
Nara dan Aldin masih terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi. Kedatangan pihak Polisi yang tiba-tiba dan bertujuan menggrebeknya, sangat disayangkan dan tidak masuk akal. Aldin yakin dalang di balik penggerebekan ini bermotif sakit hati. Dan kesimpulan Aldin, si Pelapor menunggu momen dirinya berduaan bersama Nara, kemudian melaporkan kepada pihak Kepolisian.
Namun Aldin tidak gentar, hatinya tertawa di balik penggerebekan ini. Ini sangat lucu baginya, disaat dirinya sedang berduaan dengan pasangan sahnya, dengan maksud menenangkan kesedihan Nara akibat menerima perlakuan kurang ajar seseorang yang belum dia ketahui siapa orangnya, mereka malah menerima perlakuan sebaliknya.
Penggerebekan ini sangat ironis dan terbilang berani, sebab jika yang melaporkan ini adalah orang dalam makan dia begitu tidak gentar menghadapi seorang pemilik perusahaan yang sengaja ingin dijebloskannya ke penjara atau dipermalukan di depan semua karyawan dan pihak berwajib. Namun jika yang menjadi pelapor adalah pihak luar, Aldin menjadi tanda tanya motif apa sebenarnya yang menjadi tujuan mereka melaporkan keberadaan Aldin bersama Nara di dalam satu ruangan.
"Lihat saja, akan aku tantang kalian dan ku laporkan balik atas pencemaran nama baik," guman Aldin dalam hati.
"Sebentar Pak, apa motifnya sehingga Bapak dari pihak Kepolisian ingin menangkap saya? Apa dasarnya, dan dari mana Bapak tahu bahwa saya saat ini sedang bersama seorang perempuan dalam satu ruangan?" Aldin bertanya sebelum dirinya membuka rahasia sebenarnya. Aldin akan mempermalukan orang yang telah melaporkannya di depan Polisi yang saat ini menggerebeknya.
"Siap, kami mendapatkan tugas dari Komandan kami atas laporan seseorang beberapa hari yang lalu. Bahwasanya Pak Aldin selaku pemilik perusahaan ini telah melakukan tindakan asusila di kantornya sendiri. Yakni, sering memasukkan seorang perempuan ke dalam ruangannya dan berduaan dengan waktu yang lama di dalam ruangannya." Pak Polisi yang bername tag Irfan itu melaporkan dengan jelas.
"Baik, saya terima dengan lapang dada laporan Bapak terhadap saya, dan silahkan jika Bapak Kepolisian ingin menangkap saya atau mempermalukan saya di depan orang-orang. Namun sebelum Bapak-bapak dari pihak Kepolisian melakukan itu, ada baiknya Bapak-bapak mendengar penjelasan saya," tutur Aldin tenang, sedikitpun dia tidak merasa takut.
"Dan sebelum saya ditangkap atas dasar laporan seseorang, ada baiknya saya menghubungi Pengacara saya terlebih dahulu. Untuk memastikan status saya nantinya."
"Baik, silahkan Pak Aldin. Kami tidak keberatan," ujar Pak Irfan setuju atas syarat Aldin. Kemudian Aldin menghubungi Pengacara juga Pak RT dan kedua saksi saat dirinya menikah, beserta surat nikah siri yang ditandatangani kedua belah pihak.
__ADS_1
"Silahkan tangkap saya, tapi apakah wajar jika saya ditangkap atas dasar berduaan dengan seorang perempuan dan dituduh sedang berbuat asusila, sedangkan perempuan itu merupakan istri sah saya sendiri?" tanya Aldin begitu santai. Untuk beberapa detik semua yang berada di sana tiba-tiba melongo dan kaget, tidak percaya dengan apa yang Aldin katakan barusan.
"Tunggu dulu, apa maksud Anda?" Pak Irfan bingung menatap Aldin untuk meminta jawaban yang jelas dan pasti. Shera beserta yang lain ikut melongo dan ternganga, mereka jelas tidak percaya sama sekali. Rifki yang tadi sempat merasa ikut puas karena penggerebekan ini, merasa bersalah seketika atas kesalahpahamannya menilai Aldin dan Nara yang ternyata mereka berdua adalah pasangan suami istri yang sah.
"Benarkah Pak Aldin dan Nara sudah menikah, jadi mereka berdua diam-diam menikah tanpa sepengetahuan orang lain termasuk aku? Tapi kenapa harus disembunyikan? Apakah ada rahasia rahasia lain?" guman Rifki bertanya-tanya.
"Kalau benar, itu artinya selama ini aku sudah menuduh mereka yang tidak-tidak dan sempat menggoda Nara sebelum aku memergoki mereka berduaan dari ruangan Bos Aldin?" Rifki masih diliputi gelisah sebab dugaannya selama ini salah tentang Aldin dan Nara jika memang mereka benar-benar pasangan suami istri.
"Lihatlah kalau kalian tidak percaya, saya ada bukti yang valid berupa foto, bahwa kami benar-benar telah menikah secara agama di kediaman orang tua Nara. Kami berdua menyimpan foto di masing-masing Hp. Silahkan ambil HP saya juga HP **ISTRI** saya Nara." Aldin menyodorkan Hpnya kemudian dia masuk ke dalam kamar di ruangan kerjanya, menghampiri Nara dan meminta HP Nara.
"Sayang, aku minta Hpmu sebentar untuk memperlihatkan foto-foto pernikahan siri kita saat di rumahmu, kita perlihatkan pada mereka bahwa kita tidak salah. Dan lihat saja saja siapa yang berani bermain- main dengan kita, maka dia akan akan tahu akibatnya." Aldin meraih HP yang diberikan Nara yang saat itu masih menunduk dan menangis.
"Kamu yang sabar ya, setelah ini aku yakin mulut mereka akan bungkam sendiri dengan melihat foto-foto pernikahan kita," ujar Aldin, sejenak dia melihat Nara dan prihatin dengan keadaan Nara yang sepertinya sangat malu dan shock atas kejadian yang menimpa dirinya hari ini.
__ADS_1
Aldin keluar kamar lalu memberikan Hp Nara pada pihak Kepolisian. Salah satu perwakilan dari pihak Kepolisian yang pahan akan IT menerima Hp Aldin dan Nara untuk diperiksa apakah foto itu asli atau editan semata.
"Melihat dari tanggal dan keseluruhan foto antara keduanya, dinyatakan bahwa foto pernikahan tersebut asli dan terjadi pada tanggal tertera di sana. Foto pernikahan ini terbukti bukan palsu atau editan." Pak Rivai sebagai pakar yang ahli dalam IT, menjelaskan dan menyimpulkan penemuannya, bahwa dia pernikahan Aldin dan Nara benar adanya.
Semua yang berada di sana sontak saling pandang dan terkejut, muka-muka kecewa hadir di sana termasuk Shera yang notabene merupakan orang yang melaporkan Aldin dan Nara pada pihak kepolisian. Shera seketika nampak gelisah, rasanya dia ingin pergi saja dari ruangan Aldin yang baginya sudah mulai memanas.
"Jadi apa yang bisa Anda simpulkan dari kedua foto yang dilihat dari Hp saya maupun Hp istri saya?" tegas Aldin balik kesal.
"Kami sebagai pihak yang mendapatkan laporan, memohon maaf atas tindakan kami yang telah gegabah menerima laporan begitu saja tanpa kroscek terlebih dahulu," ujar Pak Irfan merasa bersalah dan menyesal. Kemudian Pak Irfan mengarahkan matanya ke arah Shera dengan tajam.
"Nanti dulu Pak, bisa jadi itu rekayasa. Bapak jangan percaya dulu sebelum orang yang menikahkan dan saksi nikahnya datang kemari," sergah Shera belum puas.
Baru saja Shera berkata seperti itu. Rombongan orang-orang yang tempo hari pernah menikahkan dan menjadi saksi pernikahan Aldin dan Nara termasuk kedua orang tua Nara datang disaat yang tepat. Melihat itu Shera melongo mati kutu.
Bersambung
__ADS_1