Melintasi Kegelapan Menuju Kebahagiaan

Melintasi Kegelapan Menuju Kebahagiaan
BAB 3


__ADS_3

Setelah sampai dikantor Jace. Sagara segera menjelaskan apa yang telah terjadi. Bisa diliat raut wajah Jace yang menjadi buruk setelah mendengar penjelasan Sagara.


Hati Jace berdenyut sakit saat Sagara menceritakan kejadian yang membawa mereka ke saat ini.


Beban rasa sakit putranya membebani dirinya seperti beban yang tak tertahankan dan dia tidak bisa tidak merasa bertanggung jawab atas kegelapan yang menyelimuti kehidupan Rayno.


Garis-garis yang tergores di wajah Jace semakin dalam, mencerminkan kedalaman kesedihannya dan beratnya kegagalan yang dirasakannya.


Di mata Jace ada secercah keputusasaan dan secercah cinta seorang ayah yang terjalin dengan rasa tidak berdaya.


Dia telah berusaha tanpa lelah untuk mencapai Rayno, untuk menjadi pilar kekuatan dan dukungan yang dibutuhkan putranya, tetapi usahanya tampaknya gagal.


Janji-janji yang Jace buat kepada mendiang istri pertamanya bergema di benaknya, menghantuinya dengan potensi janji janji yang belum dipenuhi nya.


Jace masih ingat pancaran kegembiraan yang pernah terpancar dari Rayno, tawa yang memenuhi rumah mereka sebelum tragedi melanda.


Setelah kepergian mendiang Istri pertamanya, semuanya berubah. Cahaya di mata Rayno meredup, digantikan kegelapan yang seakan tak tertembus.


Jace menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mampu melindungi putranya dari rasa sakit, karena gagal mengembalikan kebahagiaan yang pernah mereka bagi.


Saat Sagara selesai berbicara, sebuah beban menetap di ruangan itu. Tangan Jace gemetar, campuran rasa takut dan tekad mengalir di nadinya.


Dengan suara bergetar karena emosi, dia memanggil Sagara.


"Kita tidak bisa membiarkan ini berlanjut," kata Jace menghela nafas berat lalu lanjut berbicara lagi.


"Rayno berhak mengetahui bahwa dia tidak sendirian dalam hal ini, bahwa kita di sini untuk berjuang untuknya, bahkan saat dia tidak bisa berjuang untuk dirinya sendiri, kita ada disisinya"


Nada suara Jace bercampur antara kesedihan dan ketetapan hati.


Sagara mengangguk, matanya sendiri dipenuhi dengan empati dan perhatian. Mereka berdua sadar bahwa jalan di depan akan sulit, penuh rintangan dan ketidakpastian.


Tapi mereka tidak tahan memikirkan kehilangan Rayno, tidak ketika masih ada secercah harapan, tidak peduli seberapa redupnya itu.


Sagara tau Ayah nya itu selalu terbayang kejadian dimasa lalu. Dimana Ayah nya merasa gagal menjaga Mama nya sehingga berakhir seperti ini.


Sambil menghela napas berat, Jace meraih foto keluarga di mejanya, potret saat-saat bahagia ketika senyum cerah mendiang istri pertamanya memenuhi hidup mereka dengan kehangatan.

__ADS_1


Jari-jarinya menelusuri wajahnya, seolah mencari penghiburan dalam ingatan akan cintanya dan kekuatan yang telah dia berikan kepada keluarga mereka.


Dikamar Rayno, sekarang Rayno sedang diberi makan oleh kakak perempuan nya.


Padahal Rayno sudah bilang bahwa dia bisa makan sendiri tapi kakak nya dengan keras kepala tetap menyuapinya, jadi Rayno hanya membiarkan saja.


Saat Rayno sedang menikmati makanannya. Tiba tiba kakak nya Lea berbicara.


"Ray, apa kamu memang benar baik baik saja? Jika ada sesuatu ceritakan saja pada kakak atau pada yang lain. Kita selalu ada untukmu jadi terbuka lah sedikit untuk kami, sedikit saja tidak apa apa"


Lea berhenti sejenak lalu menatap Rayno dengan serius, meski tatapan Lea serius tapi nada nya menjadi lebih lembut.


"Itu agar bisa mengurangi beban di pikiranmu, kamu selalu bisa bercerita pada kami. Apa yang kamu rasakan, apa yang telah kamu derita. Jadi jangan menyimpannya untuk diri sendiri ya Ray?"


Ucap Lea panjang lebar, sambil menatap Rayno yang termenung mendengarkannya


"Aku tidak bisa kak... "


Ucap lirih Rayno, dia merasa sangat susah untuk terbuka dengan keluarganya, semenjak Mama nya telah tiada.


Rayno menjadi cenderung mengandalkan dirinya sendiri untuk menyimpan segalanya tanpa harus bilang pada siapapun.


Lea yang mendengar jawaban adiknya hanya bisa tersenyum sedih. Dia tau adiknya tidak akan semudah itu terbuka dengan mereka lagi.


Jadi Lea selalu mencoba pelan pelan mendekati adiknya agar bisa kembali seperti dulu.


Itu semua agar Rayno bisa bergantung pada mereka dan tidak menyimpan semua beban nya sendirian lagi, untuk adiknya bisa tersenyum kembali seperti dulu.


"Baiklah tidak apa apa jika kamu masih belum bisa Ray, kamu selalu bisa bercerita dengan kakak dan yang lainnya. Jika kamu membutuhkan sesuatu kamu bisa bilang pada kakak dan yang lainnya."


Ucap Lea tersenyum lalu mengelus rambut Rayno.


Betapa dia sangat merindukan sifat adiknya yang dulu sangat ceria. Meski begitu Lea akan menunggu sampai adiknya mau terbuka lagi dengannya dan yang lain.


Suara Pintu terbuka terdengar, menampilkan William yang sedang berjalan masuk mendekati Rayno dan Lea yang berada di kasur, ia langsung masuk kedalam kamar.


Saat William masuk dia langsung melihat Rayno yang sudah selesai makan dengan ditemani Lea.

__ADS_1


"Apa sudah selesai makan? Kalo sudah, langsung minum obat nya Ray. Setelah itu beristirahat lah oke"


William mengelus kepala Rayno dan langsung menyerahkan obat pada nya yang segera diminum oleh Rayno. Lalu tiba tiba William teringat akan sesuatu hal.


"Ray apa kakak boleh melihat tanganmu? Hanya memeriksanya sebentar ya?"


William bertanya saat dia menoleh melihat adiknya. Terlihat Rayno sangat memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan pada William.


"Hanya sebentar saja, kakak hanya ingin melihat tangan Ray" William lanjut berbicara meyakinkan saat melihat Rayno masih ragu.


Lea terlihat bingung apa maksud William? Apa Rayno terluka juga dibagian tangan nya?


Jika iya sepertinya dia harus memikirkan cara untuk membujuk Rayno untuk memperlihatkan tangan nya.


Saat Lea ingin bicara, Rayno sudah berbicara terlebih dahulu.


"Baiklah, tapi hanya sebentar saja" Ucap pelan Rayno sambil menatap William.


Setelah itu Rayno membuka sedikit baju di lengan nya. Seketika suasana langsung berisi keheningan.


Rayno bingung saat melihat kedua kakaknya hanya diam saja dan hanya memperhatikan lengan nya.


"Ray... Apa yang-" Lea tak sanggup berucap lagi saat melihat banyak luka sayatan ditangan adiknya. Apalagi luka itu terlihat seperti baru disayat.


Sama seperti Lea, William juga tak mampu berucap apapun. Dia hanya bisa mengepalkan tangan nya dengan kuat.


Lagi lagi mereka gagal menjaga Rayno, mereka tidak tau jika Rayno akan nekat melakukan hal ini tanpa sepengetahuan mereka.


Jika saja William tidak memeriksa kondisi adiknya tadi, dia tidak akan pernah tau jika ada luka sayatan di lengan Rayno


"Ray, apa kakak boleh mengobatinya. Boleh ya? Kakak mohon jangan menolak, luka nya akan infeksi jika tidak diobati sekarang" Mohon William.


Rayno hanya diam tak bebicara tetapi dia hanya menganggukkan. Setelah mendapat persetujuan, William langsung mengambil tangan adiknya dengan hati hati, takut jika ia melukai adiknya itu.


Sedangkan Lea sesekali membantu William membersihkan luka ditangan Rayno.


Selesai membalut luka Rayno, William dan Lea keluar dari kamar setelah memastikan adik mereka tertidur.

__ADS_1


Mereka mungkin akan melaporkan ini pada Ayah mereka esok hari. Karena hari sudah larut malam, Lea dan William memutuskan untuk kembali ke kamar masing masing.


__ADS_2