
Gladis sudah berdandan rapi, dia ingin ke kantor Satria. Diam di rumah sendirian tanpa sang mama membuatnya bete. Dan Gladis berharap ada yang bisa dia lakukan di sana tanpa ketahuan oleh Zahra.
Satria sedang menandatangani berkas-berkas saat menerima telepon jika hasilnya sudah keluar dan dokter akan meminta orang suruhannya untuk mengantar ke kantor.
Namun karena ada rapat penting, maka Satria meminta agar laporan itu diberikan kepada security supaya meletakkan di ruangannya.
Dan setelah mengatakan hal itu, Satria membereskan meja, dia sudah ditunggu oleh para staf serta koleganya.
Satria pun keluar ruangan bersama sang sekertaris menuju ke ruangan rapat.
Sementara sang kurir sudah berangkat ke perusahaan dan sesuai pesan, diapun memberikannya ke seorang security yang bertugas di sana.
Security pun menuju ke ruangan Satria dan secara bersamaan, Gladis muncul di sana.
Security yang sudah kenal siapa Gladis, tidak berani melarang saat dia masuk ke ruangan Satria.
Gladis meminta security untuk keluar, karena dia akan menunggu Satria sampai selesai rapat.
Security pun keluar dan meninggalkan Gladis yang pura-pura duduk sembari memejamkan mata.
Setelah security pergi, Gladis yang melihat ada surat di meja Satria, segera membukanya dan dia melihat tentang laporan kesehatan rahim Zahra. Gladis tersenyum puas saat melihat dokter menyatakan jika Zahra tidak mungkin bisa mengandung.
Harapannya semakin besar untuk menjadi istri Satria. Dia harus mencari cara untuk menjebak Satria hingga mereka akan dinikahkan secara paksa.
Setelah menutup kembali surat itu, Gladis meninggalkan ruangan, dia menelepon sang mama untuk memberitahukan tentang isi surat tersebut dan tentang rencananya ingin menjebak Satria.
Sang mama setuju dan akan mencarikan obat guna memperlancar rencananya.
Dua hari lagi Herlina memastikan jika obat tersebut sudah akan sampai dan bisa Gladis gunakan. Mereka harus gerak cepat sebelum keduluan Aisyah hamil.
Gladis bersiul dengan riang, dia yakin kali ini rencananya bersama sang mama akan terwujud karena proses bayi tabung yang dia tahu, sangat memakan waktu untuk menunggu hasilnya dan seringkali juga gagal.
Dengan tersenyum, Gladis mengendarai mobil, menuju cafe tempat dia sering nongkrong bersama teman-temannya. Di sana dia mentraktir, karena hatinya sedang bahagia.
Satria yang sudah selesai rapat, langsung menuju ke ruangan, dia sudah tidak sabar ingin melihat hasilnya.
__ADS_1
Saat mendapati surat seperti sudah dibuka, dahi Satria mengernyit, lalu dia memanggil seorang OB yang melintas di sana.
Satria menanyakan, apakah sang OB tahu jika ada seseorang yang tadi masuk ke ruangannya.
OB itupun mengatakan jika tadi melihat Gladis yang masuk sebentar lalu keluar lagi dengan tergesa-gesa.
Satria mendesah, dia kesal karena gadis itu selalu mengganggu dan berbuat ulah.
Setelah meminta OB pergi, Satria menelepon Gladis untuk menanyakan hal itu, tapi telepon Gladis sedang di silent.
Satria pun membuka surat tersebut dan dia terduduk lemas saat mengetahui jika Zahra tidak mungkin bisa mengandung.
Satria menyambar tas dan kunci mobil, dia harus segera pulang ke rumah untuk memberitahu Zahra tentang hasil pemeriksaan tersebut.
Namun saat tiba di rumah, ternyata Zahra tidak ada. Zahra pergi dengan Pak sopir ke rumah Aisyah.
Satria menelepon Zahra dan Zahra mengatakan jika dia sedang berbelanja dengan Aisyah.
Zahra mengatakan jika dia sudah membeli seserahan untuk Aisyah. Meski sebagian tidak akan ditunjukkan kepada Narandra maupun Pak Yusuf.
Zahra meminta agar besok acaranya dilakukan, karena menurutnya makin cepat semakin baik.
Satria meneteskan air mata, dia tahu istrinya sudah tidak berharap akan hasil tes yang akan dia sampaikan.
Saat Satria bertanya kenapa Zahra melakukan hal itu sebelum hasil tes keluar, dia hanya menjawab, jika dirinya sudah tahu jika jalan keluarnya tetaplah pernikahan.
Satria terduduk di ruangan kerja, dia tidak tahan mendengar suara Zahra yang bergetar menahan tangis.
Benar saja dugaan Satria, setelah panggilan selesai Zahra pun menangis di dalam toilet Mall.
Zahra meluapkan kesedihannya dengan menangis tanpa suara, hanya dadanya naik turun menahan Isak tangis.
Saat mendengar panggilan dari Aisyah, Zahra pun buru-buru menghapus air mata dan membenahi make-up nya agar Aisyah tidak curiga.
Zahra pun keluar dan Aisyah yang melihat wajah sembab Zahra pun bertanya, "Mbak menangis? Apa aku yang telah membuat Mbak sedih?"
__ADS_1
"Aku nggak menangis kok Syah, mataku kelilipan tadi. Ayo kita keliling lagi, bukankah alat make-up, sendal dan sepatumu belum kita beli," ucap Zahra sembari menarik tangan Aisyah.
"Mbak sudah cukup lho, aku masih punya barang-barang itu, semuanya masih bagus lho Mbak. Lagipula mau aku pakai kemana? Setelah menikah aku usahakan akan tetap di rumah, agar tidak menimbulkan gunjingan."
"Sudahlah, ayo ikut. Jangan menolak pemberian kami. Kamu bersedia saja, aku sudah sangat senang. Kamu akan menjadikanku seorang ibu Syah jadi sudah sepantasnya jika aku melayanimu."
"Mbak, jangan terlalu berlebihan dong, nanti kecewa jika aku tidak bisa hamil."
"Aku yakin kamu cepat hamil, bukankah hasil pemeriksaan kemaren, rahimmu sehat dan ****** Mas Satria juga bagus. Aku mohon Syah, terima ya."
Akhirnya Aisyah tidak bisa menolak, sudah banyak barang yang Zahra belikan dan terakhir mereka memilih keperluan untuk Satria.
Zahra yang memang tahu ukuran pakaian serta sepatu sang suami dengan mudah mendapatkannya. Tapi untuk warna dia meminta Aisyah yang memilih.
Bagi Zahra besok adalah hari spesial Satria dengan Aisyah, maka semua kebutuhan harus sesuai dengan selera Aisyah bahkan untuk pakaian dalam.
Sebagai hadiah, Zahra memberikan sebuah kado yang hanya boleh Aisyah buka saat dia telah sah menjadi istri Satria.
Setelah mendapatkan semua barang yang dibutuhkan, mereka pun meminta seorang karyawan Mall untuk membantu membawakan barang ke dalam mobil.
Lalu Zahra melajukan mobilnya menuju rumah yang telah Narandra siapkan untuk Zahra.
Kebetulan satu kunci dia dan Satya yang pegang, sementara sisanya masih dipegang oleh Pak Yusuf.
Aisyah tidak menyangka, jika rumah itu terletak di kompleks perumahan elit dan berpagar sangat tinggi. Jarak antara satu tetangga dengan tetangga lainnya juga cukup jauh.
Rumah itu sangat indah dengan taman serta fasilitas lengkap lainnya. Dan isi dalam terdiri dari barang-barang mewah pilihan.
Aisyah bengong, kakinya terasa sulit untuk dilangkahkan. Belum pernah dia menginjak rumah semewah itu selain rumah Narandra.
"Ayo Syah, masuk! kenapa malah bengong. Ini rumahmu dan Mas Satria," ucap Zahra sembari menarik lengan Aisyah.
"Kita lihat kamar kamu ya," ajak Zahra tanpa melepaskan pegangannya pada lengan Aisyah.
Kamar itu sangat besar dengan tempat tidur king size dan lemari jati. Aisyah meraba semua barang, dia seperti mimpi, menjadi pemilik rumah tersebut.
__ADS_1
Bersambung.....