
Syafa masih berjalan menuju tangga, tinggal satu lantai lagi dia tiba di lantai yang terdapat ruangan Asisten Rifki. Akhirnya setelah sampai, Syafa langsung membuka pintu ruangan Rifki dengan santainya, karena dia pikir Rifki masih di luar sana.
"Kamu ke mana saja, lelet banget. Masa kalah dengan saya yang sudah muter-muter tapi duluan ke ruangan saya." Syafa seketika terkejut mendengar Rifki yang tiba-tiba mengejutkannya.
"Eh, kok, Pak Rifki sudah ada di sini, bukannya tadi di sana?" heran Syafa aneh.
"Memangnya kamu penakut, naik lift saja penakut, dasar udik," ejek Rifki seraya duduk di kursi kebesarannya.
"Ini Pak mapnya, apakah saya sudah boleh pergi?" tanya Syafa
"Letak dulu di sana. Karena kamu telat masuk ruangan saya, saya akan memberi hukuman buat kamu," seri Rifki sambil tersenyum licik.
"Hukuman apa Pak, kenapa saya dapat hukuman?" Syafa merasa heran.
"Kamu harus datang dengan saya sebagai pasangan ke acara resepsi pernikahan Bos Aldin dan Nona Nara minggu depan," ujar Rifki mengultimatum.
"Em, aduh gimana ya, Pak? Tapi, tapi, saya .... "
"Kenapa? Apakah kamu malu berpasangan dengan saya?" sentak Rifki tidak segan.
"Bukan malu Pak, tapi saya tidak punya baju yang pantas untuk ke pesta pernikahan jika harus berpasangan dengan Pak Rifki." Syafa memberi alasan.
Rifki tertawa sejenak sebelum memulai berbicara. "Itu tenang saja, saya akan persiapkan gaun yang indah buat kamu datang di pesta resepsi pernikahan Bos kita," ujar Rifki menyanggupi. Karena merasa dipaksa, akhirnya Syafa pasrah dengan ajakan Rifki yang ternyata 10 tahun lebih tua darinya. Tapi Syafa entah kenapa, malah senang diajak pergi bersama saat ke pernikahan Bosnya nanti.
Syafa pamit dari ruangan Rifki dengan hati yang berkecamuk antara gembira dan bingung.
*
*
Menghadapi pesta pernikahan yang akan digelar seminggu lagi di sebuah hotel ternama di Indonesia, Aldin sudah jauh hari mempersiapkan segalanya. Gaun pengantin yang dirancang oleh istri dari sepupunya, Sakti, Nafa, sudah selesai dijahit dan tinggal fitting.
Nara dan Aldin siang itu mendatangi Naufara Butik, butik milik Nafa sahabat Nara. Yang mana baju pengantin mereka di rancang di sana. Aldin dan Nara melakukan fitting baju di sana.
"Wah, cantik sekali kamu Nara. Ini bakal jadi hari istimewa di hari pernikahan kalian. Kak Aldin juga sangat tampan, sangat serasi. Kalian sungguh sangat serasi," puji Nafa sahabat Nara yang menjadi perancang gaun pengantin Nara dan Aldin.
"Terimakasih, Naf. Ini semua karena berkat bantuanmu. Tanganmu inilah yang menjadikan kami berdua menjadi lebih percaya diri disaat gelaran pernikahan kami nanti," ujar Nara terharu seraya merangkul Nafa sahabatnya.
__ADS_1
Setelah dari Naufara Butik, Aldin dan Nara kembali ke apartemen. Kini beberapa hari ke depan mereka berdua akan menyiapkan tenaga untuk persiapan gelaran resepsi pernikahan mereka seminggu kemudian di sebuah hotel ternama di Indonesia itu.
Urusan pekerjaan sudah Aldin serahkan semuanya pada Rifki, karena untuk satu minggu ini Aldin dan Nara ingin fokus untuk pernikahannya yang sebentar lagi digelar.
"Kak, seharusnya kita dipingit dulu lho. Biar kita masing-masing mempersiapkan diri," ujar Nara seraya menaruh tas kerjanya di meja.
"Kenapa harus dipingit, toh kita sudah sah suami istri? Memangnya kamu ingin membiarkan suamimu kesepian di apartemen ini?" protes Aldin tidak suka.
"Tidak, Kak, maksud Nara, bukan itu. Tapi .... "
"Tidak usah tapi-tapian, kamu sengaja ingin membiarkan suamimu ini gila karena jauh dari kamu, kan? Awas ya, kamu memang nakal," ujar Aldin seraya mengejar Nara yang berlari ke dapur.
"Kak Aldin jangan, geli. Lepaskan!" ronta Nara kegelian. Nara cekikikan kegelian karena merasa geli digelitik Aldin.
"Kapok, tidak?"
"Kapok apanya, Kak? Ahahaahhaha ... Kak Aldin, jangan, geli tahu!" Nara masih meronta seraya cekikikan menahan geli.
Akhirnya mereka sore itu saling kejar di dapur sebelum keduanya tumbang dalam buaian asmara yang membara.
Para pengiring pengantin menggunakan pakaian berbahan brukat dengan warna yang senada. Aldin dan Nara benar-benar seperti raja dan ratu sehari yang kecantikan dan ketampanannya sungguh luar biasa.
Mereka ijab qabul kembali dihadapan penghulu dan pihak KUA yang akan mencatat pernikahan mereka secara hukum negara.
"Sahhhh." Akhirnya mereka dinyatakan sah baik secara agama maupun negara. Nara menetaskan air matanya haru di hadapan semua dan tentunya di hadapan Aldin yang sudah kurang lebih dua bulan sah secara agama menjadi suaminya.
Aldin yang awalnya jutek, namun saat dinyatakan sah sebagai suami sangat perhatian dan memperlakukan Nara dengan lembut. Betapa bahagianya Nara dimiliki Aldin yang jutek namun selalu romantis dan lembut.
Semakin siang para tamu undangan mulai berdatangan, Aldin dan Nara mulai melayani para tamu yang bersalaman serta berfoto bersama. Tidak lupa di samping para mempelai para orang tua mereka mendampingi, namun berbeda dengan Aldin. Dia hanya bisa didampingi tantenya yaitu Mama Sukma yang tidak lain adalah Mamanya Sakti sang sepupu.
__ADS_1
Sejenak Aldin terlena dalam buaian kesedihan, ketika dirinya menyadari betapa hidupnya sebatang kara tanpa kedua orang tua juga saudara kandung yang sudah meninggalkannya sendiri di dunia. Beruntung Sakti dan Mama Sukma sebagai sepupu dan tantenya menyayangi Aldin layaknya saudara dan anak kandung, sehingga semasa hidupnya Aldin tidak terlalu kehilangan kasih sayang.
"Aldin sebatang kara jika tidak ada kasih sayang Mama Sukma," ucap Aldin saat dia sungkeman pada tantenya yang sudah dia anggap Mama sendiri. Mama Sukma mengusap rambut Aldin dengan sayang. Sejak kecil Aldin sudah kehilangan sosok Ibu, yang meninggal saat akan melahirkan anak yang kedua alias adik Aldin. Sementara Papanya Aldin sudah lebih dulu meninggal dalam kecelakaan pesawat ketika usia kandungan Mamanya Aldin menginjak usia 6 bulan, saat itu usia Aldin baru lima tahun dan sudah menjadi anak yatim.
Kini giliran Aldin menyalami Sakti. Saat memeluk sepupunya ini rasa haru jelas tidak bisa dibendung lagi. Sakti yang sejak Aldin kehilangan Papa dan Mamanya selalu memberikan kasih sayang layaknya pada seorang adik. Hingga mereka besar, selalu saling bantu dan peduli serta saling membela. Mereka tumbuh menjadi anak yang kompak dan baik budi. Selalu patuh pada nasihat Mama Sukma yang tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang.
"Terimakasih brother, selama ini sudah menyayangiku seperti adik sendiri. Tanpamu dan Mama Sukma, aku hanya bongkahan batu yang tidak berguna." Aldin memeluk Sakti, tanpa terasa air mata meleleh dari pelupuk matanya. Sungguh jasa seorang sepupu seperti Sakti tidak akan pernah dia lupa sampai kapanpun.
"Sudah Al, jangan terbawa suasana, kamu masih punya kami, aku dan Mama Sukma yang selalu menyayangimu sampai kapanpun, meskipun kamu telah menikah sekalipun, kamu kan saudara bungsuku," ujar Sakti seraya memeluk Aldin hangat.
Akhirnya semakin siang acara semakin seru, kini giliran Aldin dan Nara melemparkan buket bunga pada para tamu undangan.
"Satu, dua, tiga," bungapun dilemparkan oleh Aldin dan Nara. Para tamu yang masih jomblo salinv berebut untuk meraih buket bunga. Dan akhirnya bunga itu jatuh tepag di tangan Rifki dan Syafa yang saat itu kebetulan datang bersama menghadiri pernikahan Bos Adrian Wood.
"Horeeee, pengantin selanjutnya adalah pasangan yang berhasil menangkap buket bunga ini," teriak MC memberikan semangat pada Rifki dan Syafa yang tidak lain adalah karyawan di kantor Aldin. Syafa dan Rifki saling tatap dengan perasaan malu-malu.
Acara akhir ditutup dengan foto bersama keluarga. Sakti bersama keluarga kecilnya sudah siap dan kompak berfoto. "Selamat ya, Nar. Kamu cantik banget hari ini," ucap Nafa pada sahabatnya.
"Makasih Naf, kamu begitu baik selalu dukung aku. Dan terimakasih juga gaun pengantinnya, ini sangat luar biasa," ujar Nara seraya memeluk Nafa, sahabatnya. "Ngomong-ngomong baby Tifana di mana?"
"Dia tidur dalam roda bayi, sekarang sedang bersama Ibu dan Wa Rasih," ujar Nafa.
Akhirnya pesta pernikahan Aldin dan Nara sukses di gelar. Para tamu mulai surut dan satu persatu mulai pulang. Kini kedua mempelai digiring ke dalam kamar pengantin yang sudah didekor di hotel itu.
"Alhamdulillah, akhirnya kita sah baik secara agama maupun negara," ujar Aldin seraya memeluk pinggang Nara. Nara tersipu malu tapi tidak berniat melepaskan pelukan Aldin.
"Jangan lupa nanti malam ya!" peringat Aldin yang tentu saja sudah dipahami Nara.
Menjelang malam, kedua mempelai sudah kembali ke kamar pengantin. Rasa lelah dan kantuk keduanya akhirnya mengalahkan segalanya. Rencana tadi sore yang sempat Aldin bayangkan sirna sudah seiring terkaparnya kedua pengantin tertidur pulas karena kelelahan akibat pesta tadi siang. Gagal deh bulan madunya.
Tammat....
__ADS_1
Buat Kak @RiaSuhermin terimakasih banyak telah mendukung karya saya dari awal sampai akhir. Follow saya ya Kak.... terimakasih....