Mendadak Menikah dengan Pria Jutek

Mendadak Menikah dengan Pria Jutek
Kesempatan dari Aldin


__ADS_3

Besoknya Nara dan Aldin ke kantor seperti biasa. Ini adalah hari kedua Aldin membiarkan gudang tanpa kehadiran Nara, dan ini merupakan siasat Aldin untuk menjebak kecurangan yang dilakukan Shera supaya benar-benar terang benderang.



"Jalan duluan, dan langsung ke kubikel lantai dua," perintah Aldin. Seperti biasa auranya tegas dan jutek jika sudah memasuki dunia pekerjaan. Padahal semalam mereka sangat lekat dan romantis. Nara tidak membantah, dia segera mengikuti arahan Aldin.



Motor Nara keluar dari parkiran apartemen dan melaju membelah jalanan kota itu menuju kantor Adrian Wood. Sementara Aldin mengatur jarak dengan Nara sekitar 10 menit. Kali ini misinya untuk membongkar kecurangan Shera tidak mau terganggu gara-gara hubungan dirinya dengan Nara diketahui yang lain terutama Shera.



Aldin menyusul Nara setelah 10 menit dia berlalu. Lima belas menit kemudian, Aldin tiba di depan gerbang perusahaan Adrian Wood, dan segera memasuki perusahaan itu. Di belakangnya Rifki juga baru sampai, mengikuti mobil Aldin. Akhirnya Aldin dan Rifki masuk sama-sama ke dalam kantor.



"Bagaimana Rif, perkembangannya?"


"Semakin jelas Bos, lantas menunggu kapan Bos Aldin akan membongkar kejahatan mereka?" tanya Rifki sudah tidak sabar.


"Tenang saja, sudah saya bilang biarkan mereka melakukan aksinya selama satu minggu. Saat mereka merasa aksinya tidak ada yang mengetahui dan merasa tidak ada yang mengganggu, maka saat itulah saya akan bongkar dan menangkap mereka," tegas Aldin penuh keyakinan.



Aldin dan Rifki memasuki lift, langkahnya kini disamai Shera yang mengejar dua lelaki tampan itu dari belakang. "Pak Aldin!" teriaknya sok dekat. Sontak Aldin dan Rifki menoleh lalu melanjutkan kembali perjalanannya menuju lift yang tinggal beberapa langkah lagi.



Saat Aldin dan Rifki masuk, Shera juga masuk dan segera menempatkan dirinya di samping Aldin. Aldin sekilas menatap Shera, rupanya Aldin menilai pakaian yang dipakai Shera. Kali ini Aldin menilainya wajar, karena pakaian kerja yang dipakai Shera tidak minimalis lagi dan bikin mata sakit seperti dulu.

__ADS_1



Lift mulai berjalan. Ditengah keheningan bertiga, tiba-tiba Shera berbicara dengan genit dan penuh provokasi. "Pegawai baru itu masih baru tapi sudah berani keluyuran saat jam kerja. Kemarin saja setelah jam makan siang, dia tidak ada tuh di mejanya. Ini gara-gara dimanja Bos Aldin sih, dia jadi ngelunjak," tukas Shera penuh provokasi.



Tiba-tiba lift sudah tiba di lantai tiga, Aldin dan Rifki segera keluar meninggalkan Shera yang masih ingin berbicara. "Pak Aldin, tunggu!" stopnya. Aldin dan Rifki berhenti.


"Langsung ke ruanganmu. Dan ingat ya, di dalam lingkungan kantor aku tidak suka mendengar karyawan lain menjelekkan karyawan lain ke atasannya!" perintah Aldin penuh peringatan. Shera manyun, dengan kecewa dia langsung menuju ruangannya sambil menggerutu.


"Huhhhh, sombong lu Aldin. Elu tidak bisa ngapa-ngapain jika perusahaan elu yang cuma sekelumit ini gue hancurkan. Makanya jangan sok sok an menolak gue, maka akan tahu akibatnya," omel Shera kesal saat sudah berada di ruangannya.


Dia merasa yakin bisa menghancurkan perusahaan Adrian Wood, karena sudah merasa menguasai yang menjadi kelemahan Aldin. Yakni, Shera kini sudah bisa memalsukan tanda tangan Aldin, yang akan dia jadikan sebagai senjata ampuhnya, sembari menatap lemari kerjanya, Shera tersenyum bahagia.


Aldin kini sedang di mejanya menyelesaikan laporan pengiriman kayu selama tiga hari berturut-turut tanpa Nara, dan selama itu juga sisa kayu selalu tidak sinkron dengan apa yang tertera di laporan. Namun Aldin tersenyum getir sekaligus puas, membayangkan Shera dan para konconya digiring oleh Polisi ke penjara.




Jam 10 siang Aldin mengajak Rifki ke gudang. Rifki mengikuti apa kata Bosnya dan belum tahu apa yang sedang direncanakan sang Bos.



"Wira, Doni, bagaimana kerja kalian, apakah kalian mengalami kesulitan?" Aldin bertanya pada Wira dan Doni yang sedang berada di ruangannya.


"Baik, Pak Aldin. Sejauh ini tidak ada kesulitan apa-apa?" jawab Wira dan Doni kompak.


"Bagus. Kerja yang baik dan jujur. Jika kalian jujur maka akan bonus bulan depan untuk kalian!" ujar Aldin memberi iming-iming.

__ADS_1


"Benaran Bos?" seru Wira dan Doni saling tatap tidak percaya.


"Makanya kalian kerja yang benar ya, ini kesempatan baik buat kalian," peringat Aldin seraya meninggalkan gudang.


Sepeninggal Aldin, Wira dan Doni saling tatap bahagia. "Wah, Bos Aldin akan memberi bonus bulan depan Don jika kita kerja dengan baik dan jujur," girang Wira dengan muka sumringah.


"Iya, betul Wir. Pak Aldin memang selalu memberi bonus untuk kita jika pemasukan bulan ini melimpah, dia memang Bos yang tidak pelit," timpal Doni dengan wajah bahagia.


"Tapi, bonus ya bonus. Paling setengah dari gaji kita. Lain dari yang ditawarkan Mbak Shera, dua kali lipat dari gaji kita. Yaaa, kita pura-pura saja bekerja dengan baik dan jujur, biar bonusnya dobel, hahaha!" ujar Wira meremehkan. Padahal tidak mereka tahu maksud Aldin ini begitu baik, walaupun sudah mengetahui kecurangan pegawainya, Aldin masih saja memberi kesempatan pada mereka supaya mereka berubah baik dan jujur.



Setelah Aldin dari gudang dan memperingatkan Wira dan Doni, Aldin bermaksud ke lantai dua menemui Nara. "Rif, aku berhenti di sini, aku mau ke Nara dulu memberikan map ini. Kamu terus saja ke lantai tiga, ya!" ujar Aldin saat lift dia hentikan di lantai dua. Rifki mengangguk patuh walaupun dalam hatinya menggerutu.



"Pasti Bos Aldin mau merayu Nara yang gampangan itu," cibir Rifki dalam hati. Merekapun berpisah saat pintu lift tertutup.



Aldin berjalan menuju Nara yang sedang sibuk. Dari jarak dua meter Nara terlihat memang sibuk, dia begitu berdedikasi tinggi dan tidak manja meskipun posisi dia sebetulnya bisa saja manja pada Aldin. Namun perempuan yang jarang marah itu selalu bersemangat dalam bekerja. Saat Aldin menatap Nara dengan senyuman bangga, di ujung tangga lantai dua Shera menatap dengan penuh rasa benci dan cemburu.



"Pak Aldin!" Nara terperanjat seraya memberikan gestur hormat pada Aldin. Nara mampu membedakan posisi di rumah ataupun di kantor. Sebutan di kantor Nara tidak pernah salah selalu memanggil Aldin dengan Pak Aldin.



"Nara, ini map yang harus kamu kerjakan sampai sore!" sodor Aldin menyerahkan map di meja Nara.

__ADS_1


"Siap, Pak. Dan ini map yang sudah saya selesaikan." Nara menyodorkan map yang sudah dia selesaikan pada Aldin.


"Ok, nanti map ini saat istirahat kamu antar ke ruangan saya!" titah Aldin seraya berlalu.


__ADS_2