
Sinar keemasan matahari pagi dengan lembut membelai wajah Rayno, membujuknya bangun dari lelapnya tidurnya.
Saat kelopak matanya yang berat terbuka, tatapannya bertemu dengan cahaya lembut yang memenuhi ruangan. Untuk sesaat, Rayno merasakan secercah kehangatan meresap ke dalam jiwanya.
Kebingungan mengaburkan pikiran Rayno saat dia perlahan duduk, menggosok matanya untuk menghilangkan sisa-sisa tidur.
Sekelilingnya berangsur-angsur menjadi fokus, memperlihatkan sebuah ruangan yang terasa akrab dan jauh.
Butuh beberapa saat untuk menyadarinya, itu adalah kamarnya sendiri, ruang yang telah menjadi tempat perlindungan kesunyian dan siksaan untuknya.
Jantung Rayno berdetak kencang saat kenangan malam sebelumnya membanjiri kesadarannya—jembatan, keluarganya, secercah harapan yang rapuh. Apakah itu semua mimpi? Atau apakah ada sesuatu yang berubah di kedalaman keputusasaannya?
Mengambil napas dalam-dalam, Rayno kembali memikirkan kejadian malam sebelumnya, menurunkan kakinya ke tepi tempat tidur.
Rayno menjejakkan kakinya dengan kuat di lantai sambil terus melamun. Tidak menyadari bahwa pintu kamarnya terbuka.
Suara pintu kamar Rayno tiba-tiba terbuka, menampilkan Jace yang berjalan memasuki kamar Rayno.
Saat Jace memutar kenop pintu dan masuk kedalam, dia disambut oleh pemandangan yang menusuk hatinya.
Rayno duduk di tepi tempat tidurnya, matanya kosong dan hilang, dikelilingi sisa-sisa rasa sakitnya.
Bekas luka sayatan tergores di tangannya yang halus, bukti siksaan yang telah Rayno lakukan pada dirinya sendiri.
Dengan perlahan Jace mendekati putranya, Jace duduk disamping Rayno yang masih melamun sama sekali tidak menyadari bahwa Jace sudah duduk disamping tempat tidur.
Dengan lembut dan penuh kasih Jace mengelus rambut Rayno, membuat Rayno yang sedang melamun tersentak kaget karena tiba-tiba disentuh.
Rayno lalu mendongak dan menatap Ayahnya yang hanya diam tidak bicara apapun dan masih mengelus rambut nya.
Dengan senyum lembut, Jace memecah kesunyian, suaranya bercampur dengan kesedihan yang diwarnai dengan harapan.
"Selamat pagi putranya Ayah, apa putra Ayah ini tidur dengan nyenyak?"
Tanya Jace sambil tersenyum kepada Rayno, tangan Jace masih terus mengelus rambut Rayno.
__ADS_1
Bibir Rayno terbuka, suaranya nyaris berbisik. "Aku... aku tidur nyenyak, Ayah."
Kata-katanya diwarnai dengan sedikit keterkejutan, seolah-olah tidur telah menjadi pengunjung yang sulit ditangkap dalam hidupnya.
Tangan Jace melanjutkan gerakannya yang menenangkan, isyarat kenyamanan dan dukungan.
"Aku senang mendengarnya," jawabnya lembut. "Kamu pantas mendapatkan saat-saat damai, Rayno."
Lalu keheningan menetap di antara mereka. Jace tahu bahwa tidak ada kata yang dapat menghapus rasa sakit yang tergores dalam diri Rayno.
Tetapi Jace berharap kehadirannya yang tak tergoyahkan akan menyampaikan pesan yang lebih keras daripada penegasan yang diucapkan.
"Rayno," suara Jace sedikit bergetar, emosi mencekik kata-katanya
"Ayah ingin kamu tahu bahwa Ayah di sini untukmu, bukan hanya ada Ayah tapi Bunda dan saudara saudara mu juga ada untukmu. Tidak peduli seberapa gelap jalannya, kita akan melewatinya bersama. Rasa sakitmu bukan milikmu, untuk menanggung semuanya sendirian."
Tatapan Rayno berkedip sejenak, secercah pengakuan menari di matanya. Seolah-olah sepotong anak laki-laki yang pernah dilihatnya melalui celah-celah jiwanya yang hancur.
Jace melanjutkan lagi, dengan nada suara dipenuhi kelembutan dan tegas yang menunjukkan tekadnya.
"Kami sangat mencintaimu, dan kami tidak akan membiarkanmu menghadapi kegelapan ini sendirian. Kami akan berjuang bersamamu, di setiap langkah, Ayah dan yang lainnya akan selalu membantumu"
"Aku... aku tidak tahu apakah aku bisa mengatasi ini, Ayah." Rayno suaranya bergetar karena keputusasaan.
"Rayno, dengarkan aku," suara Jace semakin kencang, bercampur dengan keyakinan yang teguh.
"Cinta Ibumu untukmu tidak terbatas, dan itu masih ada di dalam diri kita. Dia tidak ingin kamu menanggung beban ini sendirian, juga tidak ingin kamu menderita dalam diam. Kita adalah keluarga, dan kita akan menghadapi ini bersama."
Cahaya harapan muncul di mata Rayno, bercampur dengan rasa sakit yang telah memakannya begitu lama. Suaranya bergetar saat dia berbisik
"Tapi bagaimana aku bisa mendapatkan pengampunan, Ayah? Bagaimana aku bisa belajar untuk hidup dan memaafkan diriku dengan apa yang telah kulakukan?"
"Kenapa harus Mama yang pergi? kenapa tidak aku saja yang pergi jadi Ayah dan kakak tidak akan sedih dan kehilangan Mama."
Cengkeraman Jace sedikit menegang, suaranya penuh kesedihan dengan kasih sayang yang tak tergoyahkan.
__ADS_1
"Pengampunan dimulai dengan kasih sayang. Itu dimulai dengan pemahaman bahwa tidak ada dari kita yang sempurna, bahwa kita semua membuat kesalahan"
"Ibumu sangat mencintaimu, dan dia ingin kamu menemukan cara untuk memaafkan dirimu sendiri, untuk merangkul hidup sekali lagi."
Jace lalu menghela nafas berat, dan melanjutkan berbicara.
"Aku tidak pernah ingin kehilangan kalian berdua tapi ini adalah sebuah takdir Ray, takdir kehilangan Ibumu. Kita tidak bisa menganggu takdir yang sudah berjalan dengan semestinya anakku"
Air mata mengalir di wajah Rayno saat dia memeluk ayahnya dan menangis dibahu ayahnya, kelemahannya menemukan pelipur lara.
Pada saat itu, dia merasakan kehangatan cinta Ayahnya menembus hatinya yang terluka, menyalakan secercah harapan yang dia pikir telah padam.
Jace diam membiarkan putranya menangis untuk mengeluarkan segala hal yang dia pendam dari dulu, Jace memeluk Rayno dengan erat sambil terus membisikan kata kata penenang.
Beberapa saat kemudian Rayno menjadi lebih tenang, kepala Rayno menyandar di bahu sang Ayah tercinta.
Ada jeda keheningan yang tampaknya membentang selamanya. Dan kemudian, dengan suara yang nyaris tak terdengar, Rayno membisikkan kata-kata yang bergema di seluruh ruangan, membawa secercah harapan pada Jace.
"Bantu aku, Ayah. Bantu aku menemukan jalan kembali ke cahaya untuk terus hidup."
Mendengar perkataan Rayno membuat menyulut api dalam diri Jace. Lalu Jace berbicara dengan nada penuh keyakinan dan tekad untuk menuntun putranya kembali seperti dulu.
"Ayah tidak akan mengecewakanmu. Ayah akan melakukan dengan segala usaha untuk membawamu kembali ke cahaya. Bersama-sama, kita akan menulis ulang kisah kita bersama dengan yang lain, sebuah kisah tentang ketahanan, penebusan, dan cinta yang melampaui bahkan yang paling gelap dari malam."
Ucap Jace sambil memeluk erat Rayno, lalu Jace melepaskan pelukan itu dan mencium kening putranya dengan lembut dan penuh kasih.
Jace menolak untuk membiarkan nyawa putranya ditelan oleh kegelapan yang mengancam akan menelannya.
Dengan keluarga Mahavir yang lain di sisinya, Jace dan yang lainnya akan melakukan apa saja untuk membawa Rayno kembali dari keterpurukan untuk mengingatkannya bahwa dia dicintai oleh banyak orang.
untuk menunjukkan kepada Rayno bahwa semua itu bukan kesalahannya dan bahwa pengampunan dan penyembuhan itu mungkin.
Perjalanan ke depan mungkin akan sangat menakutkan, penuh dengan ketidakpastian dan banyak rintangan yang harus dilalui, tetapi Jace tahu dia tidak bisa goyah.
Demi putranya, demi janji yang Jace buat kepada mendiang istrinya, dia akan berjuang melawan gelombang keputusasaan, meski inci demi inci yang sangat menyakitkan.
__ADS_1
Jace akan pastikan Rayno menemukan kebahagiaan dalam pelukan kehidupan sekali lagi.