MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO

MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO
BAB 15. TELAH TUMBUH RASA YANG SAMA


__ADS_3

Aisyah mencoba melepaskan diri dari pagutan Satria, dia tidak mau Satria melakukan kewajibannya tanpa kesadaran serta keinginan dari dalam hatinya.


Namun, usaha Aisyah sia-sia karena Satria makin mengungkungnya.


Satria bak singa lapar yang tidak memberikan kesempatan kepada mangsanya untuk bisa lepas.


Aisyah sudah tidak berdaya saat Satria dengan kasar mulai melepaskan satu persatu kain yang menutupi tubuhnya.


Satria semakin tidak terkendali hingga akhirnya pertahanan Aisyah pun berhasil dia runtuhkan. Mahkota keperawanan Aisyah sudah Satria renggut dengan cara paksa.


Aisyah menangis menahan sakit, tapi dia tidak bisa menyalahkan tindakan Satria. Karena sebelumnya Satria telah mengingatkan agar dirinya pergi serta menguncinya di dalam kamar.


Setelah beberapa kali melakukan pelepasan, Satria pun terkulai dan akhirnya tertidur. Sementara Aisyah masih meringkuk, menahan kesakitan sembari menangis.


Mungkin inilah cara Tuhan agar mereka saling melaksanakan kewajiban.


Aisyah menolong Satria sekaligus melaksanakan kewajibannya sebagai istri. Sementara Satria meminta hak serta melakukan kewajiban memberi nafkah batin kepada Aisyah.


Sambil menahan rasa sakit, Aisyah pun beringsut turun dari tempat tidur, lalu dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Aisyah mengguyur tubuhnya dengan air shower dan untuk beberapa lama diapun waktunya di sana.


Setelah selesai, Aisyah pun membalut dirinya dengan handuk mandi milik Satria, lalu diapun mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.


Aisyah mengenakan pakaiannya, menyelimuti Satria, lalu bergegas keluar, menuju kamarnya sendiri.


Apapun yang telah terjadi malam ini Aisyah ikhlas, yang penting Satria terhindar dari perbuatan zina karena jebakan Gladis.


Pagi hari, Satria terbangun, tubuhnya terasa remuk dan kepalanya juga masih pusing. Gigi Satria menggeretak dan tangannya mengepal saat ingat perbuatan Gladis tadi malam.


Dan ketika Satria ingat akan perbuatannya terhadap Aisyah, diapun meraup wajahnya dengan kasar. Satria menyesal kenapa Aisyah tidak menuruti permintaannya.


Bukan menyesal karena telah melaksanakan kewajibannya, tapi menyesal karena meminta haknya secara paksa.

__ADS_1


Padahal Satria tadinya berniat untuk melakukan pendekatan dulu, biar saling mengenal lebih jauh, barulah dia akan meminta hak serta memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami dengan sama-sama ikhlas.


"Aku akan minta maaf kepada Aisyah, saat ini jiwa dan raganya pasti sedang terluka," monolog Satria.


Satria pun bergegas turun dari tempat tidur, dia melihat beberapa bercak darah ada di seprai yang kusut karena ulahnya.


Diapun mendesah, lalu beranjak menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi.


Setelah membersihkan dirinya, Satria melaksanakan kewajiban seperti biasa, lalu pergi keluar kamar untuk mencari Aisyah.


Saat ini Aisyah pasti sedang berada di dapur. Karena Satria tahu, Aisyah paling tidak bisa mengabaikan tanggungjawabnya meski dia sedang sakit.


Satria mengintip dari balik pintu dapur dan benar saja, dia melihat Aisyah sedang memasak.


Untuk beberapa saat Satria tertegun, dia melihat cara jalan istrinya nampak berbeda dan sesekali terlihat Aisyah meringis seperti menahan rasa sakit.


Mumpung tidak ada orang lain di dapur, inilah kesempatan Satria untuk meminta maaf.


Satria masuk dan dia memeluk Aisyah dari belakang hingga yang empunya tubuh mematung serta membeku.


Satria bersandar di bahu Aisyah, lalu dengan lembut dia berkata, "Maafkan aku Syah, aku telah menyakitimu. Semua itu benar-benar di luar kendaliku."


Jantung Aisyah berdegup kencang dan serasa hendak keluar dari tempatnya. Baru kali ini dia dipeluk oleh seorang pria dan untungnya pria itu sudah sah menjadi suaminya.


Sejenak Aisyah mengatur nafas, dengan malu diapun berkata, "Mas nggak salah kok, Mas sudah mengingatkanku. Bahkan sudah mengusirku. Aku hanya ingin menyelamatkan Mas, dari ulah Gladis."


Satria tersenyum lalu sebuah kecupan mesra mendarat di pipi Aisyah, hingga membuat wajah putih itu bersemu kemerah-meraha karena menahan rasa malu.


Jantung keduanya kini sama berdegup kencang dan tidak lagi sesuai irama. Ada perasaan bahagia dan gelenyer aneh menjalar ke tubuh keduanya.


Satria kembali mendaratkan ciuman, lalu berkata, "Terimakasih Sayang. Aku tidak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi, jika kamu tadi malam tidak masuk dan Gladis dari kamarku."


Mendengar kata Sayang terucap dari mulut Satria membuat hati Aisyah terasa sejuk, seperti tersiram air es. Meskipun dia tahu, mungkin Satria hanya ingin berterimakasih saja.

__ADS_1


Tapi jujur, saat ini Aisyah menikmati momen itu. Dia merasa memiliki suami yang menyayangi serta memanjakannya.


Dalam hatinya Aisyah berkata, "Maaf Mbak Zahra, aku telah mengkhianati mu. Aku tidak bisa menolak sentuhan ini Mbak. Sentuhan yang membuatku merasakan nikmatnya sebagai seorang istri. Aku merasa telah jatuh cinta kepada Mas Satria."


Satria memejamkan mata, dia juga meminta maaf kepada Zahra, semua diluar kuasanya.


Kebersamaannya selama ini bersama Aisyah telah menumbuhkan benih cinta di hati Satria. Meski dalam beberapa minggu ini, Satria telah berusaha keras untuk mengingkari, menghindar serta tidak menyentuh Aisyah sama sekali.


Saat ini Satria merasakan kenyamanan dengan memeluk serta bersandar di bahu Aisyah.


Diapun berjanji, kedepannya akan memperlakukan Aisyah sebagaimana seorang suami memperlakukan sang istri.


Sedang asyik menikmati kebersamaan, keduanya dikejutkan oleh suara deheman. Ternyata Bibi yang datang.


"Heemm, maafkan Bibi Den. Bibi nggak tahu jika Aden ada di sini," ucap Bibi yang merasa bersalah karena nyelonong saja.


"Nggak apa-apa Bi," ucap Satria.


"Syah, aku keluar dulu ya. Mau olahraga sebentar. Kalau masih sakit, nggak usahlah ngantor, aku juga rencananya nggak ngantor."


Aisyah pun mengangguk, lalu dia melanjutkan kegiatan memasaknya. Aisyah tidak berani menatap Bibi karena dia merasa malu.


Sepeninggal Satria, Bibi pun menggoda Aisyah, "Wah senangnya lihat Non dan Aden begitu mesra, nggak sia-sia perhatian dan kasih sayang yang selama ini telah Non berikan."


"Semuanya berbuah manis Non. Den Satria sudah menyadari hal itu dan beliau Bibi lihat sudah mengubah sikapnya."


"Semoga Non dan Aden segera diberi momongan, Bibi sudah tidak sabar Non, ingin melihat keluarga ini bahagia."


"Aamiin, terimakasih atas doanya Bi."


"Bibi akan selalu berdoa Non, mudah-mudahan saja Non Zahra kedepannya bisa berbesar hati, mau menerima Non Aisyah, selamanya tetap sebagai madunya, bukan hanya sebatas pemberi keturunan saja."


"Itu tidak mungkin Bi, kami sudah membuat kesepakatan, bila nanti aku telah memberi mereka keturunan, aku akan pergi jauh dari sini. Aku tidak akan memiliki ikatan apapun lagi dengan keluarga ini termasuk terhadap anakku kelak," ucap Aisyah yang berusaha menutupi kesedihannya.

__ADS_1


"Non yang sabar ya, orang baik pasti kelak akan mendapatkan balasan kebaikan juga. Mudah-mudahan, kelak Non Aisyah akan mendapatkan jodoh yang terbaik pula."


Bersambung....


__ADS_2