
Alana tersenyum dan melambaikan tangan kepada Rey dan Raisa yang telah mengantarnya pulang. Alana masih nampak berdiri agak lama didepan pagar rumah nya.Ia masuk kedalam rumah, tampak sepi ketika Alana masuk.
Dilihatnya bik sumi yang lewat sambil membawa sapu.
"bik, tumben sepi banget? "
"si bapak sama ibu lagi pergi bentar non, ibu juga nggk bilang kemana tadi"
" owhh, mmm ya udah deh bik, bik.
"iya non."
"nggk ada deh. saya kekamar dulu ya bik. Bik, nanti angetin makanannya ya bik, bentar lagi saya mau makan dibawah aja"
"haduh si non, oke lah nanti. sip itu mah,atau mau dianter aja kekamar"
"nggk usah bik, saya mau bersih-bersih bentar, nanti saya turun aja"
Alana melangkahkan kakinya menuju kamar. Guyuran air dingin terasa segar sekali di badannya, membuat pikiran menjadi sedikit lebih fresh.
Air wudhu yang menyapu wajah, tangan dan kulitnya pun membuat ketenangan . Dibentangkan sajadah menuju kiblat mengucapkan Takbir dan diakhiri salam. Nikmat jika kita bisa melaksanakan nya dengan penuh keikhlasan karena hanya sekedar sebuah kewajiban.
Setelah selesai Ia pun turun kelantai bawah untuk makan malam, si bibik ternyata sudah menyiapkan makanan diatas meja makan. Masih nampak sedikit uap panas dari makanan itu.
"ayo non, dimakan "
__ADS_1
Alana mengambil piring dan menaruh lauk pauk kepiringnya. Aroma nya saja sudah menggugah selera pikirnya. Suapan pertama.
"enak bik, mantap"
"iya dong non, siapa dulu yang masak. he hehehe. non bibik kebelakang dulu ya, mau beresin yang dibelakang dulu"
"bik, bibik temenin saya makan ya bik"
Tatapan Alana tampak sedikit sendu seperti mengisyaratkan jangan pergi, disini saja. Bik sumi pun menemani Alana makan. Bik sumi nggk makan, Bik sumi udah makan dari tadi.
Alana juga banyak bercerita tentang banyak hal.
Seperti pembahasan saat ini, soal ketenangan jiwa. Bik sumi juga menanggapi dengan sebisanya.
"Kalo soal ketenangan sih non, itu tergantung manusianya. Ketenangan, kebahagiaan ya kita sendiri yang ciptain non. Intinya per banyak bersyukur dan mendekatkan diri sama yang maha kuasa non.Kalau udah, mudah-mudahan semua bakal ngikut. "
Alana memasukkan makananan kedalam mulutnya sambil mengangguk. Kata bibik ada benar nya juga. Banyak uang kalo nggk bersyukur juga untuk apa, terlalu mengejar dunia juga nggk bakal ada habisnya. Sedikit bertukar pikiran dengan orang lain ternyata berdampak sangat banyak juga.
Meninggalkan kisah Alana.
Rey dan Raisa kakak beradik yang nampak akur, ya walaupun kadang penuh dengan drama kesel- keselan dan sedikit ribut tak menentu itu. Raisa masih dengan celotehannya yang sedikit menggoda Rey pasal Alana. Jangan terlalu dingin dan kaku begitu pikirnya terhadap Alana. Ya, sedikit santai dan biasa aja, nanti suka lagi.
Mengingat kakak nya yang sudah lama ngejomblo itu semenjak ditinggal kekasihnya itu.
Ia sedikit menggoda kakak nya dengan mengatakan bahwa Alana adalah wanita yang cantik dan sangat ramah itu. Raisa juga mengatakan jangan terlalu nggk suka nanti cinta.
__ADS_1
Walaupun Raisa tidak suka dengan yang namanya pacaran tapi bisa saja kemungkinan menikah melalui jalur taaruf.
" sayang banget padahal cantik"
" siapa yang cantik"
" dari tadi nggk nyambung, kak Alana .Mmm kalo dia mau jadi kakak iparku, aku sih yes ya"
"ngaco"
"santai kak, bikin orang jantungan aja"
Raisa mengelus dadanya suara Rey sontak mengagetkannya.
"Ya terus, Kakak harus pacaran gitu maksud kamu"
"Ya, nggk lah. No pacaran apa lagi berdua-dua an"
" lagian kakak ekspresi wajahnya ketus banget sama kak Alana".
"Emang gini bawaannya"
"terserah deh. Kak Rey cepetan dikit, udah maghrib, mepet banget nih waktu nya. "
"iya, tadi yang banyak cerita siapa? Kakak mah cerita juga sambil nyetir tau"
__ADS_1
Kakak beradik yang sering berantem tapi selalu nampak kompak itu. Saling mensuport dan mengarahkan kearah yang lebih baik.