Melintasi Kegelapan Menuju Kebahagiaan

Melintasi Kegelapan Menuju Kebahagiaan
BAB 17


__ADS_3

Setelah makan malam keluarga Mahavir duduk di sofa ruang tamu, mereka masih ingin mendengarkan cerita masing-masing sebelum tidur.


Naira memandangi kedua anak kembarnya dengan sayang, matanya berbinar bangga pada kedua anak kembarnya.


"Evan, ceritakan lebih banyak tentang lagu barumu. Apa yang menginspirasimu kali ini?" Naira bertanya, suaranya penuh rasa ingin tahu.


Mata Evan berbinar kegirangan saat dia menjelaskan proses pembuatan lagu barunya pada keluarga nya.


"Lagu ini tentang persahabatan. Aku sedang mengerjakan melodi dan liriknya, dan kupikir itu akan menjadi karya terbaikku nanti"


Sagara nampak tertarik dengan ucapan Evan. "Kedengarannya luar biasa, Evan. Aku tidak sabar untuk mendengarnya"


Sagara lalu mengelus rambut Evan dan menatap Evan dengan tersenyum.


"Mungkin kita bisa berkolaborasi suatu hari nanti, dengan kemampuan gitarku dan vokalmu. Kita bisa menciptakan lagu yang luar biasa bersama."


Sagara memang tertarik dengan musik saat masih kecil dulu, jadi Sagara saat itu mencoba untuk belajar menggunakan gitar.


Tetapi Sagara berhenti bermain gitar saat sudah semakin sibuk dengan pekerjaan nya hingga Sagara tidak bisa meluangkan waktu untuk bermain gitar lagi.


Meski Sagara sudah lama tidak memainkan gitar karena sibuk dengan pekerjaan nya, tidak bisa dipungkiri bahwa Sagara juga merindukan untuk memainkan gitar nya kembali.


Wajah Evan berseri-seri mendengar ide itu. "Tentu saja! Kita harus mencobanya. Akan sangat menyenangkan untuk menggabungkan bakat kita dan membuat musik bersama."


Sementara itu, Eros, sang jiwa seni keluarga, membagikan kecintaannya pada seni lukis dengan senyuman lembut.


"Akhir-akhir ini aku mengerjakan sebuah lukisan baru. Ini adalah penggambaran matahari terbenam yang tenang, di mana warna berbaur dan menari di atas kanvas. Aku mencoba menangkap kedamaian dan emosi yang ditimbulkan dalam diri ku."


Lea menimpali, matanya berbinar kagum pada Eros.


"Lukisanmu selalu begitu menawan Eros. Lukisan itu selalu banyak menumpahkan emosi dan menyentuh hati orang yang melihatnya. Bakatmu benar-benar luar biasa."


Eros tersipu sedikit malu malu dengan pujian yang kakak perempuan nya bilang.

__ADS_1


"Terima kasih, Kak Lea. Seni memungkinkan ku untuk terhubung dengan emosi ku dan menyampaikan perasaan ku dengan cara yang terkadang gagal diungkapkan dengan kata-kata. Ini adalah bentuk terapi bagi ku."


Rayno mencondongkan tubuh lebih dekat ke Eros, matanya dipenuhi rasa ingin tahu.


"Bagaimana kamu memilih warnamu, Eros? Lukisanmu selalu sangat indah dan menunjukkan banyak emosi."


Eros berpikir sejenak sebelum menjawab Rayno. "Ini adalah proses intuitif bagi ku. Aku membiarkan emosi ku membimbing ku dan aku memilih warna yang selaras dengan perasaan ku, Kak Ray"


Eros lalu menatap Rayno, Eros mengetahui bahwa Rayno juga tertarik pada melukis.


Kadang Eros melihat Rayno yang sedang mengambar sesuatu di kertas saat Eros memeriksa itu ternyata itu adalah sebuah gambaran.


"Terkadang lukisan bisa berani dan energik dan di lain waktu lebih menenangkan dan tenang. Setiap lukisan adalah cerminan dari dunia emosi diri sendiri."


Eros lalu memegang tangan Rayno sambil tersenyum, Rayno yang tiba-tiba tangan nya dipegang lalu memegang kembali tangan Eros.


Eros menatap kebawah dimana pergelangan tangan Rayno, disitu ada banyak luka sayatan ditangan putih dan mungil milik kakaknya.


"Apa kak Rayno juga tertarik melukis? Kita bisa melukis bersama jika Kakak ingin."


Rayno berkedip terkejut saat Eros yang tiba-tiba mengajaknya untuk melukis bersama, Rayno diam sejenak lalu tersenyum kecil pada adiknya.


"Tentu itu bisa Eros, aku akan sangat senang jika bisa melukis bersama mu"


Mata Eros langsung berbinar senang, dengan segera Eros langsung memeluk tubuh kecil Rayno.


Karena Rayno adalah paling pendek di keluarga Mahavir, tubuh Evan dan Eros bahkan lebih tinggi dan besar daripada tubuh Rayno.


William dan Lea tertawa melihat antusias Eros pada Rayno, Sagara dan Evan berhenti berbicara saat mendengar William dan Lea yang tertawa.


Sagara menggelengkan kepala nya sambil tertawa kecil melihat Eros dan Rayno, sedangkan Evan langsung berjalan mendekati Eros dan Rayno dan memeluk erat Rayno dengan manja.


"Aku juga ingin mendapatkan pelukan dari Kak Ray loh"

__ADS_1


Evan menatap penuh harap pada Rayno yang membuat Rayno tertawa pada Evan, dengan segera Rayno juga memeluk Evan bersama dengan Eros yang juga sedang memeluk Rayno disebelau kanan nya.


Jace dan Naira yang dari tadi hanya diam, mendengarkan dengan seksama percakapan anak anak mereka.


Jace dan Naira tersenyum melihat anak anak yang akur dan saling sayang satu sama lain, membuat hati keduanya menghangat dengan penuh cinta dari anak anak mereka.


Jace dengan lembut mengelus rambut Naira sambil terus melihat interaksi anak anak mereka.


"Anak anak terlihat sangat dekat bukan, sayang? Aku hanya berharap kebahagiaan kita akan selalu bertahan seperti ini"


Naira tersenyum lembut lalu menatap Jace dengan tulus dan penuh kasih.


"Tentu, kita sebagai orang tua pasti ingin selalu anak anak kita hidup dengan bahagia, aku senang anak anakmu menerima ku dengan baik saat kamu pertama kali mengenalkan ku pada anak anakmu."


Jace terus mengelus rambut Naira, lalu Jace menatap Naira dengan binar kasih sayang pada sang istri.


"Aku juga bersyukur anak anak kita akur dan tidak berkelahi saat kita bilang bahwa kita akan menikah saat itu"


Jace tertawa kecil mengingat kejadian itu, Jace hari itu sangat gugup saat akan mengenalkan Naira pada Sagara, Lea dan Rayno.


Jace takut ketiga anaknya akan menolak pernikahan mereka saat itu.


Naira ikut tertawa saat mengingat kejadian itu juga, mereka berdua sama sama takut jika nanti anak anak mereka tidak akur satu sama lain dan berakhir saling benci.


Tapi Jace dan Naira salah karena pikiran itu ternyata tidak seperti itu, nyatanya anak anak mereka akur meski diawal mereka canggung karena pertama kali saling bertemu.


Tapi seiring berjalan nya waktu anak Jace dan anak Naira menjadi semakin dekat dan saling peduli satu sama lain.


Hal itu membuat Jace dan Naira lega dan senang karena anak anak mereka yang dekat satu sama lain tanpa ada yang saling membenci.


Malam itu berlalu dengan perpaduan yang harmonis antara percakapan, canda tawa, dan antisipasi pada keluarga Mahavir.


Keluarga Mahavir sangat menghargai setiap waktu bersama, selalu mendengarkan dan menikmati cerita masing-masing yang terjadi pada keseharian mereka.

__ADS_1


Saat malam hampir berakhir, mereka saling mengucapkan selamat malam, masing-masing dari mereka masuk kedalam kamar dan mengistirahatkan diri.


Berbeda dengan keluarga Mahavir yang harmonis dan damai, Keluarga dari Jake terlihat sangat suram dan hampa.


__ADS_2