
Napas mereka masih tersengal, karena merasakan permainan panas yang membuat nafsu mereka terus terpacu.
Alya merasa sangat lelah, memeluk Rian dengan mata yang memejam. Sementara Rian hanya bisa memandang layar handphone-nya, untuk mengedit foto-foto Alya yang ia ambil tanpa izin.
Sebenarnya Rian juga sangat lelah, tetapi karena jadwal mereka malam nanti, Rian terpaksa harus menahan rasa kantuknya dengan mengalihkan perhatiannya.
“Kirim,” gumam Rian, yang sudah selesai mengedit foto Alya dengan stiker-stiker lucu dan unik.
Dering handphone Alya tiba-tiba terdengar, membuat Rian terkejut mendengarnya.
Seseorang telah mencoba menghubungi Alya, dengan nomor yang sudah tersimpan di kontak handphone Alya.
Rian melirik ke arah Alya yang masih berada di pelukannya, dengan hanya berbalut sehelai kain saja.
Alya terlihat sangat lelah, sehingga ia tidak bergerak sedikit pun dari dalam pelukan Rian.
‘Alya tidur. Siapa yang nelepon dia, ya?’ batin Rian bertanya-tanya.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, diambilnya handphone Alya, yang berada pada nakas di sebelah ranjang.
Pandangannya ia tujukan pada layar handphone Alya, dan seketika membulat melihat nama yang tertera di sana.
Morgan dengan emotikon hati berwarna merah, tertera di sana.
Matanya semakin mendelik dengan perasaan yang kesal. Hidung kembang-kempis, merasa kesal melihat nama Morgan yang disertai emotikon hati tersebut.
Rian terbakar cemburu lagi dengan Morgan.
Terlebih lagi, Alya yang sudah menyimpan nomor handphone Morgan, menggunakan emotikon yang membuatnya merasa cemburu.
Dilihatnya lagi kontak dirinya pada handphone Alya. Di sana, namanya sama sekali tak tertera emotikon hati.
Polos, tak ada apa pun. Hanya nama saja.
Hal itu membuat Rian merasa bergejolak, dan memenangkan egonya saat ini.
‘Dia kenapa bisa nyimpan nomor Morgan pakai love, sedangkan nomor gue ....’ Rian tak kuasa melanjutkan pemikirannya terhadap Alya.
Perlahan, Rian melepaskan diri dari Alya. Ia melangkah menuju ke luar ruangan, sembari mengenakan sebuah mantel tidur berwarna putih polos.
Rian duduk pada sofa apartemen mereka, sembari tetap memandangi layar handphone Alya.
__ADS_1
Handphone tersebut berdering kedua kalinya. Masih sama, Morgan yang sudah menghubunginya.
Dengan amarah yang masih tertahan, Rian menerima telepon darinya.
“Halo, Alya? Kenapa seharian ini gue chat gak pernah bales, gue telepon gak pernah diangkat? Lo marah sama gue, Al?” tanya Morgan menyerocos, tanpa memberikan kesempatan Rian untuk berbicara.
“Udah ngomongnya?” tanya Rian, sontak membuat Morgan mendelik karena mendengar suara yang ia sangat kenali itu.
‘Rian!’ pekik Morgan dalam hati, yang merasa mati kutu berhadapan dengan Rian saat ini.
“Kenapa lo yang nerima? Mana Alya?” tanya Morgan ketus, Rian menyunggingkan senyumannya, seakan merasa lucu mendengar pertanyaan dari Morgan.
“Mana Alya? Lo nanya mana Alya?” tanya balik Rian, membuat Morgan sedikit banyaknya merasa sangat geram mendengarnya.
Mereka saling menyalurkan emosi mereka, karena mereka merasa memiliki tujuan masing-masing untuk melakukannya.
Rian tidak ingin Morgan menghubungi Alya lagi, sementara Morgan yang memang harus berbicara dengan Alya saat ini.
“Gak usah bertele-tele, di mana Alya?!” pekik Morgan kesal, Rian menghela napasnya dengan panjang, berusaha menahan amarahnya.
‘Sabar, dia gak ada di sini. Percuma juga gue marah, karena gue gak bisa pukul di di sini,’ batin Rian, yang masih berusaha untuk menekan amarahnya di hadapan Morgan.
“Jangan buang-buang waktu gue, dasar waria gak tahu diri!” bentak Morgan, sontak membuat Rian mendelik kaget mendengarnya.
Sekujur tubuhnya seakan gemetar, mendengar Morgan mengatakan hal buruk itu padanya. Ingin sekali ia menanyakan hal tersebut sekali lagi, agar dirinya yakin bahwa ia tidak salah dengar.
“A-apa lo bilang?” tanya Rian, berusaha untuk menegarkan ucapannya, yang terdengar sudah sangat bergetar.
“Gue gak ada waktu buat ladenin waria gak tahu diri seperti lo!” bentak Morgan, yang semakin membuat Rian mendelik kaget mendengarnya.
Tangan dan kakinya ikut bergetar, karena ia tidak menyangka kalau Morgan mengetahui identitas aslinya sebagai seorang waria.
Beberapa kali ia menghela napasnya dengan panjang, berusaha membuat hatinya tegar.
‘Dari mana dia tahu tentang ini?!’ batin Rian, yang merasa sangat bingung dengan apa yang harus ia lakukan ke depannya.
“Mana Alya?” tanya Morgan lagi.
Hanya dengan mendengar suaranya saja, Rian sudah tidak sanggup. Ia merasa sangat malu, dan segera mengakhiri panggilannya dengan Morgan.
Tubuhnya masih gemetar, rambutnya ia remas dengan tangan yang sudah tidak bisa mengepal lagi, saking terkuras habisnya tenaga yang ia miliki.
__ADS_1
Niat hati ingin memarahi Morgan, tetapi ia sudah tidak kuasa melakukannya.
‘Bagaimana ini? Kenapa dia bisa tahu? Dari mana dia tahu?’ batin Rian, yang merasa sangat bingung dan juga khawatir dengan keadaan ini.
Rian takut, semua yang Morgan ketahui akan menjadi penghalang bagi Alya, untuk menggapai mimpinya menjadi seorang artis terkenal.
Baru saja ia hendak menjalani proyek ketiga bersama dengan Alya, tetapi rasanya ia sudah tidak menginginkannya. Ia ingin sekali menghilang dari muka bumi, saking tidak ingin menjadi penghalang untuk Alya dalam mencapai karirnya.
Peluh keringat berjatuhan, membasahi lantai apartemen yang saat ini ia injak. Dirinya gugup, jangan sampai orang lain mnegetahui kebenaran ini.
‘Jangan sampai ada yang menghambat jalan Alya, untuk menggapai mimpinya,’ batin Rian, yang berusaha keras untuk memikirkan jalan keluar dari permasalahan ini.
Rian berusaha melangkah ke arah kulkas, untuk mengambil minuman dingin, untuk sekadar menenangkan perasaannya. Ia tidak bisa berpikir, saking takutnya hal ini akan tersebar dari omongan Morgan, yang memang tidak menyukainya.
Ia juga takut, kalau ini akan dijadikan sebagai senjata, untuk memeras dirinya dan juga Alya, agar tidak bisa bersama kembali.
“Jangan sampai terjadi! Gak akan gue biarin dia ngelakuin itu!” gumam Rian, yang merasa sangat kesal, dan hampir ingin memecahkan gelas yang sedang ia pegang.
Ditenggaknya air di dalam gelas itu dengan tangan yang gemetar. Ia bahkan hampir tidak bisa menyanggah gelas itu dengan benar.
Air itu mengalir, menyejukkan tenggorokannya yang sudah kering karena merasa sangat khawatir dengan keadaan ini.
Ia meletakkan kembali gelas itu. Tubuhnya lemas, berjalan gontai ke arah kamar Alya kembali.
Belum sampai ke kamar Alya, Rian sudah lemas. Tubuhnya melorot ke bawah, saking lemasnya ia dengan keadaan yang terjadi ini.
Tak disangka, Morgan sangat cepat mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Rian sampai tidak bisa menduga, dari siapa Morgan mengetahui semua itu.
‘Ya Tuhan ....’ Rian terus-menerus menghela napasnya, saking tidak bisa berpikirnya ia untuk saat ini.
Pemikirannya selalu menerka-nerka, ‘Apa Morgan punya keluarga, yang tau masa lalu gue? Siapa? Memangnya orang seperti dia punya keluarga yang satu desa sama gue? Mana mungkin,’ batinnya.
Rian terus menghela napasnya, saking sesaknya napasnya itu, tak percaya dengan Morgan yang sudah mengetahuinya.
'Kenapa ini? Kenapa malah ada alur yang seperti ini? Gimana kalau Karir Alya hancur, hanya karena permasalahan ini? Hanya karena dia dekat dan menjalin hubungan dengan seorang waria? Mau ditaruh mana muka Alya?' batin Rian lagi, yang tanpa sadar sudah menjadi tekanan batin untuknya.
Buru-buru ia menepiskan semuanya, dan merasa harus melupakannya demi Alya.
Rian menyeringai mengingat kejadian tadi, “Jangan-jangan ... dia mau kasih tau ke Alya, soal ini?” gumamnya, yang bertanya-tanya sendiri mengenai hal yang tidak diketahuinya itu.
“Kasih tau apa?”
__ADS_1