
"Apa, Om Dana Permana? Bukankah dia anak dari Kakek Permana sahabat dari Kakek kita, Kakek Adrian?" kejut Sakti sang sepupu yang kini sudah berada di apartemen Aldin. Aldin manggut-manggut.
"Ini tanda tanganmu, rupanya Shera selama ini sudah belajar meniru tanda tanganmu. Nekad benar perempuan itu. Gila, semakin berani dia. Apa sejahat itu Om Dana menjerumuskan ponakannya sendiri. Aku tidak habis pikir, Al." Sakti menghempas tubuhnya di sofa dengan kesal.
"Iya, Sak. Untung Rifki bergerak cepat. Dan beruntung Rifki hari itu terlambat pulang. Memang harus ketahuan kejahatan ini oleh tangan Rifki. Dia memang loyal dan tidak pengkhianat."
"Lantas orang dalam yang kamu curigai yang telah bekerjasama dengan Shera siapa saja?" tanya Sakti penasaran.
"Ada Sak, untuk sementara dua orang telah kami curigai. Wira dan Doni mungkin bekerjasama atas ancaman Shera. Bodohnya mereka mau diancam dan bekerjasama dengan Shera, mereka tidak sadar, yang Bos di perusahaan itu siapa?" ujar Aldin gemas sambil mengepalkan tinjunya.
"Kalau kasus ini terbongkar dan pelakunya ditangkap dan dijebloskan ke penjara, kamu harus memberi bonus yang lumayan tuh pada Rifki," usul Sakti.
"Itu jelas Sak, telah aku pikirkan matang-matang. Si Rifki sekarang lagi membangun kafe, tapi masih terbengkalai. Dan sebagai bonus, aku akan memberinya bonus sampai kafenya selesai dibangun."
"Bagus itu, Al. Kamu memang benar-benar Bos yang baik dan hebat," puji Sakti pada sepupunya.
"Mengenai Om Dana tadi, aku tidak menduga dia mau melakukan kejahatan seperti itu dengan menggerakkan Shera," lanjut Sakti tidak habis pikir.
"Aku juga tidak tahu Sak, kok bisa dia menjerumuskan Shera sebagai keponakannya."
"Mungkin saja Shera ada dendam terhadapmu, Al, sehingga dia berani bekerjasama ingin menghancurkan perusahaan Adrian Wood?" simpul Sakti.
"Aku tidak tahu, Sak, bisa jadi benar. Tapi aku tidak tahu penyebabnya. Tapi jika Shera dendam sama aku, itu artinya Sheralah yang punya inisiatif untuk menghancurkan Adrian Wood," simpul Aldin merasa bingung.
__ADS_1
"Tentu saja Shera akan merasa dendam sama Kak Aldin, sebab cintanya selama ini selalu ditolak Kak Aldin," ucap Nafa sahabat Nara yang kini sudah berada di apartemen Aldin, menimpali. Rupanya tamu yang disebutkan Aldin kepada Nara tadi adalah Sakti dan keluarga. Mereka datang atas undangan Aldin, selain ingin membicarakan perihal kecurangan di perusahaannya. Juga supaya Nafa bisa datang menghibur Nara yang sedih karena ulah Shera.
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan demikian?" tanya Aldin kepada Nafa.
"Jelas dong Kak, ingat tidak saat kami ke kantor Kakak tempo hari, Shera masuk ruangan Kakak dan Nafa melihat sendiri sikap dia yang cari perhatian Kakak. Tapi dengan tegas Kak Aldin tidak melayaninya. Apakah Kak Aldin tidak merasakannya?"
"Sejauh ini sih aku merasakan memang sikap dia begitu, selalu ingin curi perhatian aku. Tapi, namanya tidak suka mau bagaimana lagi? Aku menganggapnya teman biasa dan menganggap dia cucu dari sahabat Kakek kita, kan?" Aldin melemparkan pertanyaan pada Sakti.
"Sekarang harus hati-hati Al, jangan sampai hubungan kalian terendus Shera untuk sementara waktu selagi kasus dia dalam penyelidikan. Sebab ini akan bahaya buat Nara, bisa jadi dia mencelakai Nara," simpul Sakti ikut was-was.
"Iya, juga Sak. Tadi saja saat melihat Nara mau mengantarkan map ke ruanganku, dia begitu cemburu dan marah, dan mencurigai map yang dibawa Nara."
"Sekarang kamu dan tim khusus, harus segera beraksi jangan sampai kecolongan. Biar aku yang siapkan Pengacara selain dari Pengacara Perusahaan Adrian Wood, biar posisimu semakin kuat."
Sementara di dalam kamar tamu yang kini ditempati Nafa dan keluarga kecilnya. Nara sedang asik bermain dengan baby Tifana dan Rafa, yang saat itu belum tidur.
"Tante, adik Tifana kayaknya ngantuk, biar Rafa panggil Bunda dulu, ya?"
"Oh, ok, sayang. Panggil Bundanya ya, biar dede Tifana minum ASI dan bobo." Rafa bocah 6 tahun itu keluar kamar hendak memanggil Bundanya. Tidak berapa lama, Nafa datang dengan membawa air bening buat Nara. Karena tadi Nara sempat sedih setelah curhat akan perlakuan Shera padanya, jadi Nafa berinisiatif untuk mengambil air bening buat Nara.
"Nah, minumlah. Semoga kamu cepat tenang Nar. Setelah baby Tifana bobo, kita siap-siap untuk makan malam."
"Terimakasih, Naf. Kamu memang sahabatku terbaik," ucap Nara berterimakasih.
Setelah baby Tifana tidur, Nara dan Nafa keluar kamar menuju dapur di apartemen Aldin ini untuk makan malam. Semua sudah lengkap, tidak menunggu lama makan malampun dimulai, disertai obrolan ringan. Kebetulan makan malam kali ini diorder dari restoran milik Sakti sepupunya, yaitu Rafasya Restoran. Yang tentu saja Sakti sebagai sepupu tidak menerima pembayaran, sebab ini merupakan sebuah traktiran untuk Aldin dan Nara, kata Sakti.
__ADS_1
"Bagaimana gaun pengantin kita Naf, sudah berapa persen?" tanya Aldin.
"Baru 50 persen Kak Aldin. Pokoknya jangan khawatir, Nafa akan jamin kalian saat hari H nanti akan sangat tampan dan cantik sebagai ratu dan raja sehari di pelaminan kalian," yakin Nafa tersenyum bahagia. Nara yang di sampingnya ikut tersenyum bahagia.
"Baiklah, aku pasrahkan semuanya padamu Nyonya Sakti," ujarnya seraya tersenyum.
Makan malam usai, kini mereka memasuki kamar masing-masing setelah Aldin dan Sakti ngobrol sejenak di ruang tamu. Nara yang telah membersihkan diri dari kamar mandi, kini duduk di depan meja rias. Mencuci mukanya yang bening dan cantik.
Sekilas sebelum Aldin beranjak ke kamar mandi, dia menatap Nara dari pantulan cermin. "*Cantiknya wanitaku. Malam ini akan menjadi* *malam yang indah buat kita, Sayang*," ujarnya dalam hati seraya memasuki kamar mandi.
Tidak berapa lama Aldin keluar kamar mandi dengan baju piyama yang telah melekat di badannya. Walaupun memakai baju tidur, ketampanan Aldin tidak berkurang. Ini membuat Nara menjadi degdegan tidak karuan. Apalagi Aldin kini menghampirinya dan merangkul pinggangnya dengan kedua tangannya seraya mencium pipi Nara sangat gemas.
Pribadi yang sering jutek ini apabila di kantor, kini tiada lagi saat di kamar. Justru sikap romantis mendominasi Aldin. Mencium pipi Nara lalu memangku tubuh Nara dan dibaringkan di atas ranjang.
"Apakah lampunya terang saja atau ganti dengan lampu temaram di meja ini, Sayang?" tanya Aldin meminta persetujuan Nara. Nara sejenak mendongak.
"Lampu temaram saja, Kak," jawabnya cepat.
"Baiklah." Aldin segera mematikan lampu, dan menggantinya dengan lampu meja yang temaram. Suasanapun menjadi sangat romantis dan penuh cinta. Aldin memperlakukan Nara begitu lembut dan sangat romantis.
"Sayang, malam ini milik kita berdua. Kita akan melewatinya dengan penuh bahagia," ucap Aldin seraya mencium bibir Nara, menyatukannya dalam gairah yang sama.
Selamat menikmati malam indah suami istri Nara dan Aldin.
Nb; Author minta maaf untuk adegan begitu kurang pandai mendeskripsikan. Jadi gak usah dijelaskan. Kalian juga punya bayangan sendiri2. Walaupun Author tidak pandai, kalian pembaca jangan kabur dari Novel Author ya. Author tetap tunggu dukungannya. Love u all Readers...
Bagi yang masih punya vote, kasih votenya buat Author ya, terimakasih...
__ADS_1