
“Huaahhh,” teriakku sambil merenggangkan otot-ototku saat aku bangun.
Matahari memang belum keluar, tapi lampu kamar sudah dinyalakan sama Ibu. Ya aku biasa bangun pagi sekitar 15 menit sebelum subuh. Taukan ya buat apa, buat boker dulu supaya kalau tepat waktu adzan subuh tidak terlambat karena boker.
Keluargaku punya kultur turun-temurun mengenai buang air. Gini-gini sejak kecil setelah bangun tidur diajari untuk langsung ke kamar mandi, ini aku lakukan setiap pagi. Sesampainya di kamar mandi, ibu mengunci pintunya lalu berkata “Kalau udah selesai e’eknya nanti panggil ibu ya!”
Kalian tau lagu "bangun tidur ku terus mandi?" Nah, di keluargaku bangun tidur ku terus boker. Ibuk selalu bilang “Gak semua orang bisa e'ek pagi, jadi kamu mesti bisa disaat orang lain gak bisa," kata ibu seolah menjadi seorang motivator.
Matahari di tempatku terbit sekitar pukul 6 pagi. Aku selalu membuka sebagian tirai jendelaku agar cahayanya masuk. Kamarku menghadap ke Timur, dan langsung mengarah ke Matahari tanpa ada halangan apapun. Sinarnya yang masuk membuat kamarku hidup. Kadang jika pagiku suntuk aku membuka jendela kamar dan menikmati udara pagi. Ya walaupun rumahku tidak tinggal di Desa yang udaranya pasti lebih seger, tapi tetep aja udara pagi buatku selalu membawa semangat baru.
Ini hari Jum’at hari terakhir aku masuk kerja di minggu ini. Aku menarik nafas panjang, lalu bergegas membereskan kamarku dan mandi. Setelah selesai aku langsung membuka lemari. Walaupun kamarku tidak terlalu tertata rapi, tapi lemariku tidak. Aku menggantung semua baju kerjaku, sementara kaosku aku tumpuk di partisi lemari, jadi mereka tidak tercampur, selain itu baju kerja aku urutkan berdasarkan hari dari senin sampai jum'at yang urutannya dari kiri ke kanan. Sementara celana kuletakkan diujung atas sebelah kanan. Aku tak punya pilihan banyak soal celana, hanya ada warna hitam dan abu-abu. Membuatku seolah gak pernah ganti celana.
Tak sengaja aku melihat kearah ujung meja belajarku. Aku ingat sewaktu aku melihat masa laluku dulu, aku sedang duduk disana waktu berantem sama mantan. Sekarang meja itu kosong, diatasnya ada beberapa fotoku bareng temen-temenku, bapak ibuk dan adek, lalu ada fotoku dengan Usy.
Aku berjalan kearah meja belajarku, memandangi sejenak foto-foto itu. Foto bareng temen dan keluarga cenderung formal, sementara fotoku dengan Usy yang agak berbeda. Fotonya digrid dengan background berwarna putih dan ada sedikit hiasan bunganya. Ada 3 foto yang ada dibingkai berwarna hitam itu, di ujung atas ada foto Usy yang berusaha menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, foto yang letaknya ditengah dan sedikit tertutup foto pertama ada fotoku bersama Usy yang duduk takhiyatul berhadapan sambil tersenyum, foto terakhir fotoku yang terlihat dari belakang.
Setelah aku lihat-lihat kembali aku teringat kita yang jarang mengabadikan moment saat bersama. Kita juga bukan orang yang photogenic sehingga foto kamipun gak banyak gaya. Aku teringat besok aku akan bertemu dengan Usy, aku teringat kilas balik yang aku lihat saat aku menatap mata Usy. Yah, biar itu jadi misteri besok.
Setelah selesai sedikit bernostalgia, aku bergegas berangkat. Kuambil kotak bekal yang telah disiapkan ibuk dimeja makan, menyalami kedua orang tuaku, lalu kunyalakan mesin motorku dan berangkat.
Sekitar 15 menit perjalanan aku sampai di kantor. Aku punya kebiasaan datang pagi, bahkan terlalu pagi mungkin. Jam kerja dimulai dari pukul setengah 8, tapi aku sudah berada di Kantor pukul setengah 7.
Kubuka bekal yang disiapkan ibu tadi sambil menyalakan komputer kerjaku. Koran langgananku juga sudah ada dimeja, tapi hari ini aku pinggirkan dulu, karena ingin menikmati sarapan sambil mendengarkan musik folk.
“Pecel lagi,” gumamku saat membuka kotak bekalku. Ya salahku juga sih, karena menghardik sarapan selain pecel. Kalau disiapin sarapan nasi kuning aku selalu bilang “Udah selesai sunatan kok sarapannya masih nasi kuning, pecel dong,” pikirku nasi kuning itu makanan untuk selametan, hajad-an, atau tumpengan. Dan semenjak itu Ibu sering menyiapkan nasi pecel untuk sarapanku. Its okay, aku melahap nasi peceil itu.
Bekal habis saat para pegawai lain berbondong-bondong antri didepan mesin absensi. Yah, hmm pukul 7.15 itu memang rush hours antri absen udah kayak antri bantuan bencana. Itu mungkin juga bisa menjadi alasanku untuk berangkat lebih pagi agar tidak merasakan antri absen pagi.
__ADS_1
“Aska si rajin, udah datang komputer udah nyala,” celetuk mas Felix saat dia masuk ke ruangan.
“Hehe iya mas, biasa sarapan dulu di kantor,” jawabku dengan senyum ramah.
Mas Felix juga membuka kotak bekalnya yang biasa dia makan untuk makan siang “Aku juga dong hari ini, istri lagi gak masak,” Jawab mas Felix sambil ngipas-ngipas makanannya “Makan, Ka.”
“Mana mas?”
“Ini, mau kamu? Mau aku siram kuahnya?” jawabnya sedikit menggetakku.
Aku tertawa kecil lalu melanjutkan ritual pagi hariku, baca koran.
Hari ini pekerjaan berjalan seperti biasa. Checklist pekerjaan harian, menghubungi client, dan mengarsipkan berkas yang memenuhi meja kerjaku.
Tak terasa waktu telah menunjukan jam makan siang. Karena hari ini mas Felix gak dimasakin istrinya aku jadi ada temen buat makan siang. Kita berdua makan siang di salah satu masakan padang yang ada didekat kantor.
“Ya gaktau, abis jatuh pengen tidur aja kali,” jawabku sambil melahap ayam pop.
“Lah pura-pura ya? Aku laporin nih ke pak Langgas,” kata mas Felix mengancam sambil menunjukku menggunakan krupuk.
“Jangan mas, keluargaku terancam nanti”
Mas Felix tertawa, dan kami melanjutkan makan. Tiba-tiba ada serangga yang menempel ditengah-tengah alisku. Mas felix yang menyadarinya memperingatkanku, karena kesulitan untuk mengusir serangga itu aku meminta tolong mas Felix sehingga kami bertatapan cukup lama.
Dan “Whuuuzzzhh.”
“Aduh,” kataku sambil menutup mataku.
__ADS_1
“Yaelah ditiup doang udah aduh-aduh, Ka,” keluh mas Felix.
“Maaf-maaf mas,” jawabku sambil berkedip-kedip.
Aku melihatnya lagi, aku melihat masa lalu mas Felix. Aku melihat mas Felix waktu SMP pernah persami bareng temennya. Aku lihat, mas Felix.. ngompol dan nyemplung selokan waktu ditakut-takutin, dan aku lihat mas Felix.. nyebokin temennya yang belum bisa boker. Aduh selera makanku langsung hilang seketika.
Aku menyudahi makan siangku dan segera membayar makananku. Di Jalan, aku berpikir tentang bagaimana aku bisa masuk ke masa lalu seseorang. Aku sadar aku bisa melihatnya dengan saling bertatapan sekitar 3 menit.
Aku ingin membuktikan kebenaran dari kekuatan dimataku ini. lalu aku mendekat ke mas Felix sambil berbisik “Yaelah dulu pernah nyebokin siapa tuh?”
Mas Felix kaget, dan meringkusku “Sssttt, jangan keras-keras, Ka.”
Aku berusaha melepaskan tangannya yang menutup mulutku. Aku tersenyuk licik kearah mas Felix, samhil melihat ke arah es Doger yang ada didepan gerbang kantor.
"Ehemmmm seger tuh es Doger," kataku sambil mengode mas Felix.
Mas Felix akhirnya meng-iyakan apa yang aku minta. Kami bertatapan lagi beberapa saat. Aku mencoba kekuatanku sekali lagi dengan meminta mas Felix menatap mataku.
"Dah gila ya lu gua suruh liat mata lu selama ity, bla bla bla" tanpa sadar saat mas Felix ngomel kami bertatap mata, aku bisa masuk ke ingatan masa lalunya, tapi tak lama kemudian aku justru pingsan. H
Karena mas Felix mengira aku sakit karena pingsan, aku ditidurkan digudang yang ada kasur dan AC-nya yang dingin, lalu diijinkan pulang lebih cepat. Aku pulang sekitar pukul 2 siang, lalu aku duduk dimeja belajarku sambil menulis sebuah catatan.
Sekarang aku ngerti gimana cara pakenya, dan aku rasa ini ada batasnya. sejujurnya setelah melihat masa lalu orang, badanku jadi terasa sakit. Mataku terasa berat dan perih. Itu sebabnya aku selalu mengeluhkan ketika aku selesai melihat masa lalu.
Aku mencatat segala sesuatu yang aku perlukan untuk ditanyakan besok. Menutup buku lalu menghuhungi Usy.
"Besok jadikan?"
__ADS_1