Menerima Cinta Waria Tampan

Menerima Cinta Waria Tampan
OVT


__ADS_3

Ternyata, Alya sangat tidak bisa menahan perasaan kesalnya, karena ia merasa tidak tahan lagi dengan pikirannya yang selalu over thinking.


Melihat tingkah Alya yang seperti itu, Morgan merasa sangat bingung, tak tahu apa yang Alya sedang pikirkan.


“Alya, kenapa?” tanya Morgan, Alya memandangnya dengan tatapan yang merasa kesal.


“Gue kesel, Gan! Gara-gara naik bianglala waktu itu, gue hampir mati karena mau jatuh!” ujar Alya, yang sudah tidak tahan ingin menceritakan semua yang ia rasakan, pada Morgan.


Morgan mendelik kaget, “Apa?! Lo hampir mati, karena naik ini? Kok bisa?!” pekiknya, Alya membuka masker yang ia kenakan.


“Iya! Gue kesel. Ada orang yang ngeledekin gue, terus saking keselnya gue sampai ngejar mereka dan akhirnya masuk ke bianglala. Gak sadar, ternyata gue udah kebawa emosi, dan ngegantung di besi bianglala!” ucap Alya menjelaskan pada Morgan.


Morgan semakin terkejut mendengarnya, “Ah? Ngegantung? Terus, gimana caranya lo bisa selamat?” tanyanya.


“Ya, untung ada Rian,” jawab Alya, yang sontak merasa sangat sendu ketika teringat hal itu.


Morgan memandang Alya dengan tatapan sendu, karena ternyata sedekat itu mereka, sampai naik bianglala bersama.


Morgan berusaha mengalihkan rasa sendunya, “Gimana bisa dia nyelamatin lo?” tanyanya.


“Dia narik gue, dan gak biarin gue mati di sana. Gue udah hutang budi sama dia, kalau dipikir-pikir,” jawab Alya sendu, karena sekarang ia sudah mulai terbuka pikirannya.


Alya merasa sangat berhutang budi kepada Rian, karena Rian pernah menyelamatkannya dari maut.


Morgan menatapnya dengan tajam, “Kalau Rian gak selamatin lo, dia orang pertama yang akan gue kasih pelajaran!” ujarnya dengan sinis, membuat Alya memandang ke arah Morgan dengan tatapan bingung.


‘Gan ... kenapa lo masih mendam perasaan sama gue? Bukannya gue udah buat lo gak nyaman, dengan cara dekat sama Dion waktu itu? Kenapa lo masih ngejar gue aja, bahkan sampai detik ini?’ batin Alya, yang sangat tidak bisa mengatakan hal itu pada Morgan.


Morgan menangkap sinyal Alya. Terlihat kesedihan dari mata Alya, membuatnya merasa tersentuh juga.


Karena suasananya yang syahdu, dengan angin yang berembus kencang, Morgan merasa sangat nyaman berada di saat seperti ini dengan Alya.


Tangannya ia ulurkan ke arah dagu Alya, membuat Alya mendelik kaget saat mengetahui tangan Morgan, yang sudah berada pada dagunya.


Tatapan mereka saling bertemu, membuat Alya terdiam sejenak memandang manik mata Morgan yang indah.

__ADS_1


Perasaan Morgan membuatnya sampai hilang kesadaran, saking inginnya ia memiliki Alya dalam hidupnya.


Wajah Morgan mendekat ke arah Alya, membuat Alya mendelik kaget melihat Morgan yang melakukan hal tersebut padanya.


Sadar akan apa yang ia lakukan, Morgan pun lekas melepaskan tangannya, dan segera menjaga jaraknya dengan Alya.


Mereka sama-sama kaku, karena mereka yang sama-sama kesal dengan keadaan ini.


Alya kesal karena ia tidak bisa menolak Morgan, sedangkan Morgan kesal karena ia tidak bisa mengendalikan perasaannya untuk Alya.


Mereka sama-sama berada di dalam keadaan yang membingungkan.


Alya menunduk malu, ‘Morgan mau nyium gue tadi? Apa gue gak salah?’ batinnya, yang masih bertanya-tanya dengan apa yang hendak Morgan lakukan padanya.


Sementara itu, Morgan juga menunduk malu, karena ia tidak bisa menjaga perasaannya terhadap Alya.


‘Kenapa gue gak bisa jaga hasrat gue? Kenapa gue bodoh banget udah hampir ngelakuin itu? Gimana kalau Alya gak mau, dan gak nyaman?’ batin Morgan, yang terlalu terburu-buru dengan semua yang ia ingikan.


Karena sama-sama kaku, mereka sengaja membuat suara-suara kecil.


Morgan menoleh, berusaha untuk mengambil alih keadaan, “Mmm ... habis ini kita ke photo box, ya!” ucapnya, membuat Alya mengangguk kecil mendengarnya.


“Ya, habis ini kita ke sana!” ujar Alya, berusaha untuk membuat keadaan menjadi normal kembali.


Mereka sejenak terdiam, membuat suasana menjadi semakin rancu.


Morgan kembali mengambil alih keadaan, “Oh ya, soal yang tadi lo bilang ... percaya ya sama gue, kalau bareng sama gue, gak akan terjadi apa pun sama lo,” ucap Morgan, Alya memandangnya dengan tatapan yang tidak percaya.


Alya merasa sangat malu, ketika Morgan mengatakan seperti itu padanya. Bukan hal yang mustahil bagi Morgan menjaga dirinya, terlebih lagi dengan kemampuan beladiri yang Morgan miliki, membuat Alya setidaknya yakin dengan yang Morgan katakan.


Namun, Alya sudah memiliki Rian di sisinya. Ia tidak memerlukan Morgan lagi, untuk menjaga dirinya.


Sengaja Alya membekali Rian dengan ilmu bela diri, karena ia tidak ingin membuat Rian tidak berfungsi, sebagaimana mestinya.


Alya menunduk malu, “Gue bisa jaga diri gue sendiri,” ujarnya, Morgan sangat sedih mendengar ucapan itu dari Alya.

__ADS_1


Morgan menghela napasnya panjang, ‘Kenapa sih? Apa karena ada pria itu, jadi lo gak mau gue ngomong begini?’ batinnya, yang merasa sangat sedih mendengar ucapan Alya yang seperti itu.


Bianglala pun turun, waktu bermain mereka sudah habis. Morgan kembali menuntun Alya turun, tetapi buru-buru Alya menarik tangannya kembali.


Morgan sangat merasakan perbedaan, dari awal hingga saat ini. Alya sudah tidak mau disentuh lagi, dan Morgan merasa kesal mengetahuinya.


‘Duh ... ini semua karena gue terlalu bego! Kenapa sih, pakai mau cium Alya segala tadi?’ batin Morgan, yang memaki dirinya sendiri.


Mereka turun dari sana, kemudian berjalan santai menuju ke arah photo box.


Mereka saling memandang satu sama lain, karena banyak sekali hal yang mereka pikirkan.


Karena pandangan mereka saling bertemu, mereka sama-sama merasa kaku kembali. Alya merasa sangat malu, dan langsung menundukkan pandangannya dari Morgan.


‘Kenapa Morgan mau ngelakuin itu tadi? Terus, kenapa gak jadi? Kenapa dia bikin gue malu aja, sih?’ batin Alya, yang kesal karena Morgan yang tidak tegas.


Yang Alya inginkan adalah, jika Morgan menginginkannya, maka ia harus melakukannya sebaik mungkin. Jika Morgan ragu, Alya ingin Morgan tidak usah memulai seperti tadi.


Itu hanya membuat Alya malu saja.


Morgan menghela napasnya dengan panjang, karena ia merasa sudah kehilangan momen yang berharga itu dengan Alya.


‘Lain kali, gak akan pernah gue sia-siain lagi kesempatan sebagus itu!’ batin Morgan, yang berusaha untuk menguatkan kembali tekadnya.


Morgan tersenyum di hadapan Alya, “Ayo, ke photobox! Di sana!” ajaknya, yang langsung menggandeng tangan Alya dengan tegas.


Alya tak menolaknya, lalu segera berlarian ke arah yang Morgan tunjukkan padanya.


Di sana, mereka sudah masuk ke dalam ruangan sebesar 4x3 meter. Ruangan yang cukup sempit, untuk seukuran dua orang.


Alya melihat ke sekeliling ruangan itu, yang ternyata sangat bagus bila dipakai untuk berfoto selfie.


“Wah ... bagus! Gue belom pernah foto di sini,” gumam Alya, membuat Morgan menyeringai mendengarnya.


“Makanya gue ajak lo ke sini,” ujar Morgan, membuat Alya tertawa kecil mendengarnya.

__ADS_1


“Ah, iya. Gue jadi ada pengalaman ke sini. Jadi, nanti gue bisa ajak Rian--”


__ADS_2