Menerima Cinta Waria Tampan

Menerima Cinta Waria Tampan
Batasan Untuk Alya


__ADS_3

Air matanya menggenang tiba-tiba, merasa sangat sedih mendengar semua yang Rian lakukan untuk meminta maaf padanya.


Rian melihat semuanya, air mata tersebut membuat hatinya gemetar, saking tidak ingin melihat Alya menangis lagi.


Itu adalah kelemahan bagi Rian.


“Ayo makan, jangan sampai nasinya dingin,” suruh Rian, berusaha untuk tidak melihat Alya menangis.


Bukan tidak peduli, tetapi ia sama sekali tidak kuasa melihatnya.


Rian melahap makanannya, yang terasa lumayan lezat. Sementara Alya masih meratapi rasa bersalahnya terhadap Rian.


Sesekali Rian melirik ke arahnya, membuat Alya malu dan segera menghapus air matanya.


‘Jangan nangis, jangan ...,’ batin Rian, sembari tetap menyantap makanan yang ada di hadapannya, meskipun ia tidak mood makan.


Alya berusaha menghapus air matanya, dan mulai menyantap makanan yang Rian buat. Ia merasa tidak enak, kalau tidak memakan masakan buatan Rian.


‘Semalam sudah gak makan, sekarang gak makan juga mungkin dia marah lagi,’ batin Alya, yang tidak ingin melihat Rian semakin marah padanya.


Mereka sama-sama menyantap makanan secara perlahan. Hanya bisa diam, dan tak mengeluarkan suara. Hanya terdengar suara decap dan juga perkakas makan yang saling beradu.


Semua mereka lakukan sampai makanan yang ada di piring habis, membuat mereka memandang satu sama lain.


Hening, hanya itu yang terjadi. Akan tetapi, mereka sama-sama saling memandang satu sama lain.


Tak ada yang bisa Alya katakan, hanya diam. Diam tak bersuara, sembari memandang manik mata Rian yang sangat indah.


Hari ini, entah ada yang berbeda dari Rian. Bukan hanya penampilannya yang lebih menggoda, tetapi juga sikapnya yang jauh lebih acuh padanya.


Memandangnya saja, cukup membuat hati Alya teriris.


‘Telan saja, ini memang salah gue, kok! Gue harus sabar, sampai Rian mau maafin gue. Sama seperti dia yang sabar ngehadapin gue yang seperti itu ke dia,’ batin Alya, yang menerima semua kehendak yang Rian lakukan padanya.


“Mau jam berapa ke sana?” tanya Rian, Alya melihat ke arah jam tangannya.


“Sekarang,” jawabnya singkat.

__ADS_1


Rian bangkit dari tempat duduknya, sembari membersihkan piring kotor yang ada di hadapan mereka.


Ia melangkah menuju ke arah wastafel, kemudian menyempatkan mencuci piring kotor tersebut, lalu meletakkannya di rak piring.


Alya baru menyadari, sejak ada Rian di sini, rumah selalu terlihat bersih dan rapi. Berbeda dengan saat ia masih bersama dengan Dion.


Mereka selalu menyewa asisten rumah tangga, untuk melakukan semua tugas rumah yang tidak bisa mereka lakukan.


Kini, mereka tidak memerlukan semua itu lagi. Sudah ada Rian yang melakukannya, tetapi baru disadari Alya.


‘Rian selalu bikin apartemen gue rapi. Ternyata, selama ini gue baru sadar. Ke mana aja gue, hah?’ batin Alya, yang merasa kesal sendiri dengan dirinya, yang ternyata baru sadar dengan hal ini.


Rian mengelap tangannya menggunakan tissue, yang berada tak jauh dari wastafel. Ia mendapati Alya yang memandang dirinya dengan sendu, membuat ia merasa sedih memandangnya.


‘Kenapa malah jadi gini sih, Al? Kenapa lo tega ngelakuin ini sama gue? Maaf, gue harus kasih lo pelajaran biar lo gak semena-mena lagi sama gue,’ batin Rian, yang sebenarnya tidak kuasa melakukan hal ini dengan Alya.


Buru-buru ia tepis pemikirannya, tentang Alya yang seperti ini. Ia berusaha untuk mendidik Alya, agar bisa mengetahui kesalahannya, dan mengakui kesalahan tersebut. Ia ingin Alya menerimanya, dan memperingatinya agar tidak melakukan kesalahan itu kembali.


Rian memandang Alya dengan datar, “Ayo, nanti telat,” ajaknya, membuat Alya tersadar dari lamunannya.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam bergeming, sama sekali tak bersuara. Alya terus memandang ke arah Rian, dengan Rian yang sama sekali tak menghiraukannya.


Mereka pun akhirnya tiba di sana, dengan keadaan yang sangat tegang. Alya bingung, jika ia bertemu dengan Morgan lagi, ia tidak tahu harus bersikap apa.


Rian memarkirkan kendaraannya dengan benar, dan tidak jauh dari pintu masuk ruko tersebut.


Setelahnya, ia menoleh ke arah Alya untuk memperingatkan Alya kembali.


“Gue gak mau ngebatasin lo, dengan kegiatan apa pun yang lo mau lakuin. Satu yang gue minta, lo batasin diri lo sama siapa pun itu, terutama sama Morgan,” ujar Rian, berusaha untuk mengingatkan Alya kembali.


Alya mengangguk paham, ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi.


Keadaan berbalik, Alya yang malah takut kehilangan Rian. Memang hukum dalam hubungan memang seperti itu.


Awalnya gengsi, lalu setelahnya malah dia yang cinta mati.


Rian turun dari mobil sembari membawa tas bawaan Alya. Ia membukakan pintu untuk Alya, sehingga Alya bisa keluar dari mobil tersebut.

__ADS_1


Mereka melangkah beriringan, tak memedulikan perhatian orang lain pada mereka.


Sampailah di dalam ruangan klub, mereka meletakkan barang bawaan mereka pada loker masing-masing. Mereka juga mengganti pakaian mereka, dan segera memasuki lapangan.


Rian memandang ke arah Morgan, yang ternyata sudah ada di pinggir lapangan. Ia merasa sangat kesal, hanya dengan memandang ke arah Morgan saja.


‘Itu dia! Gue gak akan lepasin, kalau lo berani nyolek Alya lagi!’ batin Rian, yang sudah bertekad demikian.


Selama beberapa saat ini menekuni kegiatan beladiri ini, Rian merasa keberaniannya meningkat 1000x lipat. Ia merasa sangat berani saat ini, bahkan jika harus dihadapkan dengan beberapa orang sekaligus.


Alya juga melihat Morgan yang ada di pinggir lapangan. Ia merasa bingung, entah apa yang akan ia lakukan, ketika ia bertemu dengan Morgan kembali.


Mereka melangkah bersama-sama, menuju ke arah lapangan. Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan, dua orang junior Alya sudah datang mengumpul di hadapan Rian.


Alya merasa tersisih, karena mereka yang secara tidak sadar sudah menyenggol bahu Alya. Alya pun bergeser beberapa langkah ke kiri, membiarkan mereka berhadapan dengan Rian.


“Rian! Udah lama gak ketemu. Gimana harinya? Gimana pekerjaannya? Lancar?” tanya salah satu dari mereka, tetapi tak membuat Rian meresponnya.


“Iya, penasaran sama kerjaan lo apa. Kayaknya sibuk banget, sampai jarang mampir ke klub,” sahut satu lainnya.


Rian menghela napasnya dengan panjang, “Gue manajer artis terkenal,” jawabnya, membuat Alya yang mendengarnya merasa malu dan seketika merona.


“Siapa artinya?”


“Iya, siapa artinya?”


“Gak perlu tau,” jawab Rian datar, membuat mereka hanya bisa menggerutu saja.


“Ih ... kenapa gak dikasih tau, sih?”


“Tau, nih. Payah!”


“Gak usah tau, cukup tau aja. Gue jarang latihan karena sibuk kerja,” jawabnya ketus, membuat mereka memandangnya dengan ketus.


“Eh, malam ini ada acara, gak? Gue mau ngundang lo datang ke party gue,” ujar salah satunya, membuat Rian menghela napasnya dengan panjang.


“Maaf, nanti malam gue sibuk. Ada kerjaan yang gak bisa ditunda,” tolaknya dengan ketus, membuat mereka merasa risih mendengar jawaban Rian.

__ADS_1


__ADS_2