
Angin malam menembus kulit seorang remaja yang sedang berdiri dibatas pagar jembatan.
Raut wajah remaja itu yang hanya menampilkan wajah datar. Tenang itulah yang dirasakan pemuda itu.
Rayno begitu mendambakan sebuah kematian.
Rayno sudah menyerah akan hidupnya semenjak insiden masa lalu.
Dia selalu dihantui oleh rasa bersalah akan kejadian itu, tidak pernah bisa ia lupakan kejadian yang membuat dirinya kehilangan seseorang yang sangat ia sayangi.
Jadi disinilah Rayno berada, berniat ingin mengakhiri hidupnya dalam malam yang dingin dan menenangkan.
Malam diselimuti pelukan dingin, menyamai keputusasaan yang mencengkeram hati Rayno.
Berdiri di tepi langka pagar jembatan, dia terhuyung-huyung antara hidup dan mati, angin menembus kulitnya seperti bilah es. Wajahnya tetap tabah, fasad mati rasa menutupi kekacauan di dalamnya.
Rayno telah mencapai titik puncaknya, diliputi oleh rasa bersalah yang melanda dirinya sejak insiden masa lalu yang menghantuinya.
Itu telah menghilangkan keinginannya untuk hidup, meninggalkan kekosongan hampa yang tampaknya tidak dapat diatasi Rayno dan hatinya.
Kenangan akan tragedi itu, di mana Rayno kehilangan seseorang yang di sayangi, adalah momok yang selalu hadir menyiksanya setiap saat didalam diri Rayno.
Rasa sakit yang dibawanya adalah pendamping tanpa henti, mengikis secercah harapan yang berani berkedip di dalam dirinya.
Hidup telah menjadi beban yang tak tertahankan, dan di malam yang dingin dan menenangkan itu.
Rayno percaya bahwa kematian menawarkan satu-satunya penghiburan yang telah ia cari.
Saat Rayno memejamkan mata ingin melompat tiba tiba sebuah tangan menariknya menjauh yang membuat Rayno dan orang itu langsung jatuh terduduk.
"Siapa-"
Saat Rayno ingin bertanya tiba-tiba orang didepan nya langsung menyelanya.
"Apa yang kamu lakukan Ray, apa kamu sudah gila!!" Bentak orang itu.
Rayno terdiam membisu, Orang didepan nya adalah kakak pertama nya Sagara.
__ADS_1
Sagara Athaya Mahavir.
"Mengapa kamu diam tidak menjawab? , jawab aku Ray!! Apa kamu tidak tau Ayah dan yang lain pergi mencarimu, kamu tiba tiba saja menghilang dari mansion dan semuanya mengkhwatirkanmu."
Ucap Sagara dengan nada khawatir dan penuh ketakutan, Sagara lalu segera memeriksa kondisi adiknya.
Melihat tidak ada luka atau lecet pada Rayno, Sagara langsung bernafas lega. Sagara begitu takut jika sedikit saja ia terlambat maka adik nya sudah tiada.
Saat itu keluarga Mahavir sedang memiliki kesibukan masing masing jadi di mansion hanya ada Rayno, meski Rayno tidak sendiri karna ada para pelayan dan bodyguard yang menjaganya.
Tapi tetap saja mereka khawatir. Karena Rayno selalu berbuat sesuatu yang nekat hingga menyakiti diri sendiri.
Maka dari itu setiap hari akan ada salah satu dari keluarga Mahavir yang selalu akan menjaga dan menemani Rayno.
Mereka sangat panik dan khawatir saat mendengar kabar dari bodyguard bahwa Rayno menghilang.
Saat itu sang kepala keluarga atau bisa dibilang Ayah Sagara dan Rayno, langsung mengamuk kepada para pelayan dan bodyguard karena mereka lalai menjaga Rayno.
Setelah itu keluarga Mahavir langsung pergi berpencar mencari Rayno. Sagara saat itu ingin mencari adiknya di taman kota.
Tetapi Sagara langsung berhenti saat melihat Rayno yang sudah berdiri di pagar pembatas jembatan jalan yang dibawah nya hanya ada sungai. Jantung Sagara rasanya berhenti beberapa detik.
Sagara sangat bersyukur dia tidak terlambat menemukan adiknya.
Setelah memastikan adiknya tidak terluka, Sagara segera menggedong adiknya dan masuk kedalam mobil.
Sedangkan Rayno hanya terdiam saat digendong dan dibawa masuk kedalam mobil oleh Sagara.
Dalam perjalanan pulang hanya berisi keheningan. Rayno yang diam dan tidak ingin berbicara apapun dan Sagara yang fokus mengemudi. Sesekali Sagara melirik Rayno yang hanya menatap keluar jendela mobil.
Pikiran Sagara melayang kemasa lalu dimana Rayno mulai berubah. Semua berawal dari insiden itu, adiknya selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi.
Semenjak itu adiknya yang ceria dan hangat berubah menjadi pendiam dan tertutup pada mereka.
Saat sedang memikirkan kejadian masa lalu tiba tiba sebuah suara menginterupsi Sagara yang langsung membuyarkan pikiran nya.
"Berhentilah melamun jika kakak tidak ingin kita mati berdua karena kecelakaan."
__ADS_1
Rayno dengan tenang masih tetap melihat kearah jendela mobil.
Sagara yang mendengar itu menghela nafas lelah. Dengan perlahan tangan Sagara yang lain mengelus rambut Rayno dengan lembut, sedangkan tangan Sagara yang lain memegang setir mobil.
"Ray tolong berhenti melakukan ini. Kamu tau bahwa kami sangat menyangimu, kamu tidak sendirian Ray ada kami bersama mu. Kejadian dimasa lalu bukanlah salahmu"
Sagara diam sejenak lalu menghembuskan nafas nya dengan pelan.
"Jadi Kakak mohon jangan menyakiti dirimu lagi Ray atau menyiksa dirimu lagi, pasti Mama juga tidak ingin kamu seperti ini. Mama akan kecewa dan marah padamu jika dia tau kamu selalu menyakiti dirimu karena kematian nya."
Nada Sagara lembut sambil menatap penuh kasih pada Rayno yang hanya bisa terdiam membisu mendengarkannya.
Rayno tidak tau harus mengatakan apa karena baginya hati dan jiwanya sudah begitu lelah dengan semua hal ini.
Yang Rayno inginkan hanyalah mengakhiri semua penderitaan ini, karena Rayno sudah begitu putus asa.
Bagi Rayno kebahagiaan nya hanyalah bersama dengan sang Mama, tapi kebahagiaannya sudah tiada karena kesalahannya.
Jadi untuk apa dia hidup jika orang yang sangat ia sayangi sudah tidak ada lagi didunia ini karena kesalahannya.
Rayno selalu terbayang itu, rasa bersalah nya selalu ada saat mengingat kejadian masa lalu. Jika seandainya dia tak memaksa mama nya untuk bersamanya, mama nya pasti tetap akan hidup.
Saat mobil melaju menjauh dari jembatan, ketegangan di dalam kendaraan tetap kental. Keheningan Rayno bergema di mobil, hanya dipecahkan oleh suara napas cepat Sagara.
Kedua bersaudara itu bergulat dengan emosi masing-masing, masing-masing mereka berjuang untuk menemukan kata yang tepat untuk diucapkan.
Hati Sagara terasa berat karena mengkhawatirkan Rayno. Dia selalu melindungi adik adiknya, tetapi insiden yang mengguncang hidup mereka telah meninggalkan bekas luka permanen pada dirinya dan saudara nya yang lain.
Terutama Rayno yang terus menerus menyalahkan dirinya sendiri karena kecelakaan itu.
Sagara tahu rasa bersalah yang menggerogoti Rayno, beban kehilangan seseorang yang sangat mereka cintai. Dia telah melihat Rayno menderita dalam diam, memikul beban sendirian.
Cengkeraman Sagara semakin erat pada setir mobil. Dia tahu persis insiden mana yang dimaksud Rayno, tragedi yang telah mengubah hidup mereka selamanya.
Pikiran Rayno telah tersiksa oleh kejadian itu, Rayno pasti dikuasai oleh rasa bersalah dan penyesalan.
Sagara berharap waktu akan menyembuhkan luka adiknya, tapi Sagara salah karena luka yang diderita adiknya malah semakin dalam seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
Mobil Sagara berhenti di depan mansion keluarga Mahavir, dan Sagara dengan hati-hati membantu Rayno keluar dari kendaraan.
Saat Sagara dan Rayno memasuki mansion, keluarga Mahavir telah menunggu mereka dengan kecemasan dan khawatir.