
Satria dan Zahra mengantar Aisyah pulang, lalu mereka pun ngobrol sejenak dengan Pak Yusuf yang kebetulan sedang berada di rumah.
Beliau pun menanyakan tentang hasil pemeriksaan, dan Satria menjelaskan jika besok hasil pemeriksaannya baru keluar.
Zahra memberi kesempatan kepada Satria dan Pak Yusuf untuk mengobrol, sedangkan dirinya mengikuti Aisyah ke dapur. Zahra ingin melihat situasi rumah Pak Yusuf yang kecil tapi terlihat adem serta nyaman.
"Enak sekali tinggal di sini ya Syah, aku jadi betah. Ketimbang di rumah Papa yang setiap hari harus bertemu Gladis dan juga Tante Herlina. Aku jenuh dengan kejutekan mereka. Belum lagi niat mereka yang selalu ingin mencelakai ku."
"Non Zahra yang sabar ya, aku juga heran kenapa Tuan besar mengizinkan mereka tinggal di sana. Padahal rumah mereka tidak jauh kan?"
"Jangan panggil aku Non, Syah. Panggil Mbak saja, lebih enak kedengarannya."
"Aku juga heran Syah, kenapa Papa selalu menuruti perkataan Tante Herlina. Papa tidak sadar jika mereka memiliki tujuan tidak baik di rumah itu."
"Pokoknya sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerima Gladis untuk menjadi maduku, Syah. Aku tidak akan membiarkan keserakahan mereka menghancurkan keluarga Narandra."
"Iya Mbak. Mbak sebagai menantu di sana harus kuat, jangan biarkan mereka menang, mendapatkan apa yang mereka mau. Dan mudah-mudahan, Tuan besar segera menyadari akan maksud jahat adik serta keponakannya itu."
Saat mereka asyik mengobrol Pak Yusuf dan Satria muncul. "Kenapa tamunya tidak di suguhkan minuman Nak?"
"Aisyah lupa Pak, jika gula kita habis. Maaf ya Den."
"Panggil Mas Satria saja Syah," pinta Zahra.
Satria memandang Zahra, tapi Zahra justru tersenyum. Dia tahu jika Zahra sedang berusaha untuk mengakrabkan dirinya dengan Aisyah.
Kemudian keduanya pun pamit kembali ke rumah kediaman Narandra.
Saat mereka tiba, Gladis yang sedang menonton televisi, langsung bangkit dan menggandeng lengan Satria.
"Eh, Kak Satria sudah pulang. Sini Kak kita nonton, seru lho filmnya," ucap Gladis sembari menarik Satria.
"Maaf Dis, aku masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Kamu nonton saja dengan Zahra ya."
"Sayang, apakah kamu mau menemani Gladis nonton?"
"Boleh Mas, lagipula aku pasti bete di kamar sendirian. Nggak apa-apa kan Dis, jika aku yang temani kamu?"
__ADS_1
Gladis mencebikkan bibir dan bersungut-sungut. Lalu dia berkata, "Aku mau tidur, aku mengantuk!" ucap Gladis sembari menyenggol lengan Zahra.
Zahra dan Satria saling tatap lalu keduanya menggeleng dan tertawa.
"Memang dasar ganjen!" ucap Zahra.
"Biarlah Yang, yang penting aku nggak tergoda kan!" ucap Satria sembari menaik turunkan alisnya.
"Ayo yang kita ke atas, aku langsung ke ruang kerja ya dan tolong buatkan kopi terenak, biar aku tidak mengantuk."
"Siap Mas."
Zahra pun bergegas ke dapur, sedangkan Satria langsung ke ruang kerja. Melihat hal itu, Gladis pun menyusulnya.
Gladis masuk lalu mengunci pintu ruang kerja hingga membuat Satria terkejut.
"Ngapain kamu kesini Dis? Pakai kunci pintu segala. Cepat buka! sebentar lagi Zahra datang membawakan kopi ku!"
"Kenapa sih, Kak Satria tidak pernah melirikku, apa aku kurang cantik? Apa aku kurang seksi?" tanya Gladis sembari membuka kancing baju atasnya hingga menampakkan sembulan indah."
Satria memalingkan wajah sembari berkata, "Kamu sudah gila Dis, jangan harap bisa menjebak ku dengan tubuhmu itu. Aku hanya mencintai Zahra. Jadi tolong pergilah sebelum aku mengusirmu!" bentak Satria.
"Kamu sok tahu, sekarang juga keluar dari sini!" usir Satria hingga membuat Gladis terlonjak.
"Kamu tidak mendengar perkataanku hah! Apa aku perlu menelepon papa untuk mengusir kamu dan juga Tante Herlina dari rumah ini!"
"Kamu lupa ya, jika di ruangan ini ada CCTV, jadi Papa dan yang lain, pasti percaya jika kamu ingin menjebakku!"
Gladis menghentakkan kakinya, lagi-lagi dia gagal, kenapa dia sampai lupa jika di ruangan itu ada kamera CCTV.
Dengan kesal, Gladis pun membuka pintu dan dia melihat Zahra tengah berdiri di hadapannya.
Zahra tersenyum, dia tahu jika Gladis sedang berusaha menggoda suaminya.
Kemudian Zahra setengah berbisik berkata, "Mau jadi pelakor ya, cari mangsa saat aku nggak ada!"
Gladis membulatkan mata, rasanya dia ingin memukul Zahra kalau saja Satria tidak muncul di sana.
__ADS_1
"Sayang, mana kopiku? Ayo cepat bawa masuk. Nggak penting meladeni dia!"
"Oh ya, harap kamu ingat Dis, jangan masuk sembarangan ke ruangan yang bukan hak mu!" seru Satria.
Gladis tidak menghiraukan ucapan Satria, lalu diapun meninggalkan keduanya dan masuk ke kamar untuk menelepon sang mama.
Herlina sudah sampai di hotel dan dia berencana esok hari baru akan menghampiri suami serta madunya itu.
Melihat ada panggilan masuk dari Gladis, Herlina pun buru-buru mengangkatnya, "Ada apa Dis, kenapa kamu menangis?"
Gladis pun mengadu tentang kejadian barusan, tapi Herlina malah memarahinya.
"Kamu jangan bodoh Dis, jika Satria menunjukkan rekaman itu kepada Narandra, kita bisa diusir. Kalau bertindak itu pakai otak, jangan pakai dengkul!" ucap Herlina.
Gladis makin menangis dan dia mengatakan jika sang mama tidak menyayanginya lagi. Gladis ngambek, lalu mematikan ponsel. Hal itu membuat Herlina merasa khawatir.
Tujuannya datang ke kota ini belum terlaksana tapi pikirannya malah tertuju kepada Gladis.
Herlina harus bisa membujuk putrinya itu agar jangan ngambek lagi. Karena Gladis bisa melakukan hal yang nekat jika dirinya sedang marah.
"Argh...anak itu bodoh sekali, mana pakai ngambek segala. Aku harus menelepon Bibi untuk membujuk Gladis," monolog Herlina.
Bibi pun membujuk Gladis sesuai perintah Herlina dan beliau terpaksa berbohong bahwa Herlina tidak akan kembali lagi jika Gladis tidak menuruti perkataan sang mama.
Gladis akhirnya menurut, dia takut akan hidup sebatang kara jika sang mama benar tidak kembali.
Herlina pun memberitahu jika Gladis harus bertindak hati-hati dan harus mencuri dengar apapun yang keluarga Narandra bicarakan.
Sebisa mungkin Gladis harus merekamnya agar Herlina bisa memberi saran tentang apa yang harus Gladis lakukan selanjutnya.
Gladis pun mengerti, mulai sekarang dia tidak akan sembarangan lagi dalam bertindak karena Gladis tidak mau sampai di usir dari rumah Narandra yang telah membuat hidup mereka terasa nyaman.
Satria telah menyelesaikan pekerjaannya, lalu dia kembali ke kamar untuk beristirahat. Satria yang melihat Zahra sudah tertidur, tidak mau mengganggu, diapun menyelimuti sang istri dan ikut berbaring di sebelahnya.
Namun Satria masih kepikiran dengan hasil tes kesehatan rahim Zahra, dia masih berharap keajaiban memang ada, hingga tidak perlu melukai hati Zahra dengan menikahi Aisyah.
Meskipun Zahra ikhlas, tapi Satria tahu, hati wanita mana yang tidak sakit jika berbagi ranjang dengan wanita lain.
__ADS_1
Bersambung....