
Pagi tiba, Nara dan Aldin terbangun dari tidur dan malam panjangnya yang bahagia. Tangan Aldin yang melilit perlahan dilepaskan Nara. Sejenak dipandangnya wajah tampan pria di sampingnya itu penuh rasa bahagia.
"*Terimakasih sudah memilih Nara menjadi* *kekasih halal Kak Aldin, Nara bahagia dimiliki Kak* *Aldin. Walaupun awalnya jutek, tapi kejutekan Kak* *Aldin membuat Nara semakin jatuh cinta*," bisiknya dalam hati seraya melabuhkan ciuman di kening Aldin.
Tiba-tiba Aldin menangkap tubuh Nara sehingga terguling. "Kenapa tidak di bibir saja, beraninya mencuri ciuman tapi malah di kening," protes Aldin seraya memeluk tubuh Nara ke dalam dekapannya. "Hangat banget saat meluk tubuhmu. Rasanya aku malas pergi ke kantor," ucapnya lagi semakin kuat pelukannya.
"Kak, kita harus segera bangun. Harus mandi dan pergi kantor. Apalagi di luar ada tamu kita Kak Sakti dan keluarga. Apa Kak Aldin tidak ingat?"
Aldin tersentak seakan baru diingatkan.
"Ya ampun, Sakti," ujarnya baru menyadari bahwa di luar sana ada tamunya. "Ayo, kamu mandi duluan, nanti aku setelah kamu. Aku mau menghubungi seseorang dulu." Nara segera ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Tidak berapa lama, Nara keluar kamar mandi, kemudian Aldin segera masuk dan membersihkan diri.
Setelah keduanya selesai dan siap dengan baju kerjanya masing-masing, nuansa kantor pun kini terasa walaupun masih di dalam kamar. "Ini bawa, dan yang ini juga. Kamu tidak ke gudang dulu, kamu nanti langsung masuk kubikel yang telah disediakan Rifki. Saat di lobby kamu akan disambut Rifki."
"Baik, Kak." Nara segera menerima perintah Allah dari Aldin. Hari ini Aldin nampak sibuk, sembari memberi perintah pada Nara dia sibuk dengan telponnya. Sehingga tamu di luar kamar sudah bosan menunggunya.
"Al, lama banget sih. Kami harus segera kembali. Nafa ada pekerjaan dan aku juga sibuk dengan restoran. Dan lagi sebentar lagi aku mau ke kota Cemara, ada urusan sedikit di sana sambil melihat Mama,"
"Sorry, Sak, aku kesiangan. Kami tidurnya nyenyak." Aldin memberi alasan.
"Bilang saja kalian sedang menikmati malam pengantin baru sampai Subuh, jadi kesiangan bangun," ejek Sakti diimbuhi senyum jahil, Nafa ikut tersenyum jahil.
__ADS_1
"Ayo kalau sudah siap, kita pergi. Kita sarapan di tempat masing-masing saja," kelit Aldin membuyarkan kejahilan sepupunya.
"Naf, makasih ya sudah sudah datang dan menghiburku," ujar Nara sembari memeluk Nafa yang sedang menggendong baby Tifana. "Baby Tifana, sampai jumpa lagi nanti ya," ucapnya lagi sembari mencium baby Tifana juga Rafa yang sudah berada di samping Nafa. Anak sambung sahabatnya itu nampak sudah sangat akrab dengan Nafa sahabatnya, sehingga tidak terlihat kesan Ibu tiri dan anak tiri.
"Ok, tante, nanti kita ketemu lagi," balas Rafa sambil mencium tangan Nara. Akhirnya mereka keluar sama-sama dari apartemen Aldin menuju tujuan masing-masing.
Keluarga Sakti dan Aldin serta Nara keluar parkiran apartemen mewah beriringan, kemudian mereka berpisah di persimpangan jalan. Nara dan Aldin tetap lurus, sementara mobil Sakti dan keluarga belok kanan menuju kediamannya.
Lima belas menit kemudian Aldin tiba di kantor Adrian Wood, kemudian jeda lima menit seperti yang telah diatur Aldin, Nara memasuki gerbang pabrik dan motornya langsung ke arah parkiran. Di sana Nara sudah melihat mobil Shera terparkir. "*Pagi benar Mbak Shera*," heran Nara dalam hati.
"Nara, kamu diperintahkan Bos Aldin menempati ruangan baru, kamu langsung ke lantai dua dan menempati kubikel yang bersebelahan dengan ruangan HRD. Kamu tinggal. menempatinya," info Rifki tegas.
"Ohhh, iya, terimakasih Kak Rifki," ucap Nara seraya beranjak meninggalkan lobby menuju tangga. Nara memilih menaiki tangga untuk ke lantai dua dan segera ke kubikel yang ditunjukkan Rifki tadi, dibanding naik lift. Sepanjang perjalanan menuju kubikel, Nara berpikir keras tentang perubahan Rifki yang terlihat tegas dan jutek melebihi Aldin, suaminya.
Tiba di lantai dua, Nara segera mencari ruangan HRD. Tidak perlu waktu lama ruangan itu sudah terlihat dari mulut tangga. Nara segera bergegas dan menuju ke sana serta langsung ke kubikel yang dia tuju. "Ini rupanya!" serunya pelan seraya menuju meja di kubikel itu dan menyimpan tas beserta map yang diberikan Aldin tadi. Sejenak Nara bertegur sapa dengan teman sebelah kubikelnya, di lantai dua ini tidak banyak karyawannya hanya ada empat kubikel.
"Nara, kamu dipindahkan sementara ke sini oleh Pak Aldin, ya?" sapa HRD Mira menyapa Nara.
__ADS_1
"Iya, Bu. Hari ini saya di sini," jawabnya hormat.
"Ok, selamat bekerja, ya," ujarnya sambil berlalu.
"Terimakasih, Bu."
Nara hari ini memulai bekerja di meja dan kubikel baru. Dia segera mengerjakan map map yang diberikan Aldin tadi.
Sementara di gudang, Wira dan Doni heran dengan ketidakhadiran Nara di mejanya. "Kemana si Nara, kok tumbennya?" tanya pada Doni heran.
"Paling tidak masuk gara-gara keributan bersama Mbak Shera kemarin," sahut Doni yang sudah mengetahui keributan antara Shera dan Nara kemarin dari mulut ke mulut.
"Wahh, sepi juga sih kalau tidak ada dia, tidak ada yang bisa gue goda," ujarnya penuh sesal.
"Tapi, Wir, enak juga tidak ada dia, sebab tugas kita dari Mbak Shera akan berjalan lancar tanpa rasa was-was."
"Iya juga ya," ucap Wira setuju. Tanpa mereka sadari gerak-gerik mereka yang sebelumnya hampir tidak terekam CCTV, kini semuanya telah dalam pengawasan CCTV yang tentu letak CCTVnya tersembunyi.
Menjelang siang jam istirahat tiba, Nara mendapatkan pesan WA dari Aldin. "Sayang, kamu ke ruangan saya, sekarang!" titahnya. Nara segera membereskan mejanya dan meraih map yang tadi dia kerjakan untuk diserahkan pada Aldin. Bunyi WA kembali berdenting, Nara segera membuka HPnya kembali.
"Naiknya lewat lift saja, aku sudah menunggumu di lift bawah, kamu langsung masuk saat lift terbuka!" titahnya lagi. Nara segera menjalankan perintah Aldin dengan cepat.
Tiba di muka lift yang pintunya segera terbuka Nara langsung masuk disambut Aldin dengan muka yang begitu rindu. "Ayo masuklah," ujarnya dan segera menutup pintu lift lalu menekan tombol menuju lantai tiga. Aldin menatap Nara dari atas sampai bawah, sementara Nara yang ditatap nampak sangat malu dan menunduk.
Tanpa terasa lift tiba di lantai tiga, suasana lantai tiga sudah sangat sepi. Aldin dan Nara segera menuju ruangan Aldin. Mereka masuk dan Aldin mengunci otomatis ruangannya. Hanya mereka berdua di ruangan itu. Nara melihat ke arah meja dan sofa, rupanya di sana sudah tersedia makan siang untuk berdua.
"Simpanlah map itu di mejaku!" titahnya. Nara tidak membantah dia segera meletakkan map-map yang telah dia kerjakan tadi. Saat Nara meletakkan semua map di meja Aldin. Tiba-tiba Aldin memeluk Nara dari belakang dan memberikan ciuman di pipi Nara. "Aku kangen kamu," ucapnya tidak berhenti mencium pipi Nara.
__ADS_1
Nara mencoba menepis, namun Aldin malah merembet pada bibir Nara. Untuk beberapa saat keduanya larut dalam ciuman itu. Lama dan seakan tidak ingin dilepaskan. Setelah kehabisan oksigen Aldin baru melepaskan ciuman itu.