MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO

MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO
BAB 11. PERSIAPAN MENJELANG AKAD NIKAH


__ADS_3

Sopir keluarga Narandra dan seorang pembantu sudah menjemput Aisyah. Mereka akan ke rumah baru di mana Aisyah besok melangsungkan akad serta tinggal di sana.


Sambil memeluk sang Bapak, Aisyah menangis, baru kali ini dia akan tinggal terpisah dengan orangtua yang tinggal satu-satunya itu.


"Sudah Nduk jangan menangis, kamu hati-hati ya, oh ya besok ada barang yang mau Bapak bawakan atau tidak Nduk?"


"Nggak Pak, barang di sana sudah lengkap jadi Aisyah tidak perlu membawa apapun lagi."


"Oh, kalau begitu besok Bapak datang menjelang akad saja ya karena menunggu paman Nan dan juga Bi Romlah. Bapak harus membawa tetangga kita sebagai saksi."


"Iya Pak nggak apa-apa. Aisyah berangkat dulu ya Pak," pamit Aisyah sembari menyalim tangan sang Bapak."


Aisyah melambaikan tangan saat mobil keluarga Narandra membawanya meninggalkan rumah sang Bapak.


Sebenarnya Bapak sedih, beliau merasa mengorbankan masa depan putri satu-satunya. Tapi cuma ini cara mereka untuk membalas jasa.


Satria dan Zahra sudah kembali ke kamar. Di sana Satria melihat sebuah koper kecil sudah berisi pakaian, bekal Zahra yang akan berangkat ke kampung.


Satria menghela nafas, dia berharap semua hanyalah mimpi. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika akan ada poligami di dalam rumah tangganya.


"Kamu yakin Sayang, kita akan meneruskan rencana ini. Mumpung masih ada waktu untuk membatalkannya."


"Mas, jangan buat hati kita bimbang lagi, yakinlah jika ini memang jalan terbaik untuk semuanya. Biar kehidupan kita makin berkah."


Satria menarik nafas dalam, lalu membuangnya perlahan. Diapun memeluk Zahra sembari meminta maaf.


"Nggak ada yang salah dalam hal ini Mas, inilah takdir kehidupan, toh nggak ada yang minta ataupun mau dalam posisi kita maupun Aisyah."


"Iya Sayang."


"Yuk kita tidur Mas, biar besok nggak telat bangun."


"Nanti sayang, aku masih ingin seperti ini. Kita nikmati kebersamaan ini sebelum kamu berangkat. Aku pasti akan sangat merindukanmu."


"Aku juga Mas."


Keduanya pun menikmati malam, bercumbu mesra hingga keduanya merasa lelah dan akhirnya tertidur.

__ADS_1


Pagi-pagi keduanya sudah terbangun dan bersiap untuk berjamaah. Setelah itu mereka pun bersiap untuk pergi ke rumah Aisyah.


Seraya mengucap basmallah, Satria dan Zahra melangkahkan kaki, memantapkan hati akan ikhlas menjalani takdir rumah tangga mereka.


Satria membawakan koper Zahra, karena Zahra akan berangkat dari rumah Aisyah setelah akad selesai dilangsungkan.


Mereka sebelumnya sudah membicarakan hal itu kepada Narandra, jadi tidak perlu pamit untuk pergi duluan.


Mobil pun telah siap, lalu mereka pun siap berangkat. Gladis yang kebetulan bangun pagi, mengintip dari balik jendela saat mendengar suara mesin mobil menderu meninggalkan kediaman Narandra.


"Mereka sudah berangkat, aku akan bersiap dan ikut dengan Papa kesana."


Tapi sebelum mandi, Gladis menelepon sang mama untuk memberitahukan hal itu.


Panggilannya di terima tapi di sana terdengar suara sang mama sedang bertengkar dengan Papa Gladis.


Gladis stres mendengar suara teriakan kedua orangtuanya. Dia menutup kedua telinga sembari menangis.


Dia sangat sedih kenapa papa dan mamanya sejak dulu tidak pernah akur dan terus saja saling caci maki.


Gladis sebenarnya mendambakan keluarga yang harmonis layaknya para teman-temannya. Namun hal itu tidak pernah dia dapati dari kehidupan rumah tangga orangtuanya.


Gladis berteriak sekuatnya hingga kedua orangtuanya yang sedang saling cekik berhenti bertengkar.


Dia mengancam akan bunuh diri jika Papa dan Mamanya tidak juga berhenti bersiteru.


Gladispun tidak jadi menyampaikan apa yang menjadi tujuannya semula, dia mematikan ponsel lalu menangis sejadi-jadinya sembari tengkurap di atas kasur.


Suara pembantu mengetuk pintu tidak Gladis hiraukan, saat ini yang dia inginkan hanyalah melampiaskan kekesalan dan kekecewaannya dengan menangis.


Satria dan Zahra sudah tiba di rumah Aisyah. Aisyah yang sudah mempersiapkan sarapan, lalu meminta keduanya untuk langsung menuju ruang makan.


Zahra tidak menyangka di hari terpenting dalam hidup Aisyah, dia masih sempat memasak sarapan untuk mereka. Padahal ada pembantu di sana, tapi Aisyah tetap ingin menyiapkannya sendiri.


"Mbak, Mas, ayo silakan di santap sarapannya. Oh ya Bi, duduklah di sini, sebaiknya Bibi sarapan dulu baru mengerjakan tugas."


"Nggak usah Non, Bibi nanti saja."

__ADS_1


"Ayo Bi, aku tidak ingin ada penolakan," ajak Aisyah sembari menarik kursi untuk sang pembantu.


Aisyah tidak mau membedakan meski sang bibi hanya seorang pembantu. Dia menganggap semua yang ada di rumah itu layaknya bagian dari keluarga.


Zahra mengakui masakan Aisyah sangat enak, dan dia yakin Aisyah bisa menjadi istri yang baik bagi suaminya.


Selesai sarapan sang Bibi membereskan sisa makanan dan juga alat makan yang kotor, sementara Zahra meminta Aisyah dan Satria untuk bersiap karena sang MUA sedang dalam perjalanan ke sana.


Zahra mengajak Aisyah ke kamar, lalu dia menggenggam tangan Aisyah sembari berkata, "Aku titip Mas Satria ya Syah, setelah akad selesai aku akan berangkat ke rumah orangtuaku. Sudah lama aku tidak mengunjungi mereka."


"Ku mohon pergunakanlah waktu kalian untuk bersama agar apa yang kita rencanakan segera terwujud."


"Kamu jangan sungkan atau malu Syah, karena Mas Satria sebentar lagi akan sah menjadi suamimu."


"Sayangilah dia, mungkin dengan kalian saling menyayangi akan diberi keberkahan seorang putra/putri penerus yang kelak menjadi kebanggaan keluarga Narandra."


Aisyah tidak sanggup menjawab, dia hanya mengangguk dan tertunduk. Rasanya berat menatap wajah wanita yang begitu ikhlas dan tegar melepaskan suami untuk perempuan lain.


Andai saja dia berada di posisi Zahra, belum tentu bisa seikhlas dan setegar itu.


Percakapan mereka pun berakhir, saat sang Bibi datang dan memberitahu jika sang MUA sudah hadir.


Sang MUA mengerjakan tugasnya, merias Aisyah, sementara Zahra menemani Satria yang masih menunggu di ruang tengah.


Makanan yang Zahra pesan pun sudah sampai, lalu Bibi dan dua tetangga membantu menatanya di meja yang telah disediakan.


Aisyah sudah selesai dirias, dia hanya meminta riasan sederhana saja karena sejak dulu Aisyah memang tidak terlalu suka berdandan yang mencolok dan juga berlebihan.


Namun tetap saja aura kecantikannya bersinar meski hanya di poles sedikit saja.


Kini giliran Satria yang bersiap, dia mengenakan pakaian dan jas yang senada dengan milik Aisyah.


Para orangtua, dua saksi, penghulu pernikahan serta beberapa orang tetangga juga sudah hadir. Lalu Zahra pun mempersilakan mereka masuk sembari menunggu pengantin pria selesai bersiap.


Kini mereka sudah berkumpul di ruangan keluarga dan kedua pengantin pun sudah duduk bersebelahan. Sedangkan Zahra duduk di belakang pengantin, membenahi kerudung penutup kepala kedua mempelai.


Kedua pengantin tertunduk, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.

__ADS_1


Satria memikirkan perasaan Zahra sedangkan Aisyah memikirkan rasa canggung, bagaimana dia harus bersikap setelah acara akad selesai.


Bersambung.....


__ADS_2