Melintasi Kegelapan Menuju Kebahagiaan

Melintasi Kegelapan Menuju Kebahagiaan
BAB 10


__ADS_3

Saat Rayno turun dan langsung menuju ke dapur, dia melihat yang lain sudah duduk di meja makan sambil berbincang, mereka segera berhenti berbicara saat melihat bahwa Rayno sudah datang.


"Selamat malam semuanya"  Ucap Rayno tersenyum menyapa semua keluarga nya lalu Rayno duduk di tengah tengah si kembar.


Mereka tersenyum balik saat Rayno menyapa mereka, lalu mereka membalas sapaan nya. Saat Rayno melihat satu persatu keluarga nya Rayno melihat bahwa William tidak ada.


"Dimana kak Liam? "  Tanya Rayno bingung sambil menatap keluarganya.


"Liam tadi tiba-tiba mendapatkan panggilan dari rumah sakit, sepertinya ada pasien darurat" 


Sagara menjawab wajah nya khawatir dengan saudara nya yang sepertinya sangat sibuk.


"Padahal anak itu masih belum makan, kuharap nanti Liam menyempatkan untuk makan dulu"


Naira menghela nafas, lalu menaruh makanan di meja dengan Lea yang membantu nya.


"Kakak sepertinya sangat sibuk" Wajah Rayno berkerut khawatir, Rayno hanya bisa berharap kakak nya beristirahat dengan cukup agar tidak kelelahan.


Saat keluarga itu duduk untuk makan, ada ketidakhadiran yang nyata di udara. Kekhawatiran terhadap William tetap ada di hati mereka, tetapi mereka tahu bahwa pekerjaannya sebagai dokter sangat sibuk.


Ruangan itu dipenuhi dengan campuran percakapan dan saat-saat hening mereka makan, dentingan peralatan makan mengiringi makan bersama mereka.


Saat mereka selesai makan malam, telepon Naira berdering, menyebabkan jeda sesaat di ruangan itu. Matanya membelalak khawatir saat dia menjawab panggilan itu. Percakapan itu singkat, dan ekspresi Naira melembut saat dia menutup telepon.


"Itu Liam," kata Naira, campuran kelegaan dan kekhawatiran terlihat jelas dalam suaranya.


"Keadaan darurat telah diatasi, dan dia akan segera pulang. Dia lelah tapi dia meyakinkan kita bahwa dia sudah menyempatlan makan malam."


Wajah Rayno berseri-seri dengan senyum kecil, bersyukur atas kabar Liam. Beban di hati mereka mulai terangkat, dan rasa kepastian memenuhi ruangan.

__ADS_1


Para pelayan lalu membereskan meja makan setelah Keluarga Mahavir selesai makan. Suara Piring-piring berdenting dan air mengalir, terdengar saat para pelayan sedang bersih bersih.


Mereka berkumpul di ruang tamu setelah menyelesaikan makan, keheningan yang nyaman menyelimuti keluarga Mahavir.


Kemudian malam semakin larut, satu persatu yang lain kembali ke kamar untuk beristirahat, Rayno juga kembali ke kamar dan sekarang merebahkan diri di kasur.


Rayno diam saat berbaring, pikiran nya teringat kejadian dengan Jake, lalu beralih memikirkan hal lain.


Tiba-tiba Rayno tersentak saat teringat kenangan dengan Mama nya membuat hati Rayno berdenyut sakit, saat sebuah pikiran yang telah dia lupakan selama beberapa minggu ini, bahwa dia tidak bisa bertemu Mama nya lagi.


Dalam keheningan malam, setetes air mata jatuh saat kenangan seorang Ibu terus membanjiri pikiran Rayno lagi. Perlahan air mata itu semakin banyak keluar, hati Rayno semakin sakit memikirkan kata kata terakhir dari Mama nya.


Di tengah tangis diam dan sakit hati Rayno, pikirannya melayang kembali ke hari itu, hari dimana hidupnya berubah selamanya. Kenangan akan cinta dan pengorbanan ibunya terukir di dalam dirinya. Rasa bersalah selalu ada di dirinya.


Rayno dengan jelas mengingat saat-saat terakhir yang mereka bagikan bersama, kata-kata terakhir Mama nya yang akan selamanya membekas di hatinya.


Dengan air mata mengalir di wajahnya yang penuh luka, Mama nya memeluk erat tubuh nya yang  gemetar kesakitan. Tubuh mereka berdua penuh luka dan darah tapi Mama nya tetap terus membisikkan kata kata penenang untuk dirinya. Dengan suara yang pelan tetapi sangat lembut dan hangat


'Rayno, ingatlah bahwa aku akan selalu bersamamu, bahkan jika kamu tidak dapat melihatku. Hadirnya Kamu dan kakak mu adalah sebuah berkah bagiku. Kalian adalah kebahagiaan terbesarku dan pencapaianku yang paling membanggakan dalam hidupku'.


Itu adalah kata-kata terakhir yang diucapkan sang Ibu kepada sang anak, suaranya dipenuhi dengan campuran kesedihan dan cinta yang tak tergoyahkan. Pada saat yang tragis itu, sang Ibu telah melindungi anaknya dari bahaya, mengorbankan nyawanya sendiri untuk melindunginya.


Dalam malam yang gelap itu, seorang Ibu berusaha keras untuk melindungi anak nya, seiring berjalannya waktu nafas wanita itu perlahan melambat, jantung nya perlahan berhenti berdetak dengan tangan nya yang tetap memeluk sang anak.


Sedangkan seorang anak yang masih berada dipelukan Ibu nya semakin menangis saat merasakan jantung sang Ibu kian melemah.


*D*engan suara yang bergetar anak itu terus memanggil sang Ibu yang sudah menutup mata dengan lelap, hingga anak itu merasakan jantung ibunya yang telah berhenti berdetak.


Suara tangisan keras dari anak itu terendam dengan nyaring bunyi ambulan. Anak itu terus menangis didalam pelukan sang Ibu yang sudah tertidur dalam keabadian.

__ADS_1


Hati Rayno sakit karena ketidakhadiran Ibunya, dan kekosongan yang ditinggalkan oleh kepergiannya tampaknya tidak dapat diatasi olehnya.


Saat air mata mengalir di wajahnya, Rayno berbisik pelan, seolah kata-katanya bisa sampai ke alam lain.


"Ma, aku sangat merindukanmu. Aku berharap kamu ada di sini bersamaku. Aku berharap aku bisa mendengar suaramu dan merasakan pelukan hangatmu sekali lagi. Rasa sakit kehilanganmu tak tertahankan untuk ku, tapi aku akan mencoba bertahan didunia ini tanpa kehadiran dari Mama."


Suara Rayno bergetar dengan campuran kesedihan dan cinta saat dia terus menuangkan emosinya ke dalam kamar yang sepi dan kosong.


"Terima kasih telah menjadi cahaya penuntunku, karena mengajariku arti cinta dan ketangguhan. Aku menjadi diriku karenamu. Pengorbananmu melindungiku selama kecelakaan itu dan akan selamanya terukir dalam ingatanku"


Rayno berkata dengan suara yang bergetar, lalu menarik nafas berat.


"Aku minta maaf untuk apapun rasa sakit yang telah aku sebabkan untukmu, dan aku berjanji akan menjalani kehidupan yang membawa kebahagiaan."


Saat Rayno berbicara, suaranya semakin lembut, beban kesedihan membebani pundak mudanya. Namun, dalam kesedihan itu, secercah kekuatan dan tekad muncul.


"Aku akan membuatmu bangga, Ma. Meskipun aku tidak bisa melihatmu, aku tahu kamu mengawasiku, membimbingku melewati jalan takdir hidup. Semangatmu akan selalu menjadi bagian dari diriku"


Saat Rayno masih terus berbaring di tempat tidurnya, air mata membasahi bantalnya, dia terus mengingat kata-kata Mama nya dan momen bersama Mama nya.


Rayno menemukan penghiburan serta kesedihannya dalam cinta dan dorongan yang telah Mama nya berikan padanya.


Dalam kesunyian yang mengikutinya Rayno hampir bisa merasakan kehadiran Ibunya, jiwa kasihnya mengelilinginya, memberikan kenyamanan dan kekuatan di saat-saat tergelapnya.


Dengan hati yang berat namun teguh, Rayno memejamkan mata, membiarkan kenangan cinta sang Ibu memeluknya.


Rayno tau bahwa meskipun Mama nya secara fisik pergi, jiwanya akan selamanya membimbingnya, menerangi jalannya dan mengingatkannya akan ikatan luar biasa yang mereka bagi.


Dengan wajah berlinang air mata dan campuran emosi, Rayno perlahan tertidur dengan gelisah, kenangan Ibunya menemaninya dalam mimpinya.

__ADS_1


Malam terus berlanjut, merangkul ruang sunyi tempat kepedihan Rayno.


Diluar pintu kamar Rayno, disitu terduduk Naira yang terus meneteskan air mata setelah mendengar dan melihat kesedihan Rayno, Naira sebagai seorang Ibu tidak tahan melihat anaknya jatuh ke dalam kesedihan.


__ADS_2