Menerima Cinta Waria Tampan

Menerima Cinta Waria Tampan
Rasa Bersalah


__ADS_3

Alya merasa sangat sedih. Rasa sedihnya membuatnya merasa lapar yang tak bisa tertahan.


Sudah sejak kemarin ia belum terisi makanan, saking tidak mood-nya ia. Ditambah lagi dengan kegiatan yang menguras tenaga tadi, membuatnya semakin kelaparan saja.


Dilangkahkan kakinya ke arah luar kamarnya. Ia menoleh ke arah kamar Rian, yang sudah tertutup rapat.


Alya menghela napasnya dengan panjang, karena ia sudah membuat kesalahan yang cukup besar bagi Rian.


Alya tidak bisa memungkiri itu.


Karena merasa sangat lapar, Alya pun segera melangkah ke arah meja makan.


Di sana, sudah tersedia mi goreng yang sudah terlihat kurang menggoda. Namun, karena Alya yang sangat lapar, ia terpaksa duduk di hadapan makanan buatan Rian tersebut, dan perlahan melahap makanan tersebut.


‘Maafin gue, Yan. Gue juga gak tau, kenapa Morgan ngelakuin itu sama gue,’ batinnya, yang tetap mengunyah makanan buatan Rian itu.


Matanya tak sengaja tertuju pada sepucuk surat, yang ada di hadapannya. Ia melihat dengan rasa penasaran yang bergejolak. Ia meraihnya, dan segera membacanya dengan sangat hati-hati.


Terlihat tulisan yang sangat buruk. Tak lain dan tidak bukan, itu adalah tulisan Rian.


Betapa terkejutnya Alya, karena Rian yang bisa menulis seperti ini.


“Rian nulis? Katanya dia gak bisa baca?” gumam Alya, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Karena merasa penasaran, Alya membaca surat yang ia pegang. Walaupun tak terbaca, setidaknya ia bisa paham dengan bentuk tulisan yang tidak beraturan itu.


“Maafkan aku, Alya.”


Hanya kata itu yang tertera di surat itu. Ia bertambah merasa bersalah, karena ia yang melewatkan momen seperti ini.


“Rian udah berusaha untuk minta maaf sama gue, masakin gue, belajar nulis mungkin, tapi dia ngeliat gue pulang bareng sama Morgan,” gumam Alya, yang merasa sangat bersalah dengan Rian.


Selain itu, Rian juga melihat fotonya bersama dengan Morgan, yang tidak seharusnya ia lihat.


Itu sangat membuat hati Rian tersayat.


Alya meremas rambutnya sendiri, karena ia merasa sangat bersalah dengan Rian. Hal itu membuatnya kesal, saking kesalnya ia sudah kehilangan kesempatan untuk mengawali hubungan yang harmonis dengan Rian.


“Gue udah nyangka dia yang engga-engga sama Rachel, sementara gue ngelakuin hal itu sama Morgan. Gue ini kenapa, sih?!” bentak Alya, pada dirinya sendiri.


Hanya ini yang bisa ia lakukan. Hanya bisa memaki dirinya sendiri, atas apa yang ia lakukan.

__ADS_1


Air mata Alya terus berjatuhan, membuatnya tidak bisa melakukan apa pun lagi saat ini.


“Maafin gue, Yan.”


Karena sudah tidak mood lagi, Alya tidak jadi memakan makanan yang Rian buat untuknya. Sudah tidak bisa tertelan, karena rasa bersalah yang ia rasakan pada Rian.


Mereka perlu waktu, untuk sama-sama menata kembali perasaan mereka.


***


Mentari pagi mengusik tidur Alya, membuatnya memaksa membuka matanya.


Pandangannya ia edarkan ke sekelilingnya, melihat ruangan yang terasa sangat kosong.


Kosong, hampa. Tidak ada siapa pun di sini.


Ini bukan kamarnya, melainkan ruang tamu. Alya tertidur di ruang tamu, karena semalaman menangisi kesalahannya.


Namun, ia mendapati dirinya yang lengkap diselimuti dengan selimut yang tebal.


Siapa yang melakukannya? Siapa lagi, kalau bukan Rian.


Walaupun Rian marah pada Alya, tetapi Rian sama sekali tidak mengacuhkannya. Ia masih memedulikan Alya, karena biar bagaimanapun juga, Alya dan dirinya sudah sama-sama mengutarakan perasaan mereka, satu sama lain.


Pandangannya tertuju pada Rian yang sedang berkutat dengan alat masak. Ia memandangnya lekat, dengan sisa kesedihan dan rasa bersalah yang masih tersisa di hatinya.


Alya bangkit, duduk di sofa sembari memandang ke arah Rian.


Melihat Alya yang sudah bangun dari tidurnya, Rian pun memandangnya dengan datar.


“Kenapa makanan semalam gak dimakan?” tanya Rian, yang sedikit dingin dengan Alya.


Alya menghela napasnya dengan panjang, “Maaf.”


Hanya itu yang bisa Alya katakan pada Rian.


Rian juga hanya bisa memandangnya, kemudian segera melanjutkan memasak makanan untuk mereka sarapan.


Walau sedang marah sekalipun, Rian tetap memedulikan Alya. Berbeda dengan Alya, yang benar-benar tidak memedulikan Rian sedikit pun.


Rasa egoisnya sangat tinggi, membuatnya bisa dengan mudahnya bersikap acuh pada Rian.

__ADS_1


“Mandi dulu, atau minimal cuci muka dan gosok gigi. Setelah itu makan,” suruh Rian, Alya merasa apa yang ia perintahkan memang benar adanya.


Alya melangkah ke arah kamarnya, dan segera membilas tubuhnya.


Selepas membilas tubuhnya, Alya segera memakai pakaian yang nyaman ia kenakan. Hari ini, adalah jadwal latihan mereka pada klub karate mereka.


Alya melangkah ke arah ruangan dapur, dan duduk di sebelah Rian yang sudah siap di sana.


“Sudah selesai mandi?” tanya Rian, Alya mengangguk kecil mendengarnya. “Hari ini mau ke mana?” tanya Rian lagi.


Alya merasa sangat ragu mengatakannya, tetapi ia harus mengatakannya dengan sejujurnya.


“Ke klub,” jawab Alya ragu, membuat ekspresi Rian menjadi bertambah bete saja mendengarnya.


“Ketemu Morgan lagi?” tanyanya, Alya memandangnya dengan rasa takut bercampur rasa bersalah.


Satu kesalahannya membuat Alya merasa terus bersalah. Ia tidak bisa membantahnya, karena dirinya yang memang melakukan kesalahan itu.


“Bukan, untuk latihan,” bantah Alya datar, Rian memandangnya dengan dalam.


“Kalau hanya untuk latihan, apa lo bisa janji gak akan berinteraksi dengan Morgan, lebih dari batasnya?” tanya Rian, berusaha mempertimbangkan hal ini.


Biar bagaimanapun juga, Rian sama sekali tidak ingin membatasi Alya dalam melakukan aktivitasnya. Hanya saja, ia meminta agar Alya menjaga batasan, antara dirinya dan juga Morgan.


Alya mengangguk kecil, “Ya, gue gak akan interaksi sama dia, lebih dari batasan,” jawabnya menyanggupi, membuat Rian menghela napasnya dengan panjang.


“Ya sudah, gue antar lo ke sana. Gue juga mau sungguh-sungguh latihan, supaya gue bisa jadi apa yang lo ingikan,” ujar Rian, membuat Alya mengangguk kecil mendengarnya.


Rian mengambilkan makanan yang ia masak. Kali ini, bukan mi goreng menunya, melainkan nasi goreng.


Entah Rian belajar dari mana, tetapi ia sudah sangat mahir melakukan semua ini.


Alya memandang ke arah Rian dengan bingung, “Lo ... belajar dari mana?” tanyanya.


“Apa?”


“Masakan ini,” jawab Alya.


“Oh, gak sengaja ngelihat yang masak-masak di TV kemarin. Gue perhatiin, dan akhirnya bisa,” ungkap Rian, membuat Alya tersenyum tipis mendengarnya.


“Terus, surat yang semalam di meja makan, belajar dari mana?” tanya Alya lagi, yang merasa sangat penasaran dengannya.

__ADS_1


“Kemarin gue nonton channel TV khusus anak-anak. Kebetulan ada belajar huruf, dan langsung gue catat di kertas,” jawabnya lagi, membuat Alya mengangguk kecil mendengarnya.


Begitulah perjuangan Rian untuk memenangkan hati Alya kembali. Ditambah lagi, ia harus meminta maaf kepada Alya karena kesalahpahaman antara mereka, yang membuat dirinya merasa bersalah dengan Alya.


__ADS_2