
"Dengan nomor antrian 28, Bu Briana Ardelia dipersilahkan masuk ke dalam ruangan." ucap suster yang keluar dari ruangan dokter kandungan.
Mendengar namanya dipanggil, Bu Sarah dan Ana segera masuk untuk menemui dokter yang berada di dalam. Setelah masuk ke dalam ruangan tersebut, Ana langsung disuruh untuk tiduran di brangkar yang berada di ruangan tersebut, sedangkan Bu Sarah duduk menunggunya di kursi di depan meja dokter tersebut. Setelah berbaring dalam posisi nyamannya, lalu disingkap baju yang Ana pakai dan diolesi oleh gel yang entah apa itu lalu sensasi dingin langsung menyerang di area perut Ana saat alat usg tersebut tertempel di perut Ana.
"Lihatlah Bu Ana bayinya mamiliki kondisi dan posisi yang sempurna dan juga jenis kelaminnya laki-laki--" belum selesai ucapan dokter itu, Bu Sarah memotong ucapan dokter tersebut.
"Maaf Bu dokter menyela perkataannya, ini sebenarnya Ana ngga bisa berbahasa Indonesia. Dia bisanya berbahasa Inggris" ucap Bu Sarah.
"Ahh. Benarkah itu?" tanya dokter kandungan tersebut. Dan dijawab Bu Sarah dengan anggukan pelan.
"Ok bu Ana lihat gambar disini, ini bayinya. Posisi dan kondisinya sempurna dan juga jenis kelaminnya laki-laki. Dan ibu di perkirakan sekitar 14 hari lagi akan melahirkan. Apa ibu sebelumnya anda sudah pernah melakukan pemeriksaan kehamilan?" tanya dokter itu dengan Bahasa Inggrisnya yang lancar.
"Iya dokter. Sebelumnya saya sudah melakukan pemeriksaan saat masih di New York sebulan yang lalu dok. Tapi setiap kali saya melakukan pemeriksaan, dokter disana bilang kalau anak saya selalu malu menunjukkan jenis kelaminnya. Syukurlah kalau sekarang dia sudah tidak malu untuk menunjukkan jenis kelaminnya lagi" ucap Ana dengan suara yang pelan dan juga mengelus perutnya yang tidak terkena gel tersebut.
"Oke. Pemeriksaannya Bu Ana sudah selesai, dan juga saya akan mencetak hasil USG-nya. Silahkan kembali duduk Bu Ana. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan kepada Bu Ana soal janin dan kondisi Ibu Ana juga." ucap dokternya sambil membersihkan alat-alat yang telah dipakai tadi untuk memeriksa Ana tadi. Dan Ana merapihkan kembali bajunya dan berjalan. Lalu duduk disamping Bu Sarah.
Lalu dokternya berjalan ke arah mesin print foto dan mengambil hasil foto usg yang telah di print tersebut, dan menunjukkannya kepada Ana dan Bu Sarah.
"Jadi bu. Seperti kata saya tadi, anaknya sehat cuman kenapa menjelang hari kelahirannya kok kondisi ibunya sendiri yang kurang sehat? Bukannya ibu sudah tau kalau wanita yang sedang hamil itu tidak boleh stress, karena ditakutkan akan susah nanti saat ibu melahirkan nantinya." tanya dokter tersebut sambil menunjukkan apa yang terjadi di foto usg tersebut.
"Ahh sebenarnya saya agak memikirkan jenis kelamin anak saya, gimana kalau saya belikan bajunya nanti berwarna pink. Pastinya tidak cocok untuk anak saya kalau jenis kelaminnya laki-laki. Eh ternyata beneran laki-laki. Jadi karena hal itu saya sempat terbawa pikiran sedikit. Saya tidak tahu kalau sampai segitunya dokter." jawab Ana.
"Kan sekarang ibu sudah tahu jenis kelamin anak ibu. Jadi ibu harus banyak makan ya. Harus sering jalan-jalan juga waktu di pagi hari dan sore hari. Agar saat proses melahirkannya nanti lancar. Dan juga saran saya, kalau ibu ada masalah sekecil apapun itu harus dibicarakan. Paling tidak ibu cerita pada seseorang yang ibu percaya untuk bercerita." jawab dokter sambil menyerahkan hasil foto yang tadi di print untuk dibawa pulang.
"Iya dok. Terima kasih atas sarannya. Permisi."ucap Bu Sarah sambil bersiap-siap untuk keluar dari ruangan dokter kandungan.
"Iya bu. Sama-sama." ucap dokter tersebut. Lalu tak lama Bu Sarah dan Ana keluar dari ruangan dokter kandungan tersebut.
Setelah keluar dari ruangan tersebut, Bu Sarah dan Ana memutuskan untuk duduk dulu di taman rumah sakit sambil menikmati angin sepoi-sepoinya. Setelah beberapa menit terdiam Bu Sarah akhirnya buka suara.
"Ibu tidak tahu apa yang masih mengganjal dipikiran kamu selama 2 hari ini. Tapi ingat, kata dokter tadi kamu jangan terlalu stress. Sebentar lagi kamu mau melahirkan Ana. Ibu harap kamu mau menceritakan apa saja yang menjanggal di hati kamu Ana." ucap Bu Sarah setelah mereka duduk terdiam di taman.
__ADS_1
"Hiks... Hiks... Sebenarnya aku juga ingin Bu meluapkan semuanya kepada Tuhan. Kenapa Tuhan tidak adil sama aku, kenapa Tuhan mengambil seluruh keluargaku saat hari bahagiaku, kenapa Daniel dengan teganya berbuat seperti itu kepadaku? Apa dia sudah berniat menceraikan aku dari lama? Kalau iya kenapa tidak langsung ceraikan saja aku. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Kenapa dia begitu tega mau mengambil anakku juga hiks.. hanya anak ini saja yang aku punya sekarang hiks.. hiks.." ucap Ana sambil membungkukan badannya dan menangis.
Bu Sarah yang merupakan perempuan juga merasakan yang seperti itu. Rasa sakit, lelah, letihnya dirasakan sendiri oleh para wanita yang pernah hamil. Apalagi Ana tidak di dampingi suaminya pada saat hari menjelang melahirkan seperti ini. Padahal Ana butuh sekali di dampingi suaminya pada saat-saat seperti ini.
Dengan sigap Bu Sarah langsung menarik Ana kedalam pelukannya. Karena hanya yang sesama perempuan saja yang mengerti rasa sakitnya. Walaupun mereka tidak mengalaminya. Tapi mereka merasakannya.
"Sudah Ana. Ada Ibu disini. Kamu juga bisa bercerita ke Ibu apa yang menjanggal di hatimu. Kamu juga bisa bercerita ke Lia kalau sedang tidak ada ibu. Kamu ngga sendirian Ana. Banyak yang melindungi kamu sama baby kamu. Sudah ya jangan menangis lagi." ucap Bu Sarah sambil mengelus punggung Ana dan mengucapkan kalimat penenang yang membuat hati Ana tenang.
Setelah mereka terdiam dalam posisi beepelukan tersebut, akhirnya mereka mengakhirinya.
"Ayo Ana. Sudah sore sebaiknya kita pulang sebelum malam." ucap Bu Sarah.
"Ayo Bu. " ucap Ana sambil membersihkan roknya dari debu yang ada di sekitar rok nya.
Setelah itu Bu Sarah dan Ana berjalan sampai halte di depan untuk menunggu angkutan umum untuk mengantarkan mereka sampai ke rumah.
Sementara itu di sebrang jalan ada seseorang yang memperhatikan Bu Sarah dan Ana secara diam-diam sambil melaporkan apa yabg dilihatnya kepada atasannya.
"Tuan sepertinya Nyonya Miller habis dari rumah sakit. Saya kurang tahu apa yang Nyonya lakukan di rumah sakit tersebut. Saya akan segera mengeceknya ke dalam Tuan." ucap laki-laki tersebut kepada seseorang yang sedang dia telpon.
"Baik Tuan. Akan saya laksanakan sekarang." jawab laki-laki tersebut.
Tak lama panggilan telpon itu diputus dari Tuannya. Dan dia langsung keluar dari mobil dan berjalan ke arah rumah sakit dengan segala penyamarannya, yang tentunya agar tidak dikenali oleh majikannya yang sedang kabur tersebut.
New York
Daniel sedang termenung di kursi kebanggaannya. Dia sedang memikirkan apa yang di laporkan anak buahnya kepadanya barusan. Untuk apa Ana ke rumah sakit? Apakah ia akan menggugurkan janinya? Tapi sepertinya tidak mungkin. Karena sebentar lagi dia akan melahirkan.
"Arghhhh bisa gila aku jauh-jauh darimu sayang." ucap Daniel kepada dirinya sendiri.
"Kalau begitu ayolah Kak. Kita cepat-cepat selesaikan masalah kerjaan kita ini dan menjemput istrimu yang sebentar lagi akan melahirkan." ucap Edrick yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk mencuci mukanya agar terlihat sedikit lebuh segar.
__ADS_1
"Ya kau benar Erick. Dia sebentar lagi akan melahirkan. Tapi bukannya masih satu bulan lagi untuk Ana melahirkan?" tanya Daniel dengan pandangan yang tidak fokus.
Dia berbicara pada Edrick, tapi pandangannya entah kemana.
"Huft. Ini yang aku tidak suka sifatmu Ka. Terlalu cuek. Padahal Ana istrimu sendiri. Lagi hamil pula. Mana pernah kau menemaninya untuk check up ke dokter kandungan? Kau kira hamil itu ya tinggal hamil saja? Tidak perlu vitamin, susu, kasih sayang suaminya, dan lainnya?" ucap Edrick dengan menggebu-gebu. Lalu setelah tenang, Edrick kembali melanjutkan kalimatnya.
"Hahh dan Daniel. Jangan panggil aku Erick atau lainnya. Erick hanya panggilan khusus buat seseorang yang aku cintai disana. Dan juga Ana akan melahirkan sebentar lagi. Bukan satu bulan lagi. Berarti kurang dari sebulan lagi. Bisa jadi seminggu lagi Ana melahirkan. Jadi kumohon hilangkan sifat jelekmu itu demi Ana dan calon anakmu. Kasihan mereka kalau kau seperti ini terus sifatnya." ucap Edrick dengan suara yang pelan, namun masih bisa terdengar oleh Daniel.
"Ya. Maafkan aku Edrick." ucap Daniel.
"Jangan bilang maaf padaku. Bilang lah maaf pada Ana dan calon anakmu yang telah kamu abaikan." ucap Edrick sambil keluar dari ruangan Daniel untuk membeli beberapa gelas kopi di minimarket dekat kantor Daniel.
Lalu tak lama setelah Edrick keluar dari ruangan, Daniel menelungkupkan kepalanya di meja kerjanya dan menagisi segala kesalahannya yang telah ia lakukan kepada Ana dan calon anaknya yang akan lahir sebentar lagi.
"Hiks.. Hiks.. Ana. Maafkan aku Hiks.. Hiks.." ucap Daniel disela-sela tangisnya.
Sebelumnya aku mau minta maaf.
Soalnya aku ngga ngerti sama mangatoon ini.
Padahal di wordnya itu tulisan tuh italic, terus juga udah aku edit italic juga.
Tapi ngga tau kenapa malah keluar tanda * di awal sebelu kalimatnya.
Aku harap kallian ngerti ya.
Bukannya aku males nge italic tulisannya.
__ADS_1
Sekali lagi maaf ya.