Mencari Cahaya Cinta

Mencari Cahaya Cinta
episode 17


__ADS_3

Alana tengah duduk di depan ruangan pasien yang baru diperiksa nya hari ini. Ia meluruskan kakinya kedepan , diletakkannya beberapa catatan para pasien yang baru di periksa nya. Ia diam sambil melihat sekeliling tampak sepi rasanya hari ini, tak ada orang yang berlalu lalang.


Melamun, Alana tampaknya sering melamun akhir-akhir ini , entah apa yang selalu ia pikirkan.


Sampai datang seorang wanita paruh baya duduk disampingnya, ia tersenyum sekilas pada Alana. Alana tersenyum sekilas dan pandangannya tertuju pada tasbih mungil ditangan Ibu itu. Si ibu tersenyum lagi dan mulai mengajak Alana berbincang.


"Jenguk yang sakit ya bu, siapa yang sakit bu? "


ehhh tapi kalo kerumah sakit kan emang jenguk yang lagi sakit kan. pertanyaan yang terlalu basa basi.


"Anak saya dokter, ruangannya tepat disebelah sana. " Si ibu berbicara sambil menunjuk ruangan tempat rawat si Anak.


Si ibu banyak bercerita, ia menceritakan banyak hal pada Alana. Alana menanggapi dengan senyuman dan sedikit memberi sedikit motivasi mungkin batinnya.Mungkin lebih dari 15 menitan Si ibu berbincang dengan Alana. Alana paham apa yang dirasakan ibu tersebut, walaupun ia hanya paham hal - hal umumnya saja. Tapi tetap saja pasti perlu kekuatan dan ketabahan yang harus dimiliki untuk menghadapi semua. Sang anak yang didiagnosis penyakit kronis yang mematikan itu, yang harus siap dari segi materi dan kekuatan diri itu kadang membuat si Ibu hampir menyerah dan sering mengeluh. Kemudian ia menunjukkan senyumnya dan berkata" Mungkin ini jalan yang terbaik yang harus saya lalui, walaupun saya kadang hampir putus asa, bukankah saya masih punya Yang Maha Kuasa, Dia yang Maha pengasih dan Maha Penyayang . Saya yakin dibalik semua ini pasti ada hal indah yang akan setelahnya. "

__ADS_1


sambil mengusap air matanya yang nampak menetes tiba - tiba itu.


Alana sontak menyentuh tangan si ibu, ia terharu dengan penuturan ibu tersebut.


"ayo bu semangat , ibu dan anak ibu pasti bisa melaluinya, InsyaAllah"


Alana dan si ibu saling memberi motivasi nampaknya. Lalu Alana beranjak dari tempat itu,setelah si ibu memberi tahu bahwa sudah masuk waktu zuhur.


" saya nanti saja bu, ibu duluan saja. Saya ada sedikit pekerjaan yang harus dilakukan "


"jangan ditunda - tunda bu dokter, kita tidak bakal tau kapan dan saat apa kita masih bisa untuk beribadah. "


"iya bu".

__ADS_1


Si ibu tersebut pamit pergi meninggalkan Alana, benar memang apa yang dikatakan oleh Ibu tadi. Marah, Alana tak merasa marah hanya saja memang benar sepertinya yang dikatakan ibu tadi. Kita tidak pernah tau, kapan, dimana dan bagaimana, semua nya masih menjadi misteri.


Kata-kata ibu tadi seolah menancap hati Alana, ia memang mengerjakan sholatnya. Tapi, apakah ia mengerjakan nya memang dari hati atau hanya sebagai kewajiban saja. Tepat waktu kah atau hanya kalo ada waktu.


Alana pun beranjak dari tempat duduknya menuju mushola rumah sakit. Dipakenya mukenah yang sedikit terkena basahan bekas wudhunya. Diujung terlihat jelas, si ibu tadi dengan khusyuk sholat dan nampak khidmat itu.


Alana teringat apakah is sholat dengan kekhusuyuan atau hanya sekedar buru- buru mengejar waktu dunia yang fana ini.


Setelah siap sholat diujung masih terlihat ibu tersebut, masih memanjatkan doa. Bahkan nampak si ibu meneteskan air matanya. Entah apa yang dipanjatkannya dalam doanya, namun ia terlihat sangat bersungguh - sungguhnya dalam doanya.


Alana keluar dari mushola, ia masih terpikir tentang si ibu tadi. Sangat berat cobaannya, ia jadi penasaran dimanakah suaminya mengapa tak pernah terlihat.Apakah bekerja atau entah lah pikirnya.


Ia berjalan sambil masih berpikir , ia selalu berpikir hidupnya sungguh rumit, pikirannya nya akhir-akhir ini kadang selalu tak tenang, hatinya yang nampak kosong. Yang kadang ia tidak tau apa penyebabnya. !!?

__ADS_1


__ADS_2