Melintasi Kegelapan Menuju Kebahagiaan

Melintasi Kegelapan Menuju Kebahagiaan
BAB 7


__ADS_3

Sagara sebagai anak sulung tidak tahan melihat adiknya yang terus menderita dalam diam. Bertekad untuk membuat perbedaan, Sagara memutuskan untuk mendekati Rayno dengan dukungan dan kasih sayang yang tak tergoyahkan.


Malam harinya, saat matahari terbenam di bawah cakrawala dan dunia memeluk ketenangan senja, Sagara mengetuk pintu kamar Rayno dengan lembut. Suara lembut bergema melalui keheningan. 


Sagara mengetuk pintu dengan lembut, tangannya sedikit gemetar. "Rayno," panggilnya, suaranya dipenuhi rasa gentar dan ketulusan. "Bolehkah kakak masuk?"


Rayno, yang tenggelam dalam pikirannya, mengangkat pandangannya untuk bertemu dengan pintu yang sedang diketuk. Kekosongan di matanya berubah menjadi kilasan keingintahuan dan keterkejutan.


Ada keraguan sesaat, tapi kemudian suara Rayno, nyaris berbisik, menjawab, "Iya kak Gara. Masuklah."


Sagara melangkah masuk ke dalam kamar dengan semangkuk bubur untuk makan malam Rayno.


Mata Sagara langsung tertuju pada ekspresi muram Rayno. Dia menutup pintu di belakangnya, menciptakan rasa privasi yang memungkinkan percakapan mereka mengalir dengan bebas.


Dengan setiap langkah semakin dekat dengan Rayno, jantung Sagara berdetak sedikit lebih cepat, keinginannya untuk menawarkan penghiburan dan kenyamanan semakin kuat untuk adiknya. 


Dia duduk di tepi tempat tidur Rayno, mata mereka bertemu dalam diam memahami rasa sakit yang mereka berdua tanggung.


Sagara lalu memulai untuk percakapan terlebih dahulu. 


"Selamat malam Ray, bagaimana keadaan mu sekarang? Apa sudah lebih membaik?" 


Sagara tersenyum sambil meletakkan bubur dinakas, lalu Sagara menatap Rayno menunggu jawabannya. 


"Aku sedikit merasa baik, mungkin demam ku sudah agak menurun"  Ucap Rayno, perlahan mendudukan dirinya untuk bersandar di dashboard, lalu Rayno melanjutkan. 


"Bagaimana dengan kakak? Apa pekerjaan kakak berjalan dengan lancar? "


Sagara yang mendengar pertanyaan Rayno tersenyum lebar, karena adiknya sudah lama tidak bertanya sesuatu tentang dirinya.


"Pekerjaanku berjalan dengan baik, Ray," jawab Sagara, antusiasme yang tulus terpancar di matanya. 


"Tapi kamu tahu? Tidak masalah dengan pekerjaan. Yang paling penting bagiku adalah kamu, dan memastikan kamu baik-baik saja."


Mata Rayno melebar terkejut karena perhatian tiba-tiba dari kakaknya


"Terima kasih... Atas perhatianmu kakak"


Sagara terkekeh dan mengelus rambut Rayno dengan penuh perhatian pada sang adik. 

__ADS_1


Lalu Sagara mengambil mangkuk yang berisi bubur dan dengan perlahan menyuapi Rayno bubur. 


Setelah beberapa saat bubur habis, Sagara lalu lanjut berbicara lagi. 


Sagara perlahan mengulurkan tangan, meletakkan tangannya di rambut Rayno lalu dengan lembut mengusapnya, memberikan sentuhan yang menenangkan.


"Kamu dicintai, Rayno," Sagara menekankan, suaranya penuh keyakinan. 


"Mama tidak pernah menginginkan apa pun selain agar kamu menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dunia ini. Dia ingin kamu memaafkan dirimu sendiri, sama seperti dia akan memaafkanmu."


Keheningan berat menetap di antara mereka, membiarkan Rayno menyerap kata-kata Sagara, 


Lalu Sagara melanjutkan, suaranya masih tegas atas kata katanya.


"Aku mungkin tidak mengerti kedalaman kesedihanmu, tapi aku di sini untuk mendengarkan, menawarkan bahu untuk bersandar. Kita adalah keluarga dan keluarga berdiri bersama melewati saat-saat sulit."


Sagara diam sejenak, lalu menatap Rayno dengan dalam dan penuh pengertian. 


"Aku tahu kamu menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi, tapi tidak ada dari Aku, Ayah, Bunda maupun saudara saudara yang lain menyalahkanmu. Kami mencintaimu, Rayno dan kami ingin membantumu sembuh dari rasa bersalah."


Suara Rayno bergetar saat dia berbicara, kerentanannya meresap. "Aku hanya bisa berpikir bahwa jika aku tidak bersikeras pergi dengan Ibu hari itu, dia masih akan hidup."


"Aku mengerti itu tidak mudah, Ray. Tapi kamu harus ingat bahwa apa yang terjadi bukanlah salahmu. Itu adalah tragedi kecelakaan. Menyalahkan dirimu sendiri tidak akan mengubah apa yang terjadi, tetapi itu akan mencegahmu untuk bergerak maju jika kamu terus menyalahkan diri."


Air mata menggenang di mata Rayno, emosinya meluap. 


"Aku merindukan Mama. Setiap hari hatiku semakin terasa kosong karena kehilangan Mama, tanpa kehadiran Mama terasa sangat berat untuk ku atasi"


Sagara menarik Rayno ke dalam pelukan hangat, memeluknya erat-erat. 


"Aku juga merindukannya Ray. Kita semua merindukannya. Tapi kita harus menemukan cara untuk menghormati kepergian Mama dengan menjalani hidup kita sepenuhnya. Mama pasti tidak ingin kita tenggelam dalam kesedihan yang mendalam terus menerus."


Suara Rayno bergetar saat dia akhirnya berbicara, kata-katanya berat karena rasa sakit. 


"Kakak, aku tidak tahu bagaimana melepaskan diri dari rasa bersalah ini. Itu mencekikku, menghabiskan setiap pikiran didalam otak ku."


Sagara diam sejenak, lalu memeluk Rayno semakin erat, dan dengan berbisik Sagara bicara. 


"Aku tidak bisa berjanji bahwa rasa bersalah akan hilang secara ajaib, tapi aku bisa menjanjikanmu ini, kita akan menghadapinya bersama. Biarkan aku menjadi kekuatanmu saat kamu merasa lemah, biarkan aku menjadi suaramu saat kamu tidak dapat menemukan kata-kata. Bersandarlah padaku Rayno, dan biarkan aku sebagai kakak mu membantumu untuk terus maju tanpa menyerah."

__ADS_1


Air mata menggenang di mata Rayno, pintu emosinya terbuka sedikit demi sedikit. Rayno bersandar ke pelukan Sagara, membiarkan dirinya menjadi lemah pada saat ini.


Beban yang dipikulnya setelah sekian lama terasa sedikit lebih ringan, kegelapan ditembus oleh secercah cahaya sedikit demi sedikit.


Mereka berdua tetap berpelukan untuk sementara waktu, masing masing menemukan ketenangan di hadapan satu sama lain.


Sagara tahu bahwa penyembuhan akan memakan waktu, tetapi dia bertekad untuk mendukung Rayno di setiap langkahnya.


Saat Sagara dan Rayno berpelukan, pintu berderit terbuka memperlihatkan anggota keluarga lainnya yang berdiri di sana, mata mereka dipenuhi dengan harapan dan cinta.


Keluarga Mahavir telah menyaksikan awal babak baru, babak di mana Rayno tidak lagi akan menghadapi semuanya sendirian. Satu persatu dari mereka memeluk Rayno bersama. 


Lea, kakak perempuan nya, memeluknya erat-erat, suaranya dipenuhi kelembutan saat dia berbisik di telinganya.


"Kamu lebih kuat dari yang kamu tahu Rayno. Kami di sini untuk mengingatkanmu bahwa kami selalu mencintaimu."


Eros, adik tiri Rayno, menggenggam bahunya, matanya mencerminkan tekad. 


"Kami akan berjuang bersamamu, Kak" kata Eros dengan tegas. Lalu Evan melanjutkan perkataan saudara kembarnya. 


"Tidak peduli berapa lama, kami akan berada di sini untuk mengangkatmu ketika kamu terjatuh oleh keputusasaan mu"


William saudara tiri yang lain, meletakkan tangannya dengan lembut di punggung Rayno. "Kamu adalah bagian dari keluarga ini, Ray," katanya lembut. 


"Dan dalam keluarga ini, kami saling menjaga. Kami akan membantumu menemukan jalan kembali menuju kebahagiaan."


Naira, ibu tirinya, memeluknya erat-erat, suaranya dipenuhi dengan cinta keibuan. 


"Bunda mungkin bukan Ibu kandungmu, tapi Bunda sangat mencintaimu, nak" katanya, suaranya bergetar karena emosi. 


"Rasa sakitmu adalah rasa sakit kami, dan kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk membantumu sembuh."


Jace, Ayahnya melangkah maju dan memeluk Rayno, suaranya penuh tekad. 


"Aku sudah berjanji pada ibumu, Rayno. Bahwa aku akan melindungimu dan mencintaimu tanpa syarat. Dan aku berniat untuk menepati janji itu. Kita akan menghadapi ini bersama, sebagai sebuah keluarga."


Dan dalam kehangatan pelukan mereka, yang dikelilingi oleh cinta dan dukungan tak tergoyahkan dari keluarga Mahavir untuk Rayno.


Rayno merasakan secercah harapan menyala di dalam hatinya. Itu adalah awal dari perjalanan Rayno menuju penyembuhan, penebusan, dan penemuan kembali kegembiraan yang ditawarkan kehidupan.

__ADS_1


__ADS_2