
Terdengar suara perut Alya yang cukup keras, membuat mereka tertawa kecil mendengarnya.
“Lapar, ya?” tanya Rian dengan lembut.
Ini adalah kali pertama, Rian berbicara selembut ini dengannya.
Wajah Alya memerah, saking malunya ia mendengar pertanyaan Rian. Alhasil, ia hanya mengangguk sembari menahan rasa malunya di hadapan Rian.
“Gue udah masak mi tadi. Kita makan, yuk!” ajak Rian, membuat Alya memandangnya sembari mengangguk kecil.
Karena bingung dengan keadaan mereka yang seperti ini, mereka pun saling memandang satu sama lain.
“Gimana caranya kita keluar? Kita gak pakai apa pun,” tanya Alya, yang merasa sangat malu dengan Rian.
Rian menyeringai, “Kita ‘kan udah ngelakuin itu, untuk apa lagi malu?” tanyanya, sontak membuat Alya kesal mendengarnya.
“Ya tetep malu, lah!” bentak Alya, Rian hanya bisa menyeringai mendengarnya.
“Ya udah, nih gue ambilin baju lo,” ujar Rian, sembari mengulurkan tangannya ke arah meja yang berada di sebelah ranjang tidurnya.
Karena terlalu sulit meraih baju tersebut, Rian sampai menggeser tubuhnya yang masih terbalut selimut. Ia juga masih enggan memperlihatkan apa yang ada padanya, karena sejujurnya ia juga masih merasa malu.
Tangannya masih berusaha meraih, tetapi ia malah menyenggol tas Alya, yang berada tak jauh dari bajunya berada.
Tas tersebut jatuh, sehingga semua isinya berantakan dan jatuh ke bawah.
“Yah, jatuh ...,” gumam Rian, sembari memandang ke arah lantai.
Matanya mendelik, kaget dengan apa yang ia lihat di hadapannya.
Alya marah karena barang-barangnya harus terjatuh ke lantai. Ia juga marah, karena handphone-nya yang juga ikut terbanting ke lantai.
“Ih, lo hati-hati, kek! Itu barang-barang gue jatuh, deh! Handphone gue juga jatuh!” bentak Alya, tetapi segera terhenti karena melihat Rian yang ekspresinya sudah benar-benar beda dari sebelumnya.
Wajahnya terlihat memerah, saking kesalnya Rian melihat selembar foto yang sangat menyakiti hatinya.
__ADS_1
Alya mendelik, karena ia baru menyadari dengan apa yang Rian lihat. Ia tidak mengerti, kenapa saat Morgan menciumnya tadi, itu terambil oleh kamera di photobox.
Alya memandang kaget ke arah Rian, “Yan ... ini gak seperti yang lo--”
“Tutup mata lo, Al!” bentak Rian, yang memangkas ucapan Alya itu.
Alya merasa sangat kaget, takut dengan ekspresi Rian yang seperti itu.
Karena sudah tidak memiliki pilihan, Alya pun menutup matanya. Rian langsung melangkah keluar dari selimut, lalu segera mengambil handuk kecil untuk ia lilitkan pada pinggangnya.
Perasaan kesalnya sudah benar-benar meledak. Rian merasa sangat kesal, dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
“Argh!!” teriak Rian, yang meninju tembok dengan kencangnya.
Mendengar suara tersebut, Alya merasa sangat takut, karena ternyata ia sudah membuat Rian marah seperti itu.
Alya membuka matanya, dan mendapati Rian sedang memukul-mukul dinding yang berada di hadapannya.
“Rian!” pekik Alya, dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya itu.
Alya melangkah ke arah hadapannya, lalu meraih handuk kecil dan melilitkannya pada tubuhnya. Ia segera berhamburan ke arah Rian, dan memeluknya dengan sangat erat.
“Tunggu, gue masih belum selesai!” pangkas Rian, sembari tetap memukul dinding lagi.
Tangannya yang halus, berubah menjadi tangan yang berlumuran darah. Banyak sekali bekas luka, dan juga lecet di sana.
Ia sangat kesal, karena ternyata Alya sudah melakukan hal itu dengan Morgan, sebelum melakukannya dengan dirinya.
Alya memandangnya dengan bingung bercampur takut, ia merasa tidak bisa melakukan apa pun lagi, karena itu memang adalah kesalahannya.
Kiranya dirasa puas untuk menyakiti dirinya, Rian menghentikan sendiri apa yang ia lakukan. Ia merasa sangat kesal, tetapi rasa kesalnya sudah ia tumpahkan pada dinding itu.
Sisanya, masih ia pendam sebagian, karena ia tidak ingin melupakannya begitu saja. Namun, ia juga tidak bisa kasar-kasar lagi terhadap Alya, karena ia tidak ingin melihat Alya menangis seperti itu lagi.
Rian berusaha untuk melepaskan dirinya dari Alya, dan memandang tajam ke arah Alya.
__ADS_1
“Al, sudah tau salah lo apa?” tanya Rian, Alya mengangguk dengan deraian air mata yang sangat deras.
Rian menghela napasnya dengan panjang, “Gue gak pernah melakukan hal itu sama Rachel. Kenapa lo melakukan itu sama Morgan? Bahkan sebelum sama gue,” ungkapnya, membuat Alya memandangnya dengan sendu.
“Maaf, Yan. Bukan gue ... gue gak bermaksud mau melakukan itu. Itu ... itu gak sengaja terfoto, dan Morgan yang melakukan itu. Gue sama sekali gak ngelakuin itu,” ujar Alya, berusaha untuk membela dirinya sendiri.
Rian menghela napasnya dengan panjang. Pikirannya sangat kalut, karena rasa bencinya terhadap Morgan sudah semakin memuncak karena melihat foto tersebut.
“Udah malam, Al. Kita istirahat aja. Besok ke mana? Biar gue antar,” ujar Rian, yang masih berusaha sabar menghadapi Alya yang seperti itu.
Alya merasa sangat bersalah, karena alih-alih ingin membalas dendam, ternyata ia yang malah menyakiti hati Rian.
Baru ingin memulai kehidupan yang mesra, tetapi mereka sudah memiliki konflik yang lumayan berat di awal hubungan mereka.
“Tapi gimana sama masalah ini,Yan? Gue gak mau bikin lo sakit hati dan salah paham,” ujar Alya, membuat Rian merasa sedikit geram mendengarnya.
“Dengan begini aja, lo udah berhasil buat gue sakit hati, Al.” Rian memandangnya dengan tegas, membuat Alya seperti ketakutan ketika melihat ekspresi Rian yang seperti itu di hadapannya.
Tak ingin membuat Alya ketakutan, Rian segera membalikkan tubuhnya ke arah pintu.
“Sudah malam, Al. Istirahat, ya. Gue udah masak makanan, kalau lo laper. Makan aja semuanya, gue gak makan,” ujar Rian dengan datar.
Rian melangkah keluar ruangan, dengan Alya yang hanya bisa memandangnya dengan sendu, sembari tetap menangis.
‘Kenapa semuanya malah begini? Kenapa di saat udah saling menerima, ada aja permasalahan yang bikin kita jadi renggang lagi?’ batin Alya, yang merasa sangat khawatir dengan hubungan mereka ke depannya.
Baru saja melangkah beberapa langkah ke depan, ada saja penghambat yang membuat langkah mereka harus terhenti sementara.
Inilah yang dinamakan kehidupan. Pasti ada asam garam yang harus mereka telan, sehingga membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Jika mereka bisa melewatinya, makan mereka akan merasakan nikmatnya cinta di langkah berikutnya.
Justru hal seperti ini, yang membuat hubungan mereka tetap langgeng dan juga romantis. Masalah kecil seperti ini, membuat mereka sadar dengan kesalahan yang tidak boleh diulang kembali.
Karena merasa sudah tidak bisa berpikir lagi, Alya segera melangkahkan kakinya ke arah kamar mandinya. Ia membiarkan sekujur tubuhnya terkena air mengalir, sehingga membuatnya merasa tenang.
__ADS_1
Rasa bersalahnya terhadap Rian, memang tidak bisa diredam begitu saja. Setidaknya saat ini, mereka harus memiliki waktu masing-masing, untuk saling menerima kembali.
***