Me and Mr. Billionaire

Me and Mr. Billionaire
Episode 3


__ADS_3

16.00 WIB


Terlihat seorang wanita hamil yang tengah berlari dengan langkah tertatih sembari memegang perutnya dan menangis. Alasan dia berjalan terburu-buru adalah karena pengawal suruhan suaminya yang akan menyeretnya pulang kembali ke negara asalnya untuk kembali kepelukan sang suami.


Sementara itu di dalam cafe tempat Lia bekerja


.


.


.


.


.


Lia yang sudah menyelesaikan shift bekerjanya pun akhirnya bersiap-siap untuk pulang.


"Kakak-kakak semua makasihnya buat hari ini, maaf juga kalo tadi Lia sempet bikin masalah selama kerja tadi." itu adalah ucapan yang sering Lia ucapkan setiap harinya saat jam kerjanya selesai.


"Yaampun Li, kamu kayak sama siapa aja sih ngomong gitu terus tiap hari. Kamu tu ngga bikin masalah sedikit pun. Malah ngebantu banget karena cafe lagi rame banget tadi." ujar salah satu karyawan cafe yang bernama Sofia tersebut.


Lia yang merasa malu karena mengucapkan hal yang sama terus setiap harinya itu pun hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal tersebut.


"Ya cuman udah kebiasaan aja Ka Sofi aku kayak gitu hehehe."


Sofia yang mendapat jawaban tersebut dari Lia hanya dapat geleng-geleng saja dengan kelakuan dari gadis yang bernama Amalia Fatika Rahmawati ini.


"Yaudah Lia pamit pulang dulu ya kakak-kakak semua. "

__ADS_1


"Iya Lia " jawab beberapa karyawan cafe yang sedang berada di ruang ganti karyawan tersebut.


Sehabis itu Lia berjalan keluar dari cafe. Melihat kondisi cuaca yang sedang mendung dan berangin ini pun Lia memutuskan untuk pergi ke minimarket untuk membeli sekaleng susu hangat.


Ditengah perjalanan menuju ke minimarket, Lia melihat seseorang di celah-celah gang sempit yang berada di antara kedua bangunan besar tersebut. Awalnya Lia hanya melihat dan ingin melanjutkan jalannya kembali, namun ketika ia melanjutkan jalannya kembali, tiba-tiba seseorang berpakaian serba hitam namun rapi tersebut menghampirinya dan bertanya padanya.


   "Permisi nona. Apakah kau melihat seorang wanita hamil mengenakan tribal dress dan berwajah seperti orang asing?" tanya pria tersebut kepada Lia. Lia terdiam sejenak lalu menolehkan kepalanya dan melihat sekitarnya, dan memang benar sesuai dugaannya, beberapa orang juga ditanyai pertanyaan sepertinya.


   "Sorry Mr. saya tidak melihat ciri-ciri wanita yang anda sebutkan tadi." bohong Lia.


Dia tau jawabannya itu tidak sesuai fakta yang tadi ia lihat dalam perjalanan. Namun setelah melihat kondisi sekitar dan merasa bahwa mereka bukanlah polisi, melainkan terlihat seperti bodyguard atau pesuruh seseorang pun. Akhirnya Lia memutuskan untuk menolong wanita tersebut. Ditambah pertanyaan orang tadi yang mengatakan wanita tersebut sedang hamil.


Setelah orang tersebut pergi dari hadapannya, Lia segera berlari menuju minimarket yang tadi ingin dia tuju dan langsung mengambil 2 buah susu kaleng rasa coklat dan original tersebut kedalam mesin penghangat dan membayarnya ke kasir.


Setelah selesai, Lia langsung berjalan menuju arah pulang ke rumahnya yang kebetulan tembusan dari belakang gang kecil yang ia lihat tadi. Lia melihat ke dalam gang tersebut apakah wanita itu masih ada disitu atau tidak.


Dan keberuntungan sepertinya sedang berpihak kepada Lia. Ia melihat wanita itu masih disitu, punggungnya dalam keadaan naik turun, menurutnya dia sedang mengatur nafasnya, mungkin.


   "Please, jangan paksa aku ikut kalian. Aku tidak mau kembali. Bilang saja pada Daniel brengsek itu untuk menceraikan aku. Aku hanya ingin hidup berdua dengan anak yang aku kandung ini." jawab wanita itu sambil menangis. Lia yang mendengarnya pun sedih. Kenapa orang-orang tersebut tega dengan wanita ini. Lihat lah wanita ini sedang hamil besar.


Apakah tidak ada rasa kasihan di diri mereka?


   "Bukan bukan Miss saya disini bukan untuk menyeret anda. Saya disini malah ingin meno.." belum selesai ucapan Lia wanita itu sudah memotong ucapan Lia sambil berjalan mundur kembali.


   "No... kau pasti salah satu dari mereka kan?"


   "Tidak Miss. Saya ini orang yang tadi tidak sengaja melihat anda dari ujung sebelah sana. Dan memang tadi saya sempat bertemu dengan orang-orang yang menanyakan kalau saya melihat anda atau tidak. Namun jawaban saya tidak melihat anda. Apalagi mendengar kalau yang mereka cari itu anda yang tengah hamil besar seperti ini." jawab Lia secara rinci tentang apa yang tadi dilihatnya.


   "Benarkah itu? Kumohon jangan kasih tau mereka kalau aku ada disini." ujar wanita itu sambil menautkan kedua tangannya ke tangan Lia sambil terus menerus berujar tolong.

__ADS_1


   "Iya Miss, saya tidak akan memberitahukan keberadaan anda. Tapi..." Lia terlihat berpikir sebelum melanjutkan kata-katanya.


   "Tapi kenapa?"


   "Itu Miss sebelumnya saya belum tahu nama anda. Jadi siapa nama anda Miss?"


   "Ahh...itu ternyata yang ingin kamu tanyakan. Perkenalkan namaku Briana Ardelia Johnson. Kalau kamu sendiri? " ucap wanita yang bernama Ardelia tersebut.


   "Perkenalkan Miss nama saya Amalia Fatika Rahmawati nama panggilan saya Lia, jadi sebenarnya saya ingin membantu anda. Boleh kan Miss?" balas Lia memperkenalkan namanya dan niatnya.


   "Jangan panggil aku Miss, kelihatan sudah tua aku kalau dipanggil Miss, anggap saja aku ini kakakmu. Panggil aku kakak saja." ucap Briana.


   "Ok. Kak Briana atau Ana? wkwkwk"


   "Agak terdengar canggung saat kau menyebutkannya wkwkwk. Tapi panggil saja aku Ana. Kak Ana."


   Akhirnya kecanggungan diantara keduanya pun hilang secara perlahan, digantikan dengan percakapan dan diselingi tawa oleh keduanya.


   "Ahh iya kak hampir aku lupa. Tadi aku sudah mengabari ibuku kalau aku ingin membawamu untuk tinggal sementara dirumahku dan ibuku setuju. Bagaimana kak kau mau?"


   Memang sebelumnya saat di minimarket tadi, Lia sempat menelpon ibunya untuk ijin kalau seandainya dia membawa seorang wanita hamil ke rumahnya. Awalnya ibunya kaget dan menanyakan siapa wanita yang Lia maksud, namun setelah perbincangan panjang antara ibu dan anak tersebut, Lia diijinkan membawa wanita yang dimaksud Lia tersebut ke rumah.


   "Benarkah? Apakah keluargamu tidak keberatan?" Tanya Ana memastikan.


   "Tidak kak, tenang saja. Tapi sepertinya kakak harus berganti pakaiannya dulu deh. Soalnya para pengawal suami kakak pasti mengenali kakak dengan pakaian kakak yang seperti ini." jawab Lia sambil melihat seluruh badan Ana dari atas sampai bawah.


   "Ganti pakaian? Lia, aku saja kabur tidak membawa apapun selain calon bayiku, dan diriku ini."


   "Oh iya. Hampir saja aku lupa." pekik Lia, lalu dengan cepat dia merogoh barang-barang yang ada di tasnya. setelah itu langsung ia keluarkan barang yang dia butuhkan dan diberikannya barang tersebut ke Ana.

__ADS_1


   "Ini kak, aku ada sweater dan topi bekas aku pakai tadi saat bekerja, sementara kakak pakai ini saja dulu untuk kabur. Dan baju kakak tidak apa-apa kan kalau ditinggal disini? Takutnya saja kalau ada alat pelacak di baju kakak" ucap Lia sambil memberikan sweater dan topinya.


   Setelah mengganti pakaiannya, Ana dan Lia pun jalan perlahan-lahan keluar dari gamg sempit tersebut. Lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah Lia. Tanpa tahu yang sebenarnya kalau ada seseorang yang melihat mereka pergi.


__ADS_2