
Awal hari yang cerah untuk pagi yang sudah dihiasi sang mentari. Semangat pagi untuk me mulai hari. Suara klakson yang bersahut-sahutan, riuh orang berlalu lalang , baik para pelajar dan pekerja semua sibuk dengan urusannya masing-masing.Belum lagi macet di pagi hari yang terkadang membuat semangat mulai kendor. Ya.. begitulah kira -kira sekilas kegiatan pagi di kota Metropolitan.
Sama seperti seorang wanita yang tengah duduk di kemudi. Seorang wanita muda dengan mata kecoklatan, berlesung pipi, dan rambut sebahu yang digerai itu. Sesekali ia melihat pantulan dirinya dicermin, tersenyum sekilas yang menampakkan lesung pipinya dan merapikan rambutnya yang sudah rapi. Satu kata "perfect."
"Alana Dinindra" nama yang tersemat di name tag baju dokter nya itu.
Ssttt.... matanya terbelalak, ia kaget dan untung saja ia menginjak rem tempat waktu. Hampir saja ia menabrak seseorang pagi ini.
"ehhh.. nggk punya mata apa ini orang" gumam Alana pelan didalam mobil. Sedangkan orang yang hampir ditabrak tadi hanya berlalu sambil mengisyaratkan tangannya meminta maaf.
memangnya kalo udah kejadian kenapa- kenapa, emangnya bakalan dia yang disalahin apa, ujung-ujungnya kan aku juga. Alana
Pagi yang sudah di mulai dengan semangat kini sudah merubah mood Alana. Kejadian tadi membuatnya terkejut sekaligus kesal.
Memasuki rumah sakit swasta di salah satu kota metropolitan yang lengkap fasilitasnya Dan anggota medis yang mumpuni . Disinilah hampir 4 tahun lebih Alana bekerja, menjadi dokter yang sudah diimpikannya sedari dulu.
" Pagi Dokter Alana"
__ADS_1
"Pagi juga dokter Radit".Alana hanya menjawab sekedar dan tersenyum diujung kalimatnya.
" Dokter Alana " dokter Radit masih menggantung kalimatnya
Bisa nggk sih jangan menggangguku dulu. bad mood bangettt tau.
"iya kenapa dok"?
" Nanti makan siang bareng bisa ? " ucap dokter Radit gugup.
"mmm.. maaf ya dokter saya nanti ada janji sama kesya".
" kalo gitu saya pergi dulu ya dokter Radit".
Alana pun berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangannya, sementara sang dokter muda itu pun diam memperhatikan Alana sampai hilang diujung persimpangan koridor.
selalu begitu jawabannya, na, apa kamu tidak mau membuka hatimu untukku. Dokter Radit
__ADS_1
Alana pun membuka knop pintu ruangannya, tempat yang sudah menjadi sebagian dari hidupnya. Dokter Spesialis jantung, ahh cocok kayak nya ya, soalnya Alana sering bikin orang berdebar. wkwkwk
"selamat pagi dokter, ini ada beberapa berkas pasien dan jadwal pemeriksaan".seorang perawat membawa beberapa berkas pasien.
" Na, pagi pagi udah bad mood aja".ucap kesya .
Kesya adalah sahabat dekat Alana. key panggil an akrabnya.
"key, tau nngk sih tadi pagi hampir aja aku tuh nabrak orang, terus nyampe rumah sakit ketemu sama dokter Radit bikin mumet aja"
"Hahaha, Na Na ya udah terima aja napa sih. Lagian Dokter Radit itu ya udah ganteng, baik, perfect deh"
"Chris Mau ditaroh dimana key, seharusnya dokter Radit kan tau aku udah punya pacar"
ucap Alana.
" bucin akut huuu, tapi Na aku kurang suka tau sama si chriss, kurang klop gitu. Tapi sekali lagi ya terserah padamu ya Alana yang cantik".ucap Key sambil berjalan keluar ruangan Alana.
__ADS_1
Alana menyandarkan punggung nya di kursi, sambil menatap langit- langit ruangannya.
ahh rileksss sekali pikirnya..