
"Ya ampun kemana perginya Kak Aldin, kenapa pesan WAnya belum dibaca?" gerutu Nara kesal. Sementara truk pengangkut kayu sudah ngantri dan kayu mulai diangkut satu persatu.
"Nara, kamu ngitung kayu yang sebelah sana saja, sementara aku ngitung kayu di truk yang di sini," intruksi Doni. Nara mengikuti arahan Doni.
"Kak Doni! Pastikan dalam satu truk 50 batang kayu ya!" ujar Nara memperingatkan.
"Ok!" ucapnya seraya mengacungkan jempol.
Nara sibuk dan memperhatikan truk yang datang dan pergi saat bagian yang dihitungnya. Sesekali dia memperhatikan Doni yang sibuk juga menghitung. Satu per satu truk yang kayunya dihitung dan dicek Doni, mulai berjalan meninggalkan kawasan gudang.
Sebanyak 20 truk datang dan pergi, akhirnya selesai juga. Setiap hari truk pengangkut kayu itu datang mengangkut kayu untuk dikirimkan ke luar daerah dan juga ke kota-kota besar.
Nara merasakan tubuhnya lelah dan pegal, lantas dia pergi ke mejanya untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Jam 11.55, lima menit lagi waktunya istirahat. Sejenak Nara merapikan mejanya dan memasukkan kertas report ke dalam laci. Tepat jam 12.00 siang, Nara berjingkat meninggalkan mejanya berniat ke kantin untuk membeli makan siangnya.
Saat beberapa langkah meninggalkan meja, Wira memanggil dan menghentikan langkah Nara. Nara berhenti dan menoleh ke arah Wira. Sebenarnya dia malas untuk berdekatan dengan Wira sejak dia ketahuan sedang merencanakan kecurangan bersama Shera, Sekretaris Aldin.
Namun untuk memuluskan penyelidikannya, terpaksa Nara tidak menolak jalan bareng bersama Wira ke kantin. Tentunya dengan sikap yang berpura-pura ramah, supaya Wira tidak mencurigainya.
"Nara, di sini saja," ajak Wira menunjuk meja yang masih kosong dekat kaca. Nara mengikuti Wira, dengan mata yang bergulir ke sana kemari. Tentu saja Nara sedang mencari di mana sang arjuna yang kini mulai dipikirkannya.
"Ya sudah di sini saja, Kak. Ini viewnya juga bagus," seru Nara setuju lalu duduk. Tidak berapa lama pelayan datang untuk menanyakan pesanan mereka.
"Kamu pesan apa, Nar?" tanya Wira.
"Apa ya ... baso saja deh, Mbak, sama air bening, pedasnya satu sendok saja, ya," jawabnya memberi tahukan pesanannya. Setelah itu Wira pun memesan baso sama seperti Nara. Kalau diperhatikan Wira itu seperti menyukai Nara. Dan Nara tidak suka diberi perhatian oleh Wira, terlebih pria di depannya ketahuan terlibat kecurangan bersama Shera.
__ADS_1
Tidak berapa lama pesanan mereka datang, Wira dan Nara segera menyantap baso pesanannya. Di sela-sela menyantap makanannya mereka terlibat obrolan, Wira yang memulai.
"Nara, kok bisa kamu dimasukkan kerja oleh Pak Aldin, bagaimana ceritanya?" Wira penasaran dengan mulut yang masih mengunyah.
"Nara sudah lama kenal dengan Pak Aldin, sebab Pak Aldin adalah saudara sepupu dari sahabat Nara," jawabnya. Wira mengangguk memahami jawaban Nara. Sedangkan Nara, tetap waspada pada Wira, takutnya Wira melontarkan pertanyaan jebakan terkait kedekatannya bersama Aldin.
Nara segera menghabiskan makanannya, namun belum sampai menyuap tiba-tiba Rifki datang dan ikut gabung di kursi dekat Nara.
"Aku ikut gabung," serunya tanpa menunggu persetujuan dari Nara maupun Wira.
Nara tersenyum dan menyambut Rifki dengan ramah. "Silahkan, Pak Rifki."
"Ok,"
"Ok deh Nar, aku duluan ya!" Wira bangkit dan berpamitan pada Nara dan Rifki. Tinggal mereka berdua. Nara sebetulnya malu duduk berdua dengan Rifki, terlebih dirinya kini sudah menikah, meskipun statusnya masih dirahasiakan.
"Nara, bagaimana awalnya kamu bisa kenal Bos Aldin?" Rifki bertanya disela kunyahan terakhirnya. Pertanyaan ini sama persis yang dilontarkan Wira tadi.
"Ohhh begitu ya, kirain Pak Aldin adalah teman dekat suami kamu."
"Terus kamu diijinkan bekerja sama suami kamu dan membiarkan kamu jalan bersama lelaki lain?" Seperti sedang mewawancara artis, Rifki mencoba mengorek rasa penasarannya pada Nara, sebab sejak pertama kali melihat Nara, Rifki sangat menyukai perempuan yang katanya sudah memiliki suami itu.
Nara diam beberapa saat, dia bingung memberi jawaban apa atas pertanyaan Rifki barusan.
"Diijinkan kok Pak, lagipula saya jalan dengan Pak Aldin karena urusan pekerjaan. Saat itu kami tidak sengaja bertemu dan Pak Aldin mengajak saya untuk bareng," terang Nara hati-hati.
Tidak lama dari itu Rifki menyudahi makan siangnya, dan mengajak Nara kembali ke ruangannya. "Ok deh, Nar. Saya ke atas dulu." Rifki berpamitan seraya menatap Nara penuh senyum.
"Iya Pak Rifki, silahkan. Nara juga mau ke ruangan Nara," ucap Nara tanpa berani membalas tatapan mata Rifki. Mereka pun berpisah menuju ruangannya masing-masing.
Sebelum tiba di mejanya, pesan WA Nara berbunyi. Saat dilihat ternyata dari Aldin.
"Kerja yang bagus, Sayang!" Begitu isi pesan WA dari Aldin membuat Nara tiba-tiba berdebar. Nara buru-buru menuju mejanya untuk memberikan balasan WA dari Aldin.
__ADS_1
"Kak Aldin, apakah truk itu aman dari rencana mereka? Kalau truk kayu yang Nara awasi dan kayunya Nara hitung, Insya Allah itu aman dari tindakan kecurangan. Tapi, truk yang diawasi dan dihitung Doni, Nara tidak bisa awasi." Nara mengirimkan pesan balasan pada Aldin.
"Biarkan saja, biarkan mereka bermain dulu sesukanya. Nanti saat yang tepat akan kita bongkar kebusukannya." Aldin membalas kembali.
*
Jam empat sore, saatnya pulang. HP Nara berbunyi, sebuah notifikasi WA masuk. Aldin mengirimkan sebuah pesan.
"Nara biarkan mereka pergi duluan, tunggu aku di mejamu, jika Doni atau Wira menghampirimu, kamu hindari mereka dan berpura-puralah ke kamar mandi," perintah Aldin. Nara paham dengan maksud Aldin.
Nara segera mengemasi barang-barang kepunyaannya. Dia telah siap akan pulang. Saat Wira dan Doni mendekati mejanya, Nara buru-buru beranjak dan berlari kecil menuju kamar mandi.
"Aduh, aduhhhh," ringisnya.
"Nara kamu kenapa?" Wira bertanya dengan keheranan.
"Nara sakit perut Kak, kayaknya habis makan baso tadi. Aduhhh inj sudah tidak tahan, kalian duluan saja. Biarkan kunci gudang nanti Nara yang kasih ke Pak Satpam," teriak Nara dengan suara yang menahan rasa sakit.
"Benaran nih kamu yang kunci gudang? Kamu tidak mau aku tungguin?" tanya Wira penasaran.
"Benar Kak, duluan saja. Nara benar-benar sakit perut. Ini membutuhkan waktu yang lama kayaknya, Kak Wira dan Kak Doni duluan saja," jelas Nara setengah mengusir. Akhirnya alasan Nara membuat Wira dan Doni pergi duluan meninggalkan gudang.
Sementara itu Nara, kembali keluar dari kamar. mandi setelah Wira dan Doni sudah jauh. Tidak berapa lama Aldin datang dengan tergesa menghampiri Nara.
"Kak Aldin, untuk apa kita di sini?" Nara bertanya benar-benar penasaran. Aldin menepuk jidatnya kesal, rupanya Nara belum paham akan kedatangannya ke gudang.
"Aku hanya akan mengecek barang," ujarnya.
"Tunggulah di sini, awasi jika ada orang lain masuk," titahnya kembali. Nara patuh dengan apa yang dikatakan Aldin, dia mengawasi ke arah luar gudang.
Sementara Aldin menuju kayu-kayu yang masih berjajar rapi sisa pengiriman tadi siang. Dia menghitung kembali sisa kayu yang ada kemudian menyamakan dengan laporan Doni dan Nara.
Akhirnya apa yang dicari Aldin ketemu juga. Rupanya kayu-kayu itu berkurang 10 batang. Sesuai dengan bukti rekaman yang dimiliki Nara, rupanya rencana mereka berhasil dijalankan, namun mereka belum tahu bahwa rencananya telah diketahui.
__ADS_1