
Matahari berangsur-angsur mengintip melalui tirai, memancarkan cahaya lembut di kamar Jake.
Jake dengan enggan bangun dari tempat tidur, masih membawa beban sisa kesepian dari malam sebelumnya yang membuat mood Jake masih menurun.
Dia tahu bahwa meskipun dia merindukan hubungan yang hangat dan penuh kasih, dari sikap Ayah ataupun Ibu nya mereka bahkan masih tetap dingin dan jauh darinya.
Jake menghela nafas dengan berat, lalu merentangkan tangannya dan menguap.
Saat Jake memasuki dapur, dia menemukan Ayahnya sudah duduk di meja makan, Darion sibuk menatap laptop nya mengerjakan pekerjaan nya seperti biasa.
Darion mendongak sebentar saat mendengar langkah kaki, ekspresi Darion masih dingin saat menatap Jake.
"Pagi, Dad." kata Jake lembut, berusaha mencairkan suasana.
Darion menatap Jake sebentar, tatapannya bertemu dengan mata Jake sebelum kembali ke layar laptopnya.
"Pagi." Tanggapannya singkat dan tanpa kehangatan sedikit pun.
Jake hanya bisa tersenyum masam melihat Darion yang tidak peduli padanya, bahkan tatapan Darion menatap nya seperti orang asing, membuat hati Jake semakin sakit.
Jake menuang semangkuk sereal untuk dirinya sendiri dan duduk di seberang Ayahnya. Keheningan memenuhi ruangan.
Darion yang fokus ke laptopnya tanpa memperhatikan Jake dan Jake yang diam-diam mengunyah sarapannya.
Jake melirik Ayahnya, berharap ada perubahan sikap, tetapi Darion tampak tenggelam dalam mengerjakan pekerjaan nya, nyaris tidak mengakui kehadiran putranya sendiri.
Berharap ada semacam percakapan. Jake berdehem, mencoba memicu percakapan dengan Ayahnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Jake mengumpulkan keberanian untuk mencairkan suasana.
"Jadi, um, bagaimana pekerjaan kemarin?" tanya Jake ragu-ragu, berusaha mencari topik yang mungkin melibatkan ayahnya.
Darion menghela nafas dan meletakkan laptop nya di samping. Dia menatap Jake, tapi matanya tidak menunjukkan minat yang tulus.
"Pekerjaan baik-baik saja, tidak ada yang luar biasa" jawab Darion dengan suara monoton.
Hati Jake sedikit tenggelam, tetapi dia bertahan, berharap menemukan pembicaraan yang lebih banyak.
"Aku... aku merindukan Mommy. Apakah kamu berbicara dengannya akhir-akhir ini?"
Ekspresi Darion mengeras, tanggapannya pendek dan semakin dingin. "Tidak. Dia sibuk."
Keheningan menyelimuti ruangan, membuat jarak antara ayah dan anak terasa lebih jelas dari sebelumnya.
Jake menarik napas dalam-dalam, berusaha menguatkan diri nya sendiri untuk tetap kuat, Jake rasanya ingin menangis lagi tapi Jake menahan air mata nya untuk tidak keluar.
"Dad, bisakah hari ini kita menonton film bersama?"
Darion menghela nafas, matanya tetap tertuju pada laptop. "Jake, aku punya banyak pekerjaan sekarang. Aku tidak bisa selalu berada untukmu."
Hati Jake tenggelam, tetapi dia menolak untuk menunjukkan kekecewaannya. Menelan tenggorokannya yang tercekat, Jake mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.
"Aku mengerti bahwa kamu sibuk Dad, tapi aku merindukanmu. Aku rindu menghabiskan waktu denganmu. Aku merasa kita semakin terasa jauh, dan itu sangat menyakitkan."
Ekspresi Darion tetap tidak berubah, suaranya mengandung ketidakpedulian. "Kamu sudah besar dan tidak memerlukan itu lagi, belajarlah mandiri."
__ADS_1
Jake merasakan tenggorokannya tercekat, Jake menundukkan kepala nya kebawah menatap lantai, untuk menyembunyikan mata nya yang berkaca kaca ingin menangis.
Menelan tenggorokannya yang tercekat, Jake mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan pembicaraan.
"Tapi Dad.. Aku masih membutuhkan kamu maupun Mommy untuk membimbing aku."
Wajah Darion tetap tabah, tanggapannya dijaga. "Jake, banyak hal yang harus kuurus sekarang. Kita akan membicarakannya nanti."
Darion berdiri dari kursi nya, membereskan barang-barang nya setelah selesai, Darion langsung pergi menuju keluar tanpa berpamitan dengan Jake.
Kekecewaan Jake terlihat jelas di wajahnya. Dia mengharapkan untuk secercah kehangatan dari sang Ayah.
Tapi sebaliknya, dia bertemu dengan ketidakpedulian, membuatnya merasa tidak terlihat dan tidak dihargai.
Sisa sarapan berlalu dalam kesunyian, dentingan sendok dengan mangkuk berfungsi sebagai pengingat yang menyakitkan akan jarak emosional di antara mereka.
Jake mencoba menghabiskan serealnya tapi nafsu makannya hilang dan Jake hanya mengaduk-aduk sereal nya tanpa memakannya lagi.
Dia hanya duduk diam dalam kesunyian rumah nya, air mata Jake menetes perlahan, dia hanya membiarkan air mata nya terus keluar tanpa menghapusnya.
Jake menangis dalam diam sambil memegang dada nya yang berdenyut sakit, dia bertanya-tanya kapan dia bisa merasakan kebahagiaan seperti orang lain.
"Aku juga ingin bahagia...Aku juga perlu kasih sayang mereka, aku belum dewasa Dad.."
Jake menangis sesegukan, berusaha untuk menenangkan diri tetapi air mata nya terus mengalir deras tanpa ingin berhenti.
Saat dia kembali ke kamarnya, Jake tidak bisa menahan perasaan sedih yang mendalam lagi. Dia merindukan perhatian Ayahnya maupun Ibunya.
__ADS_1
Kekosongan dalam dirinya tumbuh semakin besar membuat Jake semakin menyerah untuk mencari perhatian kedua orang tuanya.
Selama sisa hari itu Jake menghabiskan mengurung diri di kamar tanpa keluar untuk makan atau apapun.