
Morgan berlarian ke arah Alya, dan segera mengejar si penjahat yang sudah membuat Alya kesal.
Dengan kecepatan larinya itu, Morgan bahkan bisa menyusul Alya, yang sudah lari lebih dulu di depannya.
Alya menoleh ke arah Morgan, yang ternyata sudah berlarian lebih dulu di hadapannya.
“Morgan! Tas gue!” teriak Alya, Morgan tak menghiraukan dan malah fokus untuk berlarian ke arah si copet.
Semua mata memandang, membuat suasana menjadi sangat kaku.
Orang yang ada di hadapan mereka, semuanya menyingkir dari hadapan Morgan dan juga si copet itu.
“Jangan lari lo, copet!” pekik Morgan, si copet terus saja berlari, sembari berdoa agar dirinya tidak terangkap oleh orang yang mengejarnya itu.
Alya memandang geram ke arah para petugas penjaga, “Ini ada copet! Gimana sih, bukannya dikejar, malah diam aja!” bentaknya, semua petugas segera berlarian ke arah si copet, tetapi Alya yakin semua yang mereka lakukan hanyalah sia-sia belaka.
“Udah ada Morgan, ngapain mereka ikut ngejar juga?! Telat!!” geram Alya, yang memandang ke arah mereka berlari, sembari menghela napasnya dengan kasar.
“Tutup pintu keluar! Jangan ada yang biarin copet keluar dari area ini!” teriak salah satu petugas, yang masih terdengar jelas oleh Alya.
“Nah ... gitu ‘kan enak! Jangan lari-lari, percuma! Tutup pintu keluar! Beres!” gerutu Alya, yang masih saja gondok dengan para petugas yang lembek itu.
Morgan semakin berlari kencang, karena tadi ia masih mengerahkan separuh tenaganya. Sekarang, ia sudah tidak bisa memaafkan si copet lagi.
“Kali ini pasti kena!” gumam Morgan, yang bersiap untuk melompat ke arah si copet, dengan kakinya yang menahan kedua kaki si pencopet.
BRUK!
Si pencopet terjatuh, Morgan melakukannya dengan sangat baik. Kedua kakinya berhasil menahan kaki si copet, dan ia pun tidak lagi bisa berlari dari kejaran Morgan.
Tangan Morgan segera menekan leher si copet, berusaha untuk memberikan pelajaran kepada si copet.
“Mati lo! Mau mati, atau kembaliin barang yang lo ambil?!” bentak Morgan, si copet seperti sudah kehabisan napasnya.
Semua mata memandang ke arah Morgan, yang sudah berhasil melumpuhkan si copet. Mereka tidak menyangka, Morgan bisa membuat si preman menjadi ketakutan seperti seekor kelinci.
“Lepasin!” teriak si copet sekuat tenaga, karena lehernya yang sudah tidak bisa digerakkan kembali.
__ADS_1
Alhasil, si copet menjadi sangat kesulitan untuk menarik napasnya.
“Balikin yang lo curi!” bentak Morgan, si copet mengulurkan tangannya, mengembalikan tas yang ia ambil dari Alya.
Morgan menarik tas tersebut dengan kasar, kemudian menoleh ke arah sekelilingnya untuk mencari pihak yang berwajib menangani masalah ini.
Setelah melihat beberapa petugas berlarian ke arahnya, Morgan pun bangkit dan menyerahkan penjahat itu pada mereka.
“Tolong urus copet ini! Saya gak mau dia berkeliaran lagi di tempat ini! Meresahkan!” ujar Morgan dengan tegas, membuat semua petugas mengangguk hormat padanya.
“Baik, Tuan!”
“Ayo ikut kami!” bentak si petugas kepada si pencopet.
Mereka pun membawa copet itu dengan paksa, membuat Morgan bisa menghela napasnya dengan lega.
Morgan memandang ke arah tas, yang saat ini ia pegang.
“Akhirnya, bisa selamatin tas punya Alya. Untung aja, tadi gue gak kelepasan buat ngehajar si copet. Kalau enggak, bisa mati dia di sini!” gumam Morgan, yang sudah merasa lega dengan semua kejadian yang terjadi.
Morgan melangkah kembali ke arah Alya berada. Ia menenteng tas hitam milik Alya, kemudian segera memberikannya kepada Alya, ketika ia tiba di hadapan Alya.
Merasa tidak enak dengan Morgan, Alya pun segera menerima tas tersebut.
"Makasih ya, Gan! Padahal tadinya gue mau ngajar dia sendiri, tapi ternyata ada lo," ujar Alya membuat Morgan tersenyum mendengarnya.
"Kan udah gue bilang, selama ada gue ... nggak akan ada sesuatu yang buruk yang bisa terjadi sama lo. Lo sekarang percaya, 'kan?" tanya Morgan, membuat Alya merasa malu mendengarnya.
Alya yang menunduk malu, karena ia tidak bisa mengatakan apa pun kepada Morgan.
"Itu dia!!" pekik para wartawan, yang baru saja datang ke lokasi kejadian.
Melihat ada banyak sekali wartawan, Alya pun merasa terkejut, karena ia tidak siap kalau ada wartawan yang bertanya-tanya mengenai kedekatannya dengan Morgan.
“Gila, cepet banget wartawan sampai!” pekik Alya, yang merasa sangat ketakutan melihat para wartawan itu.
Melihat Alya yang ketakutan seperti itu, Morgan berinisiatif untuk menarik tangan Alya, agar bisa menjauhi mereka.
__ADS_1
“Sini! Ikut gue!” pekik Morgan, sembari menarik tangan Alya untuk menjauhi kerumunan.
Karena merasa sangat takut dengan kepungan wartawan, sebisa mungkin Alya berlari meninggalkan tempat kejadian.
Mereka kembali menuju ke arah mobil mereka, yang terparkir tidak jauh dari pintu keluar.
Beruntung Morgan sudah memiliki dugaan dan ancang-ancang, khawatir mereka terkepung para paparazzi seperti tadi.
Mereka sudah sampai di mobil Morgan. Mereka menghela napasnya yang tersengal, saking sesaknya napas mereka.
“Duh ... kenapa ada mereka, sih?” gumam Alya, sembari berusaha untuk mengatur napasnya yang masih tersengal.
Melihat Alya yang seperti sedang kehabisan napas, Morgan pun langsung mendekat dan memberikan napas buatan padanya.
Alya mendelik kaget, karena Morgan yang saat ini sudah lebih berani untuk melakukannya.
Anehnya lagi, Alya sama sekali tidak bisa menolaknya, entah mengapa.
‘Kenapa dia selalu bersikap hangat begini?’ batin Alya, yang merasa sangat bingung dengan keadaan mereka saat ini.
Sejenak Morgan menikmati perasaan bahagia ini. Tak memungkiri, Alya juga sedikit menikmati ciumannya ini bersama dengan Morgan.
Mereka pun melepaskan ciuman tersebut, karena tersadar sudah cukup lama mereka melakukan hal ini.
Morgan memandang lekat ke arah Alya, berusaha untuk menangkis semua rasa khawatirnya terhadap perasaannya.
Karena dengan momen seperti ini, Morgan semakin yakin kalau Alya sedikitnya memiliki perasaan kepadanya.
“Tadi gue lihat lo kehabisan napas, jadi gue bantu kasih napas buatan,” ujar Morgan, membuat Alya memandangnya dengan bingung.
‘Itu namanya bukan kasih napas buatan,’ batin Alya, yang merasa perlakuan Morgan sedikit berlebihan saat ini.
“Waktu lo pingsan di klub, gue juga pengen kasih lo napas buatan, tapi gue gak enak sama yang lain,” ujar Morgan dengan polosnya, sontak membuat Alya mendelik mendengarnya.
“What?! Tapi bukan lo kan yang kasih napas buatan ke gue, waktu itu?” tanya Alya kaget, Morgan menggelengkan kecil kepalanya.
“Bukan, Dion yang kasih napas buatannya ke lo,” jawab Morgan, sontak membuat Alya terdiam lalu menunduk sendu mendengarnya.
__ADS_1
Beberapa hari tanpa Dion, ternyata tidak terasa ketika ia dekat dengan Rian. Namun, ketika diingatkan kembali seperti saat ini, ternyata hubungan dirinya dan Dion sudah sedekat itu.