Mendadak Menikah dengan Pria Jutek

Mendadak Menikah dengan Pria Jutek
Akhir dari Sebuah Kecurangan


__ADS_3

"Mbak Shera, gara-gara Mbak Shera mengajak kami bekerjasama, akhirnya kami dijebloskan ke penjara. Kami tidak terima, kembalikan kami pada Bos Aldin. Gara-gara Mbak Shera kami kehilangan pekerjaan," sungut Wira menyalahkan Shera.



"Kenapa menyalahkan aku, bukankah kalian punya otak untuk mikir. Jika kalian bisa mikir yang jernih maka kalian tidak tergiur dengan ajakanku. Dasar kalian, dalam otaknya hanya duit saja. Giliran terciduk malah nyalahin gue." Shera mengejek balik tuduhan Wira, dia tidak terima disalahkan begitu saja.



"Cepat bawa Pak, jebloskan dia ke penjara," usir Aldin tegas seraya mendongak ke dalam mobil Polisi yang sudah dimasuki Shera, Doni dan Wira. Tidak lama dari itu mobil Polisi yang berbunyi khas ambulans, pergi secepat kilat meninggalkan halaman perusahaan Adrian Wood.



"Kak Aldin!" Panggilan Nara menyadarkan Aldin dari fokusnya pada mobil Polisi yang berlalu. Aldin menoleh seraya menghampiri Nara yang tersenyum padanya.



"Ayo, kita masuk ke dalam ruangan. Aku ada hal yang ingin dibicarakan." Aldin menarik lengan Nara dengan lembut.


"Apakah tentang pekerjaan?" tanya Nara penasaran.


"Tentu saja dong sayang, apakah kamu mau membicarakan hal lain selain pekerjaan?" goda Aldin seraya menautkan jemarinya di jemari Nara.


"Ahh, tidak Kak. Ini kantor, bicaralah hal formal-formal saja," hindar Nara merasa ketakutan.


Keluar dari lift, Nara dan Aldin seakan lupa melepaskan Jemari mereka yang saling bertaut. Sampai mereka berpapasan dengan Rifki dan pegawai lain, mereka tidak menyadarinya. Malah yang menjadi tersipu malu bukan mereka melainkan orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka.



Saat Rifki berpapasan dengan Aldin dan Nara, Rifki menatap penuh rasa bersalah, mengingat dirinya pernah merasa tidak suka dengan kedekatan Aldin dengan Nara. Dan saat semuanya jelas, Rifki hanya bisa menyesali perbuatannya, karena telah salah menila antara Aldin dan Nara.



"Rif, aku tunggu di ruanganku!" perintah Aldin pada Rifki. Dengan hormat Rifki mengangguk seraya bergegas menuju ruangannya untuk mengambil berkas yang akan dilaporkannya pada Aldin.



Sepuluh menit kemudian, Rifki tiba di ruangan Aldin. Di sana sudah ada Nara yang duduk di sofa ruangan Aldin yang sedang memeriksa sebuah map. Nara melihat ke arah Rifki sejenak dan begitupun Rifki. Saat mereka saling bertemu tatap, Rifki langsung menunduk memberi hormat pada Nara. Nara nampak bingung dengan sikap Rifki yang tidak biasa.


__ADS_1


"Bos, terus langkah kita selanjutnya apa? Gudang harus segera diisi dua pegawai pengganti Doni dan Wira," usul Rifki sembari menatap sejenak Bosnya itu.



"Iya, aku sedang memikirkan itu. Dan menurutmu pegawai yang pantas menduduki gudang siapa, ya? Laki- laki atau perempuan.


"Kalau boleh saran sebaiknya laki-laki dan perempuan saja, Bos, biar seimbang." Rifki. kembali memberikan usulnya yang langsung diangguki Aldin.


"Lantas bagaimana dengan Om Dana? Apakah Om Dana juga akan segera ditangkap?"


"Itu jelas. Dan kasus ini sudah ditangani oleh Pak Barata selaku pengacara dari Perusahaan Adrian Wood."


Akhirnya setelah semua orang yang melakukan kecurangan terhadap Perusahaan Adrian Wood, termasuk Om Dana Permana ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara, keadaan perusahaan Adrian Wood berjalan sebagai mana mestinya.



Hari ini Aldin menghadiri sidang putusan vonis untuk keempat tersangka di Pengadilan Negara. Hukuman yang divoniskan pada masing-masing tersangka cukup ringan. Yaitu Shera dan Om Dana Permana dijatuhi hukuman kurungan dua tahun penjara berikut denda. Sedangkan Wira dan Doni hanya satu tahun.



Semua keputusan tidak ada yang naik banding atau protes, semua pihak seakan-akan menerima putusan tersebut. Sebetulnya vonis hukuman itu cukup ringan, dibandingkan tuntutan hakim. Sehingga tanpa protes pihak tersangka baik Shera dan Om Dana, maupun Wira dan Doni.




Mereka bertiga digiring ke gudang oleh pihak HRD dan ditempatkan di bagiannya masing-masing. Dua orang laki-laki di bagian yang dulu dikerjakan Wira dan Doni. Sementara satu orang perempuan bernama Syafa, ditempatkan di bagian yang dulu pernah Nara tempati.



"Nah Syafa, kamu di kubikel ini. Dan ini meja kamu. Tugas kamu tertuang di sini. Jika kamu masih belum paham, maka kamu bisa tanya pada Dion di depan," Ujar HRD Mira memberitahu.



"Ok, selamat datang untuk kalian bertiga sebagai bagian dari keluarga besar Adrian Wood. Misi kerja di sini, jujur dan bisa dipercaya. Jadi kalian bekerjalah dengan baik dan jujur, serta tidak lupa kalian sebelum bekerja harus dibarengi doa sesuai agama kalian masing-masing," ujar HRD Mira masih memberikan arahannya.



Dua minggu berjalan setelah penangkapan Shera, Wira dan Doni. Adrian Wood semakin menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Aldin sebagai pemilik perusahaan merasa bangga atas pencapaian dan dedikasi para karyawannya, sehingga tidak tanggung-tanggung bulan berikutnya Aldin memberikan bonus pada semua karyawan atas prestasi ini.

__ADS_1



"Wah, perusahaan kini dalam keadaan yang sangat baik, Bos. Terus kapan nih makan-makannya untuk kami?" ujar Rifki diselingi canda.



"Kau ini jangan khawatir, kau fokus saja dengan pembangunan kafemu itu Rif, itu bonus utamamu. Untuk bonus kedua adalah para karyawan diundang makan-makan saat resepsi pernikahan kami digelar minggu depan," ujar Aldin sengaja mewawarkan rencana pernikahannya bersama Nara minggu depan. Sontak Rifki yang mendengar berita gembira ini, bersorak gembira.



"Selamat, Bos. Akhirnya Bos dan Nara eh maksudku Nyonya Aldin akan segera meresmikan pernikahannya secara negara. Kami sangat senang dan turut gembira," ujar Rifki benar-benar atusias.



"Kak Rifki, janganlah terlalu formal menyebut nama Nara. Kenapa tidak seperti biasanya saja memanggil Nara, kan itu lebih enak dan santai, bukan?" protes Nara pada Rifki.



"Kalian berdua sekarang adalah Bos kami, jadi panggilan Nyonya Aldin adalah sebagai bentuk hormat kami pada kalian, suka atau tidak suka," ucap Rifki memaksa. Nara hanya menatap sambil tersenyum ke arah Rifki dan pasrah saja dirinya kini dipanggil dengan sebutan yang lebih formal.



Sementara itu di gudang, keadaan gudang dalam keadaan kondusif. Semua pegawai termasuk Syafa bekerja dengan sangat baik.



"Syafa, kamu dipanggil ke ruangan Pak Rifki, sekarang!" ujar Dion pada Syafa pegawai baru. Gadis manis, berperawakan sedang itu dengan sigap segera berlari menuju ruangan Rifki.



Sambil membawa map yang dipegangnya, Syafa berlari kecil menuju tangga. Dia belum berani naik lift karena tidak biasa. Saat berlari kecil, ternyata Syafa tidak melihat ke depan sehingga tubuhnya tiba-tiba bertabrakan dengan seseorang.



"Kamu, ceroboh sekali ya!" umpat Rifki yang ternyata dia yang bertabrakan dengan Syafa. Syafa terkejut sebab yang ditabraknya adalah Rifki sang Asisten Bos yang hendak Syafa temui di ruangannya.



"Maaf Pak, saya tidak sengaja. Saya tidak melihat saking buru-buru. Tadinya saya mau memberikan ini pada Bapak, berhubung sekarang saya bertemu Bapak, mungkin sekalian saja map ini saya berikan di sini pada Bapak," ujaf Syafa enteng.

__ADS_1



"Enak saja, kamu harus antarkan ini ke ruangan saya. Tunggu saya di sana!" perintah Rifki yang tidak bisa dibantah Syafa.


__ADS_2