Menerima Cinta Waria Tampan

Menerima Cinta Waria Tampan
Jalan Cabang


__ADS_3

Tiba-tiba saja Alya muncul dari kamarnya, membuat Rian mendelik kaget melihat kedatangannya.


Pandangannya tertuju pada handphone-nya, yang ternyata sedang Rian pegang.


“Kenapa handphone gue ada sama lo?” tanya Alya bingung, Rian menghela napasnya dengan panjang.


Mau bagaimana lagi, Rian tetap harus mengatakannya pada Alya perihal masalah ini.


“Tadi ... Morgan nelepon lo,” ungkap Rian, Alya mendelik kaget mendengarnya.


“Hah?! Nelepon gue?” pekik Alya, yang langsung merebut paksa handphone-nya dari tangan Rian.


Alya melihat log panggilan masuk. Memang benar, ternyata Morgan menghubunginya beberapa kali, sejak pagi tadi. Akan tetapi, karena kesibukannya, Alya sampai tidak sempat memeriksa handphone-nya dari pagi tadi.


Namun, ada yang membuat Alya tersadar. Nama Morgan beserta emotikon love pada handphone-nya, yang masih belum ia ganti, sejak saat pertama Morgan menyimpan sendiri nomor handphone-nya pada kontak handphone dirinya.


Matanya mendelik kaget, lalu memandang ke arah Rian dengan perasaan khawatir.


“Yan ... gue bisa jelasin soal--”


“Gak apa-apa, Al,” pangkas Rian, “sebelumnya gue mau marah soal itu sama lo. Tapi karena Morgan udah tau kalau gue pernah jadi waria, gue langsung down,” ujarnya menjelaskan, sontak membuat Alya mendelik kaget mendengarnya.


“Hah?! Dia tau masa lalu lo?” pekik Alya kaget, Rian mengangguk lemas, dengan masih tertunduk di bawah lantai.


Seketika Alya tak bisa berkata-kata. Entah dari mana Morgan mengetahuinya, Alya hanya bisa menghela napasnya dengan panjang, dengan peluh yang terus membanjiri keningnya.


Tangannya meremas rambutnya, membuat Alya merasa tidak bisa berkata apa pun lagi.


‘Kalau Morgan kasih tau semuanya ke publik, mungkin gue gak akan bisa lanjutin karir gue lagi!’ batin Alya, merasa bingung dengan keadaan ini.


Jangan sampai semua itu terjadi.


“Gimana kalau dia kasih tau semuanya ke wartawan?” gumam Alya, yang sudah tidak bisa berpikir apa pun lagi.


Rian sangat mengerti, dengan apa yang Alya pikirkan. Ini antara reputasi dan juga cinta bagi Alya. Itu adalah dua hal yang sangat sulit untuk dipilih.


Air mata berjatuhan, Alya sangat berat memikirkan jika ia harus kehilangan pekerjaan dan juga mimpinya.


Rian menunduk sendu, menarik tangan Alya yang masih berdiri di hadapannya, untuk duduk di hadapannya, membelakanginya.

__ADS_1


Dipeluknya dengan erat tubuh Alya, karena Rian yang sudah tidak bisa berkata apa pun lagi. Untuk meninggalkan Alya pun, akan terasa sangat sulit. Ia hanya bisa pasrah dengan apa pun keputusan Alya.


“Maaf ...,” gumam Rian, sembari terus menciumi bahu Alya.


Beberapa saat Alya terdiam membeku, saking tidak tahu lagi harus bicara apa. Ketakutannya melandanya, kali ini persoalan mimpi dan juga karirnya yang sudah sejak lama ia jalani.


Hati Rian terasa sangat perih, karena ia sudah membuat Alya berada dalam keadaan yang menyulitkannya.


“Maaf, karena gue ... lo jadi begini. Sekarang, gue terima apa pun keputusan lo. Gue pasrah,” gumam Rian dengan suara yang nyaris hilang, saking takutnya ia mengatakannya pada Alya.


Sementara Alya hanya bisa menunduk, sendu karena ia tahu setelah ini ia harus memilih.


Alya sangat benci pilihan.


Hati kecilnya sangat menginginkan untuk menggapai mimpinya, tetapi ia sadar kalau ia juga tidak bisa melakukan mimpinya tanpa adanya Rian di sampingnya. Ia sudah ketergantungan dengan Rian. Ia tidak bisa lepas lagi dari Rian.


“Gue ... gak bisa kalau tanpa lo, Yan,” gumam Alya, mengungkapkan isi hatinya.


Paling tidak, Rian pun memiliki perasaan yang sama dengan yang Alya miliki. Satu poin itu sudah membuat Rian sangat bahagia.


Satu senyuman merekah di bibir Rian, berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak menyerah setelah ini.


Bagaikan petir menyambar di siang bolong, Rian merasa dirinya sangat sakit mendengar Alya mengatakan kalimat itu. Walaupun ia mengerti ucapan Alya yang seperti itu, tetapi konsekuensinya adalah kehilangan Alya sepenuhnya.


Beberapa kali napasnya ia hela, berusaha mempertahankan kewarasannya di hadapan Alya.


Tangannya mengendur, tak bisa memeluk Alya dengan erat lagi.


“Lo bisa tentuin semuanya sendiri, Al. Gue gak mau ngehalangin jalan lo,” gumam lirih Rian, membuat Alya seketika terisak mendengarnya.


Tak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka hanya saling diam, sembari berusaha menahan perasaan sendu mereka masing-masing.


Untuk melepaskan tidaklah mudah, untuk menjalani semuanya tentu terasa sangat sulit.


Rasa penasaran masih teasa di hatinya. Rian ingin tahu, apa maksud Morgan menghubungi Alya tadi.


“Coba, hubungin Morgan. Tanya, ada tujuan apa dia hubungin lo tadi,” suruh Rian dengan sendu, Alya mengusap air matanya yang mengalir dengan punggung jemarinya.


Alya menurut, ia menekan nomor tujuan Morgan untuk segera menghubunginya.

__ADS_1


Sambungan telepon terhubung, setelah beberapa saat menunggu.


“Halo? Alya!” pekik Morgan tiba-tiba, sesaat setelah panggilan telepon terhubung.


Ada perasaan ragu Alya, untuk berbincang dengan Morgan. Itu karena ia terlalu sungkan, untuk melakukan hal itu di hadapan Rian, yang saat ini sedang memeluknya dari belakang.


“Halo, Gan ....” Suaranya terdengar parau, tetapi dibuat tegar dan jelas mengatakannya.


“Al ... kenapa gue hubungin lo dari pagi, terus lo gak angkat sama sekali? Sesibuk itu, ya?” tanya Morgan mendesah, saking sendunya ia dengan hal ini.


“Iya ... maaf, ya. Memangnya, ada apa lo telepon gue tadi?” ujar Alya.


“Lo lagi sama Rian?” tanya Morgan menyelidik, Alya menoleh sedikit ke arah belakangnya.


“Enggak. Gue sendiri, di kamar.” Tentu saja Alya akan mengatakan demikian.


“Oh gitu. Gue cuma mau tanya, lo harus jawab dengan jujur, ya!” ujarnya, yang terdengar seperti memaksa.


Alya sangat bingung, karena ia sudah mengetahui apa yang akan Morgan tanyakan padanya. Ia mempersiapkan dirinya untuk mendengarkan.


“Nanya apa?” Alya mendadak dingin.


“Lo ... ada hubungan apa sama Rian?” tanya Morgan dengan nada yang sangat penasaran.


Alya terdiam sejenak, menoleh ke arah Rian untuk meminta pendapat. Rian hanya terlihat diam, pasrah tak memberikan kode apa pun padanya.


“Memangnya apa urusannya sama lo?” tanya Alya sedikit sinis, Rian sedikit kaget mendengar respon Alya pada Morgan.


“Serius, Al. Katanya lo mau jawab dengan jujur?” Morgan menagih janji Alya.


“Ya memangnya kenapa? Ada apa? Apa ada rumor yang gak jelas, yang menyangkut tentang Rian?” tanya balik Alya, membuat Morgan menghela napasnya dengan panjang.


“Rian ... dia itu pernah jadi waria, Al!” ungkap Morgan tegas, Alya bergeming.


“Memangnya rumor dari mana itu?” tanya Alya dingin, seperti orang yang tidak menanggapi ucapan Morgan.


Morgan bingung, kenapa Alya tidak merespon apa pun mengenai hal ini.


‘Kenapa dia biasa aja, sih? Apa jangan-jangan dia udah tau?’ batin Morgan, yang menduganya seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2