dari Yogyakarta, dari alumni Pecinta Alam salah satu universitas di Jogja sana. Kami berdua merasa senang karena ternyata rombongan mas Bara ini sudah 2 kali mendaki ke Sumbing, dan ini pendakian mereka yang ketiga. Beruntungnya kami, karena pasti mereka sudah tau medan-nya, aku dan Aji hanya perlu mengekor.
Sebelum memulai perjalanan mas Bara memimpin doa bersama untuk keselamatan saat pendakian. Setelah selesai kami tos, dan langsung melakukan perjalanan. Dari parkiran swadas menuju Gardu Pandang perjalanan tidak terlalu berat. Udara masih sejuk, matahari tertutup pepohonan yang lebat. Hanya sesekali kami harus menundukan kepala saat melewati batang pohon yang jatuh dan menghalangi jalan kami.
Candaan kecil saat perjalanan pendakian, membuktikan kalau semangat kami masih ada. Karena tidak banyak berhenti, kami hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam 15 menit untuk sampai ke Gardu Pandang. Di Gardu pandang kami beristirahat sebentar.
Aku duduk menaruh tas yang aku gendong, sambil mengambil air minum “Gak kerasa ya udah sampai pos 1 aja,” kataku sambil meneguk air yang kupegang.
“Masih setengah jalan mas,” kata mas Bara yang ternyata sudah terlebih dahulu duduk dibelakangku “Pos 1-nya nanti ada di Taman Asmoro, mas.”
__ADS_1
Aku menelan ludah, ternyata satu jam lebih berjalan kaki belum mencapai pos pendakian pertama. Aku melihat kearah Aji, dan dia berbalik melihatku “Kita ternyata kuat ya jalan 1 jam,” katanya sambil tersenyum masam. Aku tau dia hanya menghibur diri. Aku mengangguk dengan wajah kikuk. Setelah 15 menit beristirahat kami melanjutkan perjalanan.
Aku menarik nafas panjang dan berteriak, tak peduli walau mengundang perhatian rombongan pendaki lain. Karena pendakian pertamaku harus berkesan. Track dari Taman Gardu Pandang ke Taman Asmoro tidak jauh beda, masih dikelilingi pepohonan yang daunya lebat jalannya bebatuan dan sedikit berdebu. Aku tidak banyak mengeluh walau kaki sudah mulai terasa lelah. Melihat pendaki lain yang masih bercanda, aku tau mereka sedang membagi energinya satu sama lain. Aku ikut nimbrung bersama mereka agar perjalananku tidak membosankan.
Suara angin yang melewati dedaunan, ditambah suara beberapa serangga menemani perjalanan kami ke pos pertama. Melihat mas Bara memimpin didepan aku berlari menyusulnya buat ngobrol bareng.
“Mas Bara dulu ketua Pala-nya-kan?” tanyaku sambil menyapanya.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Wih keren, mas Asli mana?”
“Saya dari Blora, mas.”
“Cita-citanya apa mas?”
Dia melihatku dengan tatapan aneh. Oke, mungkin menanyakan cita-cita ke orang yang baru kita kenal itu sesuatu yang aneh.
"Mas udah ada persiapan sebelum mendaki?" tanyanya padaku.
"Persiapan, mas," balasnya dengan nada agak tinggi.
"Oh udah, bawa bekal banyak kok," jawabku sambil menepuk tas karier yang aku gendong.
"Persiapan bukan bekal mas."
"Oh belum, mas."
"Jangan mengundang bahaya," jawabnya lalu mempercepat langkahnya.
Aku berusaha mengikutinya dan tetap mengobrol. Aku tau dari kakinya yang terlihat kuat dan kokoh sepertinya dia orang yang terlatih. Sampai akhirnya aku lelah mengikuti langkah cepatnya dan aku rasa sudah cukup berbasa basi sekitar setengah perjalanan lalu aku bergabung kembali dengan Aji. Kami mengenang tentang betapa sulitnya kami bisa muncak dulu. Dari yang gak dapet restu orang tua, karena jadwalnya selalu tabrakan dengan waktu ujian masuk univ, waktu liburan semester yang gak barengan, dan ketika udah ada waktu ternyata dulu pendakian sempat ditutup karena cuacanya sedang tidak bagus.
Aku merasakan beberapa perbedaan dari mas Bara dan Aji. Entahlah mungkin karena aku belum kenal dekat dengan mas Bara jadi dia hanya menjawab seadanya semua pertanyaanku. Beda dengan Aji yang talkactive. Tapi karena sikapnya yang seperti itu mas Bara jadi terlihat lebih tegas dari yang lain.
Sejauh ini perjalanan tidak ada yang sulit, mendaki gunung tak seperti yang aku lihat di TV dimana kita harus mendaki, memanjat, dan bahaya dengan ancaman mati tertimpa batu yang glinding dari atas gunung.
__ADS_1
Setelah sekitar sejam kami berjalan kami sampai di Taman Asmara pos pertama di pendakian kami. Gila, ternyata udah 2 jam lebih aku dan Aji berjalan dan ternyata kami kuat. Perbekalan mulai dibuka aku membuka roti yang aku dan Aji hanya membuka air yang belum dia habiskan tadi. Aku melihat rombongan mas Bara membawa bekal nasi bungkus, dan ada yang membawa daun jati dan daun pisang yang udah dipotong persegi. Mereka menumpuk nasi itu menjadi 1 dan menyantapnya bersama. Mereka terlihat kompak dan solid saat melakukan makan bersama. Salah seorang dari mereka melihat kami yang membawa perbekalan seadanya dan memanggil untuk bergabung.
Awalnya kami menolak, tapi salah seorang dari mereka membawa 2 ekor ayam panggang yang tak mungkin dihabiskan bertujuh. Mereka butuh gentong perutku dan Aji. Akhirnya kami bergabung untuk makan bersama. Ya gimana ya daripada mubazir pikirku saat itu.
"Mas bawa kantong plastik? Bantuin beresin makanannya ya," Pinta mas Bara padaku dan Aji.
Sayangnya dari kami tidak ada yang membawa kantong plastik, jadi kami hanya membantu mengumpulkan sampah sisa makan kami tadi. Aku sangat senang dengan kebiasaan seperti ini self-serve nya membuatku terkesan.
Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan. Kami beristirahat cukup lama di pos Taman Asmara, sekitar 2 jam kami berhenti karena kelompok mas Bara berhenti cukup lama untuk reuni mengenang perjalanan mereka yang dulu. Kami yang hanya menjadi pendengar dan sedikit bertanya hanya untuk basa-basi.
Track selanjutnya berupa hutan terbuka. Matahari mulai berada dipucuk, kulihat jam di-HP yang sudah menunjukan pukul 1 siang. Memang tidak terlalu terasa panasnya karena udaranya memang tidak panas, melihat keringat yang mulai menetes didahi mas Bara aku bisa menyimpulkan mereka mulai merasakan lelahnya perjalanan tadi.
Mas Bara tidak membiarkannya, kini dia berubah watak menjadi seorang yang menyenangkan dikelompoknya. Dia terlihat tidak setegas sebelumnya, kini lebih banyak bercanda dan tanpa disadari, sudah sekitar 1 jam berjalan dan didepan terlihat padang sabana yang sangat luas.
Tidak hanya itu “Lihat deh, Ka,” kata Aji sambil menepuk pundakku.
Mataku terpatri melihat kami sudah berada diatas. Ada yang indah dilihat hanya tak bisa disentuh, kita hampir sampai, puncak Sindoro terlihat mengintip diantara kapas putih. Kami sampai, kami sampai diatas awan. Awan putih bersih yang mengelilingi taman sabana luas, aku sampai, aku dan Aji sampai diatas lautan awan luas.
Aku tersenyum bersama dengan Aji yang juga terpatri."Kalau ada waktu lagi gantian kita liat Sumbing dari Sindoro ya, Ji."
"Kalau misal awan itu bisa dibuat mandi, sekarang aku ingin mandi," balas Aji.
Aku menatap Aji dengan wajah bingung. Mungkin dia saking terpesonanya jadi bingung mau ngomong apa.
Aku tertinggal cukup jauh dari rombongan mas Bara karena terlalu lama menikmati pemandangan yang tak biasa bagi kami. Setelah sampai di pos Bogel kami mendirikan tenda. Mas Bara bilang kalau mau kepuncak mending besok pagi aja, sekitar abis subuh baru berangkat karena sampai puncak nantinya bakalan gelap dan pemandangannya tidak bagus.
Aku menatap Aji seolah tidak percaya ternyata cita-cita kita berdua tercapai. Tak lupa kami saling mengabadikan momen satu sama lain setelah mendirikan tenda. Mas Bara mendirikan 2 tenda besar yang bisa diisi 3 sampai 4 orang, aku dan Aji mendirikan tenda kami yang hanya muat berdua. Setelah puas foto, kami berkumpul karena tadi diawal sudah diperingatkan tidak diperbolehkan menyalakan api, jadi setelah matahari terbenam kami beristirahat.
Aku lihat beberapa dari kelompok.mas Aji ada yang membawa senter kepala, ternyata tidak semua dari mereka tidur, ada beberapa yang berjaga. Baiknya mereka tidak meminta kami ikut shift jaga karena tau kalau kami pendaki pemula dan membiarkan kami beristirahat.
Perasaanku senang sekali, aku terbaring di sleeping bag yang aku beli. Kubuka ponselku dan sebelum tidur kulihat galeri hasil foto tadi. Masih tidak percaya ternyata laut bukan cuman berwarna biru, ada yang putih bersih dan itu tak kalah indah. Mataku mulai lelah dan hingga akhirnya aku tertidur.
“Mas-mas-mas!” tubuhku digoyangkan seseorang aku yang masih setengah sadar mencoba bangkit dan ternyata mas Bara yang membangunkanku dan Aji.
“Mas, frame tendanya patah, ayo mas segera pindah ketenda saya!”
__ADS_1