Menanti Restu

Menanti Restu
Bersatu selamanya


__ADS_3

Langkah kaki Adiyaksa sedikit lebih cepat dari biasanya dia berjalan setengah berlari menghampiri maira dan Ara yang menjemputnya.


''opaaa'' Ara sedikit mengeraskan suaranya begitu melihat Adiyaksa sedikit berlari kearahnya.


''Sayang cucu opa'' ucap Adiyaksa sambil memeluk Ara.


Airmata keduanya tak terbendung lagi saat mereka sama sama menangis terharu dan bahagia.


''Maafin opa,selama ini opa tak pernah punya keberanian untuk menghampiri kalian'' ucap Adiyaksa disela tangisnya.


''gak apa apa opa,sekarang kita sudah ketemu kita gak akan terpisah lagi'' ucap Ara sambil melepaskan pelukannya,dia mengusap airmata Adiyaksa.


''papa,mama kamu dimana? tanya adiyaksa saat melihat disekitarnya tak ada anak dan menantunya.


''ayah sama bunda nungguin opa dirumah'' jawab Ara sambil tersenyum


''alvin dirumah pah,dia lagi nostalgia sama kamarnya'' maira menjelaskan


''ya sudah sekarang kita pulang dlu ya'' ucap Adiyaksa sambil merangkul bahu Ara dan maira.


''makasi may udah mau jemput papa'' ucap Adiyaksa saat masuk kedalam mobil.


''iy pah sama sama,Ara yang minta di diantar kesini dia udah gak tahan pengen ketemu papa'' ucap maira sambil melirik Ara yang duduk disampingnya.


Ara tersenyum kearah maira yang menatapnya.


''Ara udah gak tahan pengen ketemu opa'' ucap Ara menjelaskan.


''luka kamu gimana? tanya Adiyaksa


''gapapa udah baikan opa,cuma luka lecet doang'' jawab Ara tersenyum


''opa keingetan terus makanya cepet pulang,takut kamu kenapa napa'' jelas adiyaksa.


''opa berlebihan,,orang Ara cuma lecet doang juga'' timpal ara


Diperjalanan Ara terus tersenyum sambil melirik Tante dan opa yang baru saja dipertemukan.


Sungguh Ara sangat bahagia bisa berkumpul dengan keluarga dari ayahnya.


Tanpa terasa mobil yang ditumpangi sudah sampai didepan rumah mereka.


Adiyaksa turun dari mobil begitu juga dengan Ara dan maira,Adiyaksa nampak menghela nafas dan matanya terlihat berkaca kaca.


Adiyaksa tak bisa membendung airmatanya,hatinya terus menjerit meminta maaf pada putra dan menantu yang sempat dia tolak.


Mereka masuk dan didalam masih nampak sepi.


''assalamualaikum''


''omaaa'' Ara sedikit mengeraskan suaranya


Belum sempat Ara memanggil ayah dan bundanya,Malvin dan Malinda sudah nampak dihadapan mereka.


Bruukkk,,tanpa basa basi Adiyaksa memeluk Malvin sambil menangis suara tangisan yang begitu terdengar pilu.


Malvin juga tak kalah sendunya menangis dipelukan papanya,mereka sama sama menumpahkan rasa rindu yang belasan tahun tak berjumpa.


''Maafkan papa nak,sungguh papa menyesal'' ucapnya disela tangisan


''Iya pah Alvin juga minta maaf'' jawab Malvin.


Tak henti hentinya Adiyaksa meminta maaf terhadap Malvin,mencium tiap inci wajah Malvin melepaskan kerinduan yang sudah belasan tahun terpendam.


Adiyaksa mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Malinda yang juga meneteskan air mata.


Adiyaksa melepaskan pelukannya dari tubuh malvin,dan menghampiri Malinda yang berada disamping istrinya Miranti.


Bruukk,, Adiyaksa berlutut dihadapan malinda.


Spontan Malinda mengangkat tubuh Adiyaksa,dan mereka berpelukan dalam tangis


''Maafkan papa nak,papa berdosa sama kalian papa menyesal papa minta maaf'' Adiyaksa dengan tulus meminta maaf terhadap Malinda yang sempat dia tolak dulu.


''Iya pah,Linda juga minta maaf sengaja atau enggak udah jauhin papa sama mas alvin'' ucap Malinda


''sekarang kita udah kumpul gak akan terpisah lagi'' ucap mama Miranti sambil memeluk suami dan menantunya.


Suasana dirumah itu nampak penuh haru,sudah beberapa tahun terasa sepi sekarang terasa begitu hangat.


''Kita duduk yuk,opa pasti lelah'' celoteh Ara tiba tiba dan semua tersenyum ke arah ara.


''ara Memang paling pengertian'' maira merangkul bahu Ara sambil berjalan menuju sofa..


Dan Adiyaksa duduk persis disamping ara.


''Maaf opa gak tahu perkembangan kamu tumbuh dulu'' kembalik Adiyaksa meminta maaf.


''Opa jangan minta maaf mulu,sekarang kita udah bahagia harus tersenyum terus bukan malah sedih terus'' ucap Ara sambil mengusap airmata kemudian memeluk adiyaksa.


''Dari dulu opa ingin menghampiri kalian,tapi takut kalian gak bisa terima opa'' ungkap adiyaksa.


''Ayah juga dari dulu bilang katanya nanti opa akan jemput ara,tapi Ara harus pinter dulu'' celoteh ara,tanpa Ara tau ucapannya sungguh membuat Adiyaksa teriris hatinya.


''Ara harus bisa bikin opa bangga,kalau mau dijemput opa'' celoteh Ara tanpa henti.


Adiyaksa memeluk Ara kembali..


''Opa bangga punya cucu kamu,baik,cantik pintar lagi'' ucap Adiyaksa sambil mengusap pipi Ara.


Semua tersenyum melihat kehangatan Adiyaksa terhadap keluarga malvin.


''Mulai sekarang kalian tinggal disini sama kita'' ucap maira

__ADS_1


''Tapi kalau kalian belum siap jangan dipaksa,namun papa minta untuk kali ini kalian menginap disini'' ucap Adiyaksa sambil menatap panuh harap ke arah Malvin dan Malinda.


''Iya kami akan tidur disini malam ini'' jawab Malinda dengan senyuman.


''Asssiiikkk Ara mau tidur sama Tante may boleh? tanya Ara


''Tentu saja boleh dong'' jawab maira sambil mencubit pipi ara.


''papa istirahat dulu,pasti cape habis perjalanan'' ucap Miranti.


''papa gak cape mah,,semua penat papa hilang setelah pertemuan ini''


ucap adiyaksa dengan wajah cerahnya.


Beberapa tahun belakangan Adiyaksa terlihat tak bersemangat setelah menyesali perbuatannya,dia sadar bahwa perjodohan tak semuanya berakhir bahagia seperti dia dan miranti.


Anak perempuannya menjadi korban keegoisannya,menjodohkan maira dengan anak rekan bisnisnya hanya berakhir dengan kesengsaraan untuk maira.


Maira kerap mendapat perlakuan kasar dari suami yang tidak pernah mencintainya,sampai maira harus kehilangan calon bayinya.


Maira keguguran karna perlakuan kasar suami pilihan ayahnya.


Awalnya maira menyembunyikan aib rumah tangganya,namun akhirnya Adiyaksa tahu kalau suami maira tukang gonta ganti perempuan.


Dengan rasa bersalah yang cukup dalam Adiyaksa membawa pulang maira dari rumah suaminya sendiri.


Penyesalan memang selalu datang terlambat,setelah rumah tangga maira berakhir dengan segala kerumitannya, Adiyaksa terpikir untuk mencari Malvin anaknya.


Dia semakin menyesal setelah mengetahui Malvin masih suka menghubungi Miranti istrinya,namun tak pernah sekalipun menanyakan kabar dirinya.


Sebegitu bencinya kamu sama papa sampai tega tak pernah menghubungi papamu malvin.


Hanya itu yang selalu terlintas difikirannya.


Namun Adiyaksa masih bersyukur Malvin masih ingat dengan mamanya paling tidak dia tau kabar dari anaknya.


Bayang bayang pengusiran terhadap Malvin selalu terbayang dipelupuk matanya.


Seperti saat ini di tengah tengah anak cucu nya dia kembali menangis sambil memeluk cucu yang baru dia temui.


''maafkan opa sayang maaf'' ucapnya sambil terisak..


''Udah opa semua udah maafin opa sekarang kita sudah berkumpul gak akan berpisah lagi'' ucap Ara sambil membalas pelukan sang opa.


Malvin tak kalah sendu dia menghampiri sang papa,memeluk papa dan anaknya.


Semua menangis bahagian ternyata selama ini mereka sama sama menahan rindu dan sama sama menahan rindu.


''Udah ah jangan sedih sedih lagi sekarang kita siap siap buat makan siang.


''papa harus cobain makanan dari cafenya Malvin pah.


Mama Miranti mempromosikan usaha malvin.


''mama kebelakang dulu ya,siapin makan siang


''Ara boleh bantuin oma?


''boleh dong,,yuk kita kedapur'' ajak Miranti sambil menggandeng Ara


Malinda dan maira pun turut mengekor dibelakang.


''vin,,bisa ikut papa ke ruangan kerja?


''bisa pah,,


Malvin masuk mengikuti papanya,ruang kerja hampir masih sama dengan yang dia ingat dulu.


''Papa sudah tua vin,tolong kamu urus semua peninggalan papa termasuk perusahaan,,


''Tugas papa semua papa serahkan ke kamu,tolong bantu papa jaga perusahaan kita yang sudah dirintis oleh kakekmu dulu.


''Maaf pah,aku takut gak bisa jaga amanat papa,,


''Belajar dulu nanti papa bantu,papa yakin kamu bisa


''Ada kak may yang sudah menguasai dunia bisnis pah


''Bukannya papa tidak percaya sama maira, tapi dia seorang perempuan suatu hari nanti dia berkeluarga gak mungkin dia tetap berkarier dia pasti ingin jadi ibu rumahtangga juga.


''Dan papa gak mau mengulang kesalahan yang sama,papa membebaskan dia dalam memilih calon pasangan nya nanti'' tegas Adiyaksa


''Akan Malvin fikirkan pah,tapi untuk saat ini Malvin ingin terbiasa dulu dengan suasana dirumah ini terutama Malinda dan Ara pah'' ucap Malvin


''Iya papa tunggu sampai kamu siap''


''papa yakin kamu bisa vin''


''Tolong pikirkan lagi usulan papa,selain kamu gak ada lagi penerus perusahaan keluarga kita''


''Iya pah,Malvin juga tahu itu tapi untuk sekarang Malvin belum siap''


Tok,,Tok,,Tok,,


''Opa,,ayah ayo kita makan dulu''


ajak Ara sambil membuka pintu ruang kerja sang opa..


''iya sayang kebetulan opa juga udah laper'' ucap Adiyaksa sambil berjalan menghampiri cucu yang selama ini dia rindukan


Disusul oleh Malvin mengikuti langkah anak dan papanya.


Semua berkumpul dimeja makan menyantap masakan yang telah tersedia,sesuai kebiasaan mereka disaat makan tidak ada yang bersuara.

__ADS_1


Ara selesai lebih dulu,namun dia masih duduk dikursinya.


''Ko makannya cuma sedikit kenapa ra? tanya Malvin melihat piring Ara sudah bersih.


''gapapa yah,hari ini Ara ada janji ada tugas kampus perkelompok pasti nanti sambil makan makan'' jawab Ara sambil senyum senyum.


''oohh,,tugasnya dirumah siapa?


kali ini bundanya yang bertanya.


''dirumah Rena Bun,nanti jam 3 Ara berangkatnya'' Ara menjelaskan.


''Tapi nanti pulang kesini ya'' Oma Miranti meminta.


''siap Oma nanti Ara pulang kesini,ayah sama bunda juga masih disini kan? tanya Ara sambil menatap ayah bundanya bergantian.


''iya kita masih disini'' jawab Malinda sambil tersenyum.


Sebenarnya Malinda masih ada rasa canggung namun semua iya tepis karna Malinda tahu suaminya sangat merindukan berkumpul dengan keluarganya.


''Nanti diantar supir opa aja yaa'' tawar opa


''gak udah opa,Ara nanti dijemput sama teman


''teman laki laki? opa menyelidik


''Perempuan opa,gapapa kan Ara kasih alamat rumah ini ke teman ara? tanya Ara ragu


''masa gak boleh ini juga rumah kamu sayang'' Oma membolehkan sambil mengusap kepala Ara yang kebetulan Ara duduk disampingnya


Semua tampak tersenyum bahagia


Malinda dan maira membereskan meja makan,maira sudah pamit karna ada meeting yang gak bisa ditunda.


Malvin dan adiyaksa duduk diruang keluarga,mereka bertukar cerita saat saling berjauhan.


Sementara ara masih sibuk komunikasi dengan teman temannya yang akan mengerjakan tugas kelompok.


''Bun,,Ara berangkat sekarang aja yaa belum beli keperluan tugas'' ucap Ara sambil menghampiri bunda dan Oma yang masih sibuk di dapur Malvin dan adiyaksa punya kebiasaan yang sama habis makan mereka suka sekali ngemil buah.


''emang udah dijemput? tanya Oma


''belum mau minta tolong ayah antarin beli keperluan tugas,trus nanti dijemputnya ditoko itu hehehe'' jawab Ara sambil terkekeh


''ya sudah sana cari ayahnya'' ucap Malinda


Usai pamintan ke Oma dan bunda Ara menghampiri Opa dan ayahnya


''yah antarin Ara beli keperluan tugas ya,,nanti Ara dijemput nya ditoko itu''


pinta Ara


''gak jadi dijemput kesini? tanya opa


''gak jadi opa sama sama beli keperluan tugas dulu biar cepet jadi ketemuan ditoko aja''


''ya sudah ayo ayah antarin''


''opa Ara jalan dulu yaa'' pamit Ara sambil mencium punggung tangan Adiyaksa.


Kembali Adiyaksa menitikan airmata dia merasa tersentuh dengan perlakuan cucu yang sempat dia tolak kehadiran nya.


''hati hati ya,jangan pulang terlalu malam ya'' ucap Adiyaksa sambil memeluk Ara


''iya opa,, sekarang opa istirahat dulu sebab nanti Ara mau opa temenin Ara jalan jalan'' ucap Ara sambil melepaskan pelukan sang kakek


''Siap laksanakan'' ucap adiyaksa menirukan gaya tentara yang mendapatkan mandat dari atasannya


Ara dan Malvin tersenyum melihat kelakuan adiyaksa,mereka melangkah meninggalkan Adiyaksa seorang diri.


''yah,,emang kita mau tinggal dirumah opa? tanya Ara membuka obrolan dalam perjalanan menuju toko tempatnya ketemu dengan Rena


''Ayah terserah Ara sama bunda aja'' jawab Malvin sambil tersenyum menatap Ara.


''Ara sih gapapa cuma kasian bunda takut gak nyaman'' Ara mengerti selama ini mereka baru ketemu pasti ada rasa sedikit canggung.


''Ara nyaman gak?


''Awalnya Ara takut,tapi melihat sikap Oma sama opa mereka sepertinya tulus yah''


''Mereka menunggu kita cukup lama sayang,gapapa kita gak tinggal sama mereka yang penting nanti kita sering berkunjung yah'' pinta sang ayah


''iya yah,kita harus sering berkumpul sama mereka'' ucap Ara pasti


''yah,,didepan kepinggir tokonya di depan situ'' tunjuk Ara pada satu toko


''Yang jemput Ara siapa? tanya ayahnya


''kalau gak salah kak Jodi'' jawab Ara sambil celingukan mencari orang yang dia cari


''Itu kak Jodi yah'' tunjuk Ara


''ya udah ayah pulang aja,nanti Ara pulang nya kerumah opa yaa''


''iya kita tidur dirumah Opa malam ini,jangan pulang terlalu malam yaa'' ucap malvin mengingatkan.


''siap yah'' ucap Ara sambil tersenyum


Malvin menatap punggung anak gadisnya,dalam hatinya dia selalu berdo'a jangan sampai apa yang dia rasakan tidak dialami oleh Ara anak satu satunya.


Malvin diam diam sudah menyelidiki kehidupan teman teman ara,dia sudah tau latar belakang mereka jadi menurut Malvin kawan Ara semua baik baik dalam pergaulan gak perlu ekstra hati hati dalam memantau hanya sewajarnya saja.


Malvin juga sudah menyelidiki kehidupan Rega Sadewa,dan dia cukup bangga Rega sudah memiliki usaha sendiri walau masih kuliah.

__ADS_1


Melihat anak gadisnya masuk kedalam toko,Malvin kembali menjalankan mobilnya menuju rumah orangtuanya yang sangat dia rindukan.


__ADS_2