
Sagara dan Lea mendekat, ekspresi mereka dipenuhi kekhawatiran.
"Rayno, penyembuhan memang membutuhkan waktu dan kita akan melalui ini bersama sama. Kamu tidak harus menghadapi rasa sakitmu sendirian terus menerus, bergantung lah pada keluarga mu."
kata Sagara lembut, suaranya mencerminkan ketulusannya saat menatap Rayno.
Rayno mengangguk mengerti, jari-jarinya terjalin dengan jari-jari Lea. Lea memegang erat tangan Rayno.
"Ray kami di sini untukmu, selalu. Jika ada yang bisa kami lakukan untuk mendukungmu beri tahu kami dan aku termasuk yang lain akan terus mendukung apapun yang terjadi, kamu mengerti adik kecil"
Bibir Rayno melengkung membentuk senyuman kecil. Dia diingatkan sekali lagi tentang dukungan keluarga nya, Rayno lupa bahwa dia selalu memiliki keluarga yang akan terus berada disamping nya.
Evan dan Eros lalu mendekati Rayno dengan, mata mereka berlinang air mata, saat mereka sudah didekat Rayno, mereka berdua memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu harus selalu ingat bahwa kamu tidak sendirian disini Kak Ray, kita akan selalu bersama-sama sebagai keluarga."
Rayno membenamkan wajahnya di bahu Eros, merasakan campuran emosi, rasa sakit, kerentanan, tetapi juga harapan untuk sembuh dari rasa sakit ini.
Pada saat dikelilingi oleh cinta dan pengertian, Rayno membiarkan dirinya melepaskan bebannya dan menemukan pelipur lara dalam kehangatan pelukan kedua saudara kembarnya.
Keluarga yang lain ikut memeluk Rayno dengan penuh kasih sayang, mereka tersenyum dalam pelukan satu sama lain.
Saat keluarga Mahavir berpelukan, tiba-tiba pintu mansion terbuka dengan keras dan suara teriakan panik seseorang terdengar.
"Rayno! Rayno.. Kamu tidak apa apa?!"
William berteriak khawatir sambil berjalan dengan cepat mendekati Rayno, mata William melihat ke seluruh tubuh Rayno untuk mencari luka yang berada ditubuh adiknya.
William tadi sedang berada di Rumah Sakit melakukan pekerjaan nya seperti biasa, lalu tiba-tiba Sagara menelponnya dan memberitahu bahwa Rayno terluka.
Setelah William mendengar itu dia segera bergegas pulang karena terlalu khawatir dengan apa yang terjadi pada Rayno.
Mata Rayno membelalak kaget saat melihat William bergegas ke arahnya dengan kekhawatiran terukir di wajah William.
__ADS_1
Rayno dengan cepat meyakinkan saudaranya, dengan memegang tangan William.
"Kak Liam tenanglah, aku baik-baik saja. Tidak seburuk itu. Ayah dan Bunda sudah mengobati aku tadi" jelas Rayno, berusaha menenangkan kakaknya yang khawatir.
William menghela napas lega dan menarik Rayno ke pelukan erat.
"Syukurlah. Aku sangat khawatir ketika mendengar apa yang terjadi. Apa yang terjadi, Ray? Bisakah kamu memberitahuku?"
Rayno lalu memandangi keluarganya, rasa terima kasih ada di matanya. Lalu Rayno kembali menatap William.
"Aku mengalami kembali trauma yang kupikir sudah sembuh dan aku tidak bisa mengatasinya saat itu, hingga aku melukai diriku lagi. Tapi Ayah ada di sana untuk ku. Ayah menemukan ku tepat waktu dan membawa ku pulang."
William yang mendengar itu langsung dengan perlahan memegang tangan Rayno yang dibalut perban, dengan hati hati William memeriksa tangan Rayno.
Saat William sudah selesai memeriksa tangan Rayno, lalu William memeluk Rayno sambil mengelus punggung nya.
"Aku senang kamu baik-baik saja, Aku sangat khawatir saat Sagara meneleponku bahwa kamu terluka. Aku tidak tahan membayangkan sesuatu terjadi padamu."
Naira mendekati mereka, matanya masih berkaca-kaca dari kejadian sebelumnya. Dia meletakkan tangan yang nyaman di bahu William.
"Terima kasih sudah pulang begitu cepat William. Maaf membuat kamu jadi tergesa gesa untuk kesini, kamu tidak terluka kan saat sampai kesini? "
William mengangguk, suaranya penuh kasih sayang saat menatap ibunya.
"Tentu saja Bun, Keluarga adalah yang utama bagiku, apapun yang terjadi aku akan selalu berusaha untuk memprioritaskan keluarga dulu dan kamu tidak perlu khawatir, aku tidak terluka sama sekali."
Wajah William melembut saat dia menatap Rayno kembali. "Maaf Rayno. Seharusnya aku ada di sini untukmu saat kamu terluka. Maafkan aku."
Rayno mengulurkan tangan dan memegang tangan William, suaranya penuh pengertian.
"Tidak perlu meminta maaf Kak Liam. Aku tau kamu memiliki tanggung jawabmu di rumah sakit. Aku sangat berterima kasih atas perhatian dan kekhawatiran mu terhadap ku"
Rayno tersenyum manis pada William, yang mana William langsung mengacak rambut Rayno dengan gemas melihat adiknya.
__ADS_1
"Aku akan memeriksa lagi tangan mu nanti, Ayah dan Bunda melakukan hal bagus untuk pertolongan pertama hingga luka Rayno sedikit membaik"
William menatap Jace dan Naira yang sedang tersenyum, lalu mereka mendekati William dan memeluk William.
"Tentu saja, Ayah dan Bunda kan harus selalu siap siaga agar anak anak Ayah dan Bunda ini tidak terluka"
Ucap Jace tertawa kecil setelah melepaskan pelukan nya pada William, lalu Jace menatap anak-anaknya satu persatu.
"Kemari, ayo beri Ayah dan Bunda pelukan" Jace merentangkan tangan nya menunggu pelukan dari anak anaknya.
Naira tertawa melihat kelakuan Jace lalu Naira juga merentangkan tangan untuk menyambut pelukan anak anak mereka.
Sagara, Lea, William, Rayno, Evan dan Eros langsung memeluk kedua orang tua mereka dengan erat sambil tertawa bersama. Mereka semua menikmati setiap momen berharga ini dan berharap untuk terus berlanjut.
Pelukan hangat memenuhi ruangan dengan cinta dan tawa. Setelah beberapa saat, mereka perlahan melepaskan pelukan mereka, senyum mereka melekat di wajah mereka.
Menjelang malam, aroma makan malam yang lezat memenuhi udara, disiapkan oleh Naira dan Lea dengan cinta dan perhatian. Keluarga berkumpul di sekitar meja makan.
Lea menyajikan sepiring makanan panas yang mengepul, sementara Naira memastikan semua orang memiliki hidangan favorit mereka masing-masing.
Percakapan mengalir dengan mudah saat mereka berbagi cerita dari hari mereka
Evan tersenyum bahagia saat mengingat sesuatu, tidak bisa menahan kegembiraannya Evan berbicara dengan antusias.
"Aku membuat lagu baru di sekolah hari ini dan aku tidak sabar untuk menampilkannya untuk kalian semua nanti."
Eros tersenyum pada ke antusiasaan saudara kembar nya. "Aku juga sedang membuat lukisan baru, masih belum selesai tapi nanti aku pastikan akan menunjukkan nya pada kalian."
Memang kedua saudara kembar ini memiliki hobi yang berbeda, Evan yang sangat menyukai membuat lagu dan bernyanyi selalu membuat lagu entah itu tentang semua isi hatinya yang dia pendam atau hal yang pernah ia alami.
Sedangkan Eros menyukai semua hal tentang karya seni seperti melukis dan membuat kaligrafi, tapi yang paling Eros sukai adalah melukis karena dengan melukis Eros bisa menumpahkan semua emosi nya kedalam karya lukisan nya.
Keluarga Mahavir terkekeh melihat kedua saudara kembar yang sangat bahagia, mereka juga bahagia melihat kedua saudara itu sangat menyukai hobi mereka masing-masing.
__ADS_1