
Rega kembali kebengkel sebelum pulang menuju rumah orangtuanya,dia berganti pakaian,sepatu,dan berganti kendaraan juga
yang tadi memakai motor matic berganti dengan mobil mewah hadiah ulangtahun dari abangnya.
''Bil,,gue balik dulu ya gak tau buat berapa hari tapi kalo ada waktu gue pasti mampir'' ucap Rega sambil terus merapikan tampilannya
''iya ga cepetan beresin tugas dari bokap loe,
''masalah orang baru terserah loe diterima apa enggak loe tau standar kerja dibengkel kita,semua gue serahin ke elo ya''
ucap Rega sambil menatap wajah sahabatnya.
''Iya ga,,moga usaha kita tambah lancar dan makasi atas kepercayaan yang udah Lo kasih ke gw''
''aamiin,,sama sama bil elo juga udah bisa jaga kepercayaan gw,dah ya gw balik dulu'' pamit Rega.
Diperjalanan Rega terus teringat dengan keluarga mutiara, khususnya sang opa Ara adiyaksa.
Rega merasa pernah ada dalam satu ruangan bersama Adiyaksa,namun dia lupa waktu dan tempatnya.
Dreeettt,, dreeettt,, dreeettt tertera dilayar tulisan 'Abang'
''Ya bang'' Rega menjawab panggilan
''Ga besok ikut Abang ke perusahaan kita ada tender yang cukup besar,saatnya buktiin ke papa kalo kamu juga bisa'' ucap Abang rega
''Gak bang besok aku ngampus pagi'' tolak Rega
''Gak ada penolakan berkas udah Abang taro dimeja dikamarmu, pelajari dulu semua sampe ketemu dikantor.
Rianda mematikan telponnya.
Rega menarik napas panjang menghilangkan sesak didadanya,dia merasa hidupnya masih dalam tekanan keluarganya.
''Tidakkah ada kelonggaran buatku untuk berkata tidak?
''Kalo masalah kerjaan aku masih bisa tapi kalo untuk jodoh aku gak mau ya seperti bang Rian'' gumam Rega
Tak terasa mobil sudah sampai depan rumah,Rega menekan klakson mobilnya dan penjaga rumah pun membuka gerbang.
Rega masuk kedalam rumahnya, seperti biasa rumah itu selalu seperti gak berpenghuni.
''Udah pulang ga'' sapa mama ana saat Rega hendak naik tangga ke atas
''iya mah'' Rega kembali berbalik menghampiri mamanya yang tengah berdiri menatap sang anak
''mama belum tidur'' ucap Rega sambil memeluk mama tercintanya
''sengaja nungguin kamu,udah makan belum?
''udah mah,,tadi dinner sama calon mantu dan besan mama'' ucap Rega sambil senyum senyum
''Ko mama gak diajak sih? protes mama ana dengan memasang wajah masam
''Nantilah aku juga gak sengaja mah,awalnya dimintain tolong sama orangtuanya buat jemput dia dirumah temannya,terus pulang suruh langsung ke kafe ya kita makan disitu'' terang Rega
''Duduk dulu yuk,mama pengen denger yang lebih lagi'' ucap mama ana sambil menggandeng tangan Rega menuju sofa.
''Udah berapa lama kalian deket? tanya mama sambil duduk menghadap Rega.
''baru sih mah,tapi aku udah ada rasa dia bakalan jadi jodoh aku''
''Ko udah Deket aja sama keluarganya?
''Gak tau pokonya berjalan gitu aja, orangtuanya baik banget mah'' ucap Rega
''Hati hati ya,jangan bikin malu keluarga'' mama ana mengingatkan
''Sipp mah,do'ain ya biar Rega diterima sama ara
''Apaaa?? jadi kamu belum jadian?? mama ana kaget
''Belum mah'' jawab Rega cengengesan
Sontak membuat mama ana kaget,langsung mencubit pipi Rega
''Kamu tuh ya,,bener bener'' kesel mama ana
''eehh kenalin dong sama mama,,gadis mana yang bisa bikin anak mama jadi kaya gini?
''kaya gini gimana? tanya Rega bingung
''ya kaya gini,kamu jadi lebih ceria lebih semangat dalam segala hal,makan jadi teratur tidur kamu juga jadi teratur''
Mama ana tau semua perubahan dengan keseharian rega.
__ADS_1
''Mama gak cape nguntit aku?
''Ya enggak lah,,gak akan lelah buat jagain anak anak mama'' jawab mama ana tegas
''Mah,,jangan jodohin Rega yaa'' Rega memelas sambil memeluk sang mama
''Rega cuma pengen hidup sama orang yang bener bener Rega cintai mah'' ucapan Rega cukup membuat hati mama ana terasa teriris
''Iya mama janji gak akan jodohin kamu sama siapapun'' ucap mama ana sambil menatap wajah sendu Rega.
''rega naik dulu ya mah,dapet tugas dari Abang buat besok'' ucap Rega
''iya jangan sampe larut ya'' pinta mama ana
Ana terus memandangi tubuh anaknya yang terus melangkah menuju kamar tidurnya.
semenjak SMA Rega sudah jarang tinggal satu rumah,dia merasa lebih nyaman jika jauh dengan papanya.
Rivaldi Sadewa papa Rega orang yang cukup keras dalam mendidik anaknya,Rianda Sadewa anak pertamanya selalu menuruti apa kata papanya,bukan karna dia selalu setuju dengan pendapat papanya,melainkan karna tak punya keberanian untuk mengelak.
Berbeda dengan Rega dari kecil kalo memang dia gak suka dengan lantang Rega bilang tidak walaupun berakhir dengan hukuman.
Tak jarang Rega dikurung gudang karna melawan,beruntung setelah menghukum Rega selalu ada pekerjaan keluar kota bahkan luar negri,jadi keluarga dengan leluasa menolong Rega.
Dari fasilitas juga ada perbedaan antara rianda dan Rega,rianda selalu dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan,kalo Rega harus membuat sesuatu yang papanya banggakan baru bisa mendapat apa yang dia mau.
Ana mamanya Rega suka menangisi keadaan Rega,selalu berselisih dengan papanya namun dia tidak bisa dengan terbuka membantu Rega dia hanya bisa menangis karna suaminya selalu mengusir dirinya bila ada yang melanggar aturannya.
Dia terpaksa diam karna takut bila dia diusir nasib anak anaknya akan lebih parah.
Namun kini dia sudah berjanji akan membela Rega dengan terbuka bila Rega kembali mendapatkan perlakuan tidak adil dari suaminya.
Tak masalah kalo harus meninggalkan semua kemewahan yang ada,
karna anak anaknya sudah dewasa dia tak takut lagi untuk melawan.
Beruntung Rega bisa memahami posisi ibunya dia lebih memilih dia daripada mengadukan isi hatinya,dihadapan ibunya dia biasa saja tak pernah mengeluh apa lagi menangis.
Tapi hati seorang ibu sangat peka,dia tau bila Rega sedang dalam tidak baik baik saja,dia sengaja meminta seseorang untuk mengikuti kegiatan rega,hanya untuk berjaga jaga bila Rega sedang tertimpa masalah dia bisa langsung tau,dan itupun atas inisiatif rianda dan dirinya.
Rega dikamar langsung membuka berkas yang dikirim abangnya,dia mengamati semua penawaran yang tertera dikertas itu.
''Ekonomi sedang sulit begini apa bisa tembus dengan dana yang diajukan? gumam Rega dalam hatinya.
''Iya ga ada apa? terdengar suara abangnya dari sebrang sana
''Bang,,boleh ga aku turunin harga? tanya rega
''Memang kenapa,itu udah normal ga''
''Kalo menurut aku kita masih bisa turun sedikit bang,kita buktikan kinerja sama kualitas kita dulu aku yakin kalo kita tembus terus mereka puas aku yakin mereka akan terus jadi rekan kita bang'' terang Rega
''maaf bang,jangan sampe mereka gak puas dengan kita,mereka membuka tender baru karena mereka gak puas dengan kinerja dengan Majaya group'' terang Rega
''Besok ada berapa perusahaan yang ikut tender ini bang? tanya Rega lagi
''Ada empat ga,,Aurora corp,,lintang jaya,, adikarya dan kita'' terang Rianda
''Gimana Abang setuju gak dengan usulan aku?
''Sebenarnya buat Abang lumayan berat ga,takut ditengah jalan semua harga melambung tinggi''
''Kalo menurut aku selama para pekerja kita jujur gak ada yang curang masih bisa bang,gimana menurut abang? tanya Rega
''Ya sudah proyek yang ini Abang serahin ke kamu,sekalian kamu buktiin ke papa kalo kamu mampu'' tawar rianda
''Gak lah bang,,aku gak berani takut papa bangkrut gara gara aku''
''Kalo kamu yakin mampu sok dilanjut,nanti Abang bantu,tapi kamu focus kerjain ini dulu bila perlu kuliah kamu cuti,setelah berjalan terus gak ada kendala kamu bisa lanjut lagi gimana? Rianda mencoba merayu Rega
Sebenarnya rianda tau harga yang dia tawarkan cukup tinggi,dan dia sedang mengetes kemampuan Rega kalo Rega mengajukan penurunan harga berarti Rega sudah tau hitung hitungan dalam berbisnis.
Dia ingin membuktikan ke papanya bahwa adiknya patut diperhitungkan dalam berbisnis. Jiwa bisnis rega sudah nampak dari kecil sebab Rega tak jarang sekolah sambil berbisnis.
Dia pandai mengumpulkan rupiah mulai dari jualan buku,kaos dan keperluan anak sekolah lainnya. Makanya teman temannya mengira rega anak dari keluarga sederhana,bahkan Rega pernah mengaku sebagai anak pembantu rumah tangga mereka saat teman teman Rega maen kerumah tanpa izin dulu dengan Rega.
Kebetulan Rega masuk SMA disekolah yang bukan sekolah anak anak sultan seperti rianda dulu,meskipun masuk salah satu sekolah unggulan namun masih kelas menengah bukan kelas internasional.
Rega sengaja memilih sekolah disitu dan kebetulan papanya mengiyakan,karna di SMP Rega pernah tersandung masalah yang mengakibatkan Rega mendapat hukuman.
Sebenarnya Rega hanya korban kebohongan dari temannya yang benci dengan Rega disekolah,namun pengakuan Rega dianggap bohong oleh papanya,dan membiarkan Rega mendapat hukuman dari sekolahnya.
Berbeda dengan rianda ketika mendapat masalah dengan teman temannya Rivaldi selalu membela anaknya mati matian.
Para guru pun sebenarnya tidak percaya dengan yang dituduhkan kepada Rega,namun bukti banyak menjurus pada Rega,jadi mau gak mau mereka tetap menghukum Rega.
__ADS_1
''Maaf sebenarnya bapak percaya sama kamu ga,namun bukti semua tertuju padamu mau gak mau bapak harus hukum kamu'' ucap wali kelas Rega.
''Gak apa apa pak hukum aja saya untuk membuktikan bahwa sekolah adil siapapun yang bersalah wajib dihukum,yang terpenting bapak percaya bahwa saya tidak melakukan itu'' ucap Rega
Rega masih sibuk dengan kertas kertasnya semua kembali didata dan disusun ulang, diperhitungkan kembali hingga tak terasa waktu sudah lewat tengah malam.
Rega merenggangkan otot otot tubuhnya dan
merebahkan diri di kasur empuk yang sudah beberapa hari tak pernah disentuh olehnya.
Iseng dia membuka handphonenya. Tertera panggilan tak terjawab dari ''My ay''
Dilihatnya panggilan dari dua jam yang lalu.
Rega pun mengirim pesan disalah satu aplikasi.
''Ay maaf tadi HP nya di silent ada sedikit tugas belum beres
''Besok kayanya gak ngampus dulu,bantu do'a ya biar kerjaan aku beres dengan hasil memuaskan'' begitulah isi pesan dari Rega
Waktu terus berjalan tak terasa kantuk Rega pun datang dia tertidur tanpa mengganti pakaiannya dulu.
Tepat jam enam pagi ana membangunkan Rega,dia tau Rega pasti begadang dan seperti biasa Rega tidur tanpa mengunci pintu kamarnya.
''Gaa,,gaa,,bangun udah pagi nak'' ucap mama ana sambil membuka gorden dikamar tidur Rega
''udah jam berapa mah? tanya Rega tanpa membuka matanya
''Jam pagi sayang, cepetan bangun jangan terlambat sarapan nanti papa kamu ngomel''
''Bukannya udah biasa kalau ada aku harus ngomel dan marahin aku mah'' ucap Rega sambil duduk
''Buktikan kamu bisa membanggakan dia,buktikan dengan prestasi ya nak'' mama ana mengusap rambut Rega
''Sana mandi dulu mamah tunggu dibawah,mamah siapin sarapan dulu ya'' ucap mama ana.
''iya mah,,mandi dulu ya'' Rega pun bergegas masuk kamar mandi.
Mama ana tengah menyiapkan sarapan dimeja makan,terdengar langkah seseorang dan menarik salah satu kursi
''Dimana anak kesayangan mamah apa sudah bangun? terdengar suara Rivandi papanya rianda dan Rega.
''Sudah pah,lagi siap siap sepertinya'' jawab mama ana.
''Hari ini dia akan ikut dengan rian mudah mudahan gak melakukan kesalahan'' ucap Rivandi sambil menyeruput air hangat yang sudah tersedia digelas miliknya.
Tak lama rega turun dan sampe diruang makan
''pagi mah,,pah'' ucap Rega
''pagi juga nak'' ucap mama
''kamu sudah siap untuk tender hari ini? tanya papanya
''Iya pah udah siap'' jawab Rega tegas
''papa gak maunya ada kegagalan,jangan sampe tender jatuh keorang lain'' ucap Rivandi penuh dengan penekanan
''rivandi dulu seusia kamu sudah bisa memenangkan tender yang cukup besar'' ucap Rivandi bangga
''kalo memang sekiranya kehadiran aku bisa bikin kalah tender,aku gak usah pergi'' ucap Rega
''kalo memang kamu merasa anakku,buktikan dengan keberhasilan tender ini'' tantang Rivandi
''Dan kalo sampe kamu tak berhasil mendapatkan tender itu,silahkan angkat kaki dari rumah ini'' ucap Rivandi tegas
''Pah! bisa gak jangan berdebat dipagi hari biarkan Rega sarapan dulu,biarkan dia belajar dulu jangan ditekan harus mendapatkan tender itu'' mama ana merasa muak dengan kesombongan suaminya.
''Sudah berani protes kamu? Rivandi menatap wajah mamah ana dengan cukup buas
''Sudah mah tak perlu mamah seperti itu,kalah ataupun menang dengan tender ini aku mau pergi kok dari rumah ini'' ucap Rega langsung berdiri
''Sombong sekali kamu,siapa orang yang mau tampung kamu, seorang anak muda tanpa ada prestasi yang bisa dibanggakan'' ucap Rivandi
''aku gak pernah jadi juara umum disekolah,aku gak pernah jadi perwakilan sekolah dalam setiap kompetisi,aku gak pernah bisa bikin papa bangga
''Jangankan untuk keluar dari rumah ini,untuk dicoret dari keturunan papapun gak apa apa pah silahkan saja aku tidak takut''
''Jangan sampe papa malu karna adanya aku,
maaf kalo kehadiran aku cuma bikin papa malu'' Rega pun meninggalkan sarapan paginya.
''Nak tunggu sarapan dulu'' ana memasukan beberapa potong roti kedalam kotak makanan.
Rega menghentikan langkahnya,takut mamanya berlari mengejar dia,dan terjatuh seperti beberapa tahun lalu.
__ADS_1