Menerima Cinta Waria Tampan

Menerima Cinta Waria Tampan
Melindungi Bukan Dilindungi


__ADS_3

Mendengar mereka yang ingin bertengkar di sini, Alya merasa sangat bingung. Ia tidak ingin ada pertengkaran di sini, karena ia hanya ingin menuntut ilmu di sini.


Alya sama sekali tidak menginginkan pertengkaran, apalagi mengenai permasalahan hati.


“Udah, jangan pada berantem kenapa, sih!” bentak Alya, yang merasa kesal dengan apa yang mereka lakukan di hadapannya itu.


Mereka tak menghiraukan, dan sama-sama saling memasang kuda-kudanya.


Rian sama sekali tidak gentar, karena ini adalah cara dirinya mempertahankan harga diri wanita yang ia jaga.


Tidak masalah jika harus terluka, asalkan harga diri wanita yang ia jaga bisa dibela olehnya.


“Jangan ditahan, gue gak rela lo dilecehin sama dia!” ujar Rian, dengan wajahnya yang sudah tidak sabar ingin menerkam Morgan.


Morgan menyunggingkan senyumannya ke arah Rian, “Memangnya gue kenapa? Lecehin Alya? Siapa juga yang lecehin dia?” ujarnya dengan nada yang sangat membagongkan.


Rian merasa kesal, dan segera memperkuat tekadnya untuk menghajar Morgan.


Paling tidak satu pukulan, untuk ganjaran dari ciumannya dengan Alya kemarin.


“Alya udah bilang, jangan ya jangan! Itu namanya pelecehan, kalau lo tetap melakukan hal yang gak dia suka!” bentak Rian, berusaha memberitahu kesalahan Morgan, yang sama sekali tidak ia rasakan.


Morgan menyunggingkan senyumannya, “Gue cuma berusaha untuk bicara baik-baik sama Alya. Gak ada maksud lain. Gue cuma terbawa suasana aja, karena Alya sama sekali gak respon gue dengan semestinya,” ujar Morgan, membuat Rian kesal mendengarnya.


“Sudah salah, gak mau mengaku. Lelaki macam apa lo?” tanya Rian sinis, membuat Morgan mendelik kaget mendengar ucapan kasar Rian itu.


“Sialan!” geram Morgan, yang langsung melakukan serangan tiba-tiba kepada Rian.


Morgan murka, dan segera melayangkan kepalan tangannya pada wajah Rian. Namun, Rian berhasil mengelak sehingga membuat Morgan mendelik kaget mengetahuinya.


“Sialan!” pekik Morgan, yang kembali berbalik untuk melayangkan kembali pukulannya, tetapi lagi-lagi Rian menunduk, dan membuat Morgan hanya bisa memukul angin.


Beberapa kali pukulan Morgan sama sekali tidak dapat mengenai Rian, membuat ia merasa kesal dengan hal itu.


Semua orang mendelik kaget, kagum dengan yang Rian lakukan untuk mengelak serangan dari Morgan.

__ADS_1


Walaupun masih terbilang baru, Rian ternyata sudah berhasil menerapkan apa yang sudah ia pelajari selama berada di klub ini. Ia mempraktekkannya, sehingga membuat Morgan mendelik tak percaya dengan apa yang ia lakukan ini.


‘Apa? Dari tadi dia bisa ngelak pukulan gue?’ batin Morgan, yang merasa kesal dengan keadaan.


Rian memberontak, ia merasa ingin menghajar Morgan dengan keadaan mereka yang sudah sangat pas waktunya ini.


Satu tendangan berhasil mengenai pipi kiri Morgan, membuat Morgan terpental setelah mendapatkan serangan maut dari Rian.


Entah karena ilmu yang didapat sudah berhasil mendarah daging, atau karena kemarahannya yang membuatnya bisa melakukan semua ini.


Semua orang memandang dengan tidak percaya. Hanya dengan satu tendangan saja, Morgan berhasil dilumpuhkan oleh Rian.


Morgan terbatuk, membuat Alya merasa snagat kasihan padanya.


“Morgan!” pekik Alya, yang hendak menolong Morgan untuk bangkit, tetapi Rian menahannya dengan menggenggam tangannya.


“Ayo kita pulang,” ajak Rian dengan perasaan yang masih menahan kesalnya.


Alya tak memiliki pilihan, dan segera mengikuti Rian untuk kembali ke apartemen mereka.


Tidak seperti dirinya, yang memang sudah mempelajari beladiri ini, sejak ia masih duduk di bangku SMA.


Morgan berusaha bangkit, dan memandang sinis ke arah Rian yang menarik Alya pergi dari sana.


‘Awas aja, nanti akan gue balas!’ batin Morgan, yang benar-benar tidak bisa menerima, dipermalukan seperti ini oleh orang baru.


***


Rian membawa Alya kembali ke apartemen tempat mereka tinggal. Kini, mereka sudah sampai di sana, dan Rian pun menutup dan mengunci pintu dengan password yang baru.


Tidak ada yang boleh masuk ke sini, selain mereka.


Rian memandang ke arah Alya, yang sudah lebih dulu berada di sofa. Ia melangkah menuju ke arah sofa, berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dirinya kembali.


Rian segera memeluk Alya dengan erat, menciuminya, sampai ia benar-benar merasakan kepercayaan dirinya kembali.

__ADS_1


Ia sudah sangat puas dengan berhasil menghajar Morgan, dengan satu serangan seperti tadi. Namun, ia tidak berhenti puas sampai di situ saja.


‘Sudah cukup, jangan sentuh wanita gue lagi!’ batin Rian, yang masih berusaha untuk menghilangkan kekesalan dalam hatinya.


Rian masih saja menciumi Alya, dengan Alya yang hanya bisa pasrah dengan apa yang Rian lakukan padanya.


Ciumannya perlahan turun, dari puncak kepala Alya, kening, mata, hidung, sampai kebibir Alya.


Rian terus melakukannya, mencumbunya, hingga membuat ******* kecil yang membuat Alya merasa ketagihan untuk melakukannya lagi dan lagi.


Entah dari mana Rian mempelajari cara melakukannya, tetapi rasanya sangat nyaman, dan bisa membuat Alya merasa sensasi yang memabukkan.


Setiap sentuhan lembut Rian, membuatnya melupakan segala permasalahan yang sedang melanda dirinya.


Rian berhenti menciuminya, dan memeluk Alya dengan sangat erat. Ia menyandarkan kepalanya tepat pada dua gundukan kenyal milik Alya, membuatnya merasa sangat nyaman.


“Gue cemburu! Gue gak suka! Gue sengaja ngelakuin itu sama dia. Jangan tahan gue,” gumam Rian, yang berusaha untuk menahan rasa kesalnya.


Alya hanya bisa diam, sembari berusaha menahan tangisnya. Namun, air mata itu seakan memaksa keluar dengan sendirinya, membuatnya merasa sangat sendu.


Bukan bermaksud ingin menghalangi Rian, untuk membalaskan dendamnya pada Morgan. Bukan maksudnya juga untuk melindungi Morgan dari amukan Rian. Namun, Alya lebih ingin menjaga Rian, jangan sampai tersentuh oleh Morgan.


Rian sudah pernah dihajar habis-habisan dengan Dion. Sekarang, Alya tidak rela melihat Morgan memukuli Rian juga.


“Gue ... cuma khawatir sama lo. Gak bermaksud yang lain,” ungkap Alya, yang memang seperti itu kenyataannya.


Rian merasa senang mendengarnya, karena ia merasa lebih diperhatikan sekarang. Sikap lembut Alya saat ini, menepis pemikiran buruk tentangnya, dalam benak Rian.


Semua perasaan kesalnya seakan hilang, berganti dengan perasaan senang, karena sudah mendengar ucapan Alya itu.


Senyumannya menyungging, “Khawatir kenapa?” tanya Rian.


Nadanya kembali melembut, Alya merasa Rian sudah tidak diliputi kegelisahan dan amarah lagi. Hatinya tenang, saking lembutnya ucapan Rian padanya.


“Khawatir, lo akan kalah dari Morgan,” jawab Alya dengan singkat, dengan hati yang sudah mulai lega.

__ADS_1


Rian membelai lembut wajah Alya, “Gak akan terjadi sesuatu lagi sama gue. Gue udah belajar sungguh-sungguh. Itu semua juga buat jagain lo. Gue gak mau seperti saat pertama kita ketemu, yang harus dilindungi sama lo. Tugas lelaki melindungi, bukan dilindungi,” ujarnya, membuat senyuman Alya juga menyungging di pipinya.


__ADS_2