Menerima Cinta Waria Tampan

Menerima Cinta Waria Tampan
Macan Tidur


__ADS_3

“Sibuk ngapain, sih? Kenapa gak libur dulu sehari?” tanya mereka.


“Gak bisa libur. Lagian gue bukan sibuk kerja,” ujar Rian, membuat mereka penasaran dengan yang Rian maksudkan.


“Maksudnya apa? Sibuk ngapain?”


“Sibuk jagain pacar gue, biar gak dicolong orang,” jawabnya asal, yang sukses membuat Alya tersenyum bahagia mendengarnya.


Rian menoleh ke arah Alya, kemudian segera melangkah menuju ke arah lapangan untuk sekadar melakukan pemanasan.


Kedua gadis itu hanya bisa menggerutu, membuat Alya senang melihat sikap Rian yang sangat dingin kepada kedua orang ini.


‘Dia mulai bisa jaga sikapnya,’ batin Alya, yang merasa harus melakukannya juga, untuk menjaga hati Rian.


Alya melangkah ke arah lapangan, menyusul Rian yang sudah lebih dulu melakukan pemanasan.


Tak sengaja, Morgan melihat ke arah Alya, yang baru saja datang di hadapannya. Ia tersenyum hangat, saking senang dan bahagianya melihat kedatangan Alya di sini.


“Al, akhirnya datang juga,” gumam Morgan, yang memang sejak tadi sudah menunggu kedatangan Alya di sana.


Alya hanya bisa tersenyum pasi, karena masih harus menjaga perasaan Rian di hadapan Morgan.


Tak mau menghiraukan Morgan, Alya berusaha untuk menjauh dan menjaga jarak dari Morgan dan juga Rian. Saat ini, Alya hanya ingin fokus latihan, dan tidak ingin membuat siapa pun terluka di sini.


Melihat Alya yang sepertinya menghindarinya, Morgan pun hanya bisa memandangnya dengan bingung. Ia merasa kalau Alya sedang menghindar darinya saat ini.


‘Alya kenapa? Menghindar?’ batin Morgan, yang tidak terima dengan apa yang Alya lakukan padanya.


Rian memperhatikan mereka sejenak. Terlihat Morgan yang terus menghampiri Alya, tetapi Alya masih terlihat acuh padanya.


‘Lihat aja, kalau sampai lo berani lebih dari ini, gue gak akan segan buat ngehajar lo!’ batin Rian, yang sudah melakukan ancang-ancang, karena ia tidak ingin istrinya disentuh lagi oleh Morgan.


Morgan terus mendekati Alya, tetapi Alya sama sekali tidak menghiraukan. Berbagai pertanyaan pun terlontar dari mulut Morgan, tetapi Alya hanya menjawabnya dengan nada yang terdengar acuh.


“Al, lo kenapa, sih? Masih marah sama gue?” tanya Morgan, membuat Alya menghela napasnya dengan panjang.


“Gue gak marah sama lo, kok. Gue cuma ... lagi gak enak badan aja,” sanggah Alya, membuat Morgan mendelik mendengarnya.

__ADS_1


“Apa? Lo gak enak badan?” tanya Morgan kaget, yang secara spontan mengulurkan punggung tangannya ke arah kening Alya.


Namun, sebelum Morgan berhasil menyentuhnya, ia sudah lebih dulu menghindari Morgan.


“Maaf, Gan. Gue lagi gak mood,” ujar Alya, berusaha untuk tidak melakukan kontak fisik apa pun lagi dengan Morgan.


Rian tersenyum puas, karena ternyata Alya sudah menjalani apa yang ia inginkan.


Morgan menoleh ke arah sebelah kanan, dan menemukan Rian yang sedang menyunggingkan senyumannya ke arah mereka.


Hal itu lantas membuat Morgan kesal.


‘Sialan Rian! Ternyata dia diam-diam perhatiin kita!’ batin Morgan, yang merasa sangat kesal dengan keadaan.


Alya kembali dengan aktivitasnya, membuat Morgan pun memandangnya kembali dengan lekat.


‘Bagaimanapun juga, gue gak akan biarin Rian menguasai Alya! Gue gak mau orang yang gue sayang, pergi begitu aja dari hidup gue. Setelah sekian lama gue ngincer dia, gue gak akan pernah kalau dan gak akan pernah mau ngalah sama orang kayak Rian!’ batin Morgan, yang rupanya masih kukuh dengan pendiriannya itu.


Morgan kembali berusaha untuk mengalihkan perhatian Alya, tetapi Alya terus menolaknya, dan hanya melakukan apa yang sedang ia lakukan.


Beberapa saat Alya diam, tetapi Morgan malah semakin jadi mendekatinya. Ia malah berani terus ingin menyentuh fisiknya, tetapi Alya tidak tinggal diam. Ia mengelak, dan menghindar dari setiap sentuhan yang akan dilakukan Morgan padanya.


Kini, ia berdiri tegak di hadapan Alya.


“Al, kenapa sih dari tadi lo cuma diam aja? Ada gue di sini, Al!” ujar Morgan, membuat Alya merasa semakin risih saja melihat kelakukan Morgan di hadapannya itu.


“Maaf, Gan. Gue mau latihan,” ujar Alya, yang bahkan sampai tidak ingin memandang wajah Morgan.


Morgan semakin kesal, dan lantas mencengkram bahu Alya dan memaksanya untuk memandang ke arahnya.


“Al, please. Jangan gini sama gue!” ujar Morgan dengan tegas, berusaha untuk membuat Alya melihat dirinya di hadapannya.


“Sorry, Gan. Jangan sentuh gue begini!” bentak Alya, yang benar-benar sudah merasa risih disentuh oleh Morgan.


Rian merasa kesal, karena sudah tidak bisa menahannya lagi.


‘Sudah cukup, gak bisa dibiarin lagi!’ batin Rian, yang sudah mempersiapkan dirinya untuk menghajar Morgan di sana.

__ADS_1


“Al, jangan begini sama gue. Gue gak bisa kalau lo bersikap acuh begini sama gue,” rengek Morgan, membuat Alya memandangnya dengan pandangan yang bingung.


Rian melemparkan sebuah batu bata ke arah Morgan, membuat Morgan dengan refleks yang ia miliki, segera menangkis batu bata tersebut.


Pandangan mereka sama-sama tertuju pada sebuah titik. Tingkat kebencian Rian pada Morgan semakin tinggi, sehingga membuatnya tak tahan lagi untuk segera menghajar Morgan.


Morgan memandangnya dengan sinis, “Apa-apaan, nih?!” pekiknya, membuat seluruh mata memandang ke arah mereka.


Terjadilah adegan yang sangat menegangkan di sini, membuat semua pasang mata menorehkan perhatiannya kepada mereka.


Mereka tidak menyangka, senior seperti Morgan akan meluapkan emosinya dengan junior seperti Rian.


“Mereka mau berantem!”


“Iya! Kira-kira, siapa yang akan menang?”


Mereka berbisik satu sama lain, membuat Rian semakin kesal saja dengan keadaan.


Alya merasa keadaan ini sangat tidak benar, dan ia bingung harus berbuat apa lagi sekarang.


‘Kenapa semuanya jadi runyam begini, sih?’ batin Alya, yang merasa sangat bingung dengan keadaan yang memperebutkannya itu.


Tak terima dengan bentakan Morgan, Rian pun memandangnya dengan sinis.


“Lo yang apa-apaan?! Alya udah bilang, jangan disentuh, seharusnya lo ngerti dong bahasa manusia! Masa sih, Alya harus bicara pakai bahasa planet, baru lo bisa ngerti apa yang dia maksud?” bentak Rian, yang sama sekali tidak ada rasa takutnya dengan Morgan.


Morgan mendengus kesal, karena seorang junior seperti Rian, menantang dirinya di kandangnya sendiri.


‘Mau cari mati nih orang!’ batin Morgan, merasa kesal dengan keadaan yang ada.


“Jangan bangunkan macan tidur! Lo gak akan selamat!” bentak Morgan, Rian menyunggingkan senyumannya ke arahnya.


“Gak akan selamat? Kita lihat, macan yang sudah tertidur sekian lama, apa masih bisa membuat mangsanya gentar?” tanya Rian, sontak membuat Morgan terkejut dan semakin merasa tertantang.


‘Sialan ini orang gak ada takut-takutnya sekarang!’ batin Morgan, yang malah merasa gentar, hanya dengan mendengar ucapan Rian saja.


Rian memasang kuda-kudanya, membuat Morgan benar-benar mendelik kaget mengetahuinya.

__ADS_1


“Ayo kita buktikan, macan tidur!”


__ADS_2