
Ucapannya terpotong, karena tanpa sadar ia sudah mengucapkan nama Rian di hadapan Morgan.
Alya memandang ke arah Morgan, yang ekspresinya saat ini sudah agak sinis dan terlihat seperti kesal.
Karena merasa tidak enak, Alya merasa harus meluruskan semuanya di hadapan Morgan.
“Emm ... Gan, gue bisa jelasin--”
“Sebenarnya Rian itu siapa, sih?” tanya Morgan, memangkas ucapan Alya.
Mendengar pertanyaan Morgan, Alya pun mendelik kaget, karena ternyata Morgan sudah ingin mengetahui, siapa Rian sebenarnya.
Alya menghela napasnya dengan panjang, “Dia ... cuma manajer gue aja,” jawabnya yang sedikit bingung.
Morgan yang tidak percaya dengan apa yang Alya katakan, segera mendekat ke arah wajah Alya.
Satu kecupan hangat mendarat di bibir Alya, sontak membuat Alya mendelik tak percaya, dengan apa yang Morgan lakukan padanya.
Sejenak Morgan memejamkan matanya, untuk merasakan hal yang selama ini ia impikan bersama Alya.
Lain halnya dengan Alya. Ia hanya bisa mendelik, karena tak percaya dengan apa yang Morgan lakukan padanya.
‘Dia beneran nyium gue?!’ pekik Alya dalam hati, yang merasa sangat bingung harus bersikap seperti apa.
Tak sadar, layar komputer yang ada di hadapannya mengambil gambar dengan sendirinya, tetapi Alya dan Morgan sama sekali tidak sadar akan hal itu.
Kesadaran Alya kembali, membuatnya segera melepaskan dirinya dari Morgan.
Morgan pun tersadar, karena dirinya yang ternyata sudah terlalu hanyut dalam keadaan yang memabukkan itu.
Alya membenarkan maskernya, sementara Morgan mulai mencari sesuatu yang bisa ia kerjakan agar tidak canggung.
“Emm ... ah, ayo kita foto!” ajak Morgan dengan canggung, Alya mengangguk kecil sembari memandang ke arah layar.
Masih ada sisa 3 kesempatan berfoto lagi, sehingga membuat mereka melakukan gayanya masing-masing.
Karena sudah terlalu kaku, foto kedua yang terambil menjadi seperti foto KTP.
Morgan memandang ke arah Alya dengan dalam, “Al, tolong berpose yang bagus, ya! Gue mau jadiin ini kenangan manis buat kita!” ujarnya, Alya tersentak dan mengangguk kecil mendengarnya.
Mereka sama-sama merapatkan diri, dan merangkul satu sama lain. Memang agak canggung, tetapi mereka berusaha untuk tidak melakukan kesalahan lagi.
__ADS_1
Foto ke-3 dan ke-4 sudah berhasil terambil, dengan mereka yang sudah bergaya, tetapi masih saja terlihat kaku.
Setelah selesai melakukan 4x foto berturut-turut, Morgan dan Alya segera mengambil hasil foto mereka, yang diletakkan di dalam amplop.
Alya tak membuka hasilnya, dan langsung menyimpannya di dalam tasnya.
Morgan memandang ke arah Alya, “Gak lihat hasilnya dulu?” tanyanya.
Alya menggelengkan kepalanya, “Gak. Nanti aja lihatnya di rumah.”
Morgan mengangguk kecil mendengarnya, “Oke!”
Mereka pun keluar dari ruangan tersebut, sembari membawa hasil foto mereka.
Setelah mereka pergi, seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut. Orang tersebut adalah petugas photobox yang bekerja di sana, yang akan memeriksa kelengkapan aksesoris, setelah ada yang memakai ruangan ini.
Ia mencari sesuatu yang aneh, tetapi ia sama sekali tidak menemukannya.
“Gak ada aksesoris yang hilang, gak ada makanan atau barang tertinggal. Sudah beres, gak ada masalah apa pun,” gumamnya, sembari menepuk-nepuk tangannya untuk menghilangkan debu yang menempel.
Ketika ia menoleh ke arah layar, ia memeriksa foto yang ada untuk segera dihapus.
Itu sudah menjadi kebiasan karyawan ini, setelah ada orang yang memakai tempat ini.
Pegawai itu melihat foto Alya dan juga Morgan, yang sedang berciuman.
Hal itu membuatnya merasa kaget, karena tidak percaya yang baru saja memakai ruangan ini, ternyata adalah artis yang saat ini sedang naik daun.
“Ini bukannya ... Alya? Artis yang lagi naik daun itu?” gumamnya tak percaya.
Karena merasa memiliki kelemahan Alya, si pegawai ini segera menyalin foto tersebut, kemudian menyimpannya di memori handphone-nya.
Tidak ingin semua orang mengetahuinya, ia lantas segera menghapus data yang ada di komputer ruangan tersebut.
“Ini bisa dijadiin senjata. Siapa tau berguna,” gumamnya, yang sudah memiliki rencana jahat.
Namun, ia terdiam sejenak. Ia berpikir, kalau mereka mengetahuinya, mungkin saja dirinya akan terkenal, karena sudah membagi foto yang sifatnya sangat pribadi ini.
Ia menyunggingkan senyumannya, “Tinggal kirim ke Acebook!” gumamnya, yang segera mengirimkan ke sebuah aplikasi, agar banyak orang yang melihat foto mesra Alya dan juga Morgan.
Sementara itu, Alya dan Morgan sudah berada di luar ruangan. Mereka berjalan-jalan, sembari menunggu sore hari tiba.
__ADS_1
“Nanti ke lokasi syuting jam berapa? Biar gue antar,” ujar Morgan, Alya memandang ke arah Morgan, berusaha untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
“Emm ... belum dapat kabar dari sutradar. Mungkin nanti, setelah ada kabar dari dia,” jawab Alya, membuat Morgan mengangguk kecil mendengarnya.
Setelah berjalan-jalan di area wahana taman bermain tersebut, Alya dan Morgan sama-sama memandang ke arah toko es krim, yang ada di hadapan mereka.
Alya menunjuk ke arah kedai es krim tersebut, “Gan, beliin gue es krim,” pintanya, Morgan mengangguk kecil mendengarnya.
“Tunggu sebentar di sini, ya. Gue mau antre dulu,” pesan Morgan, Alya mengangguk kecil mendengarnya.
Morgan mengantre untuk membeli es krim untuk Alya, sementara Alya hanya bisa memandangi Morgan saja.
Alya merasa sangat canggung, karena ternyata dirinya tidak bisa menolak Morgan untuk menciumnya tadi.
Tidak seperti biasanya.
‘Kenapa kalau sama Morgan, gue gak bisa nolak ya? Kenapa kalau sama orang lain, gue selalu kesel?’ batin Alya, yang merasa sangat aneh memikirkannya.
‘Apa ... gue udah jatuh cinta sama Morgan?’ batin Alya, yang memikirkan hal tersebut secara mendalam.
Akan tetapi, buru-buru Alya menepis pemikiran aneh tersebut.
‘Ah, apa sih? Jatuh cinta sama Morgan? Gak banget, deh! Sama Rian aja, gue gak tau. Boro-boro sama Morgan!’ batin Alya, yang merasa sangat bingung dengan keadaan dan perasaannya itu.
Alya kembali memandang ke arah Morgan, dan tidak memedulikan apa pun di sekitarnya.
Dengan hanya bermodalkan sebuah masker, Alya sudah sangat tenang, dan merasa tidak akan ada orang yang mengenalinya.
TSET!
Seorang pria berlari secepat kilat, menjambret tas hitam yang Alya kenakan.
Hal itu sontak membuat Alya mendelik kaget, dan segera menunjuk ke arah copet tersebut.
“Copet!!” pekik Alya, yang langsung berlarian ke arah copet tersebut.
Morgan yang mendengar ada keributan, segera menoleh ke arah sumber suara.
Ia mendapati Alya, yang saat ini sedang berlarian mengejar seseorang, yang ia teriaki sebagai copet.
“Alya?!” pekik Morgan terkejut, karena melihat Alya yang berlarian seperti itu.
__ADS_1
Merasa ada hal yang mengancam Alya, Morgan segera turun tangan dan segera mengejar copet tersebut.
Soal berlari, Morgan tidak perlu diragukan lagi. Latihan fisik di klub mereka, membuatnya sudah terlatih secara fisik dan mental.