
Rayno dan Jake berjalan menuju kantin, obrolan dan tawa murid lain memenuhi udara. Aroma makanan yang baru dimasak menyambut mereka saat mereka memasuki ruang yang ramai.
Rayno mengajak Jake ke meja kosong dan mereka duduk, siap menikmati makanan dan melanjutkan percakapan.
Saat mereka makan, percakapan mereka mengalir dengan bebas, kedua anak laki-laki itu berbagi mimpi, minat, dan ketakutan mereka.
Mereka menemukan hobi yang sama dan menyadari bahwa mereka memiliki lebih banyak kesamaan daripada yang pernah mereka bayangkan.
Tawa menggantikan ketegangan, dan rasa persahabatan mulai terbangun di antara Rayno dan Jake.
"Rayno, aku ingin kamu tau bahwa aku sangat berterima kasih karena sudah mau mendengarkan ceritaku dan memaafkan aku dari kata kata ku yang bodoh. Aku tahu ini tidak akan mudah, tapi aku berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik dan... "
kata Jake tulus, berhenti sejenak dan menghela nafas, tatapan Jake terkunci dengan Rayno. Lalu dengan berguman kecil Jake kembali berucap.
"...Menjadi teman yang lebih baik untukmu."
Jake lalu melihat kearah Rayno, Jake takut kalo Rayno menolak ajakan nya untuk menjadi teman. Tapi Jake salah, Jake melihat Rayno yang tersenyum tulus padanya membuat Jake terdiam membeku.
Rayno tersenyum, matanya dipenuhi kehangatan yang tulus. "Jake, kita semua membuat kesalahan. Yang penting adalah bagaimana kita belajar dan tumbuh dari kesalahan itu."
Rayno terkekeh melihat Jake yang terdiam, lalu melanjutkan berbicara.
"Aku percaya pada kesempatan kedua, dan aku percaya padamu. Mari berteman, kita akan bisa saling mendukung dan menyemangati satu sama lain."
Wajah Jake berseri-seri, pancaran kebahagiaan terpancar di matanya.
"Ya, Rayno. Bersama-sama kita akan menghadapi ketakutan kita masing-masing, ini untuk diri kita sendiri dan untuk persahabatan kita."
Saat bel berbunyi, menandakan akhir dari istirahat makan siang, Rayno dan Jake berjalan kembali ke kelas dengan hati mereka yang sama sama terasa lebih ringan.
Sepanjang kelas yang tersisa, Rayno menemukan penghiburan dalam rutinitas belajar, membiarkan tantangan akademik mengalihkan perhatiannya dari gejolak emosi di dalam.
Entah itu kapan tiba-tiba Rayno teringat kejadian kecelakaan nya dengan sang ibu membuat mood Rayno menurun lagi.
Saat bel terakhir berbunyi, menandakan akhir dari hari sekolah, Rayno merasakan beban berat di hatinya sekali lagi.
Insiden itu terus terulang diotak Rayno membuat Rayno cukup tertekan dengan memori nya yang terus berputar kearah kejadian kecelakaan itu.
Bersandar di lokernya, Rayno menutup matanya, berusaha mati-matian untuk mendapatkan kembali ketenangannya.
Gema suara Ibunya seakan menggema di benaknya, mengingatkannya akan rasa sakit yang telah ia pikul sekian lama.
Rayno terengah engah, penglihatan Rayno semakin buram dengan panik Rayno berkedip dan mencoba menenangkan diri.
Saat ini sekolah sudah sepi karena tadi Rayno pergi ke perpustakaan sendirian. Kemudian Rayno ingin berjalan kembali kearah gerbang sekolah saat urusan nya sudah selesai di perpustakaan.
Tetapi tiba-tiba sebuah kenangan akan Mama nya berputar didalam otak nya, seakan akan mencoba memberitahu Rayno bahwa dia tidak boleh melupakan hal itu.
Rayno kembali mengalami PTSD nya, itu sudah sering membuat Rayno terus tersiksa karena hal itu.
[Info: PTSD (gangguan stres pasca trauma) adalah gangguan mental yang dialami seseorang setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis.]
Beberapa saat perlahan Rayno sedikit tenang, saat Rayno melihat sekitar sekolah yang sudah sepi dengan pelan Rayno berjalan menuju gerbang sekolah.
Ayahnya belum menjemputnya jadi Rayno ingin berjalan disekitar sebentar untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Rayno duduk sendirian di Taman dekat sekolah, pikirannya mengembara saat dia menatap kosong ke depan.
Percakapan dan tawa di sekitarnya terasa jauh, tenggelam oleh banjir kenangan yang muncul kembali. Hari semakin gelap seperti hal nya hari ketika hidupnya berubah selamanya.
Air mata menggenang di matanya saat dia mencengkeram dada nya dengan erat.
Nafas nya seiring waktu menjadi lebih berat saat kenangan terus membanjiri nya, kepala Rayno semakin pusing dan segala hal menjadi tidak jelas di penglihatan nya.
Bayangan senyum Mama nya yang hangat dan matanya yang penuh kasih membawa rasa sakit yang pahit di hatinya.
Dia merindukannya lebih dari kata-kata yang bisa diungkapkan, dan kekosongan yang dia tinggalkan dalam hidupnya sepertinya mustahil untuk diisi.
"Kenapa... Harus sekarang? Kenapa ini terjadi lagi.. Kupikir aku sudah sembuh?"
Rayno berucap lirih sambil memukul kepala nya dengan kuat untuk mencoba menghilangkan memori yang terus menyakiti hati dan juga jiwa nya.
"Sial.. Sial.. Sial.. Tolong hentikan ini, hentikan"
Rayno semakin meracau tidak jelas, dengan terus memukul kepalanya, Rayno menundukan kepala nya sambil menjambak rambut nya dengan kencang.
Rayno ingat hari ketika mereka mengalami kecelakaan mobil, rasa sakit karena kehilangannya, dan kehampaan yang tercipta dalam hidupnya.
Rayno tidak bisa tidak memikirkan Mama nya dan kecelakaan mobil yang merenggutnya darinya. Sakitnya masih segar, lukanya belum sembuh total.
"Kenapa ini tidak berhenti..? Aku.. Aku tidak ingin mengingat ini"
Rayno semakin mengeluarkan air mata, tidak tau harus apa selain menjambak rambut nya yang sudah kusut, lalu Rayno melihat serpihan kaca yang berada di tanah.
"Hanya... Sedikit saja untuk menghilangkan rasa sakit ini.."
Dengan tanpa sadar Rayno terus membuat luka di pergelangan tangan nya yang sudah berdarah cukup banyak.
Saat Rayno ingin menusuk lebih dalam, tangan nya langsung dihentikan oleh seseorang yang memegang erat tangan nya.
"Rayno-- RAYNO HENTIKAN!"
Mendengar suara yang akrab Rayno mengedipkan mata nya bingung dengan perlahan Rayno melihat orang yang telah memegang tangan nya dan itu adalah Ayahnya.
Rayno terdiam, tidak tau harus apa karena dia juga tidak sadar kalo dia telah menyakiti diri sendiri lagi. Itu terjadi lagi membuat Rayno merasa semakin ingin menyerah.
"Tenang... Tenang sayang, Ayah disini.. Ayah ada bersamamu kamu tidak sendirian. Rayno ada Ayah disini"
Jace memeluk anaknya dengan erat, saat melihat tidak ada respon apapun dari anaknya yang hanya menatap dirinya kosong.
Harus nya Jace lebih cepat untuk menjemput Rayno agar kejadian ini tidak terjadi, ini semua salahnya, salahnya anak nya harus melukai diri lagi.
Nafas Jace berat karena tadi terus berlari untuk mencari putranya yang tidak berada disekolah.
Saat sedang mencari, Jace menemukan Rayno yang sudah dalam keadaan kacau dengan Rayno yang terus melukai pergelangan tangannya.
"Maafkan Ayah yang sudah lalai dalam menjaga mu lagi... Tolong jangan lukai dirimu lagi Ray"
Jace berucap dengan penuh kesedihan, Jace memeluk erat tubuh putra nya dan terus mengucapkan kata-kata penenang.
Setelah beberapa saat tubuh Rayno perlahan rileks dan menyadari apa yang telah dia lakukan. Dengan air mata yang mengalir Rayno memeluk Jace kembali dengan erat.
__ADS_1
"Ayah.. Ayah.. Ayah itu kamu?"
Rayno menangis sambil terus memanggil Ayah nya. Jace mengelus punggung Rayno, hatinya dipenuhi rasa bersalah dan kekhawatiran.
"Ya, ini Ayah, Ray. Ayah ada di sini. Ayah selalu di sini untukmu, anakku."
Air mata Rayno membasahi bahu Jace saat dia memeluk ayahnya, mencari penghiburan dan kenyamanan dalam pelukannya.
Jace dengan lembut membelai punggung Rayno, berusaha menenangkan rasa sakitnya.
"Kamu tidak sendirian, Ray. Kita mengalami ini bersama. Ayah tau ini merupakan hal yang sulit bagimu tapi kita akan menemukan cara untuk sembuh, untuk mengatasi rasa sakit ini bersama sama"
bisik Jace, suaranya dipenuhi dengan cinta dan tekad.
Rayno terisak, berusaha menenangkan napasnya. "Aku... aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri, Ayah. Aku tidak ingin kembali ke tempat gelap itu. Tapi terkadang rasanya begitu menyakitkan dan aku tidak tau bagaimana mengatasinya."
Jace menangkup wajah Rayno dengan tangannya, tatapannya dipenuhi dengan ketulusan seorang Ayah kepada sang anak.
"Kamu tidak harus menghadapinya sendiri, Ray. Kita akan mencari bantuan profesional, kita akan mencari terapi bersama. Kita akan belajar cara berdamai dengan diri kita sendiri. Ingatlah bahwa aku dan yang lainnya akan selalu menjadi pendukung mu di setiap langkah."
Rayno menatap mata ayahnya, melihat ketulusan dan cinta yang terpancar di dalam mata Ayahnya membuat Rayno mulai tenang.
"Janji?"
Jace mengangguk, suaranya penuh keyakinan. "Aku berjanji, Ray. Kami akan melakukan apa saja untuk membantumu sembuh dan menemukan kebahagiaan lagi."
Jace tersenyum sambil memegang pipi Rayno lalu menatap Rayno dengan penuh kasih.
"Kamu tidak sendirian di dunia ini, ada Ayah, Bunda dan saudara saudara mu yang akan selalu menjaga kamu dengan aman dan selalu bisa kamu andalkan."
Air mata Rayno terus mengalir, namun perlahan mata yang sebelumnya kosong dan tampak mati itu perlahan mengeluarkan binar kehidupan lagi.
"Aku... aku ingin menjadi lebih baik, Ayah. Aku ingin sembuh dari rasa sakit ini, aku ingin bahagia seperti yang di inginkan Mama" bisik Rayno, suaranya bergetar.
Jace tersenyum di antara air matanya sendiri, rasa bangga membuncah dalam dirinya.
"Itu anak pemberaniku. Kita akan melangkah selangkah demi selangkah dan bersama-sama kita akan mengatasi saat-saat kelam ini. Ingat, penyembuhan membutuhkan proses, dan aku akan selalu berada di sisimu putra ku."
Mereka berpelukan lebih lama, menemukan penghiburan dan kekuatan dalam ikatan mereka sebagai ayah dan anak. Perlahan, air mata Rayno mereda, dan rasa tenang menyapu dirinya.
"Ayah, aku... aku sangat sayang padamu, tolong jangan pergi meninggalkan ku sendirian."
Rayno tercekat, suaranya dipenuhi kesedihan dan takut bahwa suatu saat nanti dia akan di tinggal pergi oleh Ayahnya seperti halnya Mama nya yang telah pergi.
Jace mencium kening Rayno, hatinya dipenuhi dengan cinta untuk putranya.
"Aku juga sayang padamu, Rayno. Lebih dari kata-kata yang bisa diungkapkan dan aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian, kita akan melewati ini bersama."
Mereka melepaskan diri dari pelukan mereka, Jace menghapus jejak air mata terakhir dari wajah Rayno. Dia berdiri, lalu mengendong anak nya.
Dengan perlahan dan hati hati Jace menurunkan Rayno di kursi penumpang mobil, segera Jace masuk kedalam mobil dan mulai berjalan kembali ke mansion Mahavir.
Perjalanan mobil kembali ke rumah Mahavir dipenuhi dengan kesunyian yang menenangkan.
Jace melirik Rayno dari waktu ke waktu, memastikan keamanan putranya. Sementara Rayno menatap ke luar jendela, tenggelam dalam pikirannya.
__ADS_1