Mendadak Menikah dengan Pria Jutek

Mendadak Menikah dengan Pria Jutek
'Sayang' Ingin Bahagia Bersama


__ADS_3

Jam setengah lima lebih, Aldin selesai dengan pekerjaan di mejanya. Kini dia bersiap pulang dan akan membangunkan Nara.


"Nara! Apakah kamu tidur? Bangun dan buka pintunya!" ujarnya sambil mengetuk.


Untuk beberapa saat tidak ada jawaban dari dalam, lantas Aldin mencoba menghubungi HP Nara. Aldin menduga Nara ngantuk karena kelelahan tadi.


.


Satu kali belum ada jawaban, Aldin mencoba menghubungi Nara yang kedua kali. Untuk yang ini baru ada jawaban dan Nara mengangkat telepon Aldin. "Iya, Kak? Maaf Kak, ok, Nara siap-siap," jawabnya serak, suara khas bangun tidur jelas kentara. Aldin mesem mendengar jawaban Nara barusan.


Tidak berapa lama pintu kamar itu terbuka, Aldin melihat rambut Nara yang aut-autan, namun tetap cantik. Nara nampak malu saat dilihat Aldin. Aldin masuk dan duduk di ranjang.



"Nara ke kamar mandi dulu, ya, Kak," ujarnya seraya berjingkat.


"Rupanya kamu selelah dan sengantuk itu setelah melayaniku!" ejeknya datar.


Nara tertunduk, lalu segera ke kamar mandi. Kalau harus melayani ejekan Aldin, tidak akan habis rasa malu di wajah Nara. Selesai dari kamar mandi, Nara segera keluar. Sebetulnya dia ingin ngumpet saja di dalam kamar mandi daripada harus ketemu Aldin yang bisa jadi mengejeknya lagi.


Aldin tidak lepas menatap Nara, dia mengangumi kecantikan alami Nara. Selepas dari kamar mandi wajahnya yang dibasuh air, masih terpancar kecantikan alaminya. Aldin sangat menyukainya.



Nara merasa sempit langkah mengetahui Aldin menatapnya terus. "Ayo, Kak!" ajaknya demi membuyarkan tatapan mata Aldin ke wajahnya.


"Eh, ayo!" balas Aldin seraya membukakan pintu kamar untuk Nara. Aldin menutup kembali pintu kamar dan menguncinya, kemudian keluar duluan dari ruangannya disusul Nara.


Suasana kantor sudah lengang. Tapi Aldin harus hati-hati, sebab bisa jadi kepulangannya bersama Nara diketahui Shera yang sengaja pulang telat seperti kemarin. Merasa aman, Aldin melanjutkan perjalanannya menuju lift diikuti Nara.



"Ayo, masuk!" tariknya seraya merangkul tubuh Nara, pintu lift segera tertutup dan Aldin memencet lantai bawah tujuannya.


Aldin membawa tubuh Nara ke ujung sebelah kiri, dipeluknya erat sambil diciumi kepalanya.


"Kak, ada CCTV!" peringat Nara takut.

__ADS_1


"Jangan takut, sudut ini tidak terekam CCTV," sergahnya seraya melayangkan ciumannya ke bibir Nara. Namun belum juga mencium, pintu lift sudah terbuka. Aldin jelas sangat kecewa, dia sampai mengepalkan tangannya.


"Ayo keluar!" ujarnya meninggalkan Nara di belakang. Nara masih mengikuti dan sengaja menjauh dari Aldin seperti yang di isyaratkan Aldin tadi pagi.



Sementara masih di lantai tiga, Rifki yang masih di ruangannya menatap jelas ke bawah halaman kantor Adrian Wood. Rifki melihat Aldin dan Nara jalan beriringan.



"Bos Aldin dan Nara sepertinya sudah menjalin hubungan terlarang, keduanya semakin dekat. Apakah Nara tidak kasihan pada suaminya? Dasar perempuan mata keranjang!" duganya mengumpat kesal melihat iring-iringan antara Aldin dan Nara.



Rifki merasa kecewa akan kedekatan mereka yang selengket itu, sudah dua kali Rifki mengetahui Nara keluar dari ruangan Bosnya. Padahal tadi saat Rifki sengaja menghadap ke ruangan Aldin, Aldin seolah tidak tahu ke mana Nara, padahal dia tadi sempat mempertanyakannya.



"Aku bukan iri, tapi setidaknya Nara cukup dikagumi atau digoda biasa saja seperti aku, tidak lantas terjerembab ke dalam perselingkuhan. Bos Aldin, pintar tapi bodoh. Suaminya Nara juga kasihan dibodoh-bodohin Nara yang sok polos," gerutunya tambah kesal.




Sementara itu, saat Aldin tiba di mobilnya, dia bingung mencari Nara yang tidak ada di belakangnya, lantas Aldin menatap sekeliling halaman parkiran. Sepertinya Nara ada di parkiran motor. Aldin lupa memberitahu Nara bahwa motornya sudah diamankan orangnya ke apartemen.



Aldin mencoba menghubungi Nara, beberapa detik kemudian HP Nara diangkatnya. "Nara kamu di mana? Cepat datang ke sini ke mobilku?" perintah Aldin seraya langsung menutup telponnya. Beberapa menit kemudian Nara muncul dengan berlari kecil sambil memegangi dadanya. Nafasnya ngos-ngosan terengah.



"Aduhhh, kamu ini bagaimana sih, malah menghilang?"


"Nara tidak tahu kalau motor Nara sudah tidak ada Kak," alasan Nara sembari masih ngos-ngosan.


"Motormu sudah diamankan, cepat masuk!" titah Aldin kembali, seraya membukakan pintu mobilnya. Nara segera masuk dan menduduki jok mobil dengan tergesa-gesa sehingga tubuhnya terhempas menimpa tubuh Aldin. Dengan sigap Aldin menangkapnya.

__ADS_1


"Kamu rupanya sudah tidak sabar untuk segera sampai ke rumah, dan kita mengarungi kembali surga dunia seperti di kantor tadi?" seringainya sambil berusaha menggoda Nara dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Nara.


"Tidak, Kak. Nara barusan hanya terhempas karena buru-buru," kelit Nara segera bangkit dan membenarkan posisi duduknya.


"Ok, kalau tidak mau mengaku tidak apa-apa. Tapi, jangan harap nanti malam lepas dari aku dan menghindar dariku," ancamnya seraya memasang sabuk pengaman kemudian menyalakan mesin mobil. Perlahan mobil Aldin melaju meninggalkan halaman parkir pabrik, dan keluar dari gerbang pabrik membelah jalanan di kota itu yang mulai penuh sesak dengan kendaraan dari berbagai arah.



Saat menunggu kemacetan terurai, Aldin menyalakan Car Audio dan memutar CD di dalamnya. Terdengarlah nyanyian dari salah satu grup vokal Pasto, yang bertajuk 'Sayang', mengalir begitu saja dan menghanyutkan dua insan di dalam mobil ke dalam suasana yang romantis.



Jika berada dalam ruangan, ingin rasanya Aldin mengajak Nara berdansa, memeluk pinggangnya, dan menatap matanya dalam, dan jatuh cinta sedalam-dalamnya pada wanita di sampingnya yang kini sudah sah menjadi istrinya itu, musik Pasto ini rasanya pas untuk mereka berdansa saling mencurahkan rasa cinta satu sama lain.



Nara nampak terhanyut dan terbawa perasaan. Bayangan indah kebahagiaan bersama Aldin kini serasa di depan matanya. Tiba-tiba Aldin meraih jemari Nara, Nara langsung tersadar dari lamunan bahagianya. Aldin menatap Nara, pada saat itu juga Nara melihat ke arah Aldin. Detik itu juga tatapan keduanya bertemu antara si jutek dan si pemalu. Nara langsung membuang mukanya ke arah jendela dengan hati berdebar dan bibir tersenyum malu.



"Tataplah aku, jangan buang muka. Kamu masih malu sama aku padahal kita sudah beberapa kali melalui malam yang indah dengan saling bersentuhan kulit?" sapa Aldin membuat Nara semakin bertambah malu. "Ayolah!" tariknya mengarahkan tangan Nara ke arahnya. Otomatis tubuh Nara mengarah ke hadapan Aldin.



Aldin meremas tangan Nara dan menatap wajah cantik Nara yang malu-malu.


"Keinginan kamu apa?" tanya Aldin tiba-tiba. Nara terperangah bingung dengan pertanyaan Aldin yang tiba-tiba. Otak Nara seakan susah berpikir saat harus menjawab spontan pertanyaan Aldin barusan. Mata Aldin memberi isyarat, seolah mengulang pertanyaannya tadi.


"Ingin bahagia bersama Kak Aldin," jawab Nara lepas sesuai bayangannya tadi saat dia terhanyut dalam buaian musik Pasto yang masih diperdengarkan. Aldin tersenyum menyambut jawaban wanita di sampingnya.



"Seperti lagu Pasto ini, semoga kita, aku dan kamu akan selamanya saling sayang dan saling menjaga sampai maut memisahkan kita, kalau perlu kita sehidup, semati, sesurga," ucapnya penuh harap seraya menaik turunkan genggaman tangannya yang menggenggam tangan Nara. Sontak hati Nara berkata, "aamiin." Nara tersenyum menyiratkan kebahagiaan tiada tara.



"Tid, tid, tidddddd!" Tiba-tiba bunyi klakson bersahutan dari belakang mobil Aldin memekakkan telinga, Aldin dan Nara terkejut terlebih sebagian pengendara yang lain yang berjalan di samping mobil Aldin, menatap kesal seraya menggerutu.

__ADS_1



Aldin segera melajukan mobilnya setelah tadi terkejut dengan suara klakson dari belakang dan samping kanan kirinya. Corolla Crossnya kini membelah jalanan kota itu dengan perlahan menuju apartemennya.


__ADS_2