Melintasi Kegelapan Menuju Kebahagiaan

Melintasi Kegelapan Menuju Kebahagiaan
BAB 18


__ADS_3

Jake saat ini duduk sendirian di meja makan, piringnya penuh dengan makanan yang tak tersentuh.


Kursi-kursi kosong di sekelilingnya adalah pengingat yang gamblang akan keberadaannya yang kesepian.


Orang tuanya, yang termakan oleh kehidupan mereka sendiri, tampaknya hanya memiliki sedikit waktu untuknya.


Kekosongan rumah mencerminkan kekosongan di hatinya. Dia terbiasa menyendiri dari kecil, dia terus seperti ini karena kedua orang tuanya yang selalu sibuk.


Orang tuanya, selalu disibukkan dengan kehidupan mereka sendiri, meninggalkan Jake untuk menjalani kesepiannya dalam kesendirian.


Saat Jake menatap piring yang tak tersentuh di hadapannya, rasa benci yang pahit merayapi pikiran Jake.


Dia merindukan kehangatan keluarga, perasaan diperhatikan dan dicintai.


Tetapi kenyataannya sangat menyakitkan. Orang tuanya tampaknya memprioritaskan karier mereka daripada kebahagiaan nya, membuatnya merasa terabaikan dan tidak terlihat.


"Kapan ini berakhir? Aku sudah lelah dengan kesepian yang selalu kurasakan ini."


Mata Jake perlahan kosong sambil terus berguman tentang sesuatu, Jake tetap tidak memakan makanan nya dan hanya duduk diam di bangku.


Setetes air mata terjatuh di pipi Jake, dengan cepat Jake menghapus air matanya dan memaksa untuk makan.


Saat makan, air mata Jake terus mengalir saat dia terus memaksa untuk makan dan menelan makanan nya.


Itu semua terasa berat, hatinya semakin hari semakin kosong karena kesepian, raga nya perlahan lelah dengan semua hal ini dan ingin menyerah.


Ayah Jake yang bernama Darion Eiliv Asterion yang dipanggil Darion, memiliki sifat yang dingin bahkan dengan keluarga nya sendiri.


Darion adalah seorang pengusaha yang berdedikasi, tanpa lelah mengejar kesuksesan dan stabilitas keuangan.


Jam kerjanya yang panjang di kantor sering kali berlangsung hingga larut malam, membuat Darion terus-menerus membenamkan dirinya dalam pekerjaan, hampir tidak pernah hadir di rumah.

__ADS_1


Sedangkan Ibu Jake, Sarah Versila Christe dipanggil Sarah, sama-sama asyik dengan pekerjaan nya. Sarah bekerja sebagai model yang sudah sangat terkenal.


Sarah sering bepergian untuk pertemuan penting dan meninggalkan Jake untuk mengurus dirinya sendiri di rumah mereka yang sunyi.


Darion dan Sarah sebenarnya menikah hanya karena perjodohan, sejak awal keduanya sama sekali tidak pernah mencintai satu sama lain.


Mereka berdua bertahan karena keluarga yang menginginkan mereka tetap bersama dan tidak bercerai demi Jake.


Tapi Darion dan Sarah sampai sekarang pun tidak memiliki rasa cinta terhadap satu sama lain.


Meski sudah ada Jake lahir, perasaan mereka sama sekali tidak tumbuh. Semakin hari berlalu, hubungan Darion dan Sarah juga semakin merenggang karena mereka juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Tenggelam dalam pikirannya, Jake hampir tidak memperhatikan ketika Ayahnya akhirnya tiba di rumah.


Wajah lelah Darion dan tatapan dingin nya terlalu familiar. Jake menatap Darion lalu mengumpulkan keberanian untuk angkat bicara, merindukan berbicara dengan ayahnya.


"Dad, bisakah kita bicara?"


Jake berucap berharap, lalu tersenyum pada Darion, sambil menatap Darion menunggu jawaban nya.


"Aku punya pekerjaan mendesak yang harus di selesaikan. Kita bicara nanti."


Senyum Jake luntur dan hati Jake berdenyut sakit, usahanya untuk mendekati Ayahnya digagalkan sekali lagi. Jake menyaksikan Ayahnya menghilang dari pandangannya.


Meninggalkan Jake sendirian lagi di rumah yang semakin terasa dingin dan kosong tanpa adanya sebuah kehangatan.


Jake menghela nafas lalu memilih untuk kembali ke kamar, saat di kamar Jake merebahkan diri di kasur nya.


Jake berpikir sesuatu lalu mengambil ponsel nya dan menelpon Ibu nya. Jake tau mungkin Ibu nya mungkin akan sibuk tapi Jake merindukan suara sang Ibu yang sudah 2 bulan tidak didengar Jake.


"Hai Mom," Jake angkat bicara ragu-ragu, suaranya menunjukkan kerinduannya.

__ADS_1


"Apa--"


Sebelum Jake bisa menyelesaikan nya, perkataan nya sudah di potong oleh Sarah.


"Aku sibuk Jake, jangan ganggu aku."


Percakapan berakhir secepat dimulainya, meninggalkan Jake dengan perasaan hampa yang mendalam.


Saat kesunyian hampa menyelimuti kamar Jake, dia merasakan tenggorokannya tercekat. Beban kesepian membebani dadanya, dan air mata menggenang di matanya.


Sepertinya semua orang dalam hidupnya telah berpaling darinya, meninggalkannya menghadapi ini sendirian.


Jake bertanya-tanya apakah orang tuanya akan pernah benar-benar melihatnya dan memperhatikan nya bahwa dia ada?


Apakah mereka akan pernah mengenali kesepian mendalam yang melanda hatinya.


Apakah mereka akan mengerti dengan perasaan nya sebagai anak yang hanya membutuhkan sedikit kasih sayang dan perhatian dari mereka.


"Apa aku bukan anak mereka? Apa aku hanya orang asing bagi mereka?"


Jake menghela nafas memikirkan hal itu, lalu Jake menatap langit-langit atap, pikirannya dipenuhi campur aduk emosi dan pikiran.


Dia tidak bisa mengerti mengapa usahanya untuk menjangkau orang yang dicintainya ditanggapi dengan sikap dingin seperti itu.


Merasa kalah dan terasing, Jake meringkuk di balik selimut, mencari penghiburan dalam kehangatan di tempat tidurnya.


Kegelapan ruangan mencerminkan kekosongan yang dia rasakan di dalam. Dia memejamkan mata, berharap tidur akan membawa kelegaan sementara dari masalahnya.


Berharap esok hari akan menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Ya hanya sebuah harapan yang tanpa tau itu terkabul atau tidak.


Dalam mimpinya, Jake menemukan dirinya di dunia yang penuh dengan cinta dan pengertian, di mana dia dipeluk apa adanya.

__ADS_1


Itu adalah pelarian singkat, tapi juga itu yang memberinya harapan untuk hari esok yang lebih cerah.


Dan dengan harapan itu di dalam hatinya, Jake jatuh tertidur lelap, mengetahui bahwa bahkan di saat-saat tergelap, selalu ada secercah cahaya yang menunggu untuk membimbingnya kembali ke rumah.


__ADS_2