Melintasi Kegelapan Menuju Kebahagiaan

Melintasi Kegelapan Menuju Kebahagiaan
BAB 5


__ADS_3

Setelah percakapan Jace dan Rayno, Jace pergi dari kamar Rayno setelah menyuruh Rayno untuk mandi lalu turun untuk sarapan bersama dengan keluarga yang lainnya, Rayno mengangguk menuruti ucapan ayahnya. 


Beberapa saat kemudian Rayno selesai mandi dan memakai pakaian nya, Rayno berdiri diam didepan pintu kamarnya, masih ragu-ragu untuk pergi kebawah.


Dengan mengambil nafas dalam-dalam Rayno perlahan mendorong membuka pintu kamarnya, membiarkan secercah cahaya masuk ke lorong.


Saat Rayno melangkah keluar kamar, suara akrab dari rumah yang ramai mencapai telinganya — tawa di kejauhan, dentingan piring, dan gumaman lembut percakapan. Itu adalah simfoni kehidupan yang memudar dari keberadaannya, Selalu digantikan oleh kesunyian yang memekakkan telinga.


Dengan langkah hati-hati, Rayno menuruni tangga, tertarik oleh aroma makanan yang menggoda di udara. 


Pemandangan yang menyambutnya di dapur menarik hati nya, serangkaian hidangan yang disiapkan dengan penuh kasih.


Ayahnya, ibu tirinya dan saudara saudara nya terlibat dalam percakapan yang hidup, wajah mereka bersinar dengan sedikit harapan.


Mata Naira bertemu dengan mata Rayno, dan campuran kelegaan dan kegembiraan menyapu wajahnya.


Dia bangkit dari tempat duduknya, melintasi ruangan dengan langkah cepat untuk memeluk putranya dengan erat.


Kelembutan gerakan itu membuat Rayno lengah, mencairkan dinding es yang telah dia bangun di sekeliling dirinya.


"Rayno, anakku," suara Naira, ibu tiri Rayno bergetar karena emosi.


"Aku sangat bersyukur melihatmu mau bergabung untuk sarapan bersama, karena kamu ada di sini bersama kami."


Rayno terdiam membisu mendengarkan ucapan ibu tirinya yang begitu tulus, Rayno tidak tau harus mengatakan apa pada ucapan ibu tirinya. 


Pelukan Naira semakin kuat, menunjukkan tekad yang kuat.


"Rayno dengarkan Bunda, terkadang harapan menemukan jalannya kepada kita dengan cara yang tidak terduga"


"Kamu tidak sendirian dalam hal ini. Kami di sini untukmu, dan kami tidak akan menyerah padamu. Kamu dicintai, anakku."  Ucap Naira penuh kelembutan dan perhatian pada Rayno. 


Sedangkan keluarga Mahavir yang lain diam sambil menganggukan kepala mereka menyetujui ucapan Naira.


Mereka semua sayang Rayno dan tidak ingin Rayno menyerah karena keputusasaan nya sendiri. 


"Ayo duduk disamping ku Ray" William berucap lalu menarik tangan Rayno untuk duduk disebelah kursinya, di kanan Rayno ada Evan yang duduk lalu di sebelah kiri Rayno ada William. 

__ADS_1


Sarapan dilanjutkan dan dentingan peralatan dengan piring memenuhi udara. Nafsu makan Rayno perlahan kembali.


Tidak hanya menyehatkan tubuh fisiknya tetapi juga jiwanya. Tindakan sederhana berbagi makanan, mulai memperbaiki keretakan dalam jiwa Rayno.


Saat keheningan berlanjut, keheningan itu dipecah oleh suara sang kepala keluarga, Jace. 


"Rayno kamu hari ini jangan sekolah dulu, badanmu hangat jadi beristirahat saja dirumah ya?"


Suasana di ruangan itu berubah, keprihatinan dan kekhawatiran menyelimuti udara saat kata-kata Jace menggantung dalam kesunyian.


Tatapan Rayno bertemu dengan mata khawatir saudara-saudara dan ibu tirinya. 


"Kakak, apa kamu baik baik saja" Evan berucap penuh kekhawatiran, lalu menyentuh dahi Rayno, yang memiliki suhu panas di dahi nya


Sentuhan Evan di dahinya menegaskan apa yang Rayno rasakan, demam melanda tubuhnya.


Beban rasa bersalah menekannya saat Rayno melihat kekhawatiran terukir di wajah keluarga nya, pengingat akan rasa sakit yang ditimbulkan oleh perjuangannya kepada orang-orang yang dicintainya.


"Seharusnya Ayah bilang dari awal, nanti demam Ray semakin bertambah"


Kata William dengan panik lalu dengan cepat memakan makanan nya dan langsung mengambil alat medisnya. 


Perannya sebagai dokter telah membekalinya dengan keterampilan menilai dan memberikan perawatan.


Jace menyaksikan adegan itu, merasa hatinya berat dengan campuran kekhawatiran dan penyesalan.


Jace menyadari bahwa kata-katanya telah menimbulkan kecemasan di antara keluarga, dan dia diam-diam menegur dirinya sendiri karena tidak menyadari penyakit Rayno lebih awal.


"Ayo lanjutkan makan," suara Jace terdengar meyakinkan, mencoba meredakan ketegangan yang menyelimuti ruangan. "Rayno butuh istirahat dan William akan memeriksanya."


Saat keluarga melanjutkan makan mereka, fokus mereka terbagi antara makanan mereka dan pandangan ke arah Rayno.


Setiap gigitan sarat dengan kekhawatiran mereka dan ruangan itu dipenuhi dengan suara percakapan yang teredam dan keprihatinan bersama.


Setelah sarapan berakhir, keluarga Mahavir langsung membawa Rayno ke kamar setelah membaringkan Rayno di kasur, William mendekati Rayno sambil membawa tas medisnya.


Dengan keahlian William, dia mengukur suhu tubuh Rayno, memeriksa denyut nadinya, dan melakukan pemeriksaan menyeluruh.

__ADS_1


Setelah pemeriksaan menyeluruh, William akhirnya berbicara, suaranya tenang namun penuh kekhawatiran


"Ray, demammu semakin tinggi," kata William dengan lembut, nadanya merupakan campuran perhatian profesional dan kasih sayang persaudaraan.


"Kamu perlu istirahat dan menjaga dirimu sendiri. Aku akan memberimu obat lagi seperti semalam untuk membantu menurunkan demam."


"Apa itu sangat parah Liam?" Tanya Naira melihat Rayno dengan khawatir, sambil mengelus rambut Rayno dengan lembut. 


"Lumayan Bun, tapi kalo Rayno terus beristirahat banyak, kemungkinan demam Rayno akan turun lebih cepat"


Ucap William sambil membereskan alat medisnya, lalu melanjutkan berbicara. 


"Ingat Ray, kamu harus banyak beristirahat, jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu karena itu akan membuat kamu stress dan itu akan membebani otakmu yang akan membuat demam mu semakin tinggi jika kamu kebanyakan berpikir."


Rayno mengangguk lemah atas saran dari kakaknya, tubuhnya terbebani oleh kelelahan fisik dan mental. 


William tersenyum lalu menyentil dahi Rayno dengan pelan bermaksud untuk membuat Rayno tidak merasa terbebani, William terkekeh saat tangan nya ditampar oleh kedua adik kembarnya. 


"Jangan menyentuh kak Ray" Eros berucap sambil menatap tajam William, lalu Eros mengelus dengan penuh hati-hati dahi Rayno yang bekas disentil. Sedangkan Evan hanya diam tapi melototi William yang sangat jahil. 


Jace mendekati Rayno dengan perlahan, suaranya mengandung penyesalan.


"Maaf. Ayah seharusnya menyadarinya lebih awal bahwa kamu sedang tidak enak badan."


Rayno menatap Ayahnya, matanya penuh pengertian, Rayno tersenyum kecil pada Ayah nya.


"Ini bukan salahmu, Ayah. Aku tidak memberi tahu siapa pun tentang demamku. Jadi ini Bukan salah Ayah."


Tatapan Jace melembut, hatinya dipenuhi rasa terima kasih atas pengertian putranya. Dia meletakkan tangan di bahu Rayno, menawarkan rasa kenyamanan untuk Rayno.


Naira, mengamati interaksi itu, menyela dengan perhatian keibuan. "Jangan memikirkan apa yang bisa terjadi. Saat ini, yang penting adalah kesehatan Rayno. Kita di sini untuknya, dan kami akan mendukungnya melalui ini."


Naira lalu mendekati Rayno lalu memeluk nya dengan Jace dan anak anaknya yang lain juga memeluk Rayno bersama.


Mereka berharap kesembuhan Rayno dan juga berharap mulai dari ini Rayno bisa mempercayai mereka sepenuhnya.


Agar Rayno tidak memikul beban nya sendirian lagi dan menghadapi semuanya dengan mereka bersama.

__ADS_1


Dengan itu keluarga Mahavir saling berpelukan dengan hangat dan penuh kasih berharap kebahagiaan seperti ini tidak menghilang. 


__ADS_2