
‘Ternyata gue sama Dion udah sedekat itu dulu. Gue aja yang gak sadar,’ batin Alya, yang merasa sedikit sedih mengingat masa lalu dirinya dengan Dion.
Padahal, dalam hati kecilnya, ia sama sekali tidak ingin mengingat apa pun tentang Dion.
Dion yang sudah membuatnya sakit, menyelingkuhinya, mengambil uang yang bukan haknya, menumpang hidup dengannya, menghajar Rian pula waktu itu.
Alya mendelik, teringat dengan sosok Rian yang terlupakan saat ia bersama dengan Morgan.
Perasaan itu muncul kembali, ia tidak bisa membohongi perasaannya terhadap Rian.
‘Selama ini, selalu ada Rian di sisi gue. Gue gak mungkin nerima Morgan, karena biar bagaimanapun juga Rian yang udah buat gue senyum,’ batin Alya, yang memikirkan perasaannya terhadap Rian.
Walaupun sangat sulit, Alya tetap berusaha untuk melupakan Dion. Karena Rian, ia bisa melupakan sosok Dion. Namun, karena Morgan, ia jadi bisa melupakan sosok Rian, yang sudah melakukan hal yang tidak baik dengan seniornya itu.
‘Dia udah melakukan hal yang gak baik sama Rachel, dan sekarang gue juga udah melakukan hal yang gak baik sama Morgan. Apa sudah cukup?’ batin Alya, yang merasa sedikit puas karena sudah membalas Rian, secara tidak sengaja.
Morgan memandangnya bingung, “Lo kenapa, Al?” tanyanya, Alya memandang ke arahnya sembari menggelengkan kepalanya.
“Gak ada apa-apa,” jawab Alya, Morgan menghela napasnya dengan panjang.
Morgan sangat mengerti, kalau Alya tidak akan pernah mengatakan apa pun padanya, karena ia sudah sangat memahami sifat Alya.
‘Walaupun ditanya, Alya gak akan pernah ngomong apa pun,’ batin Morgan, yang merasa semua yang ia tanyakan pada Alya, adalah percuma.
“Ya udah, ini udah sore. Kita makan dulu, habis itu gue antar lo ke lokasi syuting, ya?” ujar Morgan, Alya memandangnya dengan sendu.
“Kayaknya gue gak ke lokasi syuting dulu, deh. Gue belom siap kalau ada wartawan nyerbu gue nanti,” ujar Alya, membuat Morgan memandangnya dengan sedikit bingung.
‘Kenapa? Justru itu hal yang bagus, supaya gue bisa umumin perasaan gue ke lo, dan gue bisa menyatakan cinta di hadapan mereka,’ batin Morgan, yang merasa sangat disayangkan mengenai hal ini.
Alya memandang bingung ke arah Morgan, “Kenapa diem?” tanyanya.
Morgan tersenyum, “Gak apa-apa,” ujarnya. “Jadi, kita ke mana sekarang?” tanya Morgan.
__ADS_1
“Ke apartemen gue. Sekalian gue mau minta tolong, benerin shower gue. Shower gue mati, gak bisa mandi di kamar mandi dalam,” ujarnya, membuat Morgan tersenyum mendengarnya.
“Ya udah, gak apa-apa. Gue cek nanti di sana,” ujar Morgan yang senang dengan keadaan ini.
Morgan sangat senang bila dibutuhkan oleh Alya, karena hal itu dapat membuat Alya menggantungkan diri padanya.
‘Sedikit demi sedikit, lo pasti akan nerima gue,’ batin Morgan, yang sangat positif memikirkan hal seperti ini.
Mereka pun bersiap untuk perjalanan pulang kembali ke apartemen Alya.
Sementara itu di sana, Rian sudah sangat sibuk untuk memasak makanan, yang akan ia makan bersama dengan Alya.
Karena tidak bisa memasak, Rian hanya membuat olahan mi goreng saja, dengan tambahan beberapa topping di atasnya.
Masih banyak bahan makanan di dalam kulkasnya Alya, sehingga membuatnya lebih bersemangat lagi untuk membuatkan mi goreng.
Berbagai bahan yang ada, ia pakai untuk membuat mi goreng itu bertambah nikmat dari mi biasanya.
Setelah selesai menyiapkan semuanya, Rian menepuk-nepuk tangannya, menyingkirkan debu yang ada pada tangannya.
“Sudah siap. Tinggal nunggu Alya pulang, terus makan bareng sama dia,” gumam Rian, yang merasa sangat senang menunggu Alya di rumahnya.
Setelah menunggu kurang lebih dua jam lamanya, seseorang menekan tombol bel. Rian dengan perasaan gembiranya, segera melangkah ke arah pintu masuk apartemen tersebut.
Dibukanya pintu apartemen tersebut, dan seketika wajah Rian langsung berubah menjadi masam.
Rian melihat di hadapannya kini, sudah ada Alya dan Morgan.
“Ternyata lo keluar sama dia seharian?” ujar Rian dengan datar, membuat Alya merasa kesal lihat ekspresi Rian yang seperti itu terhadapnya.
“Udah deh, gue capek! Gue mau istirahat!” ujar Alya, yang merasa sangat kesal karena kelakuan Rian yang seperti itu padanya.
Alya menoleh ke arah Morgan, “Ayo, Gan!” ajaknya, Morgan mengangguk kecil kemudian segera masuk mengikuti langkah Alya.
__ADS_1
Alya berhasil masuk, tetapi Rian menghadang Morgan di sana. Ia tidak bisa membiarkan siapa pun masuk ke dalam apartemen ini.
Sudah cukup Dion yang tidak tahu diri, membawa masuk seorang wanita ke dalam apartemen milik Alya. Ia tidak ingin siapa pun masuk lagi ke dalam sini, terutama Morgan.
“Lo gak boleh masuk. Gak ada tempat buat lo di sini!” ujar Rian ketus, membuat Morgan memandang ke arah Alya dengan tajam.
Melihat kejadian itu, Alya yang memang sudah lelah dan tidak mood, menjadi bertambah tidak mood. Tujuannya mengajak Morgan ke tempat ini, untuk membenarkan shower yang rusak, tetapi dihalangi oleh Rian.
“Kenapa sih, Yan? Kenapa Morgan gak boleh masuk? Ini ‘kan--”
“Apartemen lo? Iya? Lo mau bilang gitu, bukan?” tanya Rian, memangkas ucapan Alya.
Alya menghela napasnya dengan kasar, karena merasa kesal dengan apa yang ia hadapi saat ini.
Sudah menghadapi copet, para paparazzi, dan sekarang menghadapi Rian yang seperti ini.
“Please, Rian. Jangan sekarang. Gue lagi gak mood!” ujar Alya, yang nadanya terdengar sudah pasrah di hadapan Rian.
Morgan sangat tidak rela, melihat Alya yang merengek seperti itu di hadapan Rian. Ia tidak ingin melihat Alya lemah, di hadapan lelaki selain dirinya.
“Gue gak suka ya lo otoriter begitu sama Alya! Memangnya lo siapanya Alya, hah?!” ketus Morgan, sontak membuat Rian memandang sinis ke arahnya.
Pandangan mereka saling bertemu, satu sama lain. Mereka saling memandang layaknya seorang raja rimba, yang sedang mengincar mangsanya.
“Lo nanya siapa gue?” tanya balik Rian, Morgan semakin menengadah ke atas.
“Ya, siapa lo? Kenapa lo bersikap otoriter sama Alya? Memangnya lo siapa? Dion? Bukan, ‘kan?” tanya Morgan secara bertubi-tubi, membuat Alya merasa sangat kesal mendengarnya.
“Udah, Gan! Stop! Gue mau istirahat!” bentak Alya, yang tidak ingin ada keributan di sini.
Morgan memandang ke arah Alya, “Gimana? Gue butuh kepastian dan jawaban dari Rian. Siapa dia bagi lo, dan siapa lo bagi dia!” ujar Morgan, yang sudah merasa gemas ingin menghajar Rian, meskipun di hadapan Alya.
Alya tidak ingin Rian sampai memberitahu, tentang hubungan di antara mereka.
__ADS_1
Bisa runyam urusannya.
Alya memandang ke arah Rian, meskipun Rian sama sekali tidak memandang ke arahnya.