Mendadak Menikah dengan Pria Jutek

Mendadak Menikah dengan Pria Jutek
Siasat Shera


__ADS_3

Shera mengepalkan tinjunya saat Aldin pergi meninggalkan meja Nara. Dia kesal dan benci melihat perhatian Aldin kepada Nara. Setiap ke meja Nara, Aldin selalu memberi tugas dan map. yang selalu dikerjakan Nara. Lantas kerjaan Shera sebagai Sekretaris apa? Sejak Nara ada, Shera merasa posisi pentingnya digeser Nara yang menurut Shera gampangan dan murahan.



"Lihat saja, apa yang bisa gue lakukan sama lu, Nara dan Aldin. Jika elu memperlakukan gue begini, maka hari inilah saatnya gue beraksi membongkar hubungan terlarang kalian. Dasar muka sok polos dan sok suci, MUNAFIK!" dengusnya sambil memukul tangannya ke tangga.


"Lihat saja siasat gue!" dengusnya lagi seraya berjalan menuju tangga bermaksud ke lantai tiga.


Jam menunjukkan pukul 11.55 Wib. Lima menit lagi jam 12 pas. Nara sudah selesai dengan tugasnya dan mulai membereskan mejanya. Seperti yang dititahkan Aldin tadi, jam istirahat dia harus ke ruangan Aldin untuk menyerahkan map yang sudah dikerjakannya.



Nara mengatur waktunya menunggu para karyawan lain pergi ke kantin. Setelah jam 12.05 wib Nara bersiap-siap akan ke ruangan Aldin. Saat Nara mau melangkahkan kakinya dari kubikelnya, Tiba-tiba tubuhnya ditahan Shera sehingga Nara kembali mundur menuju mejanya.



"Elu pasti mau ke ruangan Bos Aldin ya, mau apa lu ke sana?" tanya Shera basa-basi.


"Saya mau memberikan map ini untuk Pak Aldin Mbak," jawab Nara seraya menatap Shera heran, karena Shera terus mepet dan hampir mendorongnya ke tembok.


"Anak emas! Mau memberikan map sekalian memberikan tubuh elu, ya? Tidak heran lagi sih sudah bisa ditebak. Di luar kelihatan alim tapi dalamnya liar jualan apem," tandasnya membuat Nara terbelalak tidak percaya.



"Apa, elu nggak terima? Mau melotot ke gue? Mau nyangkal apa yang gue omongkan ini? Elu nggak bisa nyangkal sebab elu emang benar murahan, jual tubuh di atas ranjang kantor Bos Aldin. Ihhhh jijik, murahan!" tandasnya lagi ingin puas sampai membuat Nara mukanya memerah dan ingin menangis, akan tetapi berusaha Nara tahan.



"Jaga ya mulut Mbak Shera, jangan menuduh saya yang tidak-tidak. Kalau tuduhan Mbak tidak benar, maka Mbak sudah termasuk pencemaran nama baik dan penghinaan terhadap diri saya. Nasib baik saya masih bisa menahan dan diberikan kesabaran sehingga tangan saya tidak melayang di muka Mbak yang cantik karena tebal make up itu," ujar Nara memberikan pembelaan pada dirinya sendiri dengan suara yang bergetar.


__ADS_1


"Alah, sok membela diri padahal benaran murahan, cewek gampangan kayak elu mana mau ngaku, dasar munafik padahal lebih hina dari wanita malam yang jelas-jelas jual diri di perempatan jalan. Diumpetin juga ketahuan," dengusnya seraya tangan sebelah kanannya mengaitkan rok kerja Nara pada sebuah paku yang nempel di dinding tembok itu, tapi tidak disadari Nara. Setelah menghina Nara, Shera pergi seraya mengacungkan jari tengahnya.



Nara terhenyak dan menangis tertahan mendengar penghinaan Shera. Untuk sementara Nara berdiri terpaku, shock mendengar kata-kata Shera yang kasar barusan. Nara menyusut air matanya yang kini mulai tidak tertahan. Rasa sakit hati akibat ucapan Shera barusan, rasanya lebih sakit dari sembilu yang menancap ke ulu hatinya.



Sementara Shera yang masih mengintip di balik tembok sudah tidak sabar melihat adegan Nara selanjutnya. Dia tersenyum puas melihat Nara shock dan menangis atas kata-katanya tadi, Shera masih setia menunggu dengan seringai licik dan siasat yang telah disiapkannya.



Shera masih setia melihat adegan dari Nara selanjutnya.


Sementara itu, Nara yang masih menyeka air matanya dan merasa sangat sedih, segera beranjak dan berlari kecil bermaksud ke ruangan Aldin seperti apa yang Aldin perintahkan tadi. Namun entah kesialan apa lagi yang menimpa Nara, baru saja beranjak dan berlari kecil, tiba-tiba Nara dikejutkan dengan bunyi kain sobek.


"Berebekkkk," bunyi panjang itu menahan langkah Nara seketika. Nara sontak menoleh ke arah belakang bunyi itu. Alangkah terkejutnya Nara, rupanya bunyi itu berasal dari sobekan rok kerjanya Nara persis dari samping, setinggi dari lutut sampai pahan. Nara terbelalak seketika. Saat itu juga Nara menangis dan lemas, dia terduduk dan menangis di lantai.




Sementara itu Aldin yang sedang menunggu Nara, sudah kesal karena Nara sudah jam 12.15 menit tidak muncul-muncul. "Ke mana sih kamu, ditunggu jam 12.05 malah ngaret," gerutu Aldin kesal dengan ketidaktepatan Nara. Akhirnya Aldin berinisiatif menghubungi Nara.



"Nara, kamu di mana, kok lama?" tanya Aldin seraya melihat makanan yang telah siap di meja, seakan khawatir akan dingin jika Nara masih belum muncul juga. Pertanyaan Aldin di telpon hanya mendapat jawaban sebuah isakan tangis dari Nara. Aldin sontak terkejut.



"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aldin masih di telpon. Nara masih terisak yang masih didengar Aldin. Aldin heran, lantas dia segera berlari keluar ruangannya dan menuruni tangga untuk ke ruangan Nara. Tiba di kubikel Nara, Aldin tersentak dan segera jongkok meraih Nara yang terduduk di lantai.

__ADS_1



"Naraaa, kenapa?" Aldin berteriak seraya memegang bahu Nara. Ditatapnya Nara yang sontak memeluk Aldin dengan isakan tangis yang menyayat. Aldin perlahan membawa tubuh Nara dan mengangkatnya. Aldin tidak ingin berlama-lama di kubikel Nara dengan keadaan begini, alangkah baiknya dia segera membawa Nara ke ruangannya.



"Ayo, lebih baik menangis dan jelaskan di ruanganku." Tapi Nara dengan cepat menunjuk roknya yang sobek yang masih tertahan di paku. Aldin kaget kenapa rok Nara bisa sobek dan ngait di paku dinding itu. Aldin melepaskan rok Nara dari paku lalu segera mengangkat tubuh Nara.



Aldin tidak sabar membawa Nara ke ruangannya meskipun Nara masih menangis. Dia tidak nyaman membiarkan Nara nangis di mejanya. "Ayo!" Aldin menarik Nara keluar dari kubikelnya dan berjalan memasuki lift ke lantai tiga.



Nara berjalan mengikuti Aldin dengan tertatih, dengan tangan kiri menahan roknya yang sobek dari lutut sampai paha. Walaupun Nara masih memakai celana rangkep setelah CDnya, namun Nara tetap malu dia seakan terhina dengan perlakuan Shera tadi.



Tiba di ruangan Aldin, tidak kuasa Nara menahan tangisnya, Nara langsung memeluk Aldin dan menangis dipelukan Aldin. Perlahan Aldin membawa Nara ke dalam kamar di ruangannya, mendudukkan Nara dan berusaha menenangkannya. Aldin masih setia membiarkan Nara menangis daripada menanyainya dulu.



Adegan seperti ini rupanya sudah dinantikan Shera. Shera dengan seribu rencananya kini beraksi. Dalam kayu hitungan detik satu persatu pihak kepolisian telah berada di depan ruangan Aldin dan siap menggerebek kebersamaan Aldin dan Nara yang di anggap Shera punya hubungan diluar batas. Shera nekad melaporkan penemuan tentang Bosnya kali ini ke Polisi yang notebene Aldin adalah pemilik perusahaan Adrian Wood.



"Jangan bergerak, kalian sudah terkepung dan tidak bisa mengelak lagi. Kalian sudah menjalin hubungan tidak sehat di ruangan kantor ini, sementara kalian bukan pasangan sah, kalian merupakan atasan dan bawahan, akan tetapi interaksi kalian seakan bukan antara atasan dan bawahan," tegas seorang Polisi berpakaian preman menuding Aldin dan Nara. Mereka dengan mudah bisa masuk ke ruangan Aldin sebab Aldin tadi tidak mengunci otomatis kembali pintunya.



Aldin sontak terkejut dan melotot tidak percaya. "Sebentar Pak, apa yang Bapak lakukan, kenapa kalian tiba-tiba menggrebek kami?" tanya Aldin kaget. Nara yang tengah menangis sontak terkejut juga sangat ketakutan.

__ADS_1



Shera yang menjadi dalang utama peristiwa penggrebekan itu, tersenyum penuh kemenangan. Dia yakin nama Aldin dan Nara buruk saat itu juga. Sementara Rifki yang sudah berada di sana ikut kaget dan bingung dengan kejadian yang tidak pernah terpikir olehnya, meski sisi lain hatinya merasa puas juga hubungan gelap antara Nara dan Aldin tercium Polisi. Namun demikian Rifki bukan membenci orangnya melainkan benci dengan kelakuan keduanya, mungkin penggrebekan ini teguran bagi Aldin dan Nara. Pikir Rifki.


__ADS_2