
Kavelo melihat tatapan Jake yang mengarah ke arah Rayno dan merasa tidak nyaman.
Dia memutuskan untuk menghalangi pandangan Jake dengan tubuhnya menutupi Rayno, lalu Kavelo mengalihkan perhatian dengan topik lain kepada Rayno.
"Hei, Rayno, apa yang kamu rencanakan setelah sekolah? Ada acara khusus yang ingin kamu lakukan?" Tanya Kavelo dengan antusias.
Rayno berpikir sejenak, lalu tersenyum. "Hmm, mungkin setelah sekolah, aku akan menghabiskan waktu di perpustakaan dulu sebentar sambil menunggu di jemput Ayahku."
Teman sekelas mereka yang lain bergabung dalam percakapan, memberikan saran tentang buku yang menarik untuk dibaca.
Rayno merasa senang melihat teman-temannya begitu antusias berbagi minat dan kegiatan mereka.
Saat mereka melanjutkan percakapan, Rayno secara tidak sengaja bertemu dengan tatapan Jake yang terus mengawasinya.
Jake tampak marah dan tidak senang melihat Rayno bergaul dengan teman-temannya.
Rayno memutuskan untuk mengabaikan tatapan Jake dan fokus pada interaksi dengan teman-temannya.
Setelah berbincang-bincang yang menyenangkan, bel berbunyi menandakan waktunya memulai pelajaran di kelas. Rayno dan teman-temannya berpisah dan duduk di bangku masing-masing.
Saat bel istirahat berdering, Rayno bersiap untuk pergi ke kantin bersama teman-temannya. Namun, sebelum dia bisa pergi, Jake mendekatinya.
"Rayno, bisa kita bicara sebentar? Aku punya sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."
Jake berkata dengan suara yang terdengar tenang, meskipun tatapannya masih penuh dengan ketegangan.
Rayno menatap Jake dengan hati-hati, menyadari bahwa percakapan ini bisa menjadi penting.
Dia mengangguk setuju, menunjukkan kesiapannya untuk mendengarkan apa yang Jake ingin sampaikan.
Jake membawa Rayno ke sudut yang lebih sepi di koridor sekolah, menjauh dari keramaian siswa yang sedang berlalu-lalang.
Beberapa saat mereka berdua terdiam, tidak ada yang memulai duluan untuk berbicara. Setelah beberapa saat Jake menghela nafas untuk menenangkan diri nya, lalu Jake menatap Rayno dengan serius.
"Rayno, aku minta maaf atas sikapku kemarin, Aku sadar bahwa kebencianku adalah akibat dari kecemburuan dan ketidakpuasan dalam hidupku sendiri, aku hanya ingin bahagia seperti orang lain dan aku iri dengan betapa sempurna nya hidupmu."
__ADS_1
Jake mengungkapkan dengan jujur, tatapannya mulai sedikit lembut.
Rayno tersenyum pahit saat mendengarkan ucapan Jake. Nyatanya bagi Rayno hidup nya tidak sesempurna itu.
Memang dia memiliki keluarga yang terus mendukung nya tetapi Rayno masih belum bisa memaafkan dirinya atas kejadian masa lalu.
Rasa bersalah selalu menghantui Rayno dalam dirinya. Meski perlahan Rayno sembuh karena kehadiran orang-orang yang selalu mendukungnya, nyatanya untuk menyembuhkan mental nya tidak semudah itu.
Rayno beberapa saat diam lalu tersenyum sedikit pada Jake. Rayno melihat ke dalam mata Jake yang penuh dengan kegelisahan dan penderitaan.
Meskipun ada kebencian yang pernah Jake tunjukkan, Rayno juga bisa merasakan kesedihan yang terpendam di balik sikap itu.
"Dengar, Jake, aku tahu kehidupan kita berbeda dan kadang-kadang kita mungkin merasa cemburu pada orang lain. Tapi Kita semua memiliki beban dan masalah kita sendiri dan itu sebabnya kita harus saling mendukung, kuharap kamu mengerti dengan kata kataku."
Jake mengangguk mengerti, dan kebencian di matanya mulai memudar seiring mendengar ucapan Rayno yang memulai membuka hati Jake yang tertutup.
"Aku tau aku harus belajar untuk menghargai orang lain. Tapi terkadang hal terberat adalah menghadapi masalah kita sendiri dan berusaha untuk memperbaikinya, makanya aku selalu mencari masalah karena ingin menghilangkan perasaan yang sangat menyakitkan ini, Ray."
Kepala Jake tertunduk untuk melihat ke lantai, suara Jake sedikit gemetar karena kesedihan yang menumpuk didalam hatinya.
"Aku mengerti, kamu pasti sudah sangat berusaha Jake"
Rayno hanya bisa mengatakan hal itu pada Jake, dia bisa merasakan bahu nya menjadi basah karena air mata Jake.
Dengan lembut Rayno mengelus rambut Jake sambil membisikkan kata kata penenang.
"Aku.. Aku lelah dan ingin mengakhiri semua ini tapi aku juga tidak ingin menyerah begitu saja, Ray! Kenapa Ayah dan Ibuku selalu sibuk dengan urusan mereka? Mereka selalu tidak peduli pada putra mereka yang telah kesepian semenjak kecil, aku adalah anak mereka tapi aku seperti orang asing dimata kedua orang tuaku"
Jake berucap dengan marah mengeluarkan semua isi hatinya yang sudah lama terpendam.
Itu semua menumpuk di dalam hati Jake hingga sekarang Jake mengeluarkan semuanya sambil air mata nya yang terus mengalir membasahi bahu Rayno.
"Aku tidak pernah dilirik mereka Ray...Apa aku tidak penting untuk mereka?"
Jake berucap lirih, mata nya semakin mengeluarkan air mata. Jake memeluk erat Rayno sambil terus menangis untuk menghilangkan rasa sakit didalam hatinya.
__ADS_1
Rayno diam membiarkan Jake menangis dengan puas, Rayno paham pasti Jake sudah menahan ini semua jadi Rayno mengelus punggung Jake sambil mendengarkan semua keluh kesah Jake.
Setelah beberapa saat kemudian Jake akhirnya tenang, matanya masih berkaca kaca tapi Jake mencoba menenangkan dirinya lagi agar tidak menangis kembali.
Rayno tertawa kecil melihat Jake sekarang, dengan lembut Rayno mengusap air mata Jake dan lalu Rayno mengusap rambut Jake.
"Sudah tenang? Ingin membilas wajahmu dulu atau kita ke kantin langsung?"
Tanya Rayno sambil tersenyum, lalu menatap Jake menunggu jawabannya.
Jake terdiam malu karena sudah menangis dihadapan Rayno, padahal Jake tadi cuman ingin minta maaf tapi malah berakhir seperti ini. Jake dengan pelan menarik tangan Rayno lalu membawa nya ke toilet sekolah.
"Aku basuh muka dulu, tunggu disini dan jangan pergi ke mana pun, oke?"
Jake berucap dengan serius lalu segera membasuh wajahnya. Sedangkan Rayno tertawa mendengar ucapan Jake yang tidak ingin ditinggalkan.
Rayno mengangguk dan bersandar ke dinding di luar kamar kecil, dengan sabar menunggu Jake kembali.
Dia mengamati para siswa yang lewat, tawa dan obrolan mereka memenuhi udara.
Saat Rayno sedang merenungkan sesuatu hal, Jake muncul dari kamar kecil dengan ekspresi segar di wajahnya. Matanya masih agak merah, tapi ada emosi baru dalam ekspresinya.
"Merasa lebih baik sekarang?" Rayno bertanya, menawarkan senyum meyakinkan.
Jake mengangguk, dengan rasa terima kasih di matanya. "Ya, terima kasih sudah menunggu Rayno. Aku sangat menghargainya dan makasih sudah mau mendengarkan cerita ku"
"Tidak masalah sama sekali, Jake. Mulai sekarang aku akan bersama mu, ingat?" Jawab Rayno, suaranya penuh ketulusan.
Bibir Jake melengkung membentuk senyuman kecil. Lalu Jake menarik tangan Rayno dan berjalan menuju kantin sekolah yang sedang ramai.
Saat mereka berjalan menuju kantin, langkah mereka selaras, Rayno mau tidak mau merasakan harapan berkembang di dalam dirinya.
Mungkin luka akan masa lalu masih ada di dirinya, tetapi dengan setiap langkah maju, Rayno menyadari bahwa penyembuhan itu mungkin.
Dan bahwa suatu saat dia akan bisa untuk memaafkan dirinya sendiri atas kesalahan masa lalu.
__ADS_1