Menerima Cinta Waria Tampan

Menerima Cinta Waria Tampan
Merasa Bodoh


__ADS_3

“Yan, gue tuh minta Morgan ke sini, buat benerin keran shower kamar mandi gue yang rusak. Jangan gara-gara itu, lo jadi marah begitu sama dia!” bentak Alya, yang benar-benar tidak menginginkan keributan di antara mereka.


“Gak perlu. Gue udah benerin keran shower lo tadi. Jangan pernah lo bawa dia lagi ke sini!” ujar Rian dengan amarahnya yang sudah mulai meledak.


Alya menghela napasnya dengan panjang, karena ternyata permasalahan tentang shower, sudah selesai.


Sekarang, tinggal permasalahan tentang kedua kubu yang berbeda ini, membuat Alya semakin pening melihat mereka.


Morgan memandang sinis ke arah Rian, “Apa hak lo ngelarang gue ke sini? Alya aja gak ngelarang gue, kok!” ujarnya sinis, membuat Rian semakin geram mendengarnya.


“Selama gue masih ada di sini, Alya masih tanggung jawab gue. Gue gak bisa kasih izin siapa pun masuk ke ruangan ini. Gue juga gak akan biarin Alya pergi sama siapa pun, terutama sama lo! Kalau gue tau Alya pergi sama lo tadi, gue gak akan kasih izin sama sekali!” ujarnya dengan sinis, membuat Morgan merasa sangat kesal mendengarnya.


“Memangnya lo siapa, hah? Suaminya Alya?” tanya Morgan sinis, membuat Alya mendelik kaget mendengarnya.


Tinggal sekali ucapan lagi, mungkin hubungan mereka akan terbongkar. Alya sama sekali tidak menginginkan hal itu, dan ia sangat menjaga hubungan anehnya dengan Rian.


‘Jangan sampai Morgan tau!’ batin Alya, yang merasa sangat khawatir dengan hal itu.


Alya menarik tangan Rian untuk masuk ke dalam apartemennya, “Ayo masuk!” bentak Alya kesal, yang lalu segera menutup pintu apartemennya.


Melihat kejadian itu, Morgan sangat kaget. Secara tidak langsung, Alya sudah mengusirnya dari tempat ini.


Morgan menghela napasnya dengan panjang, “Kenapa lo tinggal serumah sama Rian? Memangnya Rian siapa lo? Apa bener, Rian pengganti dari Dion?” gumam Morgan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Hati yang lain membantah, “Ah, kalau memang mereka ada sesuatu, kenapa Alya gak nolak pas tadi gue cium dia?” gumamnya lagi, sembari tetap bertanya-tanya dengan keadaan.


Semua masih menjadi misteri.

__ADS_1


Di dalam sana, Alya menarik Rian menuju sofa. Mereka duduk berhadapan, dengan Alya yang merasa kesal memandang ke arah Rian.


“Lo kenapa, sih? Kenapa lo sampai bilang begitu di hadapan Morgan? Kenapa lo malah kasih tanda ke dia, kalau hubungan kita ini lebih dari sekadar rekan kerja? Apa lo mau hancurin reputasi gue, hah?” bentak Alya, yang kesal dengan sikap Rian kepadanya.


Rian memandangnya dengan tegas, “Memangnya kenapa kalau dia tau hubungan kita? Bagus, dia jadi sadar diri dan gak akan pernah deketin lo!” bentak balik Rian, membuat Alya mendelik kesal mendengarnya.


“Ya lo bakalan ngancurin reputasi gue, lah! Gimana kalau Morgan tau, dan hancur nama baik gue di depan netizen? Gue gak akan bisa cari uang lagi, dan gak akan bisa jadi artis terkenal!” bentak Alya, yang sudah merasa kesal dengan sikap Rian.


Dalam hatinya, Rian memang tidak ingin melakukan hal itu. Ia tidak ingin menghambat jalan Alya, menuju kesuksesannya. Namun, ia juga tidak ingin melihat Alya dekat dengan lelaki mana pun, terutama Morgan.


“Gue gak ngehalangin lo, kok! Gue cuma gak suka, kalau lo deket sama lelaki lain, terutama Morgan! Semuanya udah gue lakuin buat lo, kenapa lo masih aja kurang, dan nyari perhatian ke orang lain?” teriak Rian, membuat Alya mendelik kaget mendengarnya.


“Siapa yang nyari perhatian ke orang lain? Bukannya lo yang melakukan hal aneh sama cewek lain?” tanya sinis Alya, membalikkan keadaan ke arah Rian.


Rian mendelik, karena ternyata alasan Alya melakukan hal ini, ada hubungannya dengan hal tersebut.


“Al, harus berapa kali lagi sih gue jelasin sama lo? Gue sama Rachel gak ngapa-ngapain! Gue udah minta maaf, dan lo juga udah banting gue kemarin. Sekarang, apa lagi? Gue beneran gak melakukan apa pun sama dia! Di ruangan lo ada CCTV, lo bisa cek kalau masih kurang percaya sama gue!” bentak Rian, sontak membuat Alya mendelik kaget mendengarnya.


Alya merasa bodoh, karena ia sampai lupa hal sepenting itu.


‘Gue bodoh banget! Kenapa gue gak inget kalau ada CCTV? Gue ‘kan ... bisa cek kebenarannya dari situ! Gue juga gak perlu marah-marah ke Rian, kalau memang ternyata Rian gak melakukan semua hal itu!’ batin Alya, yang memaki dirinya sendiri dengan kasar.


Alya menghela napasnya dengan panjang, karena ia sudah melakukan kesalahan fatal.


Berciuman dengan Morgan untuk membalaskan dendam pada Rian, ternyata Rian sama sekali tidak melakukan hal yang ia kira itu.


Alya benar-benar sudah merasa kesal dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


‘Kenapa gue bodoh banget? Gue mau aja dicium Morgan, karena gue pikir Rian juga udah ciuman sama Rachel. Kenapa gue gak periksa dulu kebenarannya, dan malah ambil tindakan bodoh kayak gitu, ya?!’ batin Alya, kesal dengan dirinya sendiri.


Rian menghela napasnya dengan panjang, “Gue gak suka lo deket sama Morgan. Jangan begitu lagi,” ujarnya, membuat Alya memandangnya dengan tajam.


“Memangnya, apa alasan lo ngelarang gue buat gak deket sama siapa pun, terutama Morgan?” tanya Alya, penasaran dengan jawaban Rian.


“Gue suami lo, Al. Meskipun kita nikah gak pakai cinta, tapi gak harus begini kejadiannya. Lo boleh deket sama siapa pun, kalau seandainya gue ceraikan lo,” ujar Rian, membuat Alya mendelik kaget mendengarnya.


Rasa traumanya akan kata cerai, kembali muncul. Ia teringat dengan ibunya, yang sebelum meninggal sudah lebih dulu bercerai dengan ayahnya.


Tentu saja itu semua karena paksaan keempat istri lainnya, sehingga membuat ibunya Alya menandatangani surat perceraian, yang sudah mereka urus untuknya.


Alya menunduk, menggelengkan kecil kepalanya karena tidak bisa menerima kata cerai.


Kata cerai itulah, yang membuat ibunya frustrasi, dan akhirnya bunuh diri karena tekanan dari keempat istri lainnya.


Alya tidak ingin terulang kembali, dan tidak ingin menyandang gelar janda.


“Gue gak mau!” teriak Alya, sembari memegangi kepalanya.


Alya kehilangan kendali, saking kerasnya ia berpikir tentang hal yang menimpa keluarganya itu. Ia tidak akan membiarkan apa yang terjadi pada ibunya, terjadi juga pada dirinya.


“Gak!!” teriak Alya lagi.


Rian yang melihat keadaan Alya yang seperti itu, mendelik kaget dan segera berpindah ke sebelah tempat duduk Alya.


Rian memeluknya dengan erat, berusaha menenangkan Alya yang sedang tak terkontrol itu.

__ADS_1


“Alya! Alya!” pekik Rian, sembari berusaha memeluk Alya dengan sangat erat.


Alya terus menjerit, dengan tangan yang terus menarik rambutnya dengan keras. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya, karena semua yang terjadi pada ibunya, selalu terlintas di benaknya.


__ADS_2