
2 hari kemudian
31 Maret 2018
Selama 2 hari tinggal di rumah Lia, Ana gunakan untuk membantu ibu Sarah dimulai dari pergi ke pasar saat waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi, lalu dilanjutkan menyiapkan sarapan dan juga menyiram tanaman. Ibu Sarah tidak pernah meminta Ana untuk mengerjakannya, melainkan Ana sendiri yang berniat untuk membantu. Ibu Sarah tidak ada pilihan lain kecuali mengiyakannya, kecuali untuk menyapu dan mengepel rumah. Kedua hal itu yang ibu Sarah larang untuk Ana kerjakan.
Seperti pagi ini, terlihat di dapur ada ibu Sarah, Ana, dan juga yang baru bangun Lia sedang menyiapkan sarapan untuk pagi hari ini.
06:15 wib
"Pagi Ibu, Ana, Lia"sapa Rizal yang sudah rapih dengan setelan kantornya yang sederhana itu.
"Pagi juga. Loh Zal kok udah rapi jam segini, kamu mau berangkat sekarang? Ngga sarapan dulu? Atau mau ibu bawain bekel aja biar di jalan bisa kamu sambil makan hmm?" tanya Ibu Sarah.
"Bawa bekel aja deh bu. Soalnya aku mau bantu senior ku. Katanya nanti ada rapat gitu, jadinya aku harus bantu-bantu nyiapin ruang meeting, snack sama minumannya." ucap Rizal yang menjelaskan kenapa ia harus berangkat pagi-pagi seperti ini.
"Yaudah kalo gitu biar Ana sama Lia yang siapin bekelnya ya Zal. Kamu duduk dulu makan roti atau minum apa dulu buat ganjel-ganjel perut."ucap Ibu Sarah
"Iya bu."balas Rizal.
Langsung saja Ana sama Lia langsung menyiapkan bekel untuk Rizal. Sementara Bu Sarah membangunkan anggota keluarga yang lainnya dan menyiapkan kebutuhannya.
Dan juga ambil menunggu bekalnya yang disiapkan oleh Ana dan Lia, Rizal-pun memeriksa apakah ada yang tertinggal di badannya atau tidak. Lalu ia mengambil sepotong roti dan juga kopi hitam yang selalu disiapkan Ibunya untuknya dipagi hari.
15 menit kemudian
"Bu, Rizal berangkat dulu ya. Semuanya Kak Rizal berangkat dulu. Dadah" ucap Rizal sambil berjalan ke depan.
"Lia, Rizal ngomong apa tadi?" tanya Ana penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Rizal tadi, sambil mengunyah wortel yang baru saja dia ambil dari sup.
"Kak Rizal? Ahh tadi dia bilang 'semuanya Kak Rizal berangkat dulu. Bye byee' ngomong kayak gitu kak." ucap Lia sambil menirukan apa yang Rizal lakukan tadi dengan raut muka yang sedikit di lebih-lebihkan.
Sedangkan Ana yang melihatnya hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Lia yang menurutnya lucu itu. Ibu Sarah dan ayahnya yang ikut melihatnya pun ikut tertawa melihat tingkah laku Lia yang jarang dikeluarkannya tersebut.
"Udah-udah ketawanya. Sekarang lanjutkan sarapan kalian. Ibu mau siap-siap berangkat kerja dulu. Lia nanti bantu ayah keatas ya. Dan Ana jangan kebanyakan capek ya besok atau lusa nanti ibu sama Lia akan temani kamu ke dokter untuk checkup terus menanyakan kapan perkiraan lahirnya anak kamu, biar kita semuanya bisa bersiap-siap menjelang hari kelahirannya." ucap Ibu Sarah sambil menaruh piring bekas makan yang ada di meja makan dan menghampiri Ana dan mengelus puncakkepalanya dengan sayang.
__ADS_1
*"Ya Maam. Thank u."*ucap Ana singkat. Karena dia tidak bisa menjelaskan apa yang dia rasa sekarang. Dia senang\, sedih\, terharu\, kecewa\, entahlah semuanya menurut Ana menjadi satu. Susah dijelaskan.
"O iya bu. Besok Sakura mau kesini, katanya besok mau belajar bikim masakan sama kue lagi." ucap Lia kepada Bu Sarah sebelum meninggalkan rumah.
"Loh ngga jadi minggu?"tanya Bu Sarah.
"Ngga bu. Katanya Kura sih hari minggu dia kedatengan kakaknya yang tinggal di Jepang makanya dia minta besok kesininya.. Katanya biar besok dia bisa bikin makanan buat kakaknya." ucap Lia setelah mengingat obrolan apa saja yang disampaikan Sakura padanya semalam.
"Yaudah. Ibu bisa kok. Terus bilang besok ngga usah bawa apa-apa kecuali bahan-bahan yang mau dia masak ya Li?" tanya Bu Sarah yang telah berada di ambang pintu luar.
"Ok bu."
New York
22:30 waktu setempat
"Aghh bisa gila aku lama-lama disini. Apa tidak bisa dilanjutkan besok lagi Kak? " keluh Edrick sambil merenggangkan bada dan kedua tangannya.
"Tapi ini sudah malam Nielll. Setidaknya bisa kita kerjakan di rumah." rengek Edrick dengan mulut yang dimonyong-monyongkan.
"Diamlah Rick. Bertingkah lucu seperti itu tidak cocok untukmu. Malah jijik aku melihatnya. Kau juga tahu kan kalau aku tidak suka membawa pekerjaan ke rumah. Di rumah ya istirahat bukan bekerja. Dan juga sejak kapan kau menganggap jam segini sudah malam? Biasanya juga jam segini kau anggap masih sore buat ke club minum-minum dan juga jajan kan." tanya Daniel yang terpaksa mengalihkan tatapannya dari kerjaannya ke arah Edrick yang tidak kalah banyak kertas-kertas yang menumpuk disisi sofa yang dia duduki.
"Ya ya maaf. Silahkan lanjutkan Tuan Daniel yang terhormat." gerutu Edrick dengan memonyongkan bibirnya.
Daniel yang melihatnya hanya mampu menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang masih lumayan menumpuk tersebut.
Rumah Lia
Siang hari seperti ini Ana habiskan dengan melipat baju yang tadi sebenarnya mencari-cari sesuatu yang bisa dia kerjakan untuk membunuh rasa bosannya. Sebenarnya walaupun Ana anak orang kaya sewaktu dia tinggal di New York. Ana selalu berprinsip kalau ada yang bisa dia kerjakan sendiri, akan dia lakukan itu. Dan buktinya prinsipnya bertahan sampai sekarang.
"Kak Ana. Sini aku bantu melipat bajunya." ucap Lia saat melihat Ana melipat cucian baju yang telah dicuci di ruang tengah.
Tak lama Lia datang sambil membawa sisa cucian baju yang belum dilipat ke tempat Ana. Selama kegiatan melipat baju, keduanya saling diam. Tidak ada suara yang keluar dari bibir keduanya. Hingga tidak terasa waktu sudah pukul 12:30 siang, dan Bu Sarah pulang dari tempat bekerjanya.
"Ana. Nanti kita pergi cek kandungan kamu jam 2 ya. Ibu mau menyiapkan mau siapkan masakan dulu buat nanti."ucap Bu Sarah sambil berjalan ke kamar. Ana menengokan kepalanya ke arah Bu Sarah yang sedang berjalan ke arah kamar dan membalasnya dengan anggukan kepala.
Tidak lama setelah itu Bu Sarah mulai memasak dan menyimpannya di lemari makanan untuk dimakan nanti. Ana dan Lia yang telah menyelesaikan melipat bajunya pun segera menaruh bajunya di tempat menyetrika agar di setrika nantinya.
__ADS_1
5 menit kemudian
13:25 wib
Bu Sarah dan Ana telah bersiap-siap untuk pergi menuju klinik kandungan terdekat. Karena keluarga Lia yang serba pas-pasan tersebut, terpaksa untuk membawa Ana ke klinik kandungan terdekat dari pada rumah sakit yang membutuhkan biaya besar untuk sekali cek kandungan.
Klinik kandungan
Sekarang Ana dan Bu Sarah sedang mengantri untuk dipangil masuk oleh si asisten dokter yang biasa yang biasanya memanggil nama pasien yang berikutnya.
Ana melihat ke sekitarnya. Rasa cemburu da kangen terhadap suami brengseknya itupun mucul. Ana cemburu melihat sekitar, karena beberapa ibu hamil yang sedang menunggu giliran untuk checkup tersebut sedang di dampingi suaminya. Sedangkan dia? Hanya di temani Bu Sarah. Sewaktu dia masih di New York juga begitu. Hanya sekali saja Daniel mengantarnya untuk check kandungan, itupun tidak sampai benar-benar selesai. Karena ada telpon yang tiba-tiba masuk di hpnya dan langsung saja meninggalkan Ana berdua dengan orang kepercayaannya saja. Dan dia juga tiba-tiba menjadi rindu tingkah manis dan kelakuan aneh Daniel saat mereka awal-awal pernikahan.
Merindukan semua itu membuat Ana terisak kecil. Bu Sarah yang melihatnya hanya mampu mengelus puggung Ana dan mengucapkan kalimat penguat yang menguatkan diri Ana dengan kasih sayang. Karena hanya itu saja yang bisa di alakukan untuk saat ini.
"Sudahlah Ana. Jangan terlallu banyak menangis. Nanti anak yang kamu kandung pasti juga ikut sedih. ayo hapus air matamu. Sebentar lagi giliran kamu buat di panggil." ucap Bu Sarah sambil mengelus-elus punggung Ana.
Nomor 28 Briana Ardelia silahkan masuk
Cuttt....
Maaf belom bisa crazy update.
Soalnya akhir-akhir ini, aku balik langsung tepar.
Aku usahain Saturday or Sunday bakalan lanjut netik yang banyak.
__ADS_1