Mendadak Menikah dengan Pria Jutek

Mendadak Menikah dengan Pria Jutek
Aksi Cepat Sang Asisten


__ADS_3

Nara terbangun dengan tubuh dan mata yang terasa lelah. Sejenak dia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyeimbangkan sinar lampu yang masuk melalui pupil mata. Saat matanya terbuka sempurna, Nara tersentak sebab ada Aldin di dekatnya. Sontak Nara menjauh, namun tangan Aldin yang mellilit di pinggangnya membuat Nara kesulitan untuk bergerak.



Aldin menyadari pergerakan Nara, perlahan dia melepaskan lilitan tangannya. Nara langsung bangkit dan duduk di ranjang, matanya bergulir mencari tasnya. Nara berdiri kemudian menyambar tas lalu dia sampirkan di bahu.



"Mau ke mana?" tahan Aldin sembari menahan tangan Nara.


"Nara mau pulang," sahutnya. Nara masih sangat sedih atas perlakuan Shera tadi, sakit hati sekaligus sakit fisik. Kepalanya yang sakit karena dijenggut Shera tadi, masih terasa.


"Iya, kita pulang ya." Aldin setuju.


"Tapi, Nara mau pulang sendiri ke rumah Ibu dan Bapak," ujarnya sedih dan menunduk.


"Tidak, aku tidak ijinkan kamu pulang ke rumah Ibu dan Bapak dalam keadaan kamu seperti ini. Tolong, patuhi dan pahami aku," mohon Aldin seraya meraup tangan Nara lalu dipegangnya erat.


"Ayo, ke kamar mandi dulu, cuci muka dan bersihkan diri kamu, kamu tidak bisa pulang dengan rambut yang acak-acakan, nanti dikiranya aku sudah ngapa-ngapain kamu," ucap Aldin seraya membawa Nara ke dalam kamar mandi kamar itu.


Nara menahan langkahnya di depan pintu kamar mandi, Aldin menjadi heran.


"Kenapa? Ayo masuklah! Atau perlu bantuan aku untuk membersihkan muka dan tubuh kamu?" Nara menggeleng seraya cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Lima belas menit kemudian, Nara selesai dari kamar mandi. Wajahnya yang tadi pucat kini sedikit bernyawa. Namun masih nampak sedih dan tidak bergairah.



"Ayo, Sayang, cerialah. Sisir rambut kamu. Biar aku sisir ya." Aldin dengan sigap menyisir rambut Nara yang panjang. Nara diam saja dan membiarkan Aldin menyisir rambutnya.



Saat menyisir rambut Nara, Aldin melihat rambut rontok Nara yang ikut tertarik oleh sisir, lumayan banyak.


"Awww, sakit Kak," ringisnya sambil menahan kepala yang sakit. Aldin tersentak dan melihat kepala yang dipegang Nara. Ada warna kemerahan di sana, di kepala Nara sebelah kanan atas, menandakan jenggutan Shera sangat keras.

__ADS_1


"Kurang ajar Shera, kamu membuat wanitaku kesakitan. Lihat saja akan kubongkar kebusukanmu dan kutendang dirimu dari perusahaan ini," tekad Aldin dalam hati.


"Rambutmu rontok dan kulit kepala yang sakit memerah, ini akibat perbuatan Shera. Shera akan membalas semua perlakuannya padamu dengan balasan yang setimpal," sungut Aldin.


"CCTV itu, bukti kuat perbuatannya," dengus Aldin kesal.


"Ayo kita pulang!" tariknya keluar kamar. Aldin memapah Nara keluar ruangannya, suasana kantor sudah sangat sepi. Mungkin saja mereka sudah pada pulang. Aldin memapah Nara ke dalam lift, seperti yang sudah Aldin ketahui, Nara memang jarang terlihat marah. Jika marah atau mendapatkan ketidakenakan hati, maka dia akan diam dan merunduk dengan muka yang sendu melankolis. Sungguh sifat yang sangat bertolak belakang dengannya.



Sementara itu di ruangan lain. "Sialan, pegawai baru itu ternyata murahan. Setelah tadi mendapat jambakan, dia malah tidur dengan Bos Aldin. Itu artinya mereka sudah melakukan perbuatan mesum di kantor ini. Berani-beraninya nolak gue, tapi di belakang gue dia mesum dengan perempuan murahan itu. Enggak level." Shera yang mengintai mendengus kesal saat mendapati Aldin dan Nara keluar dari ruangan Aldin.



"Lihat saja apa yang akan gue lakukan untuk kalian berdua. Kalian tidak akan bisa bongkar kecurangan gue, melainkan gue yang akan membongkar kebusukan kalian. Muka sok polos dan sok suci tapi kelakuan kayak binatang," dengusnya lagi dengan sangat benci.



Rifki yang kebetulan masih di ruang kerjanya juga melihat Aldin dan Nara keluar dari ruangan Aldin. Rifki kecewa, kenapa Nara yang sudah bersuami malah gampangan dan mudah diajak Aldin.


"Tapi aku apa bedanya sama Bos Aldin, sama-sama menyukai Nara si perempuan bersuami? Bedanya, aku tidak bisa menggaet Nara. Nara malah lebih kepincut sama Bos Aldin. Nasib, nasib. Kasihan yang menjadi suaminya Nara, diselingkuhi Nara." Rifki masih menggerutu dalam hati.



Ketika Rifki akan mengunci pintu ruangannya, dia seakan menangkap bayangan seseorang dari pantulan sinar lampu. Rifki kembali ke dalam ruangannya. Saat si pemilik bayangan melewati ruangan Rifki, ternyata dia adalah Shera. Rifki kaget, bukankah tadi Shera sudah pulang dan mobilnya jelas keluar gerbang pabrik? Lantas mobil Shera dibawa siapa? Ini menjadi tanda tanya besar dalam benak Rifki.



Shera semakin jauh dari ruangan Rifki. Rifki keluar dari ruangannya dengan hati-hati. Rifki berinisiatif akan memeriksa ruangan Shera, akan tetapi dia harus cerdik dan mematikan sejenak layar penyimpanan hasil rekaman CCTV.



Rifki menuju ruangan monitor penyimpanan hasil rekaman CCTV, namun di sana ada penjaga. Rifki urung mencabut kabel sambungan layar monitor dengan aliran listrik. Salah-salah penjaga akan salah paham dan menudingnya melakukan kejahatan. Lebih baik Rifki pakai caranya sendiri, yaitu dengan cara mematikan sejenak KWH meter listrik.


__ADS_1


Rifki bergerak cepat, mematikan KWH listrik yang keberadaannya tidak terawasi Satpam.


"Trek." Lampu pabrik seketika mati.


"Sabar ya, gue beraksi dulu untuk membongkar kecurangan singa betina itu, nanti gue balik lagi nyalain elu kembali," bincang Rifki pada KWH listrik yang tidak bernyawa.


Rifki segera ke ruangan Shera dengan menggunakan kunci cadangan. Lalu masuk dan mengunci lagi ruangan itu dari dalam. Tujuannya adalah, mencari berkas yang mencurigakan di laci kerja Shera maupun di lemarinya.



Dengan tanpa lelah Rifki mengubek laci kerja Shera, namun belum menemukan hal yang mencurigakan. Tempat terakhir yang harus dia ubek adalah lemari. Lemari kerja Shera. Sialnya kunci cadangannya tidak ada. Rifki hilang akal, dia tidak mungkin membongkar paksa lemari Shera, ini justru akan membuat Shera mengetahui bahwa kejahatannya mulai terendus.



Saat Rifki hampir putus asa, sejenak dia menyandarkan dirinya pada dinding lemari Shera, dengan kepala mendongak. Seakan matanya diarahkan ke atas, Rifki merasa patung kucing yang berada di atas lemari itu menyimpan misteri. Rifki berinisiatif mencari kunci lemari itu di bawah patung kucing yang berada di atas lemari Shera.



"Srek, srek," bunyinya mirip dua besi pipih saling beradu, dan saat Rifki ambil rupanya dugaannya tepat. Itu adalah kunci. Tanpa menunda lagi, Rifki mencoba membuka lemari itu dan berhasil.



Rifki mengubek dalam lemari Shera satu persatu, di sini dia tidak bisa asal-asalan. Dia perlu teliti memeriksa berkas itu satu persatu.


Tidak butuh lama, hal yang mencurigakan itu akhirnya ketemu.


Sebuah map merah setebal 10 senti. Saat Rifki buka, dia menemukan laporan keuangan yang janggal, serta menemukan proposal pengajuan pinjaman yang telah di tanda-tangani Aldin. Sejenak Rifki mengkerut, "Bos Aldin tidak mungkin melakukan ini, dia melakukan pinjaman luar yang nilainya fantastis, apakah perusahaan semiskin ini? Jangan-jangan ini masih baru, tapi ini masih tahap pengajuan. Aku harus segera melaporkan ini pada Bos Aldin."



Rifki bergerak cepat. Dia mengunci kembali lemari Shera dan keluar ruangan Shera dengan hati-hati. Kemudian kembali bergegas menuju KWH listrik yang dia matikan tadi.


"Makasih ya KWH, sekarang elu boleh bekerja lagi, gue balik dulu, ya," pamitnya seraya mencium KWH listrik dengan tangannya sebagai kiss jauh. Rifki memang unik.


"Bos, ada kabar penting. Kita bertemu di mana Bos? Ohhh siap, saya meluncur setengah jam lagi menuju Rafasya Restoran." Rifki menutup telponnya dan bergegas meninggalkan pabrik dengan mobil Hondi Embrionya.

__ADS_1


__ADS_2