
Hai hai hai aku up lagi nihhh.
Aku harap ngga bosen ya nunggu cerita ini update.
Oh iya part ini sedikit lebih pendek dari yang kemaren.
Tapi aku jamin part-part kedepannya bakalan lebih banyak lagi kok.
Sekalian jangan lupa follow ig aku @vammyalaina buat info MaMb sama cerita-cerita lain yang soon bakalan di update.
Happyreading :)
Sementara itu di salah satu kota di New York terlihat seorang pria sedang memandangi jalanan kota dibawahnya dari kaca yang membatasi di ruang kerjanya.. Sekilas pria itu nampak biasa saja, namun siapa tahu dia sedang menyimpan amarah yang sangat besar bukan ?
Tok
Tok
Tok
Pria yang sedang memandangi jalanan itu pun terpaksa mengalihkan perhatiannya ke arah pintu ruangannya, karena ada yang mengetuk pintu ruangannya.
"Permisi Tuan. Ada yang ingin menemui anda." ucap salah satu karyawannya.
"Ya, biarkan dia masuk."setelah mendengar perintah dari tuannya itu, lalu masuklah seorang pria yang berpakaian rapi. Lebih mirip seperti bodyguard sepertinya. Lalu pria itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah kaca transparan itu lagi.
__ADS_1
"Permisi Tuan. Kami telah menemukan dimana lokasi Nyonya Miller berada tuan." ucap bodyguardnya.
Mendengar berita tentang sang istri yang disebut akhirnya pria itu mengalihkan pandangannya lalu mulai duduk di kursinya kembali sambil menunggu kelanjutan berita yang dibawa oleh orang suruhannya itu.
"Ok. Jadi ada dimana dia Jeff?" tanya Daniel ada bodyguardnya.
"Hmm Nyonya berada di Indonesia Tuan. Lebih tepatnya di Jakarta. Dan tadi saat kami mencarinya kami tidak menemukannya, namun saat kami mau pergi kami melihat bahwa Nyonya yang sedang menyamar berjalan dengan seorang gadis dan kami membuntutinya. Dan akhirnya kami tahu bahwa Nyonya Ana berada di rumah gadis tersebut tuan." jelas bodyguardnya yang bernama Jeffery tersebut pada Daniel.
"Baiklah sekarang keluarlah dari ruanganku."titah Daniel.
"Baik Tuan."pamit bodyguard Daniel lalu segera keluar dari ruangan Daniel.
Setelah bodyguard suruhannya telah keluar, Daniel kembali ke posisi awalnya yaitu melihat jalanan di bawah sana.
"Baiklah Ana. Larilah sesukamu, nyatanya kamu tidak akan bisa pergi lama-lama dan bersembunyi dari ku. Indonesia? Hmm sepertinya aku sudah lama tidak mengunjungi rumah nenek dan kakek disana." monolog Daniel.
"Halo."
"......"
"Iya, tolong jangan beritahu mereka."
"....."
"Baiklah. Selamat malam. Maaf mengganggu malam anda pak."
Setelah sambungan telepon terputus. Daniel mengeluarkan smirknya.
'Liat lah seberapa lama kau bisa bersembunyi dari ku sayang.' batin Daniel bersuara.
__ADS_1
Tak lama setelah Daniel menelpon, tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan Daniel dan langsung pergi menuju arah kulkas yang tersedia di ruang kerja Daniel.
"Oh ternyata kau Edrick. Ada apa jauh-jauh datang dari kantormu kemari?"tanya Daniel pada Edrick.
*"Apak*ah hah.. kau sudah tau hah.. dimana Ana berada?"tanya Edrick dengan terengah-engah di sela meminum minumannya, karena dia berlari kemari untuk memberi tahu kakaknya kalau dia tahu keberadaan Ana dari anak buahnya yang juga membantu anak buah Daniel untuk mencari Ana.
"Hmm sudah. Beberapa menit yang lalu. Kenapa? Sepertinya kau masih saja peduli pada istriku?" tanya Daniel dengan suara yang berat dan aura mematikan yang dikeluarkannya. Karena Daniel tahu kalau sebelumnya adiknya ini memang mencintai istrinya. Namun takdir malah mengatakan kalau Ana adalah pasangan yang ditentukan Tuhan untuknya.
Edrick sedang berjalan menuju sofa yang berada di ruangan Daniel langsung menoleh ke arah kakaknya tersebut dan mendengar suara dan aura kakaknya berubah pun hanya menggelengkan kepala sambil terkekeh.
"Hahaha. Tentu saja kak aku masih peduli. Karena dia sahabatku dan kakak iparku. Memangnya ada yang salah? Dan juga aku khawatir dengan calon keponakan ku. Apakah itu salah kalau aku juga menghawatirkannya?"jawab Edrick dengan cengirannya.
"Hmm. Tidak salah juga, tapi siapa tahu kalau kamu masih ada rasa suka terhadap istriku kan Edrick?"tanya Daniel dengan tangannya yang mengepal di samping tubuhnya. Dia terkadang masih suka cemburu terhadap adiknya yang masih suka perduli terhadap istrinya yang sedang kabur tersebut.
"Ohh. Come on brother. Jangan jadi lelaki posesif seperti ini. Aku memang sudah tidak suk.. ah lebih tepatnya aku sudah tidak memiliki rasa terhadap Ana. Aku perhatian seperti ini sebagai bentuk peduli kepadanya sebagai sahabat, adik ipar, dan juga sebagai calon paman yang baik tahu."ujar Edrick dengan cepat.
Karena Edrick merasa kalau kecemburuan Daniel itu sudah tidak masuk akal.
Kenapa?
Karena memang awalnya Edrick susah untuk melepaskan Ana ke kakaknya, namun hampir setahun setelah kakaknya tersebut menikah, Edrick lama-lama juga dapat melepaskan Ana karena ketika melihat Ana datang ke kantornya ia selalu bercerita Daniel yang begini lah Daniel yang begitu lah hinga membuat Edrick eneg sendiri mendengarnya, namun satu hal yang tidak pernah Edrick lupakan ketika Ana menceritakan tentang Daniel adalah binar kebahagiaan yang terpancar di mata Ana kala menceritakan Daniel.
Namun yang ngga Edrick mengerti adalah kenapa kesalahpahaman yang terjadi antara Ana dan Daniel tidak buru-buru Daniel selesaikan? Malah Daniel membiarkan istri dan calon anaknya sendiri kabur dan akhirnya malah Daniel dan Edrick sendiri yang kelimpungan mencari keberadaannya.
"Okay. I'm sorry. Jadi aku punya kabar bagus dan kabar buruk buat kita. Mau dengar yang mana Edrick? " tanya Daniel.
__ADS_1