
Saat Rayno memasuki toilet, dia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa seseorang mengikutinya. Dia melirik ke belakang, matanya bertemu dengan tatapan seorang siswa sekelas dengan nya, yang bernama Jake. Intensitas tatapan Jake membuat Rayno bingung.
Rayno ragu-ragu sejenak, instingnya memperingatkannya bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, dia memilih untuk mengabaikan kekhawatirannya, percaya bahwa dia hanya terlalu banyak berpikir.
Rayno lalu masuk ke salah satu bilik di toilet lalu buang air kecil dengan cepat dan segera ingin bergabung kembali dengan teman-temannya.
Beberapa menit Rayno keluar lalu melihat bahwa Jake masih ada di toilet sedang bersandar di dinding sambil terus menatapnya, Rayno mencoba mengabaikan tatapan Jake dan berjalan ke wastafel.
Saat Rayno mencuci tangannya di wastafel, Jake mendekatinya, wajahnya berkerut kesal saat menatap Rayno yang mengabaikan nya. Rayno bisa merasakan energi negatif terpancar dari Jake dan kewaspadaannya meningkat.
"Jadi, Rayno," cibir Jake sambil bersandar ke dinding dekat wastafel
"Kamu pikir kamu sangat istimewa, bukan? Selalu dikelilingi oleh keluargamu yang sempurna, kehidupanmu yang sempurna. Baiklah, biarkan aku memberitahumu sesuatu. Aku muak dan lelah melihatmu memamerkan kebahagiaanmu di depan setiap orang."
Wajah Rayno berkerut bingung dengan Jake yang mempermasalahkan kehidupan keluarga nya, Rayno lalu tetap diam mendengarkan perkataan Jake.
Wajah Jake semakin marah saat Rayno masih diam dan tidak menjawabnya, dengan nada kasar Jake melanjutkan berbicara
"Oh, kamu pasti tidak mengerti, kan? Kamu memiliki semuanya, orang tua yang penuh kasih sayang, keluarga yang bahagia dan bisa melakukan banyak hal dengan bebas. Dasar kamu anak yang manja" Ucap Jake dengan mengejek, sambil melototi Rayno dengan penuh kebencian
Rayno terdiam saat dia menyadari sumber permusuhan Jake. Itu bukan masalah pribadi, itu berakar pada kecemburuan dan iri hati. Rayno menarik napas dalam-dalam, berusaha tetap tenang dan tenang, lalu Rayno menatap Jake.
"Maaf jika kebahagiaan keluargaku mengganggumu," jawab Rayno, suaranya penuh ketenangan.
"Tapi aku tidak melakukan apa pun untuk menyakiti atau memamerkan apa pun dengan sengaja. Kita semua punya permasalahan masing-masing, Jake. Aku hanya berusaha menemukan jalanku, seperti orang lain."
Jake mendengus kesal nadanya semakin penuh kebencian tetapi matanya dipenuhi kepahitan.
"Oh tolong kamu anak manja pasti tidak tahu bagaimana rasanya berasal dari keluarga yang berantakan, tidak memiliki keluarga yang penuh kasih seperti milikmu. Kamu menjalaninya dengan mudah, dan aku tidak tahan melihat kebahagiaan mu yang membuat ku muak."
Jake lalu mendekati Rayno lalu menatap nya dengan permusuhan
"Kenapa kamu harus bahagia? Kenapa hidup mu tidak seperti ku saja, akan lebih baik kamu merasakan hal yang ku rasakan" Jake membungkuk, berbisik ditelinga Rayno.
Rayno diam tapi pikiran nya tertuju pada Jake, Rayno memahami bahwa kemarahan Jake berasal dari rasa sakitnya sendiri.
Rayno menyadari bahwa permasalahan ini bukan hanya tentang dia, ini tentang luka yang mengakar yang dibawa Jake dari dalam dirinya sendiri.
Rayno lalu menjauh sedikit dari Jake menciptakan beberapa jarak antara dirinya dan Jake.
__ADS_1
"Aku minta maaf karena kebahagiaan ku membuatmu kesal, tapi ini hidup ku dan kamu tidak pantas untuk menentukan hidup ku mau bahagia atau tidak"
Setelah mengatakan itu Rayno berbalik pergi dengan tenang keluar dari toilet menuju ke kantin. Meninggalkan Jake sendirian di toilet.
Jake menatap punggung Rayno yang menjauh dengan perasaan campur aduk. Kemarahannya masih membara di dalam dirinya, tetapi ada juga kebingungan dan sedikit penyesalan.
Dia tahu bahwa Rayno telah menunjukkan kepadanya kebaikan dan kebahagiaan yang dia sendiri belum pernah rasakan dan itu membuat dirinya iri dengan betapa tidak adilnya sebuah takdir.
Dalam keheningan toilet yang sepi, Jake merenung tentang kata-kata yang baru saja diucapkan Rayno.
Mengapa hidupnya tidak bisa seperti Rayno? Mengapa dia tidak bisa merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh orang lain? Keinginannya untuk merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang Rayno miliki semakin kuat.
Pikiran-pikiran negatif mulai menguasai Jake. Ia merasa tidak adil bahwa Rayno memiliki hidup yang begitu bahagia.
Sementara dia sendiri terjebak dalam kegelapan yang tak terelakkan. Rasa iri dan kekecewaan memenuhi hatinya, membangkitkan amarah yang dalam.
"Sangat tidak adil.. Mengapa dia sangat bahagia? Sedangkan aku tidak"
Jake berguman rendah, wajahnya terlihat semakin penuh amarah dan rasa iri dihati, tangan nya terkepal dengan erat.
Dengan penuh frustrasi, Jake memukul dinding toilet dengan keras, mencoba melepaskan kemarahan dan iri hati nya. Dia ingin melampiaskan segala perasaan negatif yang telah menghantuinya selama ini.
"Rayno! " teriak Alex ditengah keramaian lalu melambaikan tangan nya bersama dengan yang lain.
Rayno menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan melihat teman-temannya melambai ke arahnya dari meja di sudut kantin. Rasa lega menyapu dirinya, mengetahui bahwa dia akhirnya menemukan teman temannya.
Dia dengan cepat berjalan untuk bergabung dengan mereka, Rayno mendengar obrolan dan tawa teman-temannya memberikan latar belakang yang menghibur untuk dirinya. Lalu Mereka menyambutnya dengan senyuman dan bergeser untuk memberi ruang baginya di bangku.
"Kenapa sangat lama? Kami pikir tadi kamu ke kelas duluan" ucap Lino khawatir lalu memeriksa keadaan Rayno.
Teman teman yang lain juga menatap Rayno dengan khawatir, itu membuat Rayno tertawa kecil melihat mereka yang sangat peduli dengannya.
"Hanya ada sedikit masalah tadi, tidak perlu khawatir"
Rayno tersenyum dengan tenang mencoba meyakinkan teman temannya agar tidak khawatir dengannya.
Mereka yang mendengar itu menganggukan kepala mengerti, mereka ingin menanyakan masalah apa tapi sepertinya Rayno tidak ingin membicarakan nya jadi mereka melanjutkan berbicara hal lain.
Setelah itu Rayno terlibat dalam percakapan ringan dengan teman-temannya, ingatan nya tentang pertemuan sebelumnya dengan Jake perlahan menghilang dalam pikiran nya.
__ADS_1
Energi positif dari persahabatan yang tulus di antara teman-temannya membantunya mendapatkan kembali rasa memiliki dan meyakinkannya bahwa dia tidak sendiri.
Sisa hari sekolah berlalu dengan relatif lancar, dengan Rayno menghadiri kelas, berpartisipasi dalam diskusi, dan Rayno berbagi cerita dan lelucon dengan teman-temannya.
Rayno yang merasakan rasa penerimaan di antara teman temannya secara perlahan kenegatifan dari sebelumnya sepertinya memudar saat dia fokus pada energi positif yang mengelilinginya.
Meski Kejadian dengan Jake masih membekas di benak Rayno, namun ia memilih untuk fokus pada energi positif yang mengelilinginya.
Akhirnya, bel terakhir berbunyi, menandakan berakhirnya hari sekolah.
Rayno mengumpulkan barang-barangnya dan berjalan ke pintu gerbang sekolah. Saat dia melangkah ke jalan yang ramai, dia melihat Lea sudah menunggunya diluar gerbang sekolah, sambil bersandar di mobil, Lea tersenyum di wajahnya saat melihat Rayno keluar gerbang.
"Hei, adik kecil! Bagaimana harimu?" tanya Lea, suaranya dipenuhi ketertarikan yang tulus.
"Itu bagus" jawab Rayno, bobot pertemuan nya dengan Jake sebelumnya masih melekat dalam suaranya. "Aku bersenang-senang dengan teman-temanku"
Rayno tersenyum dan berbagi beberapa hal menarik dari harinya dengan saudara perempuannya saat mereka berdua memasuki mobil.
Rayno memilih untuk tidak menyebutkan pertemuannya dengan Jake, agar Lea tidak mengkhawatiran yang tidak perlu.
Saat mereka berkendara, Rayno mau tidak mau merenungkan kejadian tadi bersama Jake.
Terlepas dari konflik dan tantangan yang Rayno hadapi, dia menyadari bahwa kekuatannya tidak hanya berasal dari keluarga tercintanya tetapi juga dari hubungan yang dia jalin dengan teman-teman yang menerima dia apa adanya.
Pertemuan dengan Jake menjadi pengingat Rayno, bahwa tidak semua orang memiliki kebahagiaan dan keadaan yang sama, tetapi Rayno mengerti bahwa dia tidak bisa membiarkan kebencian orang lain menghancurkan kebahagiaan nya sendiri.
Sesampainya di mansion keluarga Mahavir, Rayno melangkah keluar dari mobil, merasakan perasaan lega dan hangat. Kenyamanan rumah yang akrab mengelilinginya, dan dia tahu bahwa dia memiliki sistem pendukung yang akan selalu ada untuknya.
Rayno masuk kedalam mansion, langsung disambut dengan sapaan dan kehangatan keluarganya.
Bau harum makanan tercium diudara, Rayno lalu perlahan menuju ke dapur dan melihat Naira yang sedang menyiapkan makan malam.
Naira yang mendengar langkah kaki lalu melihat kebelakang sebentar dan fokus kembali membuat makanan.
"Oh anak Bunda sudah datang, mandi dulu ya, setelah itu turunlah kebawah untuk makan malam Ray" Naira berucap lembut, sambil terus memasak makanan.
Keluarga yang lain sedang bersantai di ruang tamu sedangkan Lea datang untuk membantu Bunda nya memasak.
Rayno mematuhi apa yang dikatakan Bunda nya, lalu Rayno berjalan pergi menuju kamar nya dan masuk. Segera Rayno langsung mandi dan berpakaian.
__ADS_1